"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan cari aku
Secara tiba-tiba, Yasmin mengambil cuti selama 3 hari. Tanpa catatan, tanpa kabar, hanya sepucuk surat singkat di atas meja kerjanya di rumah sakit Medistra yang menjadi jejak terakhir Yasmin.
“Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Karena itu aku akan cuti selama 3 hari. Tolong jangan cari aku selama masa cuti.” Isi surat dari Yasmin.
Keputusan Yasmin yang mendadak tidak diketahui oleh banyak orang, termasuk Jacob sang suami. Jacob yang merupakan direktur utama di rumah sakit tempat dirinya dan Yasmin bekerja, darahnya langsung mendidih kala membaca surat yang ditulis tangan sendiri oleh Yasmin. Bahkan ada cap sample pribadi milik Yasmin juga di atas di atas surat tersebut.
“Bagaimana bisa Yasmin melakukan ini? Bagaimana mungkin dia mengambil cuti tanpa mendiskusikannya dulu denganku?!” Umpat Jacob sambil memukul mejanya dengan kasar.
Rumah sakit jadi goyah karena ketiadaan Yasmin, sebagian besar pasien yang ditangani Yasmin yang merupakan wanita yang tengah mengandung, menolak ditangani oleh dokter lain.
“Hanya Dokter Yasmin yang mengerti keluhan saya.” teriak seorang wanita yang tengah hamil tua, membuat kepala Jacob makin pusing.
Puluhan kali Jacob mencoba menghubungi Yasmin. Panggilan tersebut selalu terhubung, namun tak kunjung mendapat jawaban. Hanya nada dering yang terus bergema, seolah menertawakan kekesalan yang tumbuh di hatinya.
Karena Yasmin tak kunjung mengangkat teleponnya, Jacob tidak punya pilihan lain selain mengirim pesan pada Yasmin. “Yasmin! Ada apa sebenarnya denganmu? Sampai kapan kamu mau berulah? Tadi pagi membuat masalah di rumah dengan tidak mau membuatkan aku dan Ara sarapan, di rumah sakit juga kembali membuat masalah. Kesabaranku ada batasnya Yasmin!” Jacob mengetik pesan tersebut dengan rahang yang mengeras, matanya menyala tajam.
Tapi pesan yang dikirimkan Jacob hanya centang 2 berwarna hitam saja, tak kunjung berubah menjadi biru. Menandakan kalau pesan tersebut sudah terkirim, namun Yasmin tidak membacanya.
Jacob Tak mampu menahan kemarahan dan kekhawatiran yang bercampur menjadi satu, pria beralis tebal itu mengambil ponselnya yang berada di atas meja, kemudian mulai menghubungi detektif swasta yang pernah ia kenal.
“Cari tahu di mana keberadaan Yasmin dengan cepat!” Perintah Jacob dengan nada tegas sesaat setelah panggilan dengan sang detektif terhubung.
Dan tak butuh waktu lama, mungkin hanya sekitar dua jam saja, sang detektif sudah mendapatkan informasi yang Jacob inginkan tentang Yasmin.
“Nyonya Yasmin berada di Vila keluarga Surya yang letaknya ada di tepi Danau Cinta.” Bersamaan dengan pesan tersebut, sebuah foto terkirim. Mata Jacob membelalak kala melihat Yasmin tengah asik bersantai di bangku kayu tepi danau, rambutnya terbentang tertiup angin, pakaian baju renangnya sedikit terbuka sehingga bahu dan bahagian dadanya terlihat jelas. Wajah Yasmin terlihat riang, seolah tidak ada masalah apapun di dalam hidupnya. Di sebelah Yasmin duduk seorang pria yang wajahnya tidak terlihat jelas karena terhalang dedaunan.
"Yasmin! Berani sekali kau mengkhianatiku!" Rahang Jacob mengeras, api cemburu berkobar di dadanya.
Sedangkan di luar rumah sakit, suara gelombang protes semakin jelas terdengar. Jacob dibuat pusing setengah mati menghadapi gelombang protes dari para pasien Yasmin yang meminta dokternya segera kembali, tapi orang yang mereka cari malah sibuk bersenang-senang dengan pria lain.
Tanpa ragu, Jacob mengambil kunci mobilnya. Ia hendak menyusul Yasmin ke Vila keluarga Surya.
“Kalau kau tidak mau kembali, biar aku yang akan menjemputmu dengan cara apapun.” gumam Jacob sambil melangkah cepat menuju pintu.
Langit kota Jakarta mulai mendung, seolah mencerminkan perasaan yang ada di dalam hati Jacob.
Bersambung...