NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Malam Terakhir atau Malam Pertama

...— ✦ —...

Sabtu pagi, sensasi itu tidak berhenti.

Bukan lagi sedetik. Bukan lagi jeda singkat yang datang dan pergi seperti gelombang. Kali ini ia hadir seperti arus bawah laut yang terus menarik — tidak cukup kuat untuk menyeret, tapi cukup untuk dirasakan setiap saat, setiap tarikan napas, setiap langkah.

Kirana tahu apa artinya. Sudah tahu sejak Kamis. Tapi mengetahui dan menerima adalah dua hal yang berbeda, dan antara keduanya ada jarak yang tidak selalu bisa diukur dengan logika.

Ia turun ke dapur pukul enam tiga puluh dan membuat teh dengan gerakan yang terasa terlalu sadar — terlalu memperhatikan setiap detail, cara air panas mengepul, cara cangkir terasa di telapak tangan, bau teh yang melayang di udara dapur yang masih tenang. Seperti seseorang yang sedang menyimpan sesuatu ke dalam ingatan sebelum ingatan itu tidak lagi bisa diakses.

Berhenti,* tegasnya pada dirinya sendiri. *Belum. Belum sekarang.

Tapi tubuh tidak selalu mendengarkan pikiran, dan arus itu tetap ada di bawah segalanya, pelan dan gigih.

...✦  ✦  ✦...

Amethysta turun dengan atlas bintangnya.

Bukan untuk dibaca — hanya dibawa, seperti yang kadang ia lakukan ketika ada sesuatu di kepalanya yang belum sepenuhnya ia artikan tapi ingin ditampung di suatu tempat. Ia duduk di kursi bar, meletakkan atlas di pangkuannya, dan menatap Kirana dengan mata ungu yang tidak berkedip segera.

"Mama mimpi apa semalam?" tanyanya.

Pertanyaan yang tidak Kirana duga. "Kenapa kamu tanya?"

"Karena Mama kelihatan seperti orang yang baru bangun dari mimpi yang masih di sini." Amethysta menunjuk kepalanya sendiri. "Di sini. Belum pergi."

Kirana menatap gadis kecil ini — tujuh tahun, dengan kemampuan membaca orang yang seharusnya baru berkembang sempurna bertahun-tahun lagi, yang tumbuh terlalu cepat di area yang salah tapi ternyata menghasilkan sesuatu yang tidak terduga: kepekaan yang luar biasa, kemampuan untuk melihat apa yang orang lain pilih untuk tidak dilihat.

"Mimpi tentang rumah," jawab Kirana akhirnya. Bukan kebohongan — hanya tidak lengkap.

"Rumah yang mana?"

Kirana meletakkan cangkirnya. Duduk di seberang Amethysta, di kursi bar yang lain. "Rumah yang lama. Sebelum di sini."

Amethysta mempertimbangkan ini. "Dan di sana lebih baik atau di sini lebih baik?"

Pertanyaan yang terdengar sederhana. Yang tidak sederhana.

"Di sini," kata Kirana. Tanpa ragu. "Di sini lebih baik."

Amethysta mengangguk — anggukan seseorang yang sudah menduga jawabannya tapi perlu mendengarnya diucapkan. Lalu ia membuka atlasnya ke halaman acak dan mulai membaca, dan percakapan itu selesai dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh anak-anak: tuntas, tanpa sisa.

...✦  ✦  ✦...

Xavier mengajak mereka keluar siang itu.

Bukan ke tempat yang istimewa — hanya taman kota yang tidak terlalu jauh, yang punya kolam dengan bebek dan jalur pejalan kaki di bawah pohon-pohon besar. Ide yang muncul di meja sarapan ketika ia melihat cuaca di luar dan memutuskan bahwa Sabtu yang cerah terlalu sayang untuk dihabiskan di dalam rumah.

Amethysta setuju dengan antusias. Kirana setuju dengan sesuatu yang lebih dari sekadar setuju — dengan rasa syukur yang tidak perlu ia ucapkan karena hari ini adalah hari yang perlu ia simpan sepenuhnya, dengan semua indra, dengan semua perhatian yang bisa ia kumpulkan.

Di taman, Amethysta langsung berlari ke arah kolam. Bebek-bebek di sana sudah terbiasa dengan pengunjung dan bergerak dengan anggun tanpa terburu-buru, dan Amethysta berdiri di tepi kolam dengan atlas yang masih ia bawa — entah apa hubungannya bebek dengan astronomi, tapi Amethysta punya cara sendiri dalam menghubungkan hal-hal.

Kirana dan Xavier berjalan lebih pelan di belakangnya, di jalur yang teduh di bawah pohon-pohon besar.

"Ini hari yang bagus," kata Xavier.

"Ya." Kirana menatap Amethysta yang sedang menjelaskan sesuatu kepada bebek-bebek dengan serius. "Hari yang sangat bagus."

