Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: TRANSAKSI DI BALIK KABUT
Kemenangan atas Fan Wei tidak memberikan ketenangan bagi Tian Feng. Sebaliknya, ia merasa seperti seekor ikan kecil yang baru saja melompat keluar dari air dan mendarat di atas meja pemotongan. Di area paviliun medis, aroma dedaunan obat yang direbus tidak lagi mampu menenangkan sarafnya yang tegang.
"Lima ribu batu roh, Guru. Itu jumlah yang cukup untuk membangun kembali gubuk saya menjadi istana kecil," ucap Feng sambil menatap tumpukan batu kristal biru yang berkilau di dalam kantong kain di depannya.
Guru Lin, yang sedang mengoleskan salep dingin ke punggung Feng yang memar, hanya mendengus. "Istana itu akan menjadi makammu jika kau tidak segera memperkuat meridianmu. Pil Pembalik Napas itu mulai memakan cadangan energi hidupmu, Feng. Lihatlah cermin, kau tampak seperti mayat yang berjalan."
Feng melirik ke arah potongan perunggu mengkilap di sudut ruangan. Bayangannya menunjukkan wajah dengan pipi cekung dan mata yang dikelilingi lingkaran hitam pekat. "Harganya memang mahal. Tapi, apa pilihan saya? Lu Chen tidak akan berhenti, dan Han Shuo mulai memperhatikan."
"Ada satu bahan yang bisa menstabilkan kondisimu," Guru Lin merendahkan suaranya, matanya melirik ke arah pintu yang tertutup. "Inti Buah Salju Seribu Tahun. Ia memiliki elemen es murni yang bisa mendinginkan panasnya racun karma di tubuhmu. Masalahnya, barang itu tidak dijual di pasar resmi sekte. Ia hanya muncul di Pasar Bawah Tanah di kaki gunung pada malam-malam turnamen seperti ini."
Feng menegakkan duduknya. "Pasar bawah tanah? Tempat berkumpulnya para bandit dan kultivator nakal itu?"
"Dan perwakilan klan besar yang mencari barang selundupan," tambah Guru Lin. "Harganya mungkin akan menghabiskan seluruh kemenanganmu hari ini. Tapi tanpa itu, kau tidak akan bertahan melawan Han Shuo di babak berikutnya. Ingat peringatan sistemmu? Es melawan es adalah satu-satunya cara."
Malam itu, Puncak Awan Putih diselimuti kabut tebal yang turun dari langit. Feng, mengenakan jubah hitam lebar dengan topeng kayu berbentuk wajah hantu, menyelinap keluar melalui jalur rahasia di belakang Paviliun Pengobatan. Ia menuruni ribuan anak tangga batu menuju Kota Awan, sebuah pemukiman di kaki gunung yang kini penuh dengan tenda-tenda pedagang dari seluruh penjuru negeri.
Pasar bawah tanah terletak di sebuah gudang gandum tua yang terbengkalai. Di pintu masuk, dua pria bertubuh kekar dengan aura Alam Pembentukan Tulang menjaga ketat. Feng menunjukkan kepingan perunggu yang diberikan Guru Lin, dan ia pun diizinkan masuk.
Di dalam, suasananya sangat berbeda dengan pasar di siang hari. Tidak ada teriakan pedagang; yang ada hanyalah bisik-bisik rahasia di bawah cahaya lampion merah yang redup. Barang-barang yang dipajang di sana bisa membuat jantung kultivator mana pun berdebar: dari bagian tubuh binatang buas langka hingga gulungan teknik terlarang yang masih berlumuran darah.
Feng berjalan perlahan, Mata Naga Pengintai miliknya terus bekerja di balik topeng.
> "Deteksi Barang: Inti Buah Salju terdeteksi pada jarak lima puluh meter. Sudut Barat Laut. Harga Estimasi: 4.500 - 6.000 Batu Roh."
>
Feng menuju ke sebuah kios kecil yang dijaga oleh seorang wanita tua yang wajahnya tertutup cadar tipis. Di atas meja kayu yang rapuh, terdapat sebuah kotak giok putih yang memancarkan uap dingin.
"Berapa?" tanya Feng singkat, suaranya diubah menjadi lebih berat menggunakan teknik penekanan tenggorokan.
Wanita tua itu mengangkat kepalanya perlahan. "Lima ribu batu roh tingkat rendah. Tidak ada tawar-menawar untuk nyawa seorang penganut Tao yang sedang sekarat."
Feng tersentak. Bagaimana wanita ini tahu ia adalah seorang penganut Tao? Sebelum ia sempat bertanya, sebuah suara dingin memecah keheningan di belakangnya.
"Aku tawarkan tujuh ribu batu roh untuk Buah Salju itu."
Feng berbalik. Di sana berdiri seorang pemuda dengan jubah biru gelap yang sangat ia kenali. Han Shuo. Di sampingnya, berdiri dua pengawal dari Klan Han dengan tangan yang siap pada gagang pedang mereka.
"Han Shuo... apa yang kau lakukan di sini?" batin Feng geram.
Han Shuo menatap Feng dengan pandangan meremehkan, seolah ia bisa menembus topeng kayu tersebut. "Barang berharga seperti ini terlalu bagus untuk jatuh ke tangan orang asing bertopeng. Wanita tua, ambil uang ini."
"Maaf, Tuan Muda Han," wanita tua itu terkekeh sinis. "Di pasar ini, janji pertama adalah hukum. Pria bertopeng ini sampai lebih dulu. Kecuali... dia tidak sanggup membayar."
