Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
" Renita, mau tidak mau. Suka tidak suka. Kamu harus menikah dengan Hamzah".
Tiba-tiba ayah menghampiriku dan langsung menohok ku dengan ucapannya barusan. Belum ada satu bulan dari acara lamaran yang gagal saat itu. Pertama Zaskia yang menjodohkan ku, dan sekarang ayah.
" Hamzah ?. Siapa dia ayah ?. Renita tidak mengenalnya".
" Hamzah, laki-laki yang akan ayah jodohkan denganmu".
" Ta-tapi ayah. Renita belum bisa sembuh dari trauma yang kemarin itu".
" Ayah tidak mau tahu !!. Yang jelas kamu harus menerima dia, dan harus segera menikah dengannya!!. Lagi pula ayah sudah berjanji pada Zaskia, agar dia cepat pulang kerumah".
" Tapi Renita sama sekali tidang mengenal nya ayah ?!".
Aku memelas, aku berusaha untuk meluluhkan hati ayah. Aku sungguh masih trauma. Aku masih belum bisa melupakan kejadian pahit itu. Rasanya masih menyakitkan sekali. Aku masih belum bisa membuka hati dan perasaan ku untuk laki-laki lagi.
" kamu tidak perlu khawatir. Dia seorang dokter. Sudah pasti dia anak orang kaya dan juga punya atitude yang baik Renita !".
" A-ayah ?. Bukan masalah profesi nya yah. Tapi Renita masih belum ingin membicarakan masalah pernikahan dulu. Renita mengerti, bahwa Zaskia ingin segera menikah dengan calonnya. Ayah ?, kenapa tidak ayah ijinkan saja Zaskia untuk lebih dulu menikah ?".
Sejujurnya aku sangat takut berkata demikian pada ayah. Tapi aku juga punya hak untuk menolak, apalagi ini bukanlah masalah sepele. Menikah adalah masalah sakral. Tidak bisa seenaknya asal menikah saja. Menikah bagiku adalah sebuah pilihan hidup yang sangat penting, dari menikahlah yang akan merubah hidupku, dan menentukan surga dan neraka ku.
" Renita !!!. Sudah berani kamu ya melawan ucapan ayah ?!!. Hahh....!!. Sudah berapa kali ayah bilang padamu !!!. Ayah tidak akan pernah mengijinkan Zaskia menikah lebih dulu melangkahi kamu !!!".
" Ta-tapi yah ?!!".
" Plakkkkkk....!!".
" Diam kamu Renita !!. Kamu memang anak kurang ajar !!. Anak durhaka berani menentang orang tua !!!".
Aku jatuh tersungkur setelah di tampar dengan keras oleh ayah. Sakit sekali rasanya. Ini kali pertamanya ayah menamparku. Biasanya ayah hanya memaki ku dengan ucapan yang sangat tajam dan menyakitkan. Semenjak kepergian Zaskia dari rumah. Ayah menjadi sangat kasar padaku.
" Sa-sakit ayah, jangan tampar Renita lagi".
" Jangan pernah membantah perintah ayah lagi Renitaaa !!. Atau ayah tidak segan-segan akan memberikan pelajaran padamu lebih dari ini !!. Camkan !!".
Aku terisak dengan tangan yang masih memegang bekas tamparan ayah. Ayah pergi begitu saja setelah memarahi ku. Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Meskipun ayah bukanlah papah kandung ku, tapi aku menghormati dan menyayanginya seperti orang tua kandung ku sendiri. Hamzah ??, laki-laki seperti apa lagi yang harus aku paksa hadir dalam hidupku ?.
" Papah...., Seandainya papah masih ada, putri papah ini tidak akan pernah merasakan tamparan yang sangat menyakitkan ini pah. Hiks... hiks... hiks...., tamparan yang membuat tulang pipi Renita seperti akan patah. Sakit sekali papah. Papah... ?!, apa papah juga menangis melihat nasib putri papah yang seperti ini?". Ucapku disela Isak tangisku.
" Kak Renita ?!".
Tiba-tiba aku merasakan rangkulan hangat dari seseorang. Tangisku pecah, aku sudah tidak mampu lagi membendung nya. Benar-benar sangat menyesakkan dada.
" Kak, yang kuat yah kak. Kami sangat menyayangi kak Renita ".
Kedua adik tiri ku, memeluk ku dengan sangat lembut. Adelia dan Safira menyeka dan menghapus air mata yang jatuh menetes di pipiku. Adelia membersihkan sedikit darah yang keluar dari sudut bibirku karena tamparan ayah.
" Kak Renita capek dek...!".
" Adel mengerti posisi kak Renita. Adel percaya kak, akan ada kemudahan setelah kesulitan kak. Bukankah Allah sudah berjanji ?. Kak Re, Allah tidak akan pernah sekalipun mengingkari janji-janji Nya".
