Shen Yunan mengalami kematian tragis. Dikhianati keluarga, dikhianati pria yang dia cintai, menghabisii orang yang mencintainya dengan tulus.
Mendengar tawa sang putra mahkota yang baru naik tahta, dengan pedang di tangan yang telah menusuknya, bersama Shen Yuxiao, putri palsu yang mencuri tempatnya di kediaman Marquis selama 17 tahun. Shen Yunan bersumpah, dia akan membalas mereka semua. Dia akan membuat semua orang yang menertawakan kematiannya menangis.
'Jika ada kehidupan kedua, aku akan habisi kalian semua!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Menjelang malam malam, Shen Yunan sudah berada di ruangan makan. Gu Yuning dan juga Shen Moran juga sudah muncul disana. Mereka masih menunggu Marquis Shen yang belum datang.
Wajah Gu Yuning tampak kurang senang melihat Shen Yunan datang terlebih dulu. Dia terus melihat ke arah pintu.
"Pelayan, dimana nona ketiga?" tanya Gu Yuning cemas.
"Nona ketiga tidak enak badan, nyonya. Katanya dia tidak akan makan bersama!"
Shen Moran segera berdiri.
"Apa? kenapa adik ketiga sakit tidak ada yang memberitahu ku! jangan-jangan ada yang sengaja tidak ingin memberitahu!"
Ucapan Shen Moran itu terdengar datar, tapi penuh dengan sindiran. Saat pria itu bicara, matanya juga melirik ke arah Shen Yunan.
Cao Cao yang melihat itu ingin bicara, dia ingin menjelaskan kalah nonanya tidak pernah sama sekali melarang pelayan bicara. Tapi melihat bahu Cao Cao naik, tangan Shen Yunan segera menyentuh tangan Cao Cao. Memberikan isyarat pada pelayan setianya itu untuk diam. Cao Cao pun hanya bisa menghela nafas panjang.
"Yuxiao sakit, aku akan lihat!"
"Ibu aku ikut!"
Shen Moran segera mengikuti Gu Yuning keluar dari ruang makan itu. Shen Yunan melihat bahan kakak kandungnya dan ibu kandungnya pergi.
Tak ada lagi tatapan sedih, tak ada lagi rasa ingin dipedulikan dan diperhatikan. Dia sama sekali sudah tidak perduli dengan dua orang itu. Kehidupan lalunya mengajarkan padanya, kalau mengharap kasih sayang itu hanya akan membuat diri sendiri terluka dan jatuh sangat dalam, ke jurang yang tak bertepian. Saat sudah berada disana, tak akan ada satu orang pun yang perduli.
Sementara itu, malah Cao Cao yang terlihat sedih dan tidak terima.
"Mereka benar-benar langsung pergi meninggalkan nona. Padahal nona ketiga sakit karena ulahnya sendiri. Kalau nona udah menukar piring kue itu, nona yang akan sakit. Bukan nona ketiga. Nona juga anak kandung di keluarga ini kan? kenapa malah nyonya Marquis terus saja memperhatikan nona ketiga!"
Cao Cao meluapkan emosinya. Pelayan lain mana berani. Karena jika pelayan mengatakan sesuatu seperti itu, pastinya bukan mendapatkan simpati dari majikan, yang ada mereka akan di cambuk, di tampar, atau dipukul papan.
Tak ada yang bisa membantah majikan, tak ada yang boleh mengkritik majikan. Seperti itulah aturan di jaman ini.
Namun beberapa waktu bersama, Shen Yunan tak pernah menganggap Cao Cao pelayan. Seperti yang dia bilang, dia akan memperlakukan baik, siapa yang berlaku baik padanya. Dan akan membalas dengan lebih buruk, yang bersikap buruk padanya.
Cao Cao merasa kalau majikannya sangat baik dan pengertian. Makan saja, Cao Cao tidak perlu menunggu Shen Yunan selesai kalau di paviliun mereka. Bahkan Cao Cao tak harus selalu berdiri di sana. Dia bisa duduk kalau dia lelah.
Memiliki majikan seperti Shen Yunan. Cao Cao sungguh merasa beruntung dan tidak akan pegang mengkhianati Shen Yunan. Makanya dia juga kesal, kalau ada orang yang sekiranya berlaku tidak adil pada Shen Yunan.
"Kenapa mengomel? makin sedikit yang berada di ruangan ini juga bagus! aku bisa makan lebih banyak!" kata Shen Yunan santai.
Cao Cao sampai garuk-garuk kepala. Nonanya itu sepertinya memang tidak pernah terganggu dengan apapun yang dilakukan keluarga Marquis ini. Mau ibunya perduli atau tidak, mau kakaknya perduli atau tidak, tampaknya memang Shen Yunan tidak begitu menganggap semua itu penting.
"Lagipula yang berkuasa di rumah ini adalah ayah! semua keputusan keluar dari mulut ayah. Aku hanya harus mendapatkan dukungan ayah, maka semuanya akan baik-baik saja" lanjutnya.
Ucapan Shen Yunan kali ini baru membuat Cao Cao menganggukkan kepalanya paham. Nonanya memang benar, apa pedulinya dengan yang lain. Mereka memang hanya harus berpegang pada paha besar Marquis Shen saja. Siapa yang berani menentang Marquis Shen.
"Nona memang pintar sekali!" puji Cao Cao setelah melihat betapa pintarnya majikannya.
Shen Yunan hanya tersenyum. Dulu, dia juga sangat sedih ketika semua orang meninggalkannya. Kesedihan hanya membuatnya terpuruk, hingga ketika Xie Yuzin datang mengulurkan tangan padanya. Dia dengan mudah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya. Nyatanya, dia mati dengan mengenaskan.
"Kemana semua orang!"
Marquis Shen datang bersama dengan Perdana menteri Liu. Shen Yunan juga tidak menyangka pria itu akan datang sebelum tiga hari.
Shen Yunan segera berdiri, menunjukkan rasa hormatnya pada ayahnya dan Liu Yuting.
"Salam ayah, salam tuan Liu!"
'Tuan Liu? bagus sekali!' batin Liu Yuting yang melihat Shen Yunan begitu lembut dan sangat menghormatinya di depan sang ayah.
"Bangunlah nak, tak perlu formal begitu di rumah pada ayah. Dimana semua orang?" tanya Marquis Shen lagi.
"Kakak ketiga kurang enak badan. Ibu dan kakak kedua sedang melihatnya!" jawab Shen Yunan.
Dia tidak perlu menambahkan apapun dalam kalimatnya.
"Kamu tidak melihatnya juga? tidak perduli pada kakakmu?"
Shen Yunan menoleh ke arah Liu Yuting, pria itu sengaja sepertinya bicara seperti itu di depan Marquis Shen.
"Aku menunggu ayah, jika ayah datang dan tidak ada yang memberi tahu..."
"Aku paham!" kata Marquis Shen menepuk bahu Shen Yunan, "kalau begitu, ayah akan lihat Yuxiao dulu. Kamu temani tuan Liu makan dulu!"
"Baik ayah!" jawab Shen Yunan dengan sangat lembut.
Shen Yunan bahkan membungkukkan sedikit tubuhnya ketika ayahnya akan pergi. Sikap pengertian dan format Shen Yunan sepertinya berhasil menarik simpati Marquis Shen. Terlihat ketika pria itu tersenyum dengan tatapan bangga melihat betapa pengertiannya Shen Yunan.
Sementara mata Liu Yuting keduanya juga tidak terlepas dari Shen Yunan.
"Jika kamu tidak pernah datang ke kediaman perdana menteri dengan sangat mudah. Aku pasti akan percaya kalau kamu adalah wanita yang lemah lembut dan tak berdaya!" kata Liu Yuting sambil duduk di kursi yang berjarak dua kursi dari Shen Yunan.
Shen Yunan yang melihat Liu Yuting masih mengambil jarak dengannya. Sengaja membawa cangkir minum dan mengisinya, lalu diletakkan di atas meja, di depan Liu Yuting.
"Tuan Liu terlalu memuji!" katanya yang langsung duduk di sebelah Liu Yuting.
"Kamu pikir aku sedang memuji mu? berani sekali duduk di sebelahku!" wajah Liu Yuting mendadak menjadi serius.
"Jadi, aku salah ya? apa seharusnya aku duduk di pangkuanmu?" tanya Shen Yunan yang sudah begitu dan bersiap duduk di pangkuan Liu Yuting.
"Tidak waras!" pekik Liu Yuting yang langsung berdiri.
Shen Yunan sama sekali tidak menyerah. Dia mendekati Liu Yuting dan menyentuh hanfu-nya bagian dada.
"Saat bibirmu berkata aku tidak waras, apa disini juga?" tanya Shen Yunan mengetuk dada Liu Yuting dengan jari telunjuknya.
***
Bersambung...