TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
---Toxic and Control *BAB 25: POROS KENDALI MUTLAK* _
---Toxic and Control
*BAB 25: POROS KENDALI MUTLAK*
_
Jarum jam dinding di koridor lantai tiga SMA Garuda Nusantara bergerak dengan kejam, perlahan mendekati pukul dua siang. Bagi Kinara Jose, setiap detik detak yang terdengar laksana ketukan lonceng kematian bagi keselamatan ibunya.
Dengan napas yang terengah-engah dan air mata yang terus merembes membasahi pipi di balik kacamata murahnya, Kinara memangkas jarak koridor menuju pintu ganda kayu ek tebal milik basecamp. Harga diri, ego, dan kebebasan yang semalam dia pertahankan mati-matian di dalam mobil Rian kini telah runtuh total, tergilas oleh keputusasaan demi menyelamatkan nyawa sang ibu sebelum tenggat waktu pukul tiga sore berakhir.
Cklek.
Kinara mendorong pintu itu perlahan dengan tangan yang gemetar hebat. Suara decitan pintu memecah keheningan absolut yang menguasai ruangan luas beraroma tembakau mahal tersebut.
Di dalam ruangan yang temaram, Rian Pradifta sedang duduk santai di sofa kulit hitamnya sembari memutar-mutar sebuah gelas kristal berisi cairan pekat. Sifat tirani dan arogansinya tampak melekat sempurna pada postur tubuh tegapnya. Begitu Kinara melangkah masuk, sepasang mata elang Rian langsung terangkat. Ada kilat kepuasan yang teramat pekat berkilat di manik matanya. Rian tahu persis skenario kejam yang dia rancang semalam di apartemen telah berhasil menyeret mangsanya pulang ke sarang.
Namun, alih-alih menyambut atau menepati tawarannya semalam, Rian justru sengaja memasang dinding es yang teramat dingin dan acuh tak acuh. Dia ingin memainkan mental Kinara, meremukkan sisa-sisa keberanian gadis itu, dan memastikan Kinara sadar bahwa di dunia ini, hanya seorang Rian Pradifta yang menjadi satu-satunya harapan hidup keluarganya.
"Mau apa lagi datang ke sini, Pelayan? Tugas bersih-bersihmu hari ini belum dimulai," tanya Rian dengan suara baritonnya yang rendah, datar, dan teramat dingin tanpa sudi mengubah posisinya.
Kinara melangkah kaku hingga berhenti tepat di depan meja kaca. Dia meremas ujung seragamnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, menelan bulat-bulat rasa kehinaan yang merobek batinnya.
"Kak Rian... tawaranmu semalam... apa masih berlaku?" cicit Kinara dengan suara yang teramat rapuh, paranoianya pecah di depan sang tuan muda. "Aku... aku mau menerima tawaran gaji sepuluh kali lipat itu. Aku mohon, Kak... bayar gajiku di muka siang ini juga."
Rian terkekeh rendah—sebuah kekehan sinis yang teramat menjengkelkan dan menusuk ulu hati Kinara. Dia menaruh gelas kristalnya ke meja dengan dentuman pelan, lalu mendongak menatap lurus ke sepasang mata jernih Kinara yang basah oleh air mata.
"Gaji di muka?" desis Rian tenang, senyuman miring yang penuh kemenangan kejam terukir di wajah tampannya. "Semalam kamu menolakku dengan begitu sombong, Kinara. Kamu bilang bisa membiayai ibumu dengan keringatmu sendiri di kelab malam sekotor itu. Lalu kenapa siang ini kamu datang merangkak meminta uang padaku, hm?"
"Aku butuh uang itu sekarang, Kak!" jerit Kinara frustrasi, air matanya kian luruh deras tak tertahankan. Dia terpaksa memohon di bawah kaki cowok gila kontrol ini. "Pihak rumah sakit menaikkan biaya tindakan operasi Ibu menjadi tiga ratus juta rupiah dan harus dilunasi sebelum jam tiga sore ini! Kalau tidak... pasokan obat Ibu akan dihentikan secara permanen! Aku mohon, Kak... tolong aku... cuma kamu yang bisa bantu aku siang ini."
Melihat air mata Kinara yang mengalir deras berkejaran dengan keputusasaan yang masif, dada bidang Rian mendadak berdenyut nyeri yang luar biasa pekat. Ada secercah rasa bersalah yang asing menyelinap masuk ke dalam batinnya karena telah mempermainkan mental dan kelemahan terbesar gadis ini.
Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Kinara, Rian sudah bergerak jauh lebih cepat sejak semalam. Begitu Kinara menolak black card-nya di koridor rumah sakit, Rian yang tidak rela melihat permatanya menderita langsung mengutus orang-orangnya untuk melunasi seluruh biaya administrasi pengobatan rumah sakit ibu Kinara hingga tuntas. Bahkan, secara rahasia Rian sudah memindahkan ibu Kinara ke ruang perawatan VIP terbaik dengan pasokan fasilitas dan dokter spesialis kanker nomor satu di kota ini.
Namun, ego tirani dan obsesi gelapnya siang ini menolak untuk mengalah begitu saja pada rasa bersalah. Rian tetap membutuhkan sebuah ikatan hitam di atas putih untuk mengunci kebebasan Kinara agar gadis itu tidak bisa kabur lagi dari teritorinya.
Rian perlahan berdiri dari sofa, membuat tubuh jangkungnya setinggi 188 sentimeter kembali menjulang tegap mengintimidasi ruang gerak Kinara. Dia memutari meja kaca, melangkah pelan mendekati Kinara hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Rian menunduk, mengunci mati pandangan mata jernih gadis itu sembari menyunggingkan senyuman tirani yang sarat kemenangan mutlak.
"Tiga ratus juta rupiah? Nominal yang sangat kecil bagiku," ucap Rian datar dengan suara baritonnya yang rendah dan berbahaya.
Rian meraih selembar dokumen resmi yang sudah dia siapkan di kantong jaket kulitnya, lalu meletakkannya di atas meja kaca.
"Gajimu di Aston Club adalah sepuluh juta rupiah per bulan. Dan sesuai penawaranku semalam, aku akan menggajimu sepuluh kali lipat, yang berarti seratus juta rupiah setiap bulannya sebagai pelayan pribadiku," tekan Rian kejam, nadanya tidak menerima bantahan apa pun. "Untuk mencairkan dana tiga ratus juta sore ini juga, kamu wajib menandatangani kontrak ini. Kamu harus menjadi pelayan pribadiku selama tiga bulan penuh di bawah kendaliku. Tanpa bantahan, tanpa penolakan, dan tanpa jarak."
Kinara menatap lembaran kertas itu dengan dada yang bergemuruh hebat oleh luapan emosi campur aduk. Tiga bulan hidupnya akan digadaikan sepenuhnya menjadi tawanan dalam sangkar emas milik monster di hadapannya ini. Namun, demi denyut nadi ibunya yang tersisa beberapa menit lagi, Kinara terpaksa mengangguk kalah total.
"Baik... aku setuju," ucap Kinara akhirnya dengan suara pelan yang teramat pasrah. Dengan tangan gemetar, dia meraih pena dan menorehkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.
Melihat kepatuhan mutlak yang berhasil dia dapatkan, binar kepuasan yang teramat pekat berkilat di sepasang mata elang Rian. Dia menarik kembali dokumen kontrak itu, lalu beralih menatap wajah polos Kinara yang masih basah oleh sisa air mata.
"Pilihan yang cerdas, Pelayan," ujar Rian datar, sebaris luka kering di bibirnya mengencang seiring senyuman miringnya yang kembali terukir. "Urusan rumah sakit ibumu sudah selesai. Sekarang, bersiaplah menerima perintah pertamamu sore ini."
--
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk