NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:121.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28 Beri Waktu Satu Bulan

Jemari Ardy yang menggenggam map cokelat berisi draf surat cerai itu perlahan mengendur, nyaris menjatuhkannya ke atas karpet. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya, mencari celah kebohongan atau setidaknya gurat kesedihan.

“Kamu sungguh tidak marah?” tanya Ardy pelan.

Kirana hanya memiringkan kepalanya sedikit. “Marah untuk apa, Mas?”

Ardy benar-benar tidak mengerti. Bukankah ini yang selama ini ia inginkan? Bukankah sejak awal ia berniat membebaskan dirinya dari pernikahan tanpa cinta ini demi Siska? Lalu kenapa, saat Kirana menerima keputusan itu tanpa setetes air mata atau makian, justru ada sesuatu yang terasa runtuh di dalam dadanya?

“Surat cerainya mana?” tanya Kirana santai, menyodorkan telapak tangannya ke hadapan Ardy.

Ardy masih terpaku di tempatnya. “Kamu setuju? Begitu saja?”

Kirana tersenyum tipis.

“Kenapa tidak, Mas?” balasnya luar biasa tenang. “Bukankah selama ini aku hanya menjadi penghalang hubungan kalian? Penghalang kebahagiaan ibumu?”

Kalimat itu terdengar sangat sederhana, tetapi entah mengapa menghantam Ardy tepat di ulu hati. Ia membuka mulut, hendak membantah, “Bukan begitu maksudku...” tetapi tak satu kata pun berhasil keluar dari tenggorokannya.

Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu ucapan Kirana seratus persen benar. Selama ini, ia memang menganggap Kirana sebagai wanita asing yang dipaksakan masuk ke dalam hidupnya.

Sementara Kirana sendiri hanya berusaha menjadi istri yang baik dan berbakti.

“Kirana, aku—”

“Tenang saja, Mas.” Kirana memotong ucapan Ardy dengan nada lembut yang justru terasa mengiris. “Aku nggak akan mempersulit proses perceraian ini. Berikan mapnya padaku.”

Kirana melangkah mendekati Ardy, menarik map berisi surat cerai itu dari tangan pria yang masih membeku tersebut.

Dengan tenang, ia melangkah ke meja rias dan membuka lembar demi lembar isinya. Tatapannya menyapu setiap kalimat, meneliti pembagian harta gono-gini yang tertulis nihil, tanpa menunjukkan perubahan ekspresi sedikitpun.

Setelah selesai membaca draf sepihak itu, Kirana menutup kembali map tersebut.

“Poin-poinnya cukup jelas. Aku akan menandatanganinya.”

Ardy mengembuskan napas panjang. Ada sedikit kelegaan menyapu dadanya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum Kirana kembali bersuara.

“Tapi, beri aku waktu satu bulan.”

Ardy mengernyit. “Satu bulan? Untuk apa? Bukankah lebih cepat berpisah lebih baik untuk kita berdua?”

Kirana tersenyum kecil. Senyum yang membuat wajahnya terlihat sangat anggun nan cantik.

“Untuk menyiapkan hidupku setelah bercerai, Mas. Aku yakin kamu dan ibumu nggak akan rela memberikan sepeser pun hartamu kepadaku. Jadi, sebelum statusku resmi berubah menjadi mantan istrimu dan aku harus angkat kaki dari rumah ini, aku ingin mencari pekerjaan lebih dulu,” ucap Kirana.

Jawaban itu terdengar masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal bagi Ardy. Pria itu menatap wajah Kirana lekat-lekat, berusaha keras mencari siasat tersembunyi di balik tatapan wanita itu. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan mutlak.

“Tapi selama ini kamu tidak pernah bekerja, Kirana. Kamu hanya mengurus rumah,” bantah Ardy ragu.

“Benar. Makanya aku harus mulai belajar dari sekarang!” Kirana meletakkan map itu di sisi meja.

”Setelah bercerai nanti, aku nggak mungkin terus bergantung pada belas kasihan orang lain. Aku harus hidup dan berdiri dengan kakiku sendiri.”

Ardy terdiam seribu bahasa. Entah mengapa, kalimat lugas itu justru menusuknya dengan rasa bersalah yang tak kasatmata. Selama tiga tahun menikah, ia memang selalu memenuhi kebutuhan materi Kirana tanpa cela. Namun ia tidak pernah benar-benar bertanya apa yang diinginkan istrinya. Ia bahkan sama sekali tidak pernah berpikir bagaimana Kirana akan bertahan hidup di luar sana jika mereka benar-benar berpisah tanpa harta sepeser pun.

“Jadi, bagaimana?” tanya Kirana menyadarkan Ardy dari lamunannya. “Apa penundaan satu bulan terlalu lama untukmu?”

Ardy menelan ludah, lalu menggeleng pelan. “Tidak sama sekali. Satu bulan masih bisa ku toleransi.”

“Terima kasih.” Kirana mengangguk singkat.

“Kalau begitu, sepakat. Selama satu bulan ini kita tetap menjalani hidup seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah itu, mari kita bercerai.”

Wanita itu berbalik hendak menuju kamar mandi. Seketika, langkahnya berhenti sesaat di ambang pintu.

“Oh iya, Mas.”

Ardy mendongak menatap punggung ramping itu. “Apa?”

“Selama masa tenggang satu bulan ini, aku harap Siska bisa sedikit lebih bersabar menahan diri. Kalian sudah menunggu bertahun-tahun untuk bersama. Satu bulan lagi seharusnya bukan masalah besar, bukan?”

Senyum tipis yang penuh ironi kembali menghiasi bibir Kirana sebelum ia melangkah masuk ke kamar mandi.

Pintu pun tertutup dan dikunci perlahan. Meninggalkan Ardy sendirian mematung di dalam kamar.

Pria itu memandangi pintu kayu tersebut tanpa berkedip. Napasnya terasa berat. Aneh, semuanya berjalan persis sesuai keinginannya. Ia akan segera bebas. Siska juga akan segera resmi menjadi istrinya. Bahkan anak yang dikandung wanita itu akan lahir dengan status hukum yang jelas.

Lalu, kenapa dadanya justru terasa semakin sesak dan panas? Kenapa ia merasa ada sesuatu yang berharga sedang terlepas dari genggamannya?

Di balik pintu kamar mandi, Kirana membuka keran wastafel hingga maksimal. Suara air yang mengalir deras menutupi embusan napas panjangnya. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin datar.

Perlahan, senyum tipis itu kembali terukir di bibirnya.

“Satu bulan. Itu lebih dari cukup,” bisiknya pada pantulannya sendiri.

Dalam waktu satu bulan itu, ia akan mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Menggali seluruh kebenaran tentang kehamilan Siska. Mengumpulkan bukti demi bukti perselingkuhan yang selama ini tersembunyi rapi. Ia juga akan membuat Sarah dan Siska kehilangan semua kesombongan mereka hingga ke akar-akarnya.

Dan yang paling penting, Kirana akan membuat Ardy merasakan penyesalan yang jauh lebih menyakitkan daripada semua luka yang pernah pria itu berikan.

Saat hari perceraian benar-benar tiba nanti, bukan Kirana yang akan memohon sambil menangis agar pernikahan mereka dipertahankan. Melainkan Ardy yang akan berlutut di kakinya, memohon agar wanita itu tidak meninggalkannya.

Sayangnya, saat hari itu tiba, hati Kirana sudah tak lagi memiliki tempat seujung kuku pun untuk pria bernama Ardy.

Drrt! Drrt!

Getaran keras memecah lamunan Ardy di luar kamar mandi. Ponsel milik Kirana yang tergeletak sembarangan di atas meja rias menyala berkedip-kedip.

Mata Ardy memicing mata curiga. “Siapa yang menghubungi Kirana malam-malam begini?” gumamnya.

Ia melangkah cepat mendekati meja rias. Saat melihat nama yang tertera di layar, rahang Ardy seketika mengeras. Darahnya mendidih seketika. Ingatannya langsung tertuju pada tuduhannya tadi tentang pria selingkuhan Kirana.

Tanpa berpikir panjang dan didorong rasa cemburu buta yang tak masuk akal, Ardy menggeser layar dan mengangkat panggilan itu, menempelkan ponsel ke telinganya tanpa bersuara.

“Maaf mengganggu waktu istirahat anda malam-malam begini,” suara bariton seorang pria terdengar dari seberang. “Temui saya besok siang di kafe biasa. Ada sesuatu yang ingin saya katakan.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, panggilan langsung terputus secara sepihak.

“Jadi pria selingkuhannya tadi itu Tristan?” gumam Ardy dengan tangan terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

Dengan cepat, Ardy buru-buru menghapus log panggilan masuk dari Tristan tersebut agar Kirana tidak menyadarinya. Ia meletakkan kembali ponsel itu di posisinya semula, lalu menatap benda pipih itu dengan sorot mata penuh permusuhan.

“Lihat saja nanti, Kirana. Aku sendiri yang akan membongkar kedokmu dengan si Tristan itu!” batinnya penuh dendam.

1
Shee_👚
astaghfirullah babu ini minta di apain ya, yang punya rumah ko ya di kasih makan basi😤
Shee_👚
nah begitu, pembantu belagu amat😏
Shee_👚
mampus gak tuh, harusnya tadi pake air panas aja sekalian
Shee_👚
kirana berharap ardy bakalan berubah setelah tau dia hamil. tapi untungnya kabar itu belum terjadi karena kalau terjadi aku yakin ardy pasti gak bakalan mau menerima anak itu
Shee_👚
mimpi jangan ketinggian neng tar jatoh sakit😏
Shee_👚
gih sono pergi🤣
Cicih Sophiana
sukurlah bu Sarah sadar apa yg telah dia lakukan selama menjadi menantu nya...
Sri Rahayu
bu Sarah sdh menyadari kesalahanya pd Kirana...semoga menjadi baik utk semuanya...lanjut Thorr😘😘😘
Nice1808
semoga sarah bener2 tulus mendoakan bukan datang bikin kerusuhan😃
Margaretha Indrayani
semoga dengan ketulusan kirana dan tristan bisa menghapus dendam masa lalu
Margaretha Indrayani
pdnyesalan pasti datangnyabterakhir ya ardy
Cicih Sophiana
pasti nya dong Tristan akan menjaga nya krn Tristan punya hati yg penuh cinta hanya untuk Kirang
Sri Rahayu
mk nya bu Sarah...jgn jgn sok, suka menghina org...skrg keadaan terbalik... lanjut Thorr😘😘😘
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣blm lh... org br di mulai kek
🇦 🇵 🇷 🇾👎
yes.... asek... gn kn enk
EmakKece
Thoor .. bentaar, tahaan dulu kawinnya. itu uang 5jt yg mau dipinjem jadinya gimana ? dipinjemin gak ? 🤔 Entar stroke lho mak lampir nya
EmakKece: asiaaap 👍🏻
total 2 replies
Nice1808
skrg baru menyesal ardy🤭dulu kmna aja🤣🤣🤣
Cicih Sophiana
knp Dy cemburu? sakit hati? kaya nya aneh sih... krn waktu Kirana jadi irtri kamu... kamu malah selingkuh...
Cicih Sophiana
wah Tristan langsung tepuk tangan... tuh muka nya udah merah seperti kepiting rebus 😀
Sri Rahayu
bukan kah kamu sendiri yg sdh membuang Kirana demi si jalang Siska... biarkan Kirana bahagia dgn orang tepat, mencintai dan menghormati Kirana 🤪🤪🤪....lanjut Thorr😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!