NovelToon NovelToon
PEMILIK HATI

PEMILIK HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Petualangan
Popularitas:342.8k
Nilai: 4.3
Nama Author: Matahari tertutup mendung

Panggil saja aku, Mheta. Ya, orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan demikian. Walau sebenarnya, itu bukanlah nama pemberian dari kedua orang tuaku. Namun, entah mengapa aku lebih suka dipanggil dengan kata Mheta. Mungkin karena arti dari kata Mheta adalah sebuah keadilan dan keseimbangan. Jadi, aku ingin dikenal sebagai orang yang bisa berbuat adil kepada siapapun yang mengenalku. Walau sebenarnya, aku tak pernah berlaku adil terhadap diriku sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matahari tertutup mendung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIA PULANG

Tubuhku gemetar hebat. Motor yang masih dalam keadaan menyala langsung aku banting

kesebalah kiriku, “Ayah.."

Aku segera berlari menuju rumah, dadaku begitu sesak menyaksikan banyak orang berkeremun didepan rumah. Hatiku berdegup kencang, pandanganku kabur, terdengar lamat-lamat suara orang memanggil namaku, menguatkanku. Namun, suara riuh dirumah seketika hening. Pancaran cahaya sore hari berganti dengan kabut dan gelap. Hening… Oh, Tuhan… ini hanya mimpi kan? Ini bukan nyata? Ya.. aku hanya bermimpi, aku ingin segera bangun dari mimpi terburuk ini.

“Mheta… kamu sudah sadar, Nduk.” Terdengar suara dari seorang wanita memanggilku. Suara yang tidak asing ditelingaku. Ya, itu suara Bibi Sumiati ibu Daffa.

Dengan suara lirih, aku mencoba untuk menguatkan diri, meyakinkan jika apa yang aku lihat tadi hanya sebuah mimpi. “Bik Sum… aku hanya mimpi, kan? Ini tidak nyata, kan?”

“Nduk… Mheta… kamu yang sabar ya? Semua ini ujian, Allah sedang mengujimu saat ini.”

Tuhan… apa aku tidak salah dengar? Apa yang dinyatakan Bik Sum barusan itu hanya sebuah mimpi, bukan? Aku hanya terbuai dalam mimpi, ayah masih hidup. Bahkan beberapa hari ini, ayah sempat menelponku dan bilang, jika

ingin melihat aku menikah sesegera mungkin.

“Apa maksud Bik Sum? Ayah baik-baik saja, kan?” aku terus merengek, dadaku semakin sesak. Tubuhku seperti dihujani peluru. Sakit… namun pemandangan yang bertengger didepanku lebih menyakitkan lagi.

Bik Sumiati meraih tubuhku, ia memelukku dengan erat. Bahkan aku merasakan jika Bik Sumiati sedang menumpahkan tangisnya dipundakku, tetesan airmatanya terasa hangat mengucur disela-sela jilbab yang kupakai. Namun, aku masih tidak bisa berdamai dengan kenyataan, jika sebenarnya ayahku sudah dipanggil oleh sang khaliq.

 Oh, Tuhan… secepat inikah? Engkau memanggil ayahku? Bahkan aku belum sempat memenuhi permintaannya

beberapa waktu lalu. Ayah ingin melihatku menikah sesegera mungkin. Ingin segera menimang cucu pertamanya. Namun, semua sia-sia. Dia sudah pulang.

“Nduk… kamu harus bisa menerima kenyataan, semua yang hidup akan mengalami yang namanya kematian.”

“Tapi… Bik? Nggak harus secepat ini, kan? Aku belum bisa bahagiain Ibu dan Ayah?”

“Kalau kamu meratap seperti ini, sama saja kamu nggak kasihan sama mendiang ayahmu. Ini sudah takdir. Kamu harus berbesar hati, Mheta.”

“Tapi, Bik..?”

“Kamu tidak kasihan sama ibumu? Dia butuh kamu. Kamu harus tegar.” Bi Sumiati terus mencoba untuk menguatkan hatiku.

“Ibu…” Oh Tuhan… aku baru sadar, jika ibu juga masih membutuhkanku. Saat ini hanya aku yang ibu miliki. Tapi… hati ini masih belum bisa berdamai dengan keadaan?

“Iya, kamu harus mikirin ibumu, Mheta. Kamu nggak boleh terpuruk, kasihan ibumu. Dia masih terbaring di rumah sakit.”

Aku terisak lama setelah mendengar penjelasan dari ibu Daffa. Lalu tepukan lembut dipunggung membuatku menoleh. Bapak Daffa… entah sejak kapan dia berdiri di belakangku.

“Sabar, ya.”

Seperti dikomando, kami duduk dikursi plastik.

“Sebenarnya Paman nggak mau cerita ini,” kata Bapak Daffa. “Semalaman ayahmu nggak tidur. Bibi dan Paman sampe nginap dirumahmu. Ayahmu mengeluh sakit kepala, tapi kami pikir hanya sakit kepala biasa. Sampai tadi subuh ayah dan ibumu memutuskan untuk pergi kepasar karena ingin beli sesuatu. Paman sudah melarangnya karena Paman tahu, jika ayahmu sedang tidak enak badan. Tapi… ayahmu ngotot bilang nggak apa-apa. Akhirnya Paman dan Bibi memutuskan pulang kerumah setelah ibu dan ayahmu pergi kepasar.” Kedua bola mata Bapak Daffa nanar. Seperti ada sesutu yang menyumbat tenggorokannya saat ia bercerita perihal kejadian tadi paagi. “Tapi… belum setengah jam ayah dan ibumu pergi kepasar. Tiba-tiba ada tetangga yang menyusul kesini, bilang kalau ayah dan ibumu kecelakaan tunggal. Mereka menabrak pembatas jalan yang berada di pinggir sungai kampung ini.”

Aku mengusap airmata dengan punggung tangan.

“Banyak orang yang menolong saat kecelakaan terjadi. Banyak usulan dibawa kemana-mana. Dikira ayahmu hanya pinsan biasa, jadi dibawa ke puskesmas. Tapi setelah sampai dipuskesmas, ternyata pihak puskesmas bilang ayahmu gegar otak, karena sempat muntah. Mereka merujuk ayah dan ibumu kerumah sakit besar. Tapi

takdir berkata lain, ayahmu meninggal ditengah perjalaan kerumah sakit. Sedang ibumu hanya mengalami luka ringan dan darah tingginya kambuh. tapi syukurnya ibumu masih bisa diselamatkan.”

Aku memebenamkan wajah pada kedua telapak tangan. Rasa terpukul teramat menghujam jantungku.

“Lihatlah ayahmu untuk yang terakhir kalinya, Nduk. Sebentar lagi, jenazah akan dibawa ke masjid untuk disholatkan. Kamu harus ikhlas. Semua apa yang menimpa ayah dan ibumu itu sudah takdir yang tidak bisa dihindari. Kamu jangan menyalahkan siapun dalam hal ini. bairkan ayahmu tenang dalam perjalanannya menuju alam barzah.”

“Tapi, Paman…”

“Sudahlah… ingat Mheta. Kamu tidak boleh sakit, ibumu masih membutuhkanmu.”

Bapak Daffa benar, aku tidak boleh sakit. Aku harus kuat.

****

Hari ke delapan selepas kepergian Ayah, aku lihat ibu belum ada kemajuan. Bergerak sedikit saja. Pandangannya masih terasa berputar-putar. Aku membantunya mencari letak posisi kepala yang nyaman. Tapi.. kata ibu semua sama saja. Ibu mengatakan baik-baik saja. Tetapi aku tahu, ibu tidak baik-baik saja. Karena, jika ibu sudah baik-baik saja, tidak mungkin masih terlihat lemah dan belum ada kemajuan yang siknifikan. Ibu juga meminta maaf padaku, karena akibat dari kecelakaan yang mereka alami aku tidak jadi berangkat ke acara festival literasi. Tentu saja ini bukan salah siapapun. Ini adalah takdir.

Aku baru ingat, selama sepeninggal ayah dan dirumah sakit, aku sama sekali tidak menyentuh ponsel. Aku berkomunikasi dengan keluarga  memakai ponsel ibu.

Ransel yang kutinggal selama delapan hari di rumah sakit, tempat ibu dirawat. Segera kuambil ponsel didalam ransel tersebut. Dingin. Mungkin sudah mati sejak dalam perjalanan. Aku segera menyambung dengan charger. Menunggu beberapa menit sebelum menyalakan. Banyak sekali pesan masuk, terutama dari pihak rumah

sakit dari tempatku berdinas. Bahkan ada banyak juga pesan dari Pengelana masuk. Ada beberapa panggilan tak terjawab.

“Jadi naik apa?”

“M?”

“Kamu baik-baik saja?”

“M… kamu sudah berangkat?”

“Rosa memutuskan tidak datang. Dia menarik kembali naskahnya. Dia bilang bukan haknya untuk datang, karena yang dikirim naskah saya.”

Aku termangu membaca pesan terakhir. Lalu ingat betapa beberapa hari yang lalu aku mempersiapkan diri untuk bertemu dengan gadis itu. Nyatanya Allah berkehendak lain.

Aku belum mebalas, tetapi beralih kepesan panjang dari Rini. Aku menjawab dan meminta maaf, karena tidak sempat memberi kabar, atas kepergian ayahku. Hal berikutnya yang kulakukan adalah menulis email kepada

panitia penyelenggara festival, mengabari kalau tidak bisa datang, kutulis juga pesan di whatsapp.

Aku baru saja akan membalas pesan Pengelana ketika panggilan darinya muncul dilayar.

“Halo… hey…”

“Hey… kemana saja, saya khawatir..”

“Disini..”

“Kenapa Hp nggak aktif seminggu ini?”

“Iya baru nyala.”

“Jadinya naik apa besok?”

“Saya nggak datang.”

“Maksudmu?” suaranya terdengar meninggi.

“Ayah dan ibuku kecelakaan, Ayahku meninggal dunia.”

“Astagfirullah… Innalilahi wa’innailairaji’un… kapan?” suraa Pengelana berubah rendah.

