Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duniaku yang sempit.
'Internet dibatasi'
"Hah?"
Aku berkedip, membaca ulang kalimat itu, berharap hanya salah lihat. Jempolku mengetuk layar, mencoba memuat halaman lain, tapi hasilnya sama.
"Ven," panggilku akhirnya, nada suaraku terdengar lebih ringan dari yang kurasakan.
"Iya?" jawabnya dari dapur, cepat, seolah sudah menunggu namanya dipanggil.
"Sinyalku aneh," kataku sambil bangkit dari sofa dan berjalan mendekat. "Tiba-tiba susah banget."
Arven menoleh, spatula masih di tangannya. Alisnya sedikit berkerut, ekspresi yang langsung berubah jadi khawatir begitu melihat wajahku.
"Boleh lihat?" tanyanya.
Aku menyerahkan ponselku. Ia mendekat, terlalu dekat untuk sekadar melihat layar, bahunya hampir menyentuh lenganku. Matanya menelusuri layar dengan fokus, lalu ia mengangguk kecil.
"Kadang suka gitu," katanya santai, meski nada suaranya terlalu cepat seperti ia sudah tau apa yang terjadi.
"Gedung ini sinyalnya nggak stabil malam-malam."
"Oh," gumamku. "Tapi barusan ada notif internet dibatasi."
Ia tersenyum tipis, mengembalikan ponselku. "Mungkin sistemnya. Atau providermu. Besok juga normal lagi."
Aku mengangguk, seperti ada sesuatu yang tidak sepenuhnya sejalan tapi belum cukup jelas.
Arven kembali ke dapur. Aku berdiri sebentar di sana, memperhatikannya dari belakang. Cara ia bergerak dengan tenang, seolah semua sudah ada di kepalanya sejak awal. Saat ia mematikan kompor, ia langsung menoleh lagi ke arahku.
"Kamu kenapa berdiri?" tanyanya lembut. "Capek?"
"Enggak," jawabku. "Cuma...ngelamun dikit."
Ia mendekat, menyentuh punggung tanganku dengan jari-jarinya, sentuhan yang ringan tapi pasti. "Kalau capek, bilang. Kamu nggak harus maksa diri."
Aku tertawa kecil. "Kamu perhatian banget."
Ia ikut tersenyum, kali ini lebih hangat. "Aku cuma pengin kamu nyaman."
Ia menyodorkan sepiring kecil camilan hangat, lalu mengajakku kembali ke sofa. Kami duduk berdampingan, lutut kami bersentuhan. Ia memastikan aku duduk lebih ke dalam, lebih jauh dari ujung sofa, lalu menyelimuti kakiku tanpa diminta.
Aku menatap layar ponsel sekali lagi. Sinyalnya masih naik turun, tapi aku tidak mengatakan apa-apa lagi.
Entah sejak kapan, aku mulai belajar menyimpan hal-hal kecil di dalam diriku sendiri. Bukan karena takut. Lebih karena tidak ingin merusak suasana yang terasa baik ini.
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa.
Pagi datang dengan aroma kopi dan suara langkah Arven di dapur. Siang berlalu dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela, selalu cukup terang tapi tidak pernah menyilaukan. Malam turun dengan lampu redup dan percakapan ringan yang jarang menyentuh hal-hal besar.
Dan di sela semua itu, perasaan aneh itu mulai muncul lebih sering.
Bukan sesuatu yang langsung membuatku curiga. Lebih seperti gumaman kecil di kepala yang cepat-cepat kutepis.
Seperti ketika aku menyebut ingin berjalan sebentar di sekitar apartemen, hanya untuk mencari angin, Arven langsung berdiri dan mengambil jaket.
"Aku temani," katanya cepat.
"Cuma sebentar," jawabku. "Di bawah aja."
Ia tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum sepenuhnya. "Justru itu. Kamu masih pemulihan. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Kita juga udah sepakat sebelumnya kan?"
Aku mengangguk, lagi-lagi aku mengalah.
Atau saat aku bertanya tentang toko kecil yang terlihat dari balkon, lampunya selalu menyala sampai malam, Arven menjawabnya dengan santai.
"Ah, itu sering tutup. Nggak menarik."
Padahal aku yakin, sore tadi aku melihat orang keluar masuk.
Aku mulai menyadari satu hal kecil yang aneh
Setiap kali aku menunjukkan ketertarikan pada sesuatu di luar apartemen, Arven selalu punya cara untuk mengalihkan pembicaraan, bukan dengan melarang, tapi dengan meredamnya.