" Hiks... hiks... hikss....".
Adelia memelukku, dan memberikan support untukku. Aku percaya, semua ini adalah ujian untukku.
" Kak Renita ?!. Minumlah air ini kak. Agar kak Renita sedikit agak lega".
Aku melihat Safira yang datang dengan segelas air putih dingin. Ternyata Safira beranjak pergi dari tempatku dan Adelia, untuk mengambilkan segelas air putih untuk. Aku tidak pernah tahu, apakah mereka sudah mendengar ucapan ayah, bahwa aku bukanlah seorang Kakak yang lahir dari ayah yang sama ?. Tapi aku rasa mereka sudah mengerti, bahwa aku bukan kakak kandung mereka berdua. Ayah bahkan mengucapkan itu dengan sangat lantang. Mengucapkan bahwa aku bukanlah darah daging nya.
" Terimakasih dek Safira ".
Ucapku sambil menerima segalas air putih dingin, yang Safira sodorkan padaku. Aku lantas meneguk sedikit demi sedikit air dingin itu. Rasanya sangat nikmat sekali tenggorokan ku. Setidaknya, rasa sesak di dada karena ucapan dan perlakuan kasar ayah padaku sedikit terbawa air.
" Sama-sama kak Renita. Kakak yang Semangat. Maafin sikap ayah ya kak". Ucapnya dengan polos.
" Kak Renita sudah memaafkan ayah. Kak Renita akan tetap sayang dengan ayah dek".
" Kak Renita, Safira rindu kak Zaskia. Kapan kak Zaskia akan pulang kerumah kak ?!. Kenapa ayah dan ibu tidak berusaha mencari tahu dimana kak Zaskia berada ?!!. Sudah satu minggu lebih kak Zaskia kabur dari rumah. Safira kangen".
" Safira..., ibu dan ayah, juga kak Adel dan kak Renita juga sedang berusaha mencari dimana kak Zaskia berada. Kak Zaskia pasti bakal pulang kerumah lagi. Kasian kak Renita, sedang sedih". Jelas Adelia pada Safira.
Aku hanya mampu terdiam mendengar semua ucapan Safira padaku. Bukan hanya kamu Safira, kak Renita juga rindu dengan kak Zaskia. Aku jadi merasa bersalah, walaupun aku tidak pantas untuk disalahkan. Aku sudah berusaha berkorban untuk menerima Rendy, hanya agar Zaskia bisa menikah dengan laki-laki pilihannya. Namun ternyata, Allah punya rencana lain yang lebih baik untukku, hingga akhirnya Rendy tidak jadi melamarku.
" Iya kak, nomor kak Zaskia juga belum aktif. Safira sudah berusaha kirim pesan dan menelepon kak Zaskia, tapi tidak bisa".
" Maafkan kak Renita ya dek. Kak Renita akan berusaha bikin kak Zaskia segera pulang kerumah dan bareng lagi dengan kita".
Aku berusaha menghibur Safira. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu, kapan aku bisa membuat Zaskia secepatnya pulang kerumah. Aku juga sudah lelah di perlakukan kasar oleh ayah semenjak dia kabur dari rumah.
" Aamiin". Ucap Adelia lirih.
" A-adel, Sa-safira ?!".
" Iya kak Renita, ada apa kak ?". Jawab mereka serempak.
" Adek, apa kalian akan tetap menyayangi kak Renita, meskipun.....".
Kerongkonganku serasa tercekat. Aku tidak sanggup mengucapkannya, sekalipun mereka telah mengetahui nya, bahwa aku adalah Kakak tirinya. Aku sudah mencintai dan menyayangi mereka, seperti adik kandung ku sendiri.
" Meskipun apa kak Renita ?!".
Kali ini Adelia yang penasaran, dan ingin mendengarkan kelanjutan ucapan ku.
" Meskipun kak Renita, bukan lahir dari ayah yang sama seperti kalian ?. Akankah kalian akan menganggap kak Renita berarti dan berharganya untuk kalian Adek ?".
Aku berusaha tegar, dan menatap kedua wajah adikku yang tidak bisa aku jelaskan. Aku ingin mereka tahu, bahwa aku hanyalah kakak tiri mereka.
" Kak, itu tidak penting bagi kami. Kakak lahir dari satu rahim yang sama. Kakak adalah bagian dari kami kak. Kakak akan menjadi salah satu orang yang berarti bagi kami berdua kak". Ucap Adelia padaku.
" Kami sayang kak Renita ".
Kali ini Safira yang menghambur dan memeluk erat tubuhku. Adelia juga ikut memeluk ku. Kami bertiga menangis bersama. Saling memeluk dan memberikan dukungan dari sama lain. Benar apa yang di ucapkan oleh Adelia. Meskipun aku tidak lahir dari satu ayah yang sama dengan mereka, tapi aku lahir dari satu rahim yang sama dengan mereka.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat