Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Teman Nareya, Agis
Nareya tampak menjalani harinya dengan normal tidak ada yang terlalu berbeda. Meskipun dia mulai risih karena dia terbiasa tidur dengan musik menyala. Setelah harus tidur di kamar Kala membuat dia susah tidur.
“Tolong tenang, saya mau tidur,” ucap Kala dengan mata terpejam.
“Yaudah gue tidur di kamar gue aja deh, gak bisa banget gue sehening ini. Gue harus dengerin musik keras sebelum tidur.”
“Nggak itu kamu hanya alasan, kemarin kamu bisa tidur disini.”
“Heum ya kemarin kerjaan gue banyak, energi gue abis, makanya nempel kasur langsung tidur.”
“Jadi ini energi kamu belum habis?”
“Iya kepala gue jadi brisik banget mikirin ini itu kalau gak pake musik.” ucap Nareya.
“Coba keluarkan, kepala kamu brisik mikirin apa?” tanya Kala dengan mata masih terpejam.
“Heum nggak jadi deh, nanti lo besar kepala.”
“Ya sudah tidur, saya sudah ngantuk sekali. Ini sudah tengah malam. Besok saya harus bangun pagi sekali.”
“Emang lo kalau bangun pagi ngapain?”
“Saya olahraga dahulu, di ruangan samping kamar kamu itu banyak alat gym kalau kamu mau olahraga.”
“Gue gak suka sih, gue bangun selalu jam sembilan.”
“Hemm” gumam Kala, sudah hampir terlelap.
“Lo sama Sabreena sebenarnya kenapa sih? Kenapa akhirnya malah lo nikahnya sama gue?” tanya Nareya lirih.
Kala belum juga bersuara. Nareya mencengkram selimut semakin kuat. Belum juga di jawab, Nareya sedikit menggigit bibir bawahnya, lalu menoleh ke belakang punggungnya. Ternyata Kala terpejam dan napasnya teratur.
“Heyyy… lo jangan tidur dulu. Gue gak bisa tidur.” Nareya menoel tangan Kala dengan ujung jarinya.
“Hemm. Tidur Reya, saya besok banyak kerjaan.”
“Lo panggill gue apa? Reya?”
“Iya kamu di rumah di panggil begitu kan. Saya juga panggil kamu Reya.”
“Dih, sok jadi keluarga gue lo.”
“Memang begitu.”
“Gue tadi nanya, sebenarnya lo sama Sabreena ada masalah apa, kenapa malah jadi nikahnya sama gue?”
Kala langsung membuka matanya,”Ya gak sesuai kriteria saya.” jelasnya singkat. “Sudah saya mau tidur, berantakan jam tidur saya garagara kamu!” lanjut Kala.
“Ish emang kriteria lo apa sih, heran.”
Nareya malam itu tidak tidur sampai pagi. Justru pikiranya semakin kemana-mana setelah Kala menjawab pertanyaan itu. Suara gemericik air dari kamar mandi terdengar, artinya hari sudah pagi. Suara itu cukup mengalihkan pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul di kepala Nareya. Mulai lebih tenang dan akhirnya dia terlelap juga.
***
Setelah sekian lama akhirnya Nareya memutuskan untuk pulang ke rumah dan menemui Agis. Tak biasanya Nareya mengenakan pakaian tertutup. Bahkan masker, kacamata hitam, dan topi tampak menutupi wajahnya.
Selama di ojek online Nareya sempat tersentak ketika drivernya mengenalinya. Namun dia berhasil menghindari dengan menyangkal semua pertanyaanya. Bahkan saat di bus pun beberapa kali mendengar anak-anak muda membahas koleksi dia di fashion show. Beberapa kali Nareya menoleh, mungkin sekedar ingin diakui kalau yang dibicarakan mereka adalah hasil karyanya. Tapi tak lama mereka mengaitkan skandal yang sebelumnya terjadi.
“Lo tau sendiri keluarga Atmasena setertutup apa, padahal perusahaanya di mana-mana tapi bisa aja gitu nggak ada satu pun karyawan yang coba spill anggota mereka lho.” ucap perempuan dengan rambut di ikat kuda, yang duduk di depan Nareya.
“Iya semua rapat terjaga sebelum berita skandal itu, sampai akhirnya Mas Kala terekspos. Sayang banget ga si orang seganteng dia diumpetin? Bisa jadi artis kayaraya deh dia.”
“Anak sciences, gak ngerti soal kaum elit soalnya haha. Ajarin Na” ucap perempuan dengan gaya tomboy.
“Keluarga Atmasena itu bagian dari tujuh pemegang ekonomi negara, saking kekayaannya gak akan habis. Walaupun gak ada yang sampai internasional karena yah sepertinya si pro pemerintah yang anti asing. “
Nareya menyimak obrolan mereka justru dia yang menikah dengan pria yang dibicarakan anak-anak kuliahan baru paham tentang keluarga Atmasena. Dia menikah dengan pria yang kekayaannya tidak akan pernah habis seperti itu justru meminta cerai?
Sampai di halte bus dimana Nareya biasanya duduk menunggu bersama adiknya, seketika Nareya tersenyum. Berjalan menyusuri gang-gang kecil, ini yang paling berbahaya menurutnya. Semua tetangganya suka bergosip. Apalagi teman-teman arisan ibunya. Pernikahanya tidak mungkin tidak diketahui oleh tetangganya. Sudah pasti juga ibunya banyak bercerita.
Di depan, kumpulan ibu-ibu duduk di teras. Nareya membenarkan topinya agar menutup sempurna. Sedikit lagi menuju rumahnya.
“Athaya” bisik Nareya. “Stttt.. Eh sttt”desis nya menotong
“Ka… “sapa Athaya tertahan tangan kakaknya.
“Jangan berisik ayo masuk!“ ajak Nareya menggandeng adiknya. “Papa mama mana?” tanya Nareya berbisik
“Lagi kondangan” Athaya ikut berbisik. “Kenapa bisik-bisik sih kak?”
“Takut tetangga tau kaka di rumah, nanti jadi rame. Tapi kebetulan, papa mama lagi gak di rumah, Kak Agis mau ke rumah.”bisik Nareya.
“Kan udah di rumah juga tetangga mah gak akan denger kak” ucap Athaya lancar.
“Oh iya” Nareya menepuk jidatnya sendiri. “Eh kakak baru sadar kamu dari tadi bicaranya lancar banget” seru Nareya dengan senyuman cerah.
“Iya dong, makasih ya kak, Athaya udah gak takut lagi sekarang. Di rumah udah jarang banget ribut,”ujar Athaya. Nareya terdiam menatap Athaya.
Perjuangan yang tidak sia-sia.Namun dia juga ingin kebebasan yang sama dengan yang diberikanya kepada keluarga. Haruskah melupakan rencananya untuk meminta cerai?
Lamunan Nareya buyar ketika Agis masuk ke teras rumah nya. “Nah itu kak Agis” ucap Athaya.
“Gue gak masalah nih ke sini?” tanya Agis saat baru bersitatap dengan Nareya.
“Orang tua gue lagi kondangan, aman.”
“Maksud gue, lo udah punya suami. Walaupun kayaknya gue gak dianggap teman deh. Masa kaga diundang?” ledek Agis
“Udah lo diem deh. Gue gak banyak basa-basi tapi gue cuma mau minta tolong aja”
“Minta tolong boleh tapi ini di depan pintu banget?” tanya Agis. Nareya membalas kekehan nya. Mempersilahkan Agis duduk di ruang tamu.
“Gue minta tolong lo buat nyari ruko atau tempat gitu buat gue buka usaha. Rencananya… “ucapan Nareya terpotong. Menganga melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Kala masih dengan setelan jas nya, masuk ke dalam rumah. Tersenyum menatap Nareya. Mengulurkan tangan ke Agis, lalu bersalaman. Beralih ke Nareya lagi lalu mengusap kepalanya.
“Rencananya bagaimana mau buka usaha?” tanya Kala.
‘Bagaimana bisa dia tahu, kalau Nareya pulang ke rumahnya? Mungkinkah Kirana yang menyatakan ke Kala?’
Kala mengibaskan tangan di depan wajah Nareya karena tak kunjung mendapat jawaban “Hei…”seru Kala. “Kamu tidak mau memperkenalkan temanmu ke saya?” tanya Kala.
“Ah ini temanku Agis.”Nareya memperkenalkan Agis.
“Oh Agis ya, bekerja di cabang yang sama kan kita sebelumnya. Tapi kamu bawahan saya. Saya Kala, suami Nareya.“
Agis menatap dan enggan menanggapi. Ada gemuruh di dada yang Agis juga belum tau apa itu. Mungkinkah itu rasa tidak rela?