Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Guzzel
Malam itu, cahaya bulan menyelinap masuk melalui celah jendela, jatuh tepat di atas tempat tidur di mana Max dan Guzzel saling mengunci pandangan.
Max menatap Guzzel dengan intensitas yang nyaris menyakitkan, tatapan seorang pria yang akhirnya menemukan harta karun yang paling ia dambakan.
"Aku akan membuatmu melupakan setiap rasa sakit yang pernah kuberikan, Guzzel," bisik Max, suaranya serak oleh gairah yang sudah di ujung tanduk.
Max mulai menjelajahi tubuh Guzzel dengan pemujaan yang luar biasa. Dia memulai dengan ciuman lembut di leher, lalu turun ke bawah, membiarkan bibir dan lidahnya memberikan sensasi yang belum pernah dirasakan Guzzel sebelumnya.
Max benar-benar melepaskan rasa penasarannya, dia menggunakan mulutnya untuk memanjakan Guzzel, memberikan stimulasi yang begitu intim hingga Guzzel merasa jiwanya terbang tinggi.
Guzzel meremas sprei, kepalanya mendongak ke belakang saat lidah Max bekerja dengan presisi yang mematikan.
Belum sempat Guzzel mengatur napas, Max menambahkan permainan jarinya yang mahir, menekan titik-titik paling sensitif yang membuat Guzzel berteriak nikmat. Suara rintihan Guzzel memenuhi ruangan, menjadi musik paling indah bagi telinga Max. Guzzel benar-benar basah, menyerah sepenuhnya pada kendali tangan dan mulut pria yang dulu ia takuti itu.
Malam itu berakhir dengan penyatuan yang panas dan emosional, sebuah pengakuan fisik bahwa mereka kini adalah milik satu sama lain secara utuh.
Guzzel merasa begitu dicintai hingga dunia luar terasa tidak lagi penting. Selama tujuh hari berikutnya, apartemen itu menjadi semesta mereka sendiri. Mereka benar-benar tidak keluar dari kamar. Waktu seolah berhenti, pagi menjadi malam, dan malam menjadi pagi di dalam dekapan satu sama lain.
Max memperlakukan Guzzel seolah gadis itu adalah napasnya.
Mereka bercinta berkali-kali setiap harinya terkadang dengan lembut di bawah sinar matahari pagi, terkadang dengan liar saat tengah malam tiba. Di sela-sela itu, mereka hanya akan memesan makanan lewat layanan antar, makan di atas tempat tidur sambil tertawa membicarakan hal-hal konyol yang dulu mereka tulis di aplikasi.
"Aku tidak ingin ini berakhir," bisik Guzzel di hari kelima, saat dia berbaring di dada bidang Max, merasakan kulit mereka yang masih lembap oleh keringat.
"Ini tidak akan berakhir, Guzzel. Ini adalah awal dari selamanya," jawab Max sambil mengecup keningnya, jemarinya membelai rambut Guzzel dengan penuh sayang.
Guzzel benar-benar terbuai. Dia merasa telah memenangkan hati sang Pangeran Es. Dia merasa bahwa trauma Max telah sembuh di tangannya, dan masa depan yang mereka bicarakan dulu tentang menikah dan hidup bersama sudah berada di depan mata.
Seminggu itu adalah seminggu yang paling bahagia, paling intim, dan paling sempurna dalam hidup Delisa Guzzalie Dante.
Di hari kedelapan, Guzzel terbangun karena sinar matahari yang terasa lebih tajam dari biasanya. Dia mengulurkan tangannya ke sisi tempat tidur, berharap menemukan tubuh hangat Max yang selalu memeluknya setiap pagi.
Namun, tangannya hanya menyentuh sprei yang dingin dan kosong.
Guzzel membuka matanya perlahan, menguceknya, dan memanggil pelan, "Max? Kau di kamar mandi?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara sayup-sayup klakson mobil dari kejauhan jalanan Paris.
Guzzel beranjak dari tempat tidur, mengenakan kemeja Max yang tertinggal di lantai. Dia memeriksa kamar mandi, kosong. Dia berjalan menuju dapur, berharap menemukan Max sedang membuatkan kopi seperti hari-hari sebelumnya.
Namun, dapur itu bersih, tidak ada aroma kopi, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Guzzel mulai panik. Dia memeriksa ruang tamu, lalu menuju pintu depan. Di sana, di atas meja kecil dekat pintu, terletak sebuah kotak kecil. Kotak cincin emerald yang Max berikan padanya di taman.
Cincin itu ada di dalamnya, bukan lagi di jari Guzzel, Max pasti melepaskannya saat Guzzel tertidur lelap.
Di samping kotak itu, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan Max yang tegas dan rapi.
"Terima kasih untuk seminggu ini, Guzzel. Rasa penasaranku kini benar-benar sudah tuntas. Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan dari 'Lia' dan 'Guzzel'. Jangan mencari ku lagi. New York menunggu kepulanganku, dan kau harus tetap di sini. Kita sudah selesai."
Dunia Guzzel seolah runtuh seketika. Lututnya lemas, dan dia jatuh terduduk di lantai yang dingin. Rasa sakit yang ia rasakan kali ini jauh lebih dahsyat daripada saat di New York. Seminggu penyatuan panas itu, janji-janji manis tentang masa depan, dan setiap sentuhan yang terasa begitu tulus... apakah semuanya hanya bagian dari rencana Max untuk membalas dendam dengan cara yang paling kejam?
Max meninggalkannya. Setelah mengambil segalanya dari Guzzel, tubuhnya, hatinya, dan harga dirinya pria itu menghilang begitu saja di tengah kabut pagi Paris.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