Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Dengan wajah tegas itu, kedatangan Danish juga membuat penanggung jawab Cctv terkejut setengah mati. Setelah Danish meminta untuk di tunjukan rekaman yang berada di IGD, petugas tadi langsung mengoperasikan laptopnya, sehingga Danish dapat dengan jelas melihat semua yang terjadi setiap sudut ruang.
"Itu kan Madha? Apa? Dia datang bersama Hana?" Danish sampai memperjelas rekaman Cctv tadi.
Asisten Jim ikut membuka suara. "Tuan... Sepertinya Pak Madha memang memiliki dua adik. Dan mungkin saja, wanita yang mirip Mbak Hana, dia juga masih saudaranya. Bukanya tadi Pak Madha bilang jika wanita tadi adiknya nomor 2. Jadi, bisa jadi Mbak Hana adik bungsunya."
Danish manggung-manggut. Ucapan Asistennya itu sangat masuk di akal. "Jim, saya akan kesana. Kamu urus administrasi keluarga Hana semuanya!"
Asisten muda itu mengangguk. "Baik, Pak Danish!"
Setelah itu, Danish langsung saja menuju lantai 8, ruangan yang tadi sempat Madha beri tahu. Dan ternyata, selama ini dirinya mempekerjakan adik temanya sendiri. Tapi, kenapa Hana tidak pernah cerita tentang keluarganya?
Danish berdiam di dakam lift dengan seribu pertanyaan yang sulit sekali ia urai.
Ting!
Dan begitu pintu lift terbuka, bersamaan itu Hana juga tengah menunggu sejak tadi dan berniat untuk masuk. Namun, tiba-tiba saja ia tersentak.
Deg!
"Pak Danish? Anda juga ada disini, mau apa?" celetuk Hana sambil memicingkan mata.
Daniah sudah keluar. Ia menelan ludah kasar, mencoba mencari alasan yang lebih masuk akal agar kedatanganya tidak membuat Ibu susu putrinya itu curiga.
"Saya? Ya biasa lah, saya kan pemilik rumah sakit ini, jadi... Ya, sebelum ke kantor, saya memang keliling dulu setiap paginya," dalih Danish.
Hana menatap penuh malas. "Oh, gabut gitu ya 'pak?"
"Gabut? Apa itu gabut?" Danish memicingkan mata begitu menusuk.
Hana sampai tercengang. "Pak Danish nggak tahu gabut? Oh astaga... Saya lupa," ditepuk lah dahinya. "Bapak 'kan sudah tua, jadi nggak ngerti bahasa gaul anak Gen Z!"
Danish menahan napas berat, benar-benar paginya hancur gara-gara Ibu susu itu. "Hana... Berani kamu mengatakan saya tua!" geregetnya.
Hana hanya mengendikan bahu acuh. Lalu berniat masuk ke dalam lift begitu saja. "Daaa... Pak Danish!" tanpa wajah dosa, Hana melambaikan tangan kecil lalu dengan cepat menekan tombol merah.
Danish mencoba menetralkan napasnya. Ia tarik napas dalam-dalam, sambil berbisik, "Sabar Danish... Tenangkan hatimu. Untuk sementara kamu harus mengalah terlebih dulu. Dan mumpung wanita gila itu keluar, aku harus cepat masuk ke dalam."
*
*
Sementara di dalam ruangan rawat Bu Laksmi, Sanas yang sedang berjaga sendiri, kini di kejutkan dengan kedatangan seorang pria tampan berpenampilan formal dengan sikap dinginya.
"Permisi... Apa benar ini ruangan orang tuanya Madha?" ucap Danish dengan suara rendah.
Sanas agak menyipit. Raut wajahnya sangat asing dengan orang didepanya itu. "Benar! Maaf, Anda siapa ya?"
"Oh, saya rekan kerjanya Madha! Tadi kebetulan pas di ruang IGD bertemu dia disana. Ini, benar ibunya Madha yang sakit?" tanya kembali Danish yang agak mengernyit. Sebab, selama ini yang ia tahu, orang tua Madha bukanlah Bu Laksmi.
Sanas menatap Ibunya sambil menaikan sedikit selimut. "Benar. Ibu kami baru mendapat musibah jatuh dari kamar mandi."
Danish manggut-manggut. "Saya turut prihatin dengan keadaan beliau," katanya sambil menatap wajah Bu Laksmi yang masih terlelap lemas akibat obat yang baru saja di minum.
****
Sementara di ruang administrasi, kini Hana tersentak kala mendengar penuturan dua staff tentang biaya perawatan Bu Laksmi yang sudah di lunasi oleh seseorang.
"Maaf, Mbak... Kalau saya boleh tahu, siapa ya yang sudah melunasi?" Hana penasaran tentang siapa orang itu.
Staff tadi menangkupkan kedua tanganya di dada. "Maaf, Mbak... Tapi pihaknya meminta kami untuk merahasiakan. Saya hanya mengikuti prosedur saja!"
Hana mencoba mengangguk paham. Lalu kembali menatap Staff tadi. "Ya sudah, terimakasih ya mbak sebelumnya. Saya permisi...."
Hana membalikan badan berjalan gamang dengan langkah pelannya. Ia masih memikirkan, siapa orang yang telah melunasi semua administrasi ibunya. Padahal, sang Kakak baru saja pulang untuk mengambil data-data Ibunya terlebih dulu.
Dan kini, Hana memutuskan untuk duduk sejenak di taman rumah sakit. Selain memikirkan siapa orang itu, Hana juga bimbang mengambil keputusan yang menyangkut kelangsungan hidup baby Keira. Dirinya sudah terlalu nyaman dengan bayi 5 bulan itu. Namun, kesehatan ibunya juga lebih penting. "Semoga saja, Bu Ana dan Pak Danish dapat menerimanya. Aku nggak mungkin biarin ibu sendirian di rumah."
Mungkin setelah ini, Hana akan menemui Bu Ana untuk meminta ijin.
Waktu sudah menunjukan pukul 10.30 siang. Tak terasa, matahari sudah merambah hingga menusuk kulit janda cantik itu. Cukup puas menenangkan diri dan berpikir matang, Hana kembali lagi menuju lantai 8 ruangan Ibunya.
Akan tetapi, baru saja ia masuk, dari arah lobi ada yang memanggilnya.
"Hana... Tunggu!"
Hana menoleh. Anas~Kakak iparnya beranjak kearahnya sambil membawa dua paperbag tanggung.
"Mas Anas mau ke dalem juga? Jika iya biar saya bawakan saja," Hana mencoba bersikap biasa, membuang jauh-jauh kenanganya dulu.
Anas menolak, "Iya, tapi nggak usah! Ini biar saya saja yang bawa. Ya udah, ayo kita sekalian masuk."
Hana mengangguk ragu. Ia segera melanjutkan langkahnya, berjalan lebih dulu dan tak ingin satu sisi dengan Kakak iparnya.
Sementara Anas sendiri, senyum pria itu mengembang. Bukan senyum liar. Namun, senyum yang begitu tulus. Entah hati kecilnya sedang berbisik seperti apa, yang jelas, mendapati Hana telah sendiri, hal itu membuat Anas menjadi tenang.
Ceklek!
Sanas reflek menoleh. Ia melihat Hana masuk dan di susul oleh suaminya. Tak ada guratan cemburu atau luka dalam matanya. Sanas sudah mempercayakan sepenuh hatinya pada sosok pria tampan berkemeja biru itu.
"Mas... Kiki sama Putri nggak rewel 'kan?" tanya Sanas memegang lengan suaminya.
Anas menggeleng lemah. Melepaskan tangan Sanas, lalu meletakan dua paperbag tadi. "Nggak kok! Tadi aku sudah kasih pengertian sama mereka."
Sanas dapat bernapas dengan lega. Tapi, ia reflek menoleh kala tangan Bu Laksmi menyentuh lenganya. "San... Kamu pulang nggak papa. Kasian cucu Ibu di rumah! Dia pasti nyariin kamu," ucapnya lemah.
Sanas memegang tangan itu. "Ibu tenang aja, ya... Nanti Sanas pulang sebentar, karena Putri yang dikit rewel kalau mau tidur. Nanti biar Mas Anas yang gantiin jaga," katanya sambil menoleh pada sang suami.
Anas menatap Hana sekilas. Lalu pandanganya jatuh pada sang mertua. "Iya, Bu... Nanti kalau Sanas pulang, biar Anas yang gantiin jaga!"
Hana menelan ludah, sebab tenggorokanya terasa kering. Sebisa mungkin ia bersikap normal, namun tatapan Anas tidak sewajarnya tatapan seorang Kakak untuk adiknya.
"Oh ya Mbak... Tadi 'kan aku ke ruang administrasi, tapi... Kata petugas tadi, semua biaya perawatan Ibu sudah lunas. Dan... Mereka menyembunyikan identitasnya," Hana menatap Kakaknya lalu berpindah pada sang Ibu. "Nggak mungkin Mas Madha 'kan Bu?"
"Masmu baru pergi buat ambil baju ganti Ibu dan data-data, Han? Lalu siapa yang sudah melunasi?" suara Bu Laksmi bergetar penuh haru.
Hana memejamkan mata dalam-dalam, mencoba memikirkan, namun tak menemukan jawaban yang pas.
hellloow
dia adalah manusia manipulatif🤣🤣
selamat menikmati kesengsaraan
perutku mendadak lapar akibat puasa🤣🤣🤣
konyol memang😁
padahal kamu sudah menjatuhkan talak 3
meskipun hukum negara belum resmi cerai
TPI dalam agama kamu cudah cerai , ini talak 3 dzaki
bukan Talak 1atau2 yg bisa rujuk