NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dendam di Balik Aliansi

“Hiks... hiks...”

Tangisan lirih itu memecah keheningan ruang makan yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Shasha meringkuk di lantai sambil memeluk lututnya erat-erat, seolah mencoba menyatukan kembali kepingan dirinya yang hancur. Wajahnya tenggelam di antara lipatan tangan, menyembunyikan isakan yang terasa semakin menyesakkan dada.

Ia masih berada di tempat yang sama, tepat di bawah bayang-bayang dinding di mana Jake baru saja melumatnya dengan amarah dan paksaan. Saat ia mencoba mendongak, setiap kedipan matanya hanya membuat air mata kembali menetes, membasahi pipi yang kini terasa panas.

Tangan Shasha yang gemetar bergerak meraba bagian depan dress-nya. Ia meringis pedih menyadari kain itu hampir robek di ujung atasnya akibat cengkeraman kasar Jake tadi. Sebuah pikiran mengerikan terlintas di benaknya. Andai saja Kevin tidak datang tiba-tiba untuk melaporkan urusan pekerjaan, mungkin saat ini ia benar-benar telah kehilangan segalanya.

Kehormatan yang ia jaga selama ini nyaris direnggut oleh pria yang bahkan tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah. Jake pergi begitu saja mengikuti Kevin tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Shasha yang luruh dalam kehancuran dan mati rasa.

Hingga sebuah cahaya dari pintu utama yang terbuka lebar menyilaukan matanya. Salah seorang pengawal masuk membawa sebuah paper bag dan menghampirinya dengan wajah datar.

“Tuan Jake memerintahkan kau untuk menghabiskan makanan ini,” ucap pengawal itu dingin.

Shasha mendongak, matanya yang sembap menatap benda itu dengan kebencian yang mendalam. Alih-alih menerima, ia justru menangkis paper bag itu hingga isinya berserakan di lantai.

“Aku tidak mau!” teriaknya histeris, “Katakan pada majikan brengsekmu itu, aku tidak mau menerima apa pun darinya!” Dada Shasha naik-turun menahan emosi yang meluap.

Namun pengawal itu tidak bergeming, “Tuan Jake berpesan bahwa ini makanan terakhir hari ini. Jika kau menolak, beliau mengucapkan... selamat kelaparan.” Setelah menyampaikan kalimat tajam itu, sang pengawal itu pun berbalik pergi.

Melihat pintu utama yang masih terbuka lebar, sebuah ide gila muncul di benak Shasha. Ia memanfaatkan kelengahan pengawal itu dan berlari sekencang mungkin menuju kebebasan.

“HEI! BERHENTI!” teriak pengawal itu, terkejut melihat mangsanya melesat cepat.

Namun, harapan Shasha hancur seketika saat ia berhasil melintasi ambang pintu. Di luar sana, puluhan pengawal berseragam hitam sudah berdiri tegak menghalangi jalannya. Ternyata, selama ini mereka tidak pergi, melainkan hanya memindahkan penjagaan ke area luar.

Shasha mundur perlahan dengan tubuh gemetar saat para pengawal itu mulai maju mengepungnya.

“Mau kabur ke mana, Nona?” tanya pengawal yang tadi memberinya makan dengan nada kemenangan.

Shasha buru-buru membalikkan badan, “Aku ingin... ingin pergi!” teriak Shasha gugup.

“Pergi? Tidak semudah itu!” Pengawal itu kemudian menyambar tangan Shasha dan mencengkeramnya dengan sangat kuat.

Shasha merintih kesakitan, namun pria itu justru menghempaskannya kembali ke dalam lantai mansion dengan kasar.

“Silakan bermimpi untuk pergi dari tempat ini!” tegas sang pengawal sebelum akhirnya menutup pintu utama yang berat itu dan menguncinya rapat-rapat dari luar.

Shasha segera bangkit meski seluruh tubuhnya terasa nyeri. Ia memukul-mukul pintu raksasa itu dengan kepalan tangannya yang kecil, berteriak hingga suaranya serak.

“Buka pintu ini! Buka! Biarkan aku pergi!”

Setelah berteriak dan memukul pintu hingga tenaganya terkuras habis, Shasha akhirnya menyerah pada kenyataan. Ia menjauh dari pintu besar yang terkunci itu, menatap nanar ke dalam mansion yang kini terasa begitu luas namun mencekik karena hanya ada dirinya sendiri di sana.

Langkah kakinya membawanya kembali melewati ceceran makanan yang tadi ia hempaskan.

“Makanan itu tidak bersalah,” gumamnya pelan sambil menghela napas panjang.

Ada rasa sesal yang sedikit menyeruak karena membuang makanan bukanlah sifat aslinya. Awalnya, ia berniat untuk bersikap tenang agar Jake lengah sehingga ia bisa mencari celah untuk kabur, tetapi intimidasi pria itu benar-benar menghancurkan pertahanan dirinya hingga ia kehilangan kendali.

Dengan tubuh yang terasa lunglai, Shasha melangkah menuju ruang tamu. Ia duduk di atas sofa besar yang terasa terlalu dingin itu, menatap jendela tinggi di depannya yang masih tertutup rapat oleh tirai tebal. Kesunyian di mansion itu terasa begitu dalam, hanya ditemani oleh detak jam dinding yang seolah menghitung setiap detik penderitaannya.

Ia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas sofa, meringkuk sekecil mungkin seolah ingin menghilang dari dunia. Di tengah kesendirian itu, tangisnya kembali pecah. Air matanya mengalir deras memikirkan nasibnya yang semakin tidak menentu. Ketakutan terbesar kini mulai menghantui pikirannya.

Apa mungkin selamanya ia akan terjebak di tempat mengerikan ini?

......................

Di sisi lain kota, sinar matahari pagi memantul gagah pada tulisan Giordino Grup yang terpampang di puncak sebuah gedung pencakar langit. Nama itu bersinar terang, seolah menjadi simbol kejayaan keluarga Jake yang tidak tergoyahkan. Di balik kemegahan bisnis legal yang dikagumi publik ini, tersimpan tabir gelap yang menutupi seluruh imperium bisnis ilegal yang Jake kelola selama bertahun-tahun.

Tok tok tok

“Masuk,” sahut Jake singkat tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen-dokumennya.

Pintu ruang kerjanya kemudian terbuka, menampakkan Kevin yang mendekat dengan ekspresi formal, “Tuan, ada tamu penting yang ingin bertemu dengan Anda.”

Jake meletakkan penanya di atas meja, lalu menatap tangan kanannya itu dengan sorot mata tajam yang menuntut penjelasan lebih lanjut.

“Tuan Aditya,” lanjut Kevin sigap, “Beliau adalah mantan hakim yang sekarang menjabat sebagai pengacara pribadi Tuan Ronald Asher.”

Mendengar nama itu, Jake lantas menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. Ia melipat kedua tangan di depan dada, sementara sebuah senyum miring yang penuh arti terbit di bibirnya. Ingatannya langsung tertuju pada sosok Ronald Asher, seseorang yang jelas memiliki kaitan dengan dunia gelapnya.

“Ronald Asher?” gumam Jake pelan, nada suaranya terdengar meremehkan sekaligus tertarik, “Suruh dia masuk.”

Kevin mengangguk patuh, lalu segera keluar untuk menjemput sang tamu, meninggalkan Jake yang kini mulai menyusun rencana baru di kepalanya.

Tidak lama pintu ruangan itu kembali terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang melangkah masuk dengan setelan rapi. Kevin mempersilakannya dengan sopan sebelum berdiri siaga di dekat pintu.

“Jake,” panggil Aditya, menyapa dengan senyuman ramah.

“Seorang manusia suci dari pengadilan datang menemui pria berdosa sepertiku. Bukankah terasa mencurigakan?” sindir Jake tajam, tidak berniat berbasa-basi.

Aditya terkekeh pelan, meski gurat kecemasan tipis terlihat di matanya, “Ah, aku sudah pergi dari tempat suci itu, Jake.”

“Karena uang?” Jake berdiri dari kursi kebesarannya, menatap tamunya dengan pandangan meremehkan, “Uang dari Ronald Asher tentu jauh lebih besar daripada gaji seorang hakim, bukan?”

Senyum di wajah Aditya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang dingin, “Kau benar. Manusia memang buta jika sudah berhadapan dengan harta dan kekuasaan.”

Jake tersenyum miring, merasa menang, “Silakan duduk,” ucapnya sambil menunjuk ke arah sofa kulit berwarna cokelat. Ia kemudian melirik Kevin, “Siapkan kopi untuk Tuan Aditya.”

“Tidak perlu. Aku hanya sebentar,” tolak Aditya cepat.

“Tenanglah, aku tidak akan meracunimu, Tuan Aditya.”

“Bukan begitu maksudku, Jake.”

“Iya Tuan, aku tahu,” jawab Jake santai, lalu memberi isyarat agar Kevin meninggalkan ruangan.

Setelah hanya tersisa mereka berdua, Jake duduk di sofa yang berseberangan dengan Aditya. Ia menyilangkan kakinya dengan gestur arogan, menatap pria di depannya seolah sedang menginterogasi mangsanya, “Rasanya masih sama seperti waktu itu. Saat kita berhadapan di pengadilan.”

Aditya bergerak gelisah di posisinya, “Lupakan saja masa lalu itu, Jake. Saat itu publik sangat marah. Sebagai hakim, aku tidak bisa menutup mata sepenuhnya. Dan yah... pada akhirnya kau terbukti tidak bersalah.”

“Memang bukan aku pelakunya,” sahut Jake dingin, “Tapi Ronald Asher, pria yang justru kau bela mati-matian saat ini.”

Aditya terdiam membisu, tidak mampu membantah fakta itu.

“Aku tahu kau datang padaku untuk meminta bantuan. Apa Ronald melakukan hal bejat lagi?” tanya Jake langsung pada intinya.

Aditya mengangguk dengan gemetar.

Jake yang melihat reaksi itu pun menyeringai lebar, seolah sudah menduga jawabannya, “Pria itu memang tidak bisa mengendalikan diri. Waktu itu gadis di bawah umur yang ia perkosa dan bunuh. Sekarang gadis muda mana lagi? Demi perlindungan, waktu itu Ronald sengaja menyeret namaku agar perhatian publik tertuju pada keluarga Giordino. Setelah aku terbukti bersih, publik pun perlahan melupakan masalah itu. Bajingan itu memang pandai bersiasat.”

Jake mencondongkan tubuhnya, menatap Aditya dengan kilatan mata yang berbahaya, “Sekarang katakan, kenapa aku harus membantu pria yang hampir menyeretku ke penjara?”

“Alex Morrigan.”

Ekspresi Jake berubah seketika. Nama itu seperti pemicu yang mengubah seluruh perhitungannya dalam sekejap.

“Tuan Ronald merebut salah satu gadis muda milik Alex, dan gadis itu meregang nyawa di tangan Tuan Ronald. Alex tidak terima dan kini mengajukan gugatan serta perlawanan keras. Di dunia gelap kalian, Tuan Ronald hanya bisa mengandalkanmu untuk membungkam Alex,” jelas Aditya panjang lebar.

“Maksudnya memanfaatkan permusuhan pribadiku dengannya?”

“Bukan begitu, Jake. Maksudku—“

“Aku mengerti,” potong Jake tegas, “Apa imbalannya jika Ronald berhasil lolos dari masalah ini?”

“Jadi kau setuju?” wajah Aditya seketika cerah.

“Jangan senang dulu.” Jake mengetuk meja kaca di depan mereka dengan jari telunjuknya secara beraturan, “Aku selalu bekerja sesuai imbalan. Jika tuanmu tidak memberikan sesuatu yang sepadan, aku tidak akan sudi mengotori tanganku untuk masalah ini.”

Aditya mengangguk cepat, “Tentu, aku akan mendiskusikannya dengan Tuan Ronald. Aku janji memberikan jawaban secepatnya.”

“Tidak perlu terburu-buru, karena aku tidak menunggunya. Hanya saja... mungkin Alex bisa bergerak lebih cepat daripada yang kalian bayangkan,” ucap Jake dengan nada mengancam.

“Aku mengerti. Kalau begitu, aku permisi.” Aditya berdiri dan segera meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa.

Setelah pintu tertutup, Jake menyandarkan punggungnya kembali ke sofa. Tatapannya kosong namun penuh dendam.

“Alex Morrigan... kita lihat balasan apa yang akan kau terima karena telah berani menculik orangku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!