“Setelah kita chat tentang tiket seminggu lalu, saya langsung pulang, dan…”

Aku menceritakan semua pada Pengelana. Dia mendengar tanpa menyela. Sampai-sampai kukira telepon kami terputus. Setelahnya, dia mengatakan agar aku tetap semangat dan bersabar dalam menghadapi cobaan. Mendoakan, dan menitip salam kepada ibu. Kemudian kami mengakhiri percakapan. Oh ya, dia juga berjanji mengirim foto-foto acaranya.

Berikutnya aku menelpon pihak rumah sakit tempatku berdinas. Meminta ijin untuk beberapa waktu kedepan tidak bisa kerja, karena keadaan ibu masih sangat lemah. Pihak rumah sakit memberiku cuti selama tiga minggu,

terhitung sejak aku pulang seminggu yang lalu.

Rasanya lebih lega bisa mengabari semuanya. Aku menaruh ponsel dan berdiri saat terdengar ketukan pintu. Belum sempat membukanya, pintu telah terdorong kedalam. Dan wajah ibu Daffa muncul sambil mengucap salam.

“Gimana ibumu?”

“Tidur, Bik.”

Tapi rupanya dia tidak sendiri, ada seseorang berdiri dibalakangnya. Sosok yang sangat kukenal.

“Daffa?”

Sulit percaya tiba-tiba dia sampai di sini. Tetapi sosok itu nyata. Mengucap salam, melewati ambang pintu, menutup pintu dan tersenyum santai saat pandangan kami bertemu.

“Gimana keadaan Bibi?”

Aku tidak menjawab.

Daffa mendekati ranjang. Mengamati ibu yang sedan tidur. Sementara aku, masih betanya-tanya bagaimana bisa dia tiba-tiba di sini.

“Kapan datang?” tanyaku berusaha santai, tetapi tidak bergerak dari tempatku berdiri.

“Tadi pagi.”

“Bibi yang nyuruh dia pulang,” sahut ibu Daffa. “Lagi pula ngapain lama-lama di sana, kan?”

“Mmm… memang ngapain di Korea?” aku menatap Daffa dan ibunya bergantian.

“Kamu di Malang ngapain?” Daffa balik bertanya.

“Kerja.”

“Hanya itu?”

“Pertanyaan apa tho itu?” sahut ibu Daffa, “kamu itu yang lama-lama di Pak Dhemu, kayak di rumah nggak ada kerjaan saja.”

Setelah bicara begitu, ibu Daffa kemudian pamit untuk kekamar lain, katanya hendak menengok tetangga desa yang baru melahirkan. Tinggalah aku bersama Daffa dan ibu yang sedang tidur.

Suasana mendadak hening....

🌻🌻🌻🌻🌻

Untuk suamiku. Hari ini usiamu telah berkurang satu tahun. Selama kurang lebih 10 tahun kita bersama. Semoga, kita selalu bersama hingga jannah-Nya. Menjadi suri tauladan untuk anak-anak kita. aamiin 🥰🥰

🥳Sehat selalu Pakne bocah 🥳

1
Adinda
Huaaaa 😭😭 Thor, aku baper, keadaan ini bak perjalanan hidup yang aku jalani, perih Thor
Adinda
Kita memang tak pernah bisa menerka, akan bertemu siapa dalam hidup ini. Seperti kau dan aku..........
...................................., hingga petikan-perikan lagu.

itu ☝️☝️ petikan-perikan
artinya apa ya Thor 🙏🙏
ig@taurusdi_author
folow back dong kak
Daffodil Koltim
kasihan daffa,😢😢😢😢
Daffodil Koltim
pilihan yg berat🙁🙁🙁😥😥😥
Daffodil Koltim
bias keindahan membuat dilema yg mndalam,,,,
Daffodil Koltim
knpa daffa baru ingin berjuang stelah ibux memutuskn u mnerima pinangan yg lain?
Daffodil Koltim
manut yg membuat mba mheta sesak,,,,
Daffodil Koltim
aduh dilema mba mheta😢😢😢
Daffodil Koltim
dalam banget perasaanx,seperti mencintai dlm diam ato aplah nmax,,,,
Daffodil Koltim
aduh ketemu,,,,
Daffodil Koltim
msih bingung dng daffa!,,,,apa punya rasa sma mhetha ato tdak?
Daffodil Koltim
semoga tetap tabah dlm mnjalani suratan takdir,,,,
Daffodil Koltim
innalillahi,,,,yg sabar mba mheta,,,,
Daffodil Koltim
msih stuck,tp harapanx akn bertemu n menyapa,,,,🤗🤗🤗
Daffodil Koltim
jeng2 akn dimnakh nantix hati mba mheta berlabuh?
Daffodil Koltim
teman halu berbagi cerita,aknkah ktemu di dunia nyata,,,,
Daffodil Koltim
sangat dsayangkn sdah lma bersama dlm suka n duka,tp stlah renggang n tdk brarti apa2,,,,💪💪💪🙏🙏🙏
Daffodil Koltim
aku ngakak,penasaran mba metha balasx apa sma pengelana?,,,,💪💪💪💞💞💞
Daffodil Koltim
masih nyimak💞💞💞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!