Feng mengepalkan tinjunya di dalam jubah. Lima ribu batu roh adalah seluruh hartanya. Jika ia membayarnya sekarang, ia tidak akan punya uang untuk membayar "bunga" pada sistem jika terjadi keadaan darurat. Tapi jika ia tidak membelinya, ia akan mati di tangan Han Shuo di arena nanti.
"Aku ambil," ucap Feng tegas. Ia melemparkan kantong berisi lima ribu batu roh ke atas meja.
Han Shuo menyipitkan mata. Kilatan es tampak muncul di iris matanya. "Kau punya nyali, Orang Asing. Tapi barang yang kau beli di sini, belum tentu bisa kau bawa keluar dengan selamat."
"Itu urusanku, bukan urusanmu," jawab Feng sambil menyambar kotak giok tersebut dan segera berbalik untuk pergi.
Feng mempercepat langkahnya keluar dari gudang. Ia tahu Han Shuo tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Begitu mencapai area hutan bambu yang sunyi di luar kota, Feng langsung mengaktifkan Langkah Bayangan Mabuk.
Namun, kabut di sekitarnya mendadak berubah menjadi kristal-kristal es yang tajam. Suhu udara turun drastis hingga napas Feng membeku di udara.
TRANK!
Sebuah anak panah es melesat dari kegelapan, menghantam pohon bambu tepat di samping kepala Feng.
"Tinggalkan kotaknya, dan aku mungkin akan membiarkanmu merangkak kembali ke lubangmu," suara Han Shuo bergema dari segala penjuru, terbawa oleh angin yang membekukan.
Feng berhenti bergerak. Ia berdiri di tengah lingkaran es yang mulai mengurungnya. Ia tahu, dalam kondisi meridian yang rusak, bertarung melawan Han Shuo di sini adalah bunuh diri. Namun, ia tidak punya pilihan.
"Sistem," bisik Feng di dalam hati. "Berapa bunga yang harus saya bayar untuk menggunakan Teknik Ledakan Tao dalam kondisi ini?"
> "Peringatan: Penggunaan Teknik Ledakan Tao akan meningkatkan Hutang Karma menjadi 45%. Peluang kematian instan: 30%."
>
"Lakukan saja! Daripada mati membeku di sini!"
Feng membuka kotak giok di tangannya, tapi bukannya memakan buahnya, ia justru menghancurkan buah itu dengan tangannya sendiri, membiarkan energi es murni itu terserap secara paksa melalui pori-porinya untuk memicu ledakan energi sementara.
BOOM!
Gelombang energi hijau dan biru meledak dari tubuh Feng, menghancurkan penjara es Han Shuo. Han Shuo terdorong mundur beberapa langkah, wajahnya menunjukkan keterkejutan untuk pertama kalinya.
"Energi ini... itu bukan energi medis!" seru Han Shuo. "Kau... kau adalah keturunan Tao yang dicari-cari!"
Feng tidak membalas. Ia memanfaatkan momentum ledakan itu untuk melesat pergi ke dalam kegelapan hutan. Namun, saat ia merasa sudah cukup jauh, liontin giok di dadanya mendadak terasa sangat panas hingga membakar kulitnya.
Pesan Sistem: Batas Hutang Karma Terlampaui. Penagih Tingkat Tinggi Terdeteksi.
Tiba-tiba, langit di atas hutan bambu terbelah. Sebuah tangan raksasa yang terbuat dari petir hitam turun dari awan, mengarah tepat ke arah Feng. Bukan Han Shuo yang menyerang, melainkan Langit sendiri yang datang untuk menagih hutang secara paksa.
Feng mencoba menghindar, namun tubuhnya kaku. Di saat yang sama, dari balik bayangan pohon, Lu Chen muncul dengan senyum kemenangan, memegang sebuah jimat kuno yang bercahaya merah darah.
"Terima kasih telah memicu kemarahan Langit, Feng," ucap Lu Chen dingin. "Sekarang, aku tidak perlu mengotori tanganku untuk melenyapkanmu."
Petir hitam itu menyambar bumi dengan suara yang menulikan telinga. Cahaya yang dihasilkan menelan seluruh sosok Tian Feng.
Saat cahaya itu meredup, hanya ada lubang menganga yang hangus di tanah. Tian Feng menghilang. Tidak ada jejak tubuh, tidak ada jejak jubah—hanya menyisakan liontin giok hijau yang kini retak di tengah lubang tersebut.
Han Shuo dan Lu Chen saling pandang dengan kecurigaan yang mendalam. Namun, di bawah tanah yang hangus itu, di sebuah dimensi hampa yang tercipta akibat benturan energi es dan petir karma, Tian Feng sedang menatap sesosok makhluk yang jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
"Jadi," suara berat makhluk itu menggetarkan jiwa Feng. "Kau adalah orang yang berani berhutang pada Surga tanpa niat membayar?"
Feng, yang tubuhnya hancur dan nyaris transparan, hanya bisa tersenyum pahit. "Saya... hanya ingin... tidur sebentar lagi..."
"Tidurlah," ucap makhluk itu sambil mengangkat tangan raksasanya. "Tapi kau akan terbangun di tempat di mana kematian adalah sebuah kemewahan." Apakah Tian Feng benar-benar tewas tersambar petir karma, atau ia baru saja "dijemput" ke penjara karma yang sesungguhnya? Dan apa yang akan terjadi dengan turnamen besok pagi saat Paviliun Pengobatan menyadari bahwa peserta andalan mereka telah lenyap tanpa bekas?