NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepercayaan

 Wangi sabun bercampur aroma sampo memenuhi kamar ketika Niken akhirnya keluar dari kamar mandi. Danendra yang sedang melepas jam tangannya, berhenti sesaat seolah menikmati kesegaran yang dibawa oleh Niken dari dalam sana.

 Danendra menoleh, tatapan mereka bertemu kemudian Niken tersenyum lebih dulu.

 "Mas, ibu pasti sudah menunggu kita."

 Danendra mengangguk pelan. "Ayo," katanya.

 "Tapi Mas belum mandi," kata Niken.

 "Nanti saja."

 Niken tersenyum kecil. "Jangan nanti, Mas. Kalau mandi dulu, badan Mas pasti lebih segar setelah seharian capek kerja."

 Danendra memandang wajah Niken beberapa saat, kemudian Niken kembali melanjutkan dengan lembut.

 "Mumpung masih ada waktu."

 Sudut bibir Danendra nyaris terangkat. "Kamu sedang menyuruhku?"

 Niken langsung menggeleng cepat. "Bukan. Aku cuma mengingatkan."

 "Apa bedanya?"

 Niken terdiam namun masih menatap Danendra.

 "Baiklah, aku mandi dulu." Katanya akhirnya.

 Wajah Niken langsung berbinar. "Iya."

 Danendra mengambil handuk dari lemari. Saat hendak melangkah ke kamar mandi, ia berhenti sejenak. "Niken."

 "Iya, Mas?"

 Danendra terdiam beberapa detik, lalu berkata. "Aku mandi dulu," katanya karena lupa pada kalimat yang tadi sempat ia susun.

 Begitu Danendra masuk ke kamar mandi, senyum hangat langsung mengembang di wajah Niken.

 Beberapa saat kemudian, suara gemericik air terdengar dari balik pintu kamar mandi itu. Niken tersenyum sendiri sambil menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu.

 Tidak lama kemudian Danendra keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Ia sempat mengira Niken sudah lebih dulu turun ke ruang makan, namun ternyata dugaannya salah. Niken justru masih berdiri di depan lemari sambil membawa pakaian ganti untuknya.

 Suasana kamar mendadak sunyi ketika tatapan mereka bertemu. Danendra yang baru melangkah satu langkah, langsung berhenti. Baru saat itu ia sadar dirinya hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang.

 Wajah Niken perlahan memerah, lalu dengan gugupnya, ia buru-buru memalingkan wajah. "Ma—maaf, Mas." Ucapnya lirih, padahal bukan dirinya yang bersalah.

 Danendra berdehem pelan. Selama ini ia terbiasa tinggal sendiri sehingga tidak pernah memikirkan hal seperti itu akan terjadi, apa lagi sejak malam pertama, ia benar-benar tidak memikirkannya.

 "Aku lupa membawa baju."

 Niken meluruskan tangannya ke depan, memberikan pakaian pada Danendra tanpa berani melihatnya. "Aku tahu, makanya aku ambilkan."

 "Terima kasih," ucap Danendra sambil menerima pakaiannya.

 Namun tanpa sengaja jemarinya justru menyentuh ujung jari Niken. Dan sentuhan singkat itu membuat keduanya sama-sama menarik tangannya cepat.

 Niken segera mengalihkan pandangannya, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Pipinya kembali memanas, karena ini pertama kalinya ia menyiapkan pakaian untuk Danendra.

 Setelahnya, mereka lalu sama-sama turun. Meski masih menyisakan jarak beberapa langkah, pemandangan itu cukup membuat Bi Inah yang sedang membawa semangkuk sayur tersenyum sendiri.

 "Alhamdulillah..." gumamnya lirih.

 Di ruang makan, Ratih, Pradipta, dan Alana sudah duduk. Pradipta tampak senang melihat putra dan menantunya datang bersamaan.

 Kemudian seperti tadi pagi, Niken membantu Bi Inah mengambilkan nasi untuk semua orang. Namun saat hendak mengambil piring Danendra, lelaki itu justru lebih dulu mengambilnya sendiri.

 "Aku saja."

 Niken mengangguk. "Baik, Mas."

 Ratih memperhatikan mereka, Danendra memang belum bersikap mesra setelah malam pertamanya, tetapi juga tidak bersikap dingin kepada Niken.

 Di tengah makan, Pradipta membuka percakapan. "Danen."

 "Iya, Yah."

 "Investor dari Semarang jadi bekerja sama?"

 "Alhamdulillah, jadi."

 "Wah, syukurlah."

 Danendra mengangguk. "Bulan depan kami juga mulai progam edukasi untuk anak-anak TK."

 Mata Niken langsung berbinar. "Progam edukasi?"

 "Iya." Jawab Danendra sambil menoleh ke arah Niken, "anak-anak nanti dikenalkan cara menanam sayur, memetik stroberi, dan mengenal pertanian."

 "Itu pasti menyenangkan sekali." Tanpa sadar, Niken mulai antusias, "anak-anak di TK pasti senang."

 Melihat istrinya begitu bersemangat, Danendra ikut tersenyum tipis.

 "Kalau memang cocok..." ia berhenti sejenak. "...TK Tunas Arunika bisa jadi sekolah pertama."

 Niken membelalakan mata. "Benarkah, Mas?"

 "Iya." Kata Danen sambil mengangguk.

 "Wah..." wajahnya benar-benar berubah cerah. "Terima kasih."

 "Belum tentu jadi."

 "Tetap saja aku senang." Kata Niken.

 Pradipta yang melihat itu, ikut merasa senang. "Bagus, kalau begitu nanti Ayah ikut menyambut anak-anak. Siapa tahu ada yang bercita-cita jadi petani hebat."

 Semua tertawa kecil, namun tidak dengan Ratih dan Alana yang tetap diam.

 Beberapa saat kemudian, Alana meletakan sendoknya. "Danen."

 "Iya?"

 "Aku dengar area glamping yang baru hampir selesai."

 "Masih proses." Jawab Danendra datar.

 "Kalau begitu, nanti aku boleh melihat lokasinya?"

 "Iya, nanti."

 "Nanti kapan?"

 Danendra belum sempat menjawab.

 Namun Pradipta lebih dulu berkata, "kalau memang untuk pekerjaan, sekalian saja ajak Niken."

 Hening...

 Alana yang semula tersenyum langsung membeku. "Maksud Om?"

 "Ya sekalian saja. Danen bekerja, Niken juga bisa melihat perkembangan usaha keluarga."

 Ratih langsung ikut menimpali. "Untuk apa Niken ikut? Toh dia juga tidak paham soal bisnis."

 Kalimat itu membuat senyum Niken perlahan memudar. Danendra yang menyadari, langsung bersuara.

 "Tidak harus paham bisnis," katanya yang membuat semua mata beralih kepadanya. "Lereng Mahitala bukan hanya tempat kerja, ini juga bagian dari keluargaku."

 Danendra menoleh kepada Niken, lalu suaranya berubah pelan. "Kalau nanti ada waktu, ikut saja."

 Niken tertegun mendengar kalimat itu dari mulut suaminya. "Mas, yakin?"

 "Hm."

 Jawaban singkat itu terasa begitu berarti bagi Niken. Pradipta tersenyum bangga. Sementara Ratih menatap putranya dengan heran, karena secara terang-terangan, Danendra melibatkan istrinya dalam urusan perusahaan.

 Sedangkan Alana mengepalkan jemarinya di bawah meja. Ia mulai menyadari satu hal, bahwa perempuan yang ia kira hanya akan menjadi istri sementara, ternyata justru mendapat tempat di hati Danendra, dan itu bukanlah kabar baik baginya.

 Usai makan, Pradipta berdiri sambil menepuk bahu putranya. "Danen."

 "Iya, Yah?"

 "Sesibuk apa pun kamu, jangan lupa membangun rumah tanggamu. Perusahaan bisa berkembang dengan kerja keras, tapi keluarga hanya bisa bertahan dengan saling percaya." Tutur Pradipta.

 Danendra menoleh sekilas ke arah Niken. Perempuan itu sedang membantu Bi Inah membereskan meja makan sambil sesekali tersenyum kepada semua orang. Dalam hati, Danendra mengakui ucapan ayahnya. 'Kepercayaan' itulah yang paling terlambat ia berikan kepada istrinya.

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!