Xavier melirik ke arahnya. "Kamu baik-baik saja?"

"Lebih dari itu." Kirana mengambil napas panjang — udara taman yang berbeda dari udara dalam ruangan, lebih hidup, lebih nyata. "Aku hanya ingin memastikan aku benar-benar ada di sini hari ini. Tidak setengah-setengah."

Xavier tidak menjawab segera. Tapi tangannya bergerak — perlahan, tanpa terburu-buru — dan jari-jarinya menyentuh jari-jari Kirana, bukan menggenggam penuh, hanya menyentuh. Cara yang sudah berkembang menjadi bahasanya sendiri di antara mereka.

"Kamu ada di sini," katanya pelan. "Aku bisa merasakannya."

...✦  ✦  ✦...

Sore hari, di bangku taman di bawah pohon besar, Amethysta duduk di antara keduanya.

Bukan di sisi salah satu — di tengah, dengan bahu yang menyentuh bahu Kirana di kiri dan bahu Xavier di kanan, dengan atlas terbuka di pangkuannya meski ia tidak benar-benar membacanya lagi.

"Papa," katanya tiba-tiba.

"Hm."

"Kapan kita pergi ke tempat yang tidak ada lampunya? Untuk lihat Andromeda?"

Xavier melirik Kirana sebentar di atas kepala Amethysta. "Kapan kamu mau?"

"Bulan depan?" Amethysta berpikir. "Naira mau ikut. Dan neneknya Naira yang tahu caranya. Neneknya bilang ada tempat dua jam dari sini yang langitnya gelap."

"Bisa diatur," kata Xavier.

Amethysta mengangguk dengan ekspresi puas — seseorang yang sudah merencanakan sesuatu jauh-jauh hari dan baru sekarang mengumumkannya. Lalu ia bersandar sedikit ke Kirana, tidak banyak, hanya cukup untuk terasa.

Kirana tidak bergerak. Ia duduk di bangku taman itu, dengan angin sore yang bergerak di antara daun-daun, dengan suara anak-anak lain yang bermain di kejauhan, dengan bahu kecil yang bersandar ke bahunya dan tangan Xavier yang sesekali menyentuh tangannya — dan merasakan arus bawah laut itu masih ada, masih menarik, tapi untuk saat ini tidak cukup kuat untuk mengalahkan hal-hal yang juga nyata di sekelilingnya.

Bulan depan,* pikir Kirana. *Andromeda. Naira dan neneknya. Langit yang gelap.

Amethysta sudah merencanakan bulan depan. Dengan yakin. Dengan cara yang tidak menyisakan ruang untuk kekhawatiran bahwa mungkin bulan depan segala sesuatu tidak akan sama.

Dan mungkin itu satu-satunya hal yang perlu Kirana pegang malam ini.

...✦  ✦  ✦...

Mereka pulang ketika matahari mulai turun, langit berubah warna di ujung barat — oranye dan merah muda dan ungu yang perlahan menyatu.

Amethysta tertidur di mobil, kepala di bahu Kirana, atlas masih di pangkuannya. Xavier mengemudi dalam keheningan yang tidak perlu diisi. Dan Kirana duduk di sana, dengan kepala kecil yang berat dan hangat di bahunya, menatap langit yang berubah warna melalui jendela.

Ini,* batinnya. *Ingat ini. Berat kepalanya. Bau rambutnya. Cara langit berubah warna di luar jendela.

Ingat semuanya.

...✦  ✦  ✦...

Malam itu, setelah Amethysta tidur dan rumah kembali sunyi, arus itu menguat.

Kirana duduk di tepi ranjang dan merasakannya dengan jelas sekarang — bukan lagi arus bawah laut yang bisa diabaikan, tapi sesuatu yang lebih seperti pasang yang mulai naik. Tidak menakutkan. Tidak menyakitkan. Hanya... tidak bisa lagi pura-pura tidak ada.

Ia berdiri. Berjalan ke kamar Amethysta.

Pintu sedikit terbuka seperti biasa. Cahaya lorong masuk secukupnya. Amethysta tidur dengan posisi yang tidak berubah sejak kecil — miring ke kanan, tangan di bawah pipi, selimut biru muda sampai ke dagu.

Pot lavender di ambang jendela. Tunas-tunas yang masih menutup.

Kirana berdiri di ambang pintu lebih lama dari biasanya. Menatap gadis kecil yang tidur itu — yang dua bulan lalu memegang ujung gaunnya sampai knuckle-nya memutih, yang tadi sore bersandar ke bahunya di bangku taman dan merencanakan perjalanan melihat Andromeda bulan depan dengan nada yang tidak menyisakan ruang untuk kekhawatiran.

"Kamu akan baik-baik saja," bisik Kirana, cukup pelan untuk tidak membangunkan siapapun. "Aku tahu karena aku yang memulai cerita ini. Dan kamu — kamu sudah menjadi bagian yang paling nyata dari cerita yang aku tidak sepenuhnya tulis."

Jeda.

"Bunga lavendermu akan mekar. Perjalanan ke Andromeda akan terjadi. Naira akan tetap ada. Papa akan terus pulang lebih awal." Kirana menarik napas. "Dan siapapun yang ada di sini besok — apakah itu aku atau bukan aku — mereka sudah tahu semua ini. Aku pastikan."

Pasang itu naik sedikit lagi.

Kirana tidak melawan. Ia hanya berdiri di sana, menatap Amethysta yang tidur, dan membiarkan momen ini menjadi persis apa yang ia adalah — sebuah perpisahan yang mungkin, atau mungkin bukan, yang tidak perlu dramatisasi untuk menjadi berharga.

"Selamat tidur," katanya akhirnya, pelan. "Besok ada bintang baru yang perlu ditunjukkan padaku."

...✦  ✦  ✦...

Kirana kembali ke kamarnya.

Berbaring di ranjang. Menatap langit-langit putih yang sudah ia hafal setiap sudutnya.

Pasang itu terus naik. Perlahan. Tidak terburu-buru.

Ia tidak melawan. Ia tidak mencengkeram. Ia hanya berbaring dan membiarkan dirinya ada di sini sepenuhnya sampai detik terakhir yang ia punya — merasakan seprai sutra yang sudah akrab, mendengarkan suara rumah yang bernapas, membiarkan wajah-wajah yang sudah ia kenal melintas satu per satu di pikirannya.

Amethysta dengan atlas bintangnya. Xavier dengan tangannya yang menyentuh tanpa memaksa. Seren yang bertahan enam tahun karena seorang anak. Ibu Zhang yang bertanya tentang Cassiopeia. Vivienne yang peduli dengan cara yang tidak mudah dikenali.

Dan di suatu tempat di antara semua itu — wajahnya sendiri, Kirana Seo, yang masuk ke dalam cerita ini tanpa rencana dan menemukan bahwa cerita yang ia tulis ternyata lebih besar dari yang ia bayangkan.

Kalau kamu bisa memilih — pilih untuk tinggal.

*Aku akan mencoba,* jawabnya waktu itu.

Dan ia sudah mencoba. Dengan sepenuh yang ia punya. Dengan setiap hari yang diberikan, setiap sarapan yang dimasak, setiap pertanyaan yang dijawab dengan jujur, setiap momen di taman dan di bangku sekolah dan di karpet kamar dengan atlas bintang terbuka.

Ia sudah mencoba. Dan mencoba sudah cukup.

Pasang terus naik.

Di luar jendela, langit sudah sepenuhnya gelap dan bintang-bintang ada di sana — sabuk Orion yang tiga bintangnya berbaris rapi, bintang kutub di ujung ekor Ursa Minor, Cassiopeia yang berbentuk W atau M tergantung musimnya.

Selalu ada.

Tidak pergi ke mana-mana.

Kirana menutup matanya — bukan karena menyerah, tapi karena ada saat-saat ketika yang terbaik yang bisa dilakukan adalah melepas genggaman dan mempercayai bahwa hal-hal yang sudah ditanam akan terus tumbuh, bahwa fondasi yang sudah dibangun tidak akan runtuh hanya karena tangannya tidak lagi menyentuhnya.

Bahwa rantai yang sudah mulai diputus akan terus diputus.

Bahwa Amethysta akan melihat Andromeda bulan depan.

Bahwa lavender akan mekar pada waktunya.

Pasang naik. Naik. Dan Kirana Seo — penulis yang masuk ke dalam novelnya sendiri, yang menjadi ibu dari karakter yang ia ciptakan, yang mengubah akhir cerita yang sudah ia tulis — mengambil napas terakhirnya dalam tubuh ini dengan sesuatu yang bukan kesedihan dan bukan kebahagiaan tapi sesuatu yang lebih dari keduanya.

Rasa cukup.

Rasa sudah.

Dan kemudian — seperti bintang yang tidak pergi tapi hanya tidak terlihat karena cahaya yang berubah — ia ada, lalu tidak ada, lalu ada lagi di tempat yang berbeda.

...✦  ✦  ✦...

Di kamar sebelah, Amethysta tidur.

Di ambang jendelanya, tunas lavender yang belum mekar berdiri dalam pot keramik kecil, diam dan sabar.

Di rak perpustakaan, di dalam buku astronomi yang halamannya sudah sedikit lusuh di bagian konstelasi Orion, sebuah amplop putih menunggu — dengan satu kata di depannya, dan di dalamnya semua yang perlu diketahui tentang orang-orang yang layak dicintai dengan benar.

Di langit malam yang bersih di atas rumah itu, bintang-bintang tetap pada tempatnya.

Seperti selalu.

...✦  ✦  ✦...

...— Bersambung —...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!