NovelToon NovelToon
Makeup His Heart

Makeup His Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:575
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.

​Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Di Gedung Tua

​"Sialan! Aku gagal!" umpat Laura murka di dalam kamar hotelnya. Ia melempar ponselnya ke atas ranjang setelah menerima laporan bahwa Yeza menolak umpan pekerjaan palsunya. Wajah cantiknya kini terdistorsi oleh rasa frustrasi dan dendam yang mendalam.

​Namun, kegagalan itu justru memicu sisi paling gelap dan nekat di dalam diri Laura. Ego yang terluka membuatnya kehilangan akal sehat. Ia mengambil kembali ponselnya, lalu membuka dokumen foto yang dikirimkan oleh anak buahnya tadi sore—sebuah foto gerbang rumah sederhana milik ibunya Yeza di pinggiran kota, diambil dari dalam sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan.

​Dengan jemari yang gemetar karena emosi, Laura mengirimkan foto tersebut ke nomor WhatsApp Yeza, diikuti dengan baris pesan ancaman yang sangat kejam:

​"Jika kamu telat datang, ibumu akan mati. Temui aku di alamat ini sekarang juga. Jangan beritahu siapapun, termasuk Max, jika kamu ingin ibumu tetap selamat."

​Di tempat lain, jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian syuting hari itu dengan sukses, seluruh kru utama, termasuk Max, Bram, dan Yeza, sedang berkumpul di sebuah restoran privat untuk merayakan makan malam tim. Suasana di dalam ruangan dipenuhi tawa dan denting gelas.

​Ting.

​Ponsel Yeza yang tergeletak di atas meja bergetar. Dengan santai, Yeza membuka ruang obrolan WhatsApp yang masuk dari nomor tidak dikenal. Namun, begitu matanya menangkap gambar rumah ibunya dan membaca deretan kalimat ancaman di bawahnya, seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis.

​Seketika, dada Yeza bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Wajahnya memucat pasi, dan tangannya gemetar hebat sampai hampir menjatuhkan ponselnya. Rasa takut yang teramat sangat mencengkeram seluruh kesadarannya. Pikirannya langsung kacau memikirkan sang ibu yang sendirian di rumah.

​Tanpa berpikir panjang, Yeza langsung berdiri dari kursinya dengan tergesa-gesa. Tindakannya yang mendadak itu membuat beberapa staf di dekatnya menoleh bingung.

​"Yeza? Ada apa?" tanya Bram yang duduk tidak jauh darinya, mengernyitkan dahi melihat ekspresi panik di wajah sang MUA.

​"Ma-maaf semuanya... saya... saya tiba-tiba ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Saya harus pulang sekarang juga," ucap Yeza dengan suara bergetar dan terbata-bata. Ia bahkan tidak berani menatap mata Max yang kini sedang memperhatikannya dengan tatapan tajam dan penuh menyelidik dari ujung meja.

​Sambil menyambar tas kerjanya dengan buru-buru, Yeza membungkuk sekilas kepada sutradara dan kru lainnya. "Saya permisi duluan. Maaf memotong acara malam ini."

​Tanpa menunggu jawaban atau izin dari siapa pun, Yeza langsung berbalik dan setengah berlari keluar dari ruangan restoran. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: ia harus menyelamatkan ibunya, tidak peduli bahaya apa yang sedang menunggunya di alamat yang dikirimkan oleh Laura.

​Namun, Yeza lupa satu hal. Di ujung meja riuh itu, Max tidak pernah melepaskan pandangannya dari gelagat Yeza. Dan di dalam saku celana Max, aplikasi pelacak militer yang terhubung ke ponsel Yeza baru saja mengaktifkan alarm peringatan karena titik koordinat gadis itu mulai bergerak meninggalkan area dengan kecepatan tinggi.

​Di dalam restoran, kepergian Yeza yang terburu-buru meninggalkan keheningan sesaat di meja mereka. Max dan Bram saling bertatapan. Tanpa perlu bersuara, Bram tahu arti dari tatapan mata aktornya yang menajam bagai elang—itu adalah sinyal bahaya.

​Max merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pribadinya, dan membuka aplikasi pelacak yang sempat ia tanam diam-diam. Di layar, sebuah titik merah berkedip, bergerak dengan kecepatan konstan di atas jalur jalan raya.

​"Dia menggunakan taksi. Dan arahnya sama sekali bukan menuju apartemen atau rumah ibunya," bisik Max dengan suara rendah yang sarat akan kemarahan terpendam. Ia menunjukkan layar ponselnya pada Bram.

​Bram terbelalak kecil. "Sial. Laura benar-benar melakukan sesuatu. Ayo bergerak, Max. Jangan sampai kita kehilangan jejak."

​Tanpa memedulikan sisa makanan atau kebingungan para kru yang ditinggalkan, Max dan Bram langsung berdiri dan berpamitan singkat pada sutradara sebelum melangkah cepat menuju area parkir mobil.

​Sementara itu, taksi yang ditumpangi Yeza terus melaju membelah malam yang semakin larut. Ketakutan yang mencengkeram dadanya membuat perjalanan itu terasa sangat lama. Jemari Yeza terus meremas ponselnya, berdoa dalam hati agar ibunya di rumah tidak diapa-apakan oleh orang-orang suruhan Laura.

​Akhirnya, taksi itu berhenti di sebuah kawasan industri terbengkalai di pinggiran kota yang sangat sepi. Di depan mereka, berdiri sebuah gedung tua berlantai tiga yang gelap gulita tanpa penerangan. Setelah membayar ongkos taksi dengan tangan yang gemetar, Yeza turun. Taksi tersebut segera berbalik arah dan pergi, meninggalkan Yeza sendirian di tengah kegelapan malam yang mencekam. Suasana sangat sunyi, tidak ada satu pun orang atau kendaraan yang lewat.

​Ting.

​Sebuah pesan baru masuk ke ponsel Yeza: "Masuk ke lantai dua. Sendirian. Jika aku melihat ada polisi atau orang lain, tamat riwayat ibumu."

​Yeza menelan ludah, menguatkan hatinya demi sang ibu. Dengan langkah gemetar, ia mulai melangkah memasuki lobi gedung tua yang berdebu itu.

​Di saat yang sama, mobil MPV hitam milik Max melaju dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Bram fokus di balik kemudi, sementara Max duduk di kursi penumpang dengan mata yang terus mengunci titik merah di ponselnya. Titik itu kini telah berhenti bergerak, menandakan Yeza sudah sampai di tujuan.

​"Dia berhenti di kawasan gudang tua sektor utara, Bram. Tambah kecepatannya," perintah Max dingin. Aura di sekitar pria itu terasa begitu pekat dan berbahaya. Max tahu Laura nekat, tapi memancing Yeza ke gedung tua yang sepi adalah batas akhir yang tidak akan pernah ia maafkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!