NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: RAKA MULAI BERGERAK

#

Malam itu, Raka nggak bisa tidur. Dia duduk di ruang kerjanya. Ruangan mewah di lantai dua mansion. Dinding penuh rak buku yang nggak pernah dibaca. Meja kayu jati solid. Kursi kulit impor. Lampu meja menyala redup.

Di depannya, tiga monitor besar. Komputer gaming spec tinggi yang dia beli cuma buat gaya. Tapi malam ini... dia pakai buat sesuatu yang serius.

Raka bukan bodoh. Dia tau ibunya panik. Dia tau serangan ke gudang narkoba dan pencurian empat ratus miliar bukan kebetulan.

Ada yang merencanakan ini.

Ada yang... tau terlalu banyak.

Dan nama yang terus muncul di kepalanya...

Kenzo.

"Nggak mungkin," gumam Raka sambil buka browser. "Dia lemah. Dia pecundang. Dia nggak mungkin bisa lakuin ini."

Tapi keraguan tetep ada.

Karena Raka inget. Dulu, waktu mereka masih remaja, dia pernah liat Kenzo di depan komputer. Jari-jarinya cepat banget. Layar penuh kode yang Raka nggak ngerti.

"Lu ngapain?" tanya Raka waktu itu.

Kenzo langsung tutup laptop. Gugup. "N...nggak ada apa-apa."

"Bohong. Lu lagi ngehack sesuatu, kan?"

"Nggak... aku cuma..."

Raka merebut laptop itu. Buka paksa. Lihat layar.

Ada kode. Program. Sesuatu yang rumit.

"Lu... lu belajar hacking?" Raka menatapnya bingung.

Kenzo menunduk. "Iya... aku... aku cuma pengen punya skill... biar nggak terus jadi beban..."

Raka tertawa keras waktu itu. "Skill? Lu pikir skill hacking bisa bikin lu berguna? Lu tetep sampah, Kenzo. Mau jago hacking atau nggak."

Dia lempar laptop itu ke lantai. Layarnya retak.

Kenzo nangis. Tapi nggak ngomong apa-apa.

Dan Raka nggak pernah mikir itu penting.

Sampai sekarang.

"Kalau dia... kalau dia emang yang lakuin ini..." Raka membuka search engine. Mulai research.

Dia cari berita soal pembakaran gudang. Cari detail teknis. Cari... pola.

Satu jam kemudian, dia nemuin sesuatu.

"Kamera keamanan dimatikan dari sistem internal. Bukan dirusak fisik."

Raka menulis di notes.

"Alarm juga di-disable dari sistem. Bukan dipotong kabel."

Tulis lagi.

"Dan transfer empat ratus miliar... dilakukan dari terminal internal perusahaan. Bukan dari luar."

Raka bersandar di kursi. Mikir keras.

"Hacker. Pasti hacker yang sangat bagus."

Dia buka laptop pribadi. Akses database polisi lewat koneksi ayahnya yang punya akses khusus.

Cari data hacker yang pernah ditangkap atau dicurigai di kota ini.

Puluhan nama muncul.

Tapi satu nama... familiar.

Maya Kusuma.

"Maya..." Raka mengingat-ingat. "Teman masa kecil Kenzo."

Dia klik nama itu. File terbuka.

Foto Maya. Umur dua puluh empat tahun. Riwayat: pernah ditangkap polisi umur tujuh belas karena hack ATM bank. Dilepas karena masih di bawah umur. Jejak terakhir: tinggal di apartemen murah daerah pinggiran.

Alamat lengkap ada di sana.

Raka tersenyum tipis. "Ketemu."

Tapi dia nggak langsung lapor ke ibunya.

Karena ada sesuatu yang dia pengen tau dulu.

Dia buka software pelacak IP. Tool yang biasa dia pakai buat stalk orang di media sosial. Tapi kali ini... dia pakai buat cari jejak hacker.

Dia input data transfer empat ratus miliar. Trace IP address yang dipakai saat transfer.

Layar loading. Lima menit.

Lalu... hasil muncul.

IP address: 192.168.45.***

Lokasi: Apartemen Mutiara Indah, Blok C, Lantai 5.

Alamat Maya Kusuma.

"Bingo."

Raka berdiri. Jalan ke jendela besar. Menatap taman mansion yang gelap.

"Jadi... Kenzo emang masih hidup. Dan dia... kerja sama sama Maya."

Dia tersenyum dingin.

"Kakak... ternyata lu nggak se-bodoh yang gue kira."

Raka balik ke meja. Ambil handphone. Buka kontak.

Cari nama: Bram.

Bram. Mata-mata pribadi Raka. Orang bayaran yang biasa dia pakai buat nguntit pacar orang atau cari informasi kotor buat pemerasan.

Pria licik. Nggak punya prinsip. Asal bayarannya cukup, dia mau ngapain aja.

Telepon. Nada dering tiga kali.

"Halo, Mas Raka?" suara Bram terdengar ngantuk.

"Bangun. Gue punya job buat lu."

"Sekarang? Jam segini?"

"Iya. Sekarang. Gue kirim alamat. Lu ke sana. Pantau semua orang yang keluar masuk. Foto. Video. Kirim ke gue."

"Ini... ini apa, Mas?"

"Bukan urusan lu. Yang penting lu lakuin. Gue bayar double."

Hening sebentar. Lalu Bram jawab, "Oke. Kirim alamatnya."

"Tunggu. Satu lagi."

"Apa?"

"Kalau lu liat orang yang mirip kayak gue... tapi lebih kurus, lebih lusuh... foto close-up. Jangan sampe ketahuan."

"Orang yang mirip Mas Raka?"

"Iya. Kakak tiri gue. Kenzo."

"Oh... oke. Gue akan hati-hati."

"Bagus."

Telepon ditutup.

Raka kirim alamat apartemen Maya lewat pesan.

Lalu dia duduk lagi. Menatap layar komputer.

"Kenzo... lu pikir lu bisa sembunyi? Lu pikir gue nggak akan nemuin lu?"

Dia buka laci meja. Keluarin foto lama.

Foto keluarga. Diambil lima tahun lalu. Arjuna di tengah. Valerie di samping. Raka di depan, senyum lebar. Dan Kenzo... di pojok. Berdiri jauh dari yang lain. Senyum tipis tapi mata sedih.

Raka menatap wajah Kenzo di foto itu.

"Dulu lu lemah. Dulu lu pecundang. Tapi sekarang..."

Dia sobek foto itu. Pelan. Tepat di wajah Kenzo.

"Lu jadi musuh."

Sobekan foto jatuh ke meja.

Raka tersenyum dingin.

"Dan musuh... harus dihabisi."

***

Sementara itu. Arena underground.

Bayu duduk di kamarnya. Sendirian. Nggak bisa tidur juga.

Di tangannya, USB berisi semua bukti kejahatan Valerie dan Raka.

Tinggal upload. Tinggal viral. Tinggal selesai.

Tapi...

Ada yang nahan dia.

"Kalau gue upload sekarang... mereka bakal gerak cepat. Tutupin semua jejak. Bayar media buat counter-narrative. Bayar buzzer buat serang gue balik."

Dia memutar USB itu di jari.

"Gue butuh... momentum yang tepat. Waktu di mana mereka nggak bisa lari. Nggak bisa tutupin."

Lalu... sistem muncul.

**[PERINGATAN]**

**[MUSUH MULAI BERGERAK]**

**[RAKA SAMUDERA TELAH MELACAK LOKASI MAYA KUSUMA]**

**[WAKTU TERSISA SEBELUM SERANGAN: 48 JAM]**

Bayu terlonjak. Berdiri cepat.

"Sial!"

Dia langsung ambil jaket. Keluar kamar. Turun tangga. Lari ke van.

Tekong yang lagi tidur di kursi depan terbangun kaget.

"Ada apa?!"

"Raka tau lokasi Maya! Kita harus evakuasi dia sekarang!"

Tekong langsung duduk tegak. Nyalain mesin. "Ke mana?"

"Apartemen Maya! CEPET!"

Van meluncur cepat di jalanan malam yang sepi.

Bayu ambil handphone. Telepon Maya.

Nada tunggu. Satu. Dua. Tiga.

Nggak diangkat.

"Angkat... angkat... angkat..."

Nada tunggu lagi. Empat. Lima.

Akhirnya diangkat.

"Halo?" suara Maya ngantuk.

"MAYA! LU HARUS KELUAR DARI APARTEMEN! SEKARANG!"

"Apa? Kenapa?"

"RAKA UDAH TAU LOKASI LU! DIA BAKAL KIRIM ORANG!"

Hening sebentar.

Lalu terdengar suara Maya bangun cepat. Panik.

"SERIUS?!"

"SERIUS! AMBIL LAPTOP LU! HARD DISK! SEMUA DATA PENTING! TINGGALIN YANG LAIN!"

"T...TAPI..."

"NGGAK ADA TAPI! KELUAR SEKARANG! GUE UDAH DI JALAN! TUNGGU GUE DI GANG BELAKANG APARTEMEN!"

"OKE! OKE!"

Telepon ditutup.

Bayu menatap jalanan di depan. Lampu merah. Hijau. Merah lagi.

"Lebih cepet!" teriaknya ke Tekong.

Tekong injak gas lebih dalam. Van ngebut.

Tapi di pikiran Bayu... cuma satu hal.

"Raka... lu udah mulai bergerak..."

Dan perang...

Makin panas.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!