"Cinta" satu kata yang penuh makna. Terkadang butuh pengorbanan untuk menunjukkan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Kian Mendekat
Malam itu, barak kembali sunyi. Suara jangkrik bersahutan di kejauhan, sesekali terdengar langkah-langkah patroli yang berkeliling menjaga keamanan. Namun, ada satu sosok yang tetap terjaga dalam kesunyian, berdiri di balik rimbunnya pepohonan yang mengelilingi tempat itu.
Doni masih di sana.
Matanya tak lepas dari sosok Fahira yang duduk di depan baraknya, menatap kosong ke arah langit. Ia tahu wanita itu sedang memikirkan sesuatu—tentang dirinya, tentang masa lalu mereka, tentang pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.
Doni mengepalkan tangannya.
Ia ingin keluar dari persembunyian. Ingin memberitahu Fahira segalanya. Tapi ia tahu, itu hanya akan membuat situasi semakin sulit. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perasaan rindu yang ia simpan selama ini.
Ancaman yang lebih nyata.
Fahira tidak boleh tahu.
Tiba-tiba, suara di alat komunikasinya terdengar.
"Doni, pergerakan mencurigakan di sektor barat. Seseorang mengawasi barak."
Doni langsung siaga.
"Berapa orang?"
"Tiga. Mereka bergerak dengan pola aneh, sepertinya mengumpulkan informasi sebelum melakukan sesuatu."
Doni terdiam sejenak. Jika ada pihak lain yang mengawasi barak ini, maka ada kemungkinan Fahira menjadi target.
Dan ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Pantau terus. Jangan lakukan serangan kecuali mereka bertindak mencurigakan. Aku akan mendekat."
Ia menutup alat komunikasinya dan menatap ke arah Fahira sekali lagi.
Maaf, Ra. Aku belum bisa menemuimu.
Tapi aku selalu ada di sini.
Pagi itu, Fahira kembali dibuat gelisah. Ia merasa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu yang ia sendiri tidak bisa jelaskan.
Saat ia melangkah keluar dari barak, matanya langsung menangkap sosok Gabriel yang sedang berbicara dengan seseorang melalui alat komunikasinya. Wajah sahabatnya itu tampak serius, berbeda dari biasanya yang selalu penuh canda.
Fahira mengernyit.
"Ada apa?" tanyanya saat mendekat.
Gabriel menoleh cepat, seolah tidak menyangka Fahira akan datang. Namun, ia segera memasang ekspresi santai seperti biasa. "Nggak ada apa-apa. Kenapa lo pagi-pagi udah keluyuran?"
Fahira melipat tangan di dadanya. "Jangan bohong. Lo lagi bicara sama siapa barusan?"
Gabriel tersenyum kecil. "Gue cuma kasih laporan biasa. Nggak ada yang perlu lo khawatirin."
Fahira mendengus. "Gue nggak percaya."
Gabriel tertawa kecil, tapi tatapan matanya tetap serius. "Ra, lo terlalu banyak mikirin hal yang nggak perlu. Santai sedikit."
Fahira tidak menjawab, tapi ia tahu ada sesuatu yang sedang terjadi.
Dan ia akan mencari tahu.
Di sisi lain, Doni berdiri di salah satu titik pengamatan, memperhatikan tiga orang mencurigakan yang masih berkeliaran di sekitar perbatasan barak. Mereka tampaknya tidak terburu-buru, hanya mengamati dan mencatat sesuatu di perangkat mereka.
Doni mengamati mereka dengan saksama. Ada sesuatu yang janggal dari cara mereka bergerak. Mereka bukan sembarang penyusup, mereka punya tujuan yang jelas.
Tapi apa?
"Mereka mulai bergerak ke sektor timur," suara dari alat komunikasinya kembali terdengar.
Doni mempererat pegangan pada senjatanya.
"Jangan sampai mereka masuk ke area utama. Awasi terus."
Ia tahu ini hanya permulaan.
Jika mereka benar-benar memiliki niat buruk, maka ini hanya awal dari ancaman yang lebih besar.
Fahira duduk di kantin barak, mencoba menyibukkan pikirannya dengan secangkir kopi di tangannya. Namun, pikirannya tetap melayang ke satu hal—Doni.
Ia tidak tahu mengapa hatinya selalu merasa gelisah belakangan ini. Seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh semesta, tapi ia tidak bisa menangkapnya dengan jelas.
Saat ia melamun, Talita datang dan duduk di depannya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Lo lagi mikirin apa?" tanya Talita sambil menyeruput minumannya.
Fahira menoleh dan menghela napas. "Nggak tahu, Ta. Perasaan gue nggak enak akhir-akhir ini."
Talita menaikkan alisnya. "Gara-gara Doni lagi?"
Fahira tidak menjawab, tapi tatapannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan itu.
Talita mendesah. "Ra, lo harus berhenti menyiksa diri lo sendiri. Doni udah lama pergi. Kalau dia memang peduli, dia pasti udah datang buat nemuin lo."
"Tapi gimana kalau dia nggak bisa?" balas Fahira cepat.
Talita terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara lebih pelan. "Maksud lo?"
Fahira menggigit bibirnya. Ia ingin sekali mengungkapkan kegelisahannya, tentang surat-surat misterius yang ia temukan, tentang cincin Doni yang tiba-tiba muncul di dekat baraknya.
Tapi sesuatu menahannya.
"Aku nggak tahu, Ta. Tapi aku merasa... dia masih di sini."
Talita menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Fahira. "Gue nggak tahu harus ngomong apa. Tapi kalau lo masih percaya Doni masih ada, lo harus cari tahu sendiri. Jangan cuma terjebak dalam harapan yang nggak pasti."
Fahira menatap sahabatnya. Mungkin Talita benar.
Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban adalah dengan mencari sendiri.
Malam itu, Doni kembali mengawasi Fahira dari kejauhan. Ia melihat wanita itu berjalan ke arah hutan dengan langkah ragu-ragu, seolah sedang mencari sesuatu.
Doni mengepalkan tangannya.
"Kenapa lo ke sini, Ra?" gumamnya pelan.
Fahira berhenti di dekat pohon tempat ia menemukan cincin Doni beberapa waktu lalu. Ia menatap sekelilingnya, seolah berharap menemukan sesuatu lagi.
Doni menahan napas, memastikan dirinya tetap tersembunyi dalam kegelapan.
Tiba-tiba, Fahira berbicara dengan suara pelan, namun cukup jelas terdengar di telinga Doni.
"Aku tahu kamu ada di sini."
Doni terdiam.
Fahira melanjutkan. "Aku nggak tahu kenapa kamu nggak mau muncul. Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau kamu bisa dengar aku, setidaknya berikan aku tanda."
Hati Doni mencelos. Ia ingin sekali melangkah maju, menyentuh wajah wanita itu, mengatakan semuanya.
Tapi ia tidak bisa.
Akhirnya, Doni melakukan satu hal yang bisa ia lakukan—melemparkan sebuah kertas kecil ke arah Fahira dari tempat persembunyiannya.
Fahira terkejut ketika sesuatu jatuh di dekat kakinya. Ia buru-buru mengambilnya dan membuka lipatannya.
Di sana hanya ada satu kalimat yang tertulis.
"Aku selalu ada di sini. Tapi aku tidak bisa kembali."
Mata Fahira membelalak, dan air matanya jatuh begitu saja.
Doni mengepalkan tangannya.
Maaf, Fahira.
Tapi aku tidak bisa kembali.
Untuk saat ini.
Fahira menggenggam erat kertas kecil itu. Tangannya sedikit gemetar, matanya menatap tulisan itu tanpa berkedip. Ia menelusuri setiap huruf, seolah berharap ada makna tersembunyi di balik kata-kata singkat itu.
Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekelilingnya. Namun, Fahira tetap diam di tempatnya, hatinya bergejolak antara harapan dan kebingungan.
"Aku selalu ada di sini. Tapi aku tidak bisa kembali."
Apa maksudnya?
Jika Doni masih ada di sini, kenapa ia tidak menemuinya? Kenapa ia terus bersembunyi?
Fahira mengepalkan tangannya. Jika Doni memang di dekatnya, maka ia pasti melihat reaksinya saat ini.
"Aku nggak peduli apa alasanmu," ucap Fahira, suaranya sedikit bergetar. "Tapi kalau kamu memang ada di sini, kalau kamu masih peduli… tunjukkan wajahmu."
Hening.
Tak ada jawaban.
Hanya suara angin yang menjawabnya.
Fahira menunggu, berharap ada gerakan, ada tanda lain selain kertas kecil ini. Namun, setelah beberapa saat, ia sadar…
Doni belum siap.
Ia menghela napas panjang, menekan perasaan kecewanya dalam-dalam.
"Baiklah," gumamnya lirih. "Kalau kamu nggak mau muncul, aku akan mencari tahu sendiri."
Doni, di tempat persembunyiannya, menutup matanya sejenak.
Fahira… kau memang tak pernah menyerah.
####
Di sebuah kedai kopi kecil, Shun dan Nagisa bertemu secara tak terduga. Percakapan ringan, secangkir kopi, dan keheningan yang nyaman perlahan menumbuhkan sesuatu di antara mereka. Namun, tak semua kenangan diciptakan untuk bertahan selamanya…
Ketika masa lalu, rahasia, dan takdir mulai menguji mereka, mampukah kenangan itu tetap hidup?
Sebuah kisah tentang pertemuan, kehilangan, dan arti merelakan.