Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Di halaman belakang, proyeksi tubuh transparan Guru Tian menatap lurus ke arah gerbang utama Kota Awan Biru. Ekspresi wajah tuanya tampak sangat serius.
"Mereka bergerak jauh lebih cepat dari perkiