Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Evan tahu kebenarannya
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam mansion megah itu. Namun, pikiran Evan justru riuh dengan berbagai kecurigaan. Ia mondar-mandir di kamarnya, mencoba mencerna kejadian di taman tadi sore.
"Tidak mungkin ada wanita yang setulus itu pada anak orang lain secara instan," gumamnya sinis.
Pikiran buruk mulai merayap di benaknya. Di dunia bisnis yang keras, Evan sering menghadapi berbagai macam muslihat. Bisa saja Kamila adalah agen yang dikirim oleh pesaing bisnisnya untuk menyusup ke dalam rumahnya melalui celah terlemahnya, yakni Zevan. Rasa penasaran dan kecurigaan itu akhirnya mendorong Evan untuk keluar dari kamarnya.
Dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamar bayi. Pintu kamar itu sedikit terbuka, menyisakan celah kecil yang memungkinkan cahaya lampu tidur yang temaram keluar ke lorong.
Evan berdiri di kegelapan, matanya mengintip melalui celah tersebut. Di dalam sana, ia melihat Kamila sedang duduk di kursi goyang sambil mendekap Zevan. Kamila tidak tahu ada mata yang mengawasinya dengan tajam.
Wanita itu mulai bersenandung kecil, sebuah lagu nina bobo yang sangat lembut dan sarat akan perasaan.
"Tidurlah sayang... bintang pun akan menjagamu... Ada Ibu di sini, yang menjagamu selalu..."
Suara Kamila terdengar sedikit bergetar, seolah ia menahan tangis namun tetap berusaha memberikan ketenangan bagi baby Zevan di pelukannya. Evan melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Zevan, putranya yang biasanya gelisah dan sering terbangun sambil menangis, kini terlihat sangat damai. Jemari kecil Zevan menggenggam jari kelingking Kamila, dan wajah bayi itu tampak begitu tenang, seolah ia benar-benar merasa berada di pelukan ibunya sendiri.
Dada Evan tiba-tiba terasa sesak. Ada getaran aneh yang menyentuh bagian terdalam hatinya yang selama ini membeku. Pemandangan itu begitu tulus, begitu kontras dengan pikiran-pikiran jahat yang sedari tadi ia susun.
Namun, Evan segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia mengepalkan tangan, berusaha mengusir rasa tersentuh yang mulai muncul.
'Jangan luluh, Evan. Penipu paling ulung sekalipun bisa berakting seolah mereka malaikat,' batinnya memperingatkan diri sendiri.
Ia mundur perlahan dari pintu tersebut, kembali ke kegelapan lorong. Ia belum bisa mempercayai Kamila sepenuhnya. Baginya, kebaikan yang terlalu sempurna itu justru sangat mencurigakan.
Sesampainya di kamarnya, ia langsung meraih ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Kevin.
"Kevin, cari tahu semua informasi tentang wanita bernama Kamila itu. Mulai dari latar belakang keluarganya, sekolahnya, hingga siapa saja orang-orang yang pernah dekat dengannya. Aku ingin laporannya ada di mejaku besok pagi. Jangan ada yang terlewat sedikit pun."
Evan meletakkan ponselnya dengan kasar di atas nakas. Tatapannya kembali dingin. Jika Kamila memang tulus, ia akan membiarkannya tetap menjadi ibu susu untuk Putranya. Tapi jika wanita itu terbukti memiliki niat terselubung, Evan bersumpah tidak akan segan-segan menendangnya keluar, bahkan jika Zevan harus menangis darah sekalipun.
.
.
Keesokan harinya
Langkah kaki Evan yang tegas bergema di koridor marmer lantai 20, Ia mengabaikan sapaan hormat dari para karyawan yang ia lewati. Fokusnya hanya satu, yaitu map merah di tangan Kevin.
Setelah masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dan berdinding kaca, Evan melemparkan jasnya ke kursi kebesaran. Ia langsung menyambar map tersebut dan membacanya lembar demi lembar dengan kerutan dahi yang semakin dalam.
"Baru saja diceraikan... dan kehilangan bayinya?" gumam Evan. Suaranya yang tadinya penuh intimidasi kini sedikit melemah.
Ia terdiam cukup lama pada paragraf yang menjelaskan bahwa Kamila kehilangan anaknya seminggu kemudian ia dibawa ke kediaman Chendana. Gambaran Kamila yang bersenandung di kamar bayi semalam kembali terlintas. Pantas saja suaranya bergetar, pantas saja ia mendekap Zevan seolah bayi itu adalah nyawanya.
"Jadi, rasa tulus yang kulihat semalam... itu adalah rasa duka yang dialihkan?" Evan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Dan Papah... benar-benar memanfaatkannya?"
Kevin yang berdiri tegap di depan meja kerja Evan hanya tersenyum tipis, mencoba menetralkan suasana.
"Mungkin Tuan besar berniat ingin membantu orang yang sedang dalam kesusahan, Tuan!" sela Kevin hati-hati.
"Cih, orang yang kalah berjudi dan meminjam uang kepada Papah ku kau bilang itu membantu? Sama saja itu ada niat terselubung, Papah benar-benar menyebalkan," tukas Evan sinis. Ia menutup map itu dengan bunyi plak yang cukup keras.
Rasa kesal Evan memuncak. Ia berdiri dan melangkah keluar menuju ruangan di ujung koridor, ruang kerja ayahnya, Tuan Chen. Tanpa mengetuk, Evan mendorong pintu kayu jati itu dengan kasar.
Tuan Chen yang sedang menyesap teh sambil membaca koran pagi hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Kau tidak pernah belajar sopan santun, Evan? Aku ini ayahmu sekaligus atasanmu di gedung ini," ujar Tuan Chen tenang, tanpa beban.
Evan meletakkan map merah itu ke atas meja ayahnya. "Apa maksud semua ini, Pah? Menjadikan wanita yang baru berduka sebagai 'alat' untuk membayar hutang keluarga tirinya? Papah tahu Kamila baru saja kehilangan bayinya, dan Papah membawanya ke rumah kita seperti barang taruhan?"
Tuan Chen meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap putranya dengan tatapan tajam namun penuh selidik.
"Dunia ini adalah soal pertukaran, Evan. Dia butuh uang untuk melunasi hutang ibu tirinya agar tidak dipenjara, dan kau... kau butuh seseorang yang bisa membuat Zevan berhenti menangis. Apa ada yang salah?"
"Caranya yang salah! Papah terlihat seperti rentenir picik!" bentak Evan.
Tuan Chen tertawa kecil, suara tawa yang membuat Evan semakin geram. "Rentenir? Sebut saja aku penyelamat. Jika aku tidak mengambilnya, dia akan terus disiksa oleh ibu dan juga kakak tirinya. Di rumah kita, dia punya tempat tidur, makanan yang layak, dan tujuan hidup baru. Lihat hasilnya, Zevan tenang, bukan?"
Evan terdiam, Ia tidak bisa membantah fakta bahwa Zevan memang berubah sejak ada Kamila. Namun, egonya masih sulit menerima bahwa Kamila masuk ke hidupnya melalui skenario 'transaksi' ayahnya.
"Tetap saja," gumam Evan dengan nada yang mulai merendah namun tetap dingin. "Aku tidak suka cara Papah mencampuri urusan rumah tanggaku dengan cara sekotor ini."
"Kalau begitu, kau awasi dia sendiri," tantang Tuan Chen sambil kembali membuka korannya. "Kalau kau memang setuju dia tulus, perlakukan dia dengan baik. Tapi jika kau masih curiga, silakan cari kesalahan dalam hidupnya yang sudah hancur itu."
Evan kembali ke ruangannya dengan perasaan yang campur aduk. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap kemacetan kota dari ketinggian lantai 20. Rasa curiganya memang berkurang, namun kewaspadaannya tetap menyala.
"Kevin," panggil Evan tanpa menoleh.
"Iya, Tuan?"
"Mulai hari ini, pastikan semua kebutuhan Kamila di rumah terpenuhi. Tapi jangan berikan dia akses ke bagian keuangan atau informasi perusahaan sedikit pun. Dan satu lagi..." Evan menjeda kalimatnya. "Jangan biarkan ibu atau kakak tirinya mendekati mansion. Aku tidak mau sampah-sampah itu mengganggu ketenangan Zevan."
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan."
Evan menghela napas panjang. Bayangan Kamila yang menangis sambil memeluk Zevan terus menghantuinya. Ia merasa bersalah karena telah menuduhnya sebagai agen mata-mata, namun di sisi lain, ia juga belum siap membuka hatinya untuk memercayai siapapun sepenuhnya.
"Kamila..." bisiknya lirih pada kaca jendela yang dingin. "Mari kita lihat, seberapa lama ketulusanmu bertahan di bawah atapku."
Bersambung...
kopi untuk mu👍