"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
frist kiss aratala
Elio menepis pelan tangan gadis itu, napasnya memburu karena emosinya dipermainkan sedemikian rupa oleh makhluk di sebelah kirinya ini. Aratala memang tidak mudah ditebak—di saat orang lain akan ciut atau baper menghadapi sikap posesifnya, gadis berdarah "cegil" itu justru menjadikan situasi tegang ini sebagai bahan permainan untuk menguji batas kesabaran sang CEO.
"Jangan memancingku, Aratala," ancam Elio dengan suara rendah yang menggeram tertahan, kembali menginjak pedal gas untuk melanjutkan perjalanan menuju pulang.
Alih-alih takut, Aratala malah terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya dengan nyaman di kursi penumpang sambil bersidekap dada. "Siapa juga yang memancing? Aku kan cuma ngomong fakta. Lagian, kalau rumor sama si Angelica itu benar, mending aku dapet kompensasi tambahan buat tutup mulut, gimana?" celetuknya lagi, sengaja terus mengipasi emosi Elio hingga pria itu mengetatkan cengkeramannya di kemudi sampai buku-buku jarinya memutih.
Tanpa aba-aba, tangan Elio terulur cepat dan mencengkeram tengkuk leher Aratala. Cengkeramannya tidak kasar atau menyakiti, tapi cukup tegas dan mendadak hingga membuat tawa renyah gadis itu seketika tercekat di tenggorokan.
Mobil terpaksa kembali berhenti di tepi jalan yang mulai temaram karena hari beranjak senja.
Elio mendekatkan wajahnya perlahan, memaksa Aratala menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkilat tajam dan penuh peringatan. Napas hangat pria itu menerpa kulit wajah Aratala, membuat suasana di dalam mobil mendadak berubah drastis dari candaan menjadi penuh ketegangan yang menyesakkan.
"Satu patah kata lagi tentang Angelica atau kompensasi kontrak itu keluar dari bibirmu..." bisik Elio dengan suara rendah dan berat, penuh ancaman terselubung, "...dan aku akan memastikan kamu berhenti bicara dengan cara lain, Aratala."
Alih-alih menunjukkan rasa takut atau genting, Aratala justru balas menatap Elio dengan senyum yang teramat manis, bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Sinar matanya menyipit hingga membentuk lengkungan sempurna seperti bulan sabit, menciptakan kontras yang sangat tajam dengan raut wajah Elio yang tegang dan penuh amarah.
"Wah, ancaman macam apa itu, Tuan CEO?" bisik Aratala, suaranya terdengar geli dan sama sekali tidak terintimidasi. Jari telunjuknya yang lentur dengan berani bergerak menelusuri garis rahang Elio yang terkatup rapat, dari dagu naik ke pelipis, lalu berhenti tepat di pangkal leher pria itu—persis di tempat yang sama di mana jempol Elio sedang mencengkeram tengkuknya.
"Kalau cara lain yang kamu maksud itu adalah ciuman panas buat nutup mulut aku yang bawel ini," goda Aratala dengan nada menggantung yang provokatif, wajah mereka kini hanya berjarak inci, "aku malah nggak keberatan sama sekali, Elio. Malah, aku tantang kamu buat buktiin ancaman itu sekarang juga."
Napas Elio tercekat mendengar balasan telak tersebut. Cengkeramannya di tengkuk Aratala mengendur seketika, berubah menjadi usapan lembut yang tanpa sadar ia lakukan, sementara pertahanan dirinya yang tersisa runtuh total di hadapan gadis "cegil" yang kelewat berani ini.
Napasnya mendadak terasa tertahan. Tantangan telak yang dilontarkan Aratala dengan mata bulan sabitnya itu berhasil meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanan terakhir yang dibangun sejak tadi. Gadis ini benar-benar tahu cara mempermainkan akal sehat elio
🌴🌴🌴
Tanpa membuang waktu lagi untuk berdebat dengan logika bisnisnya yang kaku, aku menarik tengkuknya semakin mendekat, menepis jarak tipis yang tersisa, dan membungkam bibirnya dalam ciuman yang menuntut—menghapus seluruh kalimat provokatif yang sedari tadi menguji kesabaranku.
Aratala terlonjak kaget. Seluruh keberanian dan nada provokatifnya seketika lenyap digantikan oleh kepanikan nyata. Ia spontan mendorong bahu dan dada Elio dengan sekuat tenaga, lalu melayangkan pukulan-pukulan bertubi-tubi ke dada bidang pria itu.
Namun, tenaganya seolah tidak ada apa-apanya dibandingkan tubuh kokoh Elio yang tidak bergeming sedikit pun. Cengkeraman tangan Elio di tengkuknya justru semakin mengunci posisinya, membuat Aratala semakin terjebak dalam ciuman yang kian dalam dan menguasai, tanpa memberinya celah sedikit pun untuk melarikan diri dari ketegangan yang ia ciptakan sendiri.
Pukulan-pukulan kecil di dadanya lama-kelamaan melemah, berubah menjadi cengkeraman putus asa pada kerah jas Elio ketika oksigen di paru-parunya mulai menipis. Kesadaran Aratala seolah ditarik paksa ke dalam pusaran debaran jantung mereka yang bergemuruh di ruang kemudi yang sempit.
Mendapati tubuh gadis itu mulai lemas dan perlawanannya mereda, Elio akhirnya melonggarkan ciumannya. Ia sedikit menjauhkan wajahnya, menyisakan jarak tipis dengan napas yang sama-sama memburu. Ibu jarinya terulur perlahan, menghapus sisa-sisa kebasahan di sudut bibir Aratala dengan gerakan yang terlampau lembut—sangat kontras dengan tindakan posesifnya tadi.
Aratala terengah-engah, dadanya naik turun tak beraturan. Matanya yang biasanya penuh dengan kilatan usil kini mengerjap beberapa kali, menatap Elio dengan tatapan linglung yang langka, sementara pipinya merona merah padam.
"Makanya," bisik Elio dengan suara serak, jarak bibir mereka masih sangat dekat, matanya menatap tajam namun sarat akan kemenangan. "Jangan suka memancing singa yang sedang tidur, Aratala."
🌴🌴🌴
Elio kembali melajukan mobilnya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka beberapa detik lalu. Ia bahkan sempat menyunggingkan senyum jail dan puas di sudut bibirnya, menikmati pemandangan langka di sebelah kirinya di mana Aratala—si wanita manipulatif yang biasanya selalu memegang kendali—kini terdiam kaku sambil menatap kosong ke luar jendela dengan sisa-sisa napas yang masih memburu.
Dalam hati, Elio tidak bisa menahan rasa kemenangan kecil. Kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada ruginya juga jika kontrak pernikahan ini terus berlanjut dengan status Aratala yang sah sebagai istrinya. Paling tidak, hari-hari dinginnya sebagai seorang CEO tidak akan pernah membosankan lagi selama ada wanita itu di sisinya.
Aratala benar-benar shock bukan main. Otaknya yang biasanya bekerja cepat untuk merangkai rencana licik dan kalimat provokatif kini mendadak kosong. Yang bisa ia rasakan hanyalah detak jantungnya yang bergemuruh ribut di dalam dada, jauh melampaui batas normal.
Bukan hanya karena intensitas dan keagresifan Elio barusan, tetapi ada fakta yang jauh lebih mengguncang dunianya: itu adalah ciuman bibir pertamanya.
Selama ini, Aratala selalu memosisikan dirinya sebagai pemain ulung dalam hubungan transaksional dan permainan emosi. Ia mengira dirinya kebal, dingin, dan memegang kendali penuh atas benteng pertahanannya. Namun, dalam hitungan detik, pertahanan yang ia banggakan runtuh begitu saja di dalam mobil SUV mewah itu, direnggut begitu mudah oleh sang CEO dingin yang kini tengah menyetir di sampingnya dengan ekspresi menyebalkan tanpa dosa.
Aratala menolehkan kepalanya perlahan, menatap tajam ke arah profil wajah Elio yang tampak begitu tenang dan puas. Tangannya yang tadinya lemas perlahan mengepal di atas paha. Sialan, batinnya berteriak histeris di balik wajahnya yang masih memerah. Pria dingin itu benar-benar telah merusak rekor sucinya dengan cara yang paling menyebalkan di muka bumi.
🌴🌴🌴
Up nih makin lucu ga pa Elio sama aratala 😚
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu