cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19_Angkot tengah malam part 3
Penumpang Baru dan Rahasia Sopir Tanpa Wajah
"Jangan naik angkot itu... kalau masih ingin melihat matahari." Suara nenek tua itu terngiang kembali di kepala Raka. Wajahnya pucat saat berdiri di depan halaman rumah, menggenggam karcis lusuh yang baru saja ditemukannya.
Tangannya masih gemetar. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Kenapa harus aku..." bisik Raka pelan. Wajahnya penuh ketakutan, sementara matanya terus menatap tulisan merah di karcis itu.
Penjemputan berikutnya: Malam Jumat... pukul 23.58 WIB.
Sejak malam itu, hidup Raka berubah.
Ia tidak pernah lagi tidur dengan lampu mati.
Setiap suara mesin kendaraan yang terdengar di malam hari selalu membuat tubuhnya membeku.
Bahkan suara motor tetangga yang lewat di depan rumah pun mampu membuat jantungnya berdegup kencang.
Namun yang paling membuat Raka ketakutan... Adalah kenyataan bahwa setiap malam Jumat, tepat pukul 23.58 WIB...
Ponselnya selalu menyala sendiri. Dan selalu muncul satu foto baru. Foto angkot hijau itu.
Seminggu berlalu.
Raka mencoba melupakan kejadian tersebut.
Ia pergi kuliah seperti biasa. Berusaha tertawa bersama teman-temannya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk.
Namun...
Malam Jumat kembali datang. Pukul menunjukkan 23.45 WIB. Raka duduk di kamar sambil menatap jam. Jarinya menggenggam tasbih kecil pemberian nenek yang ditemuinya.
"Jangan sampai terjadi lagi..." ucap Raka lirih. Wajahnya tegang, sementara bibirnya bergetar menahan kecemasan.
Tiba-tiba...
Ting...
Suara notifikasi ponselnya berbunyi. Tubuh Raka langsung kaku. Perlahan ia menatap layar.
Sebuah pesan masuk. Nomor tidak dikenal.
"Penumpang baru sudah menunggu."
Raka membeku.
"Apa maksudnya..." gumamnya. Wajahnya berubah bingung, sementara alisnya mengerut dalam.
Belum sempat ia membalas...
Muncul foto. Foto sebuah halte tua yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Di sana berdiri seorang pria muda. Sendirian. Memakai jaket hitam. Wajahnya tertunduk.
Namun...
Di belakang pria itu... Angkot hijau tersebut terlihat menunggu. Di bawah foto muncul tulisan.
"Satu kursi masih kosong."
Raka langsung menjatuhkan ponselnya.
"Tidak..." ucapnya pelan. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya menutup mulut karena panik.
Keesokan harinya...
Raka mencari nenek yang dulu menyelamatkannya.
Ia kembali ke halte tempat pertama kali bertemu angkot itu. Namun halte tersebut tampak berbeda.
Lebih tua. Lebih gelap. Dan tidak ada seorang pun di sana. Sampai akhirnya... Seorang pemuda berdiri di sampingnya.
"Kamu juga melihat angkot itu?" tanya seorang pria
Raka langsung menoleh. Wajahnya terkejut.
Pria itu adalah orang yang ada di foto.
"Kamu siapa?" tanya Raka. Wajahnya waspada, sementara tubuhnya sedikit mundur.
Pemuda itu tersenyum tipis.
"Namaku Dimas." jawab Dimas singkat. Ia menatap jalan kosong di depannya.
"Aku sudah melihat angkot itu sejak tiga malam lalu." lanjutnya.
Raka menelan ludah.
"Kamu... sudah naik?" tanya Raka dengan ekspresi ketakutan.
Dimas diam. Kemudian perlahan mengangkat lengan bajunya. Di pergelangan tangannya terdapat tanda hitam seperti bekas cap.
Raka langsung membelalakkan mata.
"Itu..." bisiknya. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara napasnya mulai tidak teratur.
Dimas mengangguk.
"Tanda penumpang." sahut Dimas cepat.
Malam itu...
Raka dan Dimas memutuskan mencari tahu asal-usul angkot tersebut. Mereka mendatangi seorang penjaga makam tua yang dipercaya mengetahui cerita masa lalu desa itu.
Pria tua itu bernama Pak Wiryo.
Ketika mendengar nama angkot hijau tersebut... Wajah Pak Wiryo langsung berubah.