Dengan perhatian.
Dengan alasan masuk akal.
Dengan senyum.
Suatu malam, aku bermimpi lagi.
Tidak sepenuhnya sama seperti dulu, tapi ada rasa yang mirip. Gelap, sunyi, dan perasaan bahwa aku sedang dipanggil, meski aku tidak tahu oleh siapa. Kali ini, di ujung mimpi itu, ada suara lain. Lebih dekat. Lebih hangat.
"Seren."
Aku terbangun dengan napas tersengal.
Arven sudah duduk di tepi ranjang.
Entah sejak kapan.
"Hey," katanya cepat, suaranya lembut tapi wajahnya tegang. Tangannya langsung menyentuh pipiku, memastikan aku benar-benar terjaga. "Mimpi buruk?"
Aku mengangguk pelan.
Ia menarikku ke dalam pelukannya tanpa menunggu jawabanku. Pelukannya erat, terlalu erat untuk ukuran orang yang baru bangun tidur, tapi aku tidak menolaknya.
"Kamu aman," katanya berulang kali, hampir seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Aku di sini. Kamu aman."
Arven selalu saja berkata aku aman, aku aman, sebenarnya aku aman dari siapa? tapi pikiran itu aku tepis lagi, mungkin karena aku baru saja bermimpi buruk.
Aku menutup mata, mencoba menenangkan detak jantungku.
"Aku mimpi aneh," gumamku. "Kayak....ada yang manggil."
Tubuhnya menegang sesaat. Sangat singkat, hampir tak terasa, tapi aku cukup dekat untuk menyadarinya.
"Cuma mimpi," katanya kemudian, lebih pelan dari biasanya. "Otak kamu lagi nyusun ulang ingatan. Itu normal. Kemarin juga kamu sempat mimpi buruk kan? tenang aja."
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi tangannya mengusap punggungku dengan ritme pelan, menenangkan, membuat kata-kata itu menguap sebelum sempat keluar.
Beberapa hari setelah itu, aku mulai menyimpan hal-hal kecil untuk diriku sendiri.
Bukan rahasia besar. Hanya perasaan-perasaan yang tidak langsung kuceritakan pada Arven. Kecurigaan ku padanya samar yang belum punya bentuk.
Seperti ketika aku sadar bahwa jam di dinding ruang tengah selalu lima menit lebih lambat dari ponselku
Atau ketika aku mencoba membuka peta area sekitar dan aplikasi itu tiba-tiba menutup sendiri
Atau ketika aku menyadari bahwa Arven selalu tahu kapan aku terbangun, bahkan sebelum aku keluar kamar
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya memperhatikan.
Sementara itu, Arven menjadi semakin manis.
Ia menyiapkan makanan favoritku tanpa aku menyebutkannya. Mengingat detail kecil yang bahkan aku lupa pernah kukatakan. Menyentuh tanganku lebih sering, seolah ingin memastikan aku masih nyaman bersamanya.
Dan protektifnya semakin halus.
Jika dulu ia berkata, "Aku temani,"
sekarang ia berkata, "Lebih enak kalau kita bareng."
Jika dulu ia berkata, "Jangan dulu,"
sekarang ia berkata, "Nanti aja, ya. Aku pengen kamu istirahat."
Dia tidak memaksaku ataupun melarangku dengan keras.
Jujur saja aku merasa duniaku yang perlahan dipersempit, dibungkus dengan kasih sayang olehnya.
Suatu sore, saat aku berdiri di dekat jendela terlalu lama, Arven mendekat dan berdiri di belakangku. Tangannya melingkar di pinggangku, dagunya bertumpu di bahuku.
"Kamu kenapa?" tanyanya lembut.
"Aku cuma mikir," jawabku jujur.
"Mikir apa?"
Aku terdiam sebentar. "Aku ngerasa...hidupku sekarang kecil banget."
Ia tersenyum tipis, mengecup pelipisku. "Kecil itu belum tentu buruk. Kadang, yang kecil justru aman."
Aku tersenyum balik, tapi kali ini rasanya tidak sepenuhnya sampai ke mata.
Aman, kata itu lagi.
Di kepalaku, untuk pertama kalinya, muncul satu pikiran yang tidak langsung hilang. Bagaimana kalau rasa aman ini...bukan sesuatu yang baik untukku?
Dan yang lebih menakutkan kenapa sebagian diriku tidak keberatan sama sekali?