NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Begitu motor berhenti di garasi rumah yang sepi—karena Papa dan Bunda belum pulang kerja—Araluna langsung melompat turun. Ia melepaskan helmnya dengan kasar, tidak memedulikan rambutnya yang berantakan, dan berjalan cepat menuju pintu rumah.

"Araluna, berhenti!" Suara Arsen menggelegar di garasi, namun Luna tetap melangkah masuk ke ruang tengah tanpa menoleh.

Arsen menyusul dengan langkah lebar. Ia mencengkeram lengan Luna, memaksa gadis itu berbalik. "Maksud lo apa tadi di kampus? Kenapa lo sengaja banget di depan Galaksi dan cuekin gue seolah gue ini sampah di pinggir jalan?"

Luna menyentak tangannya hingga terlepas. Ia menatap Arsen dengan tatapan menantang, bibirnya mengerucut sinis. "Apa sih, Kak!" teriaknya. "Gue kan cuma ngimbangin lo! Tadi pagi lo aja ninggalin gue tanpa kabar, tanpa bangunin gue, tanpa rasa bersalah. Ya gue diemin lah! Emangnya enak diabaikan? Nggak kan?"

"Gue ada kelas pagi, Luna!" bela Arsen, meski wajah kakunya mulai terlihat goyah.

"Halah, alasan! Lo itu cuma pengecut yang lari karena kejadian di tangga semalam, kan? Lo nggak siap ngadepin gue, makanya lo pilih kabur!" Luna membalikkan badan, berniat menaiki tangga untuk kabur ke kamarnya. Ia merasa sudah menang telak.

Namun, Arsen tidak membiarkannya pergi kali ini. Dengan satu gerakan cepat, Arsen menarik bahu Luna dan memutar tubuh gadis itu hingga punggungnya menabrak dinding dingin di dekat koridor tangga.

BRAK!

Kedua tangan Arsen mengunci di sisi kepala Luna, memojokkan gadis itu sepenuhnya. Ruang gerak Luna seketika lenyap. Jarak mereka kembali menjadi sangat berbahaya—lebih dekat dari semalam di tangga.

"Ma... mau apa lo, Kak?" suara Luna yang tadinya tinggi mendadak menciut, berubah menjadi bisikan yang gemetar. Keberanian "cegil"-nya yang menggebu-gebu tadi pagi seolah menguap saat melihat tatapan Arsen yang gelap dan sangat intens.

Arsen tidak segera menjawab. Ia mengatur napasnya yang memburu, menatap dalam ke netra mata Luna yang mulai bergetar karena panik. Sifat kaku Arsen yang biasanya menjadi penghalang, kini berubah menjadi aura dominan yang mencekam.

"Lo mau tau kenapa gue berangkat pagi?" bisik Arsen, suaranya sangat rendah di depan wajah Luna. "Karena gue nggak bisa tidur semalaman gara-gara mikirin lo. Gue takut kalau gue liat muka lo tadi pagi, gue nggak bakal bisa nahan diri buat nggak ngelakuin apa yang hampir kita lakuin semalam."

Mata Luna membelalak. Ia tidak menyangka Arsen akan sejujur itu di tengah kekakuannya.

"Tapi ternyata, cara lo 'ngimbangin' gue itu salah, Araluna," lanjut Arsen. Ia memajukan wajahnya, ujung hidungnya kini bersentuhan dengan hidung Luna. "Lo bikin gue gila karena cemburu liat lo pegang-pegang tangan Galaksi. Lo pikir itu lucu?"

"Ya... ya itu kan salah lo sendiri!" Luna mencoba membela diri, meski suaranya sudah tidak bertenaga. "Siapa suruh lo kaku terus! Siapa suruh lo ninggalin gue!"

Arsen memberikan senyum miring—jenis senyum yang membuat Luna merasa jantungnya berhenti berdetak. "Oh, jadi lo mau gue nggak kaku lagi?"

Tangan kanan Arsen yang tadinya menempel di dinding, kini berpindah ke belakang leher Luna, menyelinap di antara rambut hitam gadis itu. Sentuhannya hangat dan posesif.

"Gue kasih lo satu peringatan terakhir, Araluna," bisik Arsen, bibirnya nyaris menyentuh bibir Luna. "Kalau lo sekali lagi sengaja manasin gue pake cowok lain, gue nggak akan peduli lagi sama status saudara tiri ini. Gue bakal tandain lo sebagai milik gue di depan semua orang, biar lo nggak bisa lari lagi."

Luna ternganga, tubuhnya terasa lemas. "Kak... lo..."

"Gue apa? Gue cemburu? Iya. Gue posesif? Iya," potong Arsen tanpa ragu. Ia menunduk, mencium kening Luna dengan sangat lama dan lembut, sebuah tindakan yang penuh kasih sayang tapi juga terasa seperti sebuah penguasaan. "Sekarang, masuk kamar. Ganti baju lo yang merah ini. Gue nggak suka cewek lain liat lo pake baju yang bikin lo secantik ini."

Arsen melepaskan kunciannya dan berjalan pergi menuju kamarnya sendiri tanpa menoleh lagi, meninggalkan Araluna yang masih mematung di dinding dengan jantung yang berdetak tak karuan.

Luna menyentuh keningnya yang masih terasa hangat bekas bibir Arsen. Ia merosot duduk di lantai koridor, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Gila... Kak Arsen beneran gila..." gumamnya dengan senyum lebar yang tak tertahankan. Taktiknya berhasil lebih dari yang ia bayangkan. Arsen sang "Robot Kaku" akhirnya meledak, dan ledakannya benar-benar membuat Araluna jatuh cinta seribu kali lipat lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!