Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Tawuran
Lian membanting pintu kamar.
Brak!
Suara itu menggema, memantul di dinding kamarnya yang penuh poster motor, gitar tua di sudut, dan meja belajar yang jarang benar-benar dipakai untuk belajar. Ia menyandarkan punggung ke pintu, dadanya naik turun, napasnya masih berat—entah karena sisa adrenalin tawuran, atau karena tatapan pria itu.
Pria dingin.
Rapi.
Tenang.
Menyebalkan.
“Haikal Fero,” gumamnya pelan, seperti mencicipi nama yang tak ia minta masuk ke kepalanya.
Ia menekan pelipis.
“Brengsek.”
Lian berjalan ke kamar mandi, menyalakan keran tanpa melepas jaket. Air dingin menghantam tangannya, memerahkannya lebih jauh. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.
Luka kecil di bibir.
Lebam samar di buku jari.
Dan mata itu.
Mata yang masih menyimpan bayangan tatapan Haikal.
Bukan tatapan lelaki yang tergoda.
Bukan tatapan lelaki yang marah.
Melainkan tatapan orang yang… melihat.
Itu yang membuatnya kesal.
Lian menjatuhkan diri ke ranjang setelah mandi. Rambutnya masih basah, kaus longgar menempel di kulit. Ia menatap langit-langit, jari-jarinya memainkan ponsel tanpa tujuan.
Notifikasi menumpuk.
Grup geng motornya.
Pesan Nayla.
Telepon tak terjawab dari bunda.
Namun pikirannya hanya terjebak pada satu momen:
saat Haikal berdiri tenang di ruang tamu, menghadapi kekacauan yang bernama dirinya.
Saya tahu Anda anak Ibu Maya. Dan itu cukup.
Kalimat itu berulang-ulang di kepalanya.
“Cukup apaan sih,” gerutunya. “Sok dewasa.”
Lian berbalik miring, memeluk bantal.
Biasanya, lelaki seperti itu langsung menggurui. Mengancam. Menasehati. Atau paling tidak, memandangnya dengan jijik.
Tapi Haikal tidak.
Dan itu… aneh.
Malam turun pelan. Rumah kembali sunyi. Lian keluar kamar untuk minum. Di dapur, Maya duduk sendiri, menatap secangkir teh yang tak disentuh.
“Bun.”
Maya menoleh cepat.
“Kamu sudah lebih baik?”
Lian mengangguk singkat.
“Cuma lecet.”
Hening.
Lian membuka kulkas, mengambil air, meneguknya langsung dari botol. Tangannya berhenti saat mendengar suara bundanya pelan.
“Dia tidak marah.”
Lian memejamkan mata.
“Siapa?”
“Haikal.”
Lian mendengus.
“Kenapa dia harus marah? Aku bukan siapa-siapanya.”
Maya berdiri mendekat.
“Dia bilang kamu… kuat.”
Kata itu membuat Lian menoleh.
“Kuat?” ulangnya tak percaya.
Maya mengangguk.
“Dia bilang, orang yang berani melawan dunia biasanya cuma sedang kelelahan.”
Lian tertawa kecil, getir.
“Dia psikolog sekarang?”
Namun setelah itu, ia tidak bisa menertawakan dirinya sendiri.
Karena entah kenapa…
kata itu terasa tepat sasaran.
Di kamar, Lian duduk di lantai, punggungnya bersandar ke ranjang. Ia membuka ponsel, tanpa sadar mencari nama yang bahkan belum ia simpan.
Haikal Fero.
Tidak ada foto.
Tidak ada media sosial.
“Seriusan tentara,” gumamnya.
Ia menghembuskan napas panjang.
“Bagus. Satu orang sok suci lebih sedikit di dunia maya.”
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Lian tidak keluar rumah.
Ia hanya berbaring, menatap layar gelap ponselnya, memikirkan kemungkinan yang membuat dadanya terasa sempit.
Bagaimana jika…
perjodohan ini bukan sekadar ancaman?
Bagaimana jika…
ia benar-benar harus menikah?
“Enggak,” bisiknya keras. “Aku enggak akan nurut.”
Namun ketika memejamkan mata, bayangan yang muncul bukan amarah bundanya—
melainkan wajah dingin dengan suara tenang yang tak memaksanya melakukan apa pun.
Dan itu lebih mengganggu.
Pagi berikutnya, Lian berangkat kuliah seperti biasa. Jaket hitam, helm diturunkan, motor melaju kencang. Ia berusaha keras mengembalikan dirinya yang biasa—liar, bebas, tak peduli.
Namun di kampus, Nayla langsung menatapnya tajam.
“Kamu kenapa?” tanya sahabatnya. “Sejak kapan kamu diem kayak orang mikirin skripsi?”
Lian menendang kerikil kecil.
“Calon suami bunda datang ke rumah.”
Nayla nyaris tersedak minumannya.
“HAH?!”
“Tenang,” sahut Lian cepat. “Aku bentak juga.”
“Terus?”
Lian terdiam.
“Terus… dia nggak bentak balik.”
Nayla mengernyit.
“Lah?”
“Dia malah kayak… nerima aku apa adanya.”
Nayla tersenyum miring.
“Oh. Bahaya.”
“Apanya?”
“Laki-laki dingin yang nggak reaktif itu biasanya bikin cewek kepikiran.”
Lian langsung berdiri.
“Gue nggak kepikiran.”
Nayla menaikkan alis.
“Kata orang yang kepikiran.”
Lian membuang muka.
Ia benci mengakuinya—
tapi sejak hari itu, setiap suara motor besar, setiap bayangan pria berseragam, setiap kata imam—
selalu membawa satu nama ke kepalanya.
Nama yang tak ia undang.
Nama yang tak ia inginkan.
Namun sudah telanjur tinggal.
Dan Lian mulai sadar—
perang terbesarnya bukan melawan bunda…
melainkan melawan detak di dadanya sendiri.
____
Malam kembali menuruni kota dengan caranya sendiri—
gelap, bising, dan penuh adrenalin.
Lian berdiri di bawah lampu jalan yang setengah mati, helmnya tergantung di stang motor. Jaket hitamnya sudah berganti dengan hoodie gelap, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang akan masuk ke medan konflik.
Mesin-mesin motor meraung di sekitarnya.
Lampu-lampu menyilaukan mata.
Bau bensin dan asap knalpot bercampur jadi satu.
Geng motor itu sudah berkumpul.
Bukan untuk balapan.
Bukan untuk pamer.
Tapi untuk membalas.
“Targetnya anak-anak Timur,” kata salah satu temannya, suaranya penuh bara. “Mereka sok jago kemarin.”
Lian tidak menjawab. Ia hanya mengenakan helm, menurunkan kaca penutup wajahnya.
Ia tidak menyangkal.
Tidak juga menerima.
Ia hanya diam—
seperti biasa.
Motor melesat.
Kecepatan mengaburkan logika. Jalanan menjadi garis-garis panjang yang kabur. Di dalam helm, napas Lian terdengar berat, teratur, seolah semua kekacauan di kepalanya menghilang setiap kali jarum kecepatan naik.
Inilah dunianya.
Dunia tanpa pertanyaan.
Tanpa tuntutan.
Tanpa kata imam.
Namun takdir punya cara kejam untuk mengingatkan.
Keributan pecah di sebuah persimpangan kecil dekat pasar malam. Motor-motor berhenti mendadak, teriakan bersahutan, suara besi beradu dengan aspal.
Dan di tengah kekacauan itu—
“WOI!”
Sebuah motor dari geng lawan melaju terlalu kencang, menyalip brutal.
Brak!
Tubuh kecil itu terhempas ke pinggir jalan.
Semua terhenti.
Seorang nenek tua terjatuh, keranjang belanjaannya berserakan. Lututnya terbentur aspal, darah mengalir tipis. Siku tuanya lecet, tangannya gemetar menahan sakit.
Motor itu tidak berhenti.
Lian melihatnya.
Jelas.
Darahnya mendidih.
“BERHENTI!” teriaknya, suaranya pecah oleh helm.
Namun motor itu justru tancap gas.
Dan detik berikutnya—
Lian turun dari motor.
Helm dilepas. Dilempar sembarangan.
Ia melangkah cepat ke arah nenek itu, berlutut tanpa peduli kerumunan.
“Nek… nek, bisa dengar aku?” suaranya berubah, rendah dan fokus.
Nenek itu mengerang pelan.
“Sakit, Nak…”
Lian menelan ludah.
Amarahnya meledak.
Ia berdiri, menoleh ke arah geng lawan yang mulai tertawa, seolah insiden itu hanyalah hiburan.
“Siapa motor merah tadi?” tanyanya dingin.
Tak ada jawaban.
Satu langkah.
“SIAPA?” bentaknya.
Dan saat salah satu dari mereka menyeringai mengejek—
tangan Lian melayang lebih dulu.
Pukulan itu keras. Tepat.
Balasan datang.
Kekacauan pecah.
Namun kali ini bukan karena ego.
Bukan karena geng.
Melainkan karena seorang nenek yang jatuh dan ditinggalkan.
Sirene meraung.
Semua terkejut.
Motor-motor berhamburan, mencoba kabur. Beberapa tertangkap. Lian berdiri terengah, buku jarinya kembali memerah, napasnya memburu.
Sinar lampu mobil menerobos kerumunan.
Dan di antara suara gaduh itu—
satu suara terdengar jelas.
“Cukup.”
Datar.
Dalam.
Tegas.
Lian menoleh.
Haikal.
Ia berdiri beberapa meter darinya, mengenakan jaket gelap, tubuhnya tegap, sorot matanya tajam menyapu lokasi. Dua anggota berseragam lain bergerak cepat mengamankan keadaan.
Tatapan mereka bertemu.
Lian tidak berkata apa-apa.
Tidak menyangkal.
Tidak membela diri.
Tidak juga memohon.
Ia hanya diam.
Haikal melangkah mendekat, berhenti tepat di depannya.
“Kamu terluka,” ucap Haikal, nadanya bukan tanya.
Lian mengangkat bahu.
“Biasa.”
“Kenapa?” tanya Haikal singkat.
Lian menatap lurus ke depan.
Diam.
Haikal mengikuti arah pandangannya—
dan melihat nenek tua itu terduduk di pinggir jalan, meringis menahan sakit, darah mengalir di lututnya.
Haikal langsung bergerak.
Ia berlutut di depan nenek itu, membuka tas kecil yang entah sejak kapan ada di mobilnya, membersihkan luka dengan hati-hati.
“Nek, saya Haikal,” katanya lembut. “Saya bantu, ya.”
Nenek itu mengangguk lemah.
Lian menatap pemandangan itu tanpa berkedip.
Dadanya terasa sesak.
“Dia…” suara nenek itu bergetar, menunjuk Lian. “Dia yang nolong saya duluan.”
Haikal menoleh.
Menatap Lian lama.
Untuk pertama kalinya, sorot matanya berubah.
Bukan dingin.
Bukan menilai.
Melainkan… memahami.
“Benar?” tanya Haikal.
Lian mengangguk pelan.
Hanya itu.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada penjelasan panjang.
Haikal berdiri, menatap Lian dengan rahang mengeras.
“Kamu ikut saya.”
Lian menurut.
Tanpa kata.
Di dalam mobil, keheningan menggantung tebal. Lampu jalan bergantian menerpa wajah Lian, memperlihatkan luka kecil dan mata yang lelah.
“Kamu berkelahi bukan karena geng,” ucap Haikal akhirnya. “Tapi karena orang lain.”
Lian menatap jendela.
“Bukan urusan kamu.”
“Sekarang urusan saya,” jawab Haikal tegas. “Karena apa pun alasanmu, kamu hampir mencelakai dirimu sendiri.”
Lian tertawa kecil.
“Kenapa? Takut calon istri rusak sebelum akad?”
Haikal mengerem mendadak.
Mobil berhenti.
Ia menoleh, menatap Lian lurus.
“Saya tidak peduli kamu terima atau tidak,” ucapnya pelan namun mengandung tekanan. “Tapi selama kamu di bawah tanggung jawab saya, saya tidak akan membiarkan kamu hancur—dengan atau tanpa persetujuanmu.”
Lian terdiam.
Kata-kata itu tidak lembut.
Tidak romantis.
Namun jujur.
Dan entah kenapa—
itu lebih menggetarkan dari janji manis mana pun.
Mobil kembali melaju.
Lian menyandarkan kepala ke kursi, memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian di tengah kekacauan yang selalu ia ciptakan sendiri.
Dan di dadanya, detak itu kembali muncul—
lebih kuat,
lebih jelas.
Detak yang tak lagi bisa ia pura-pura abaikan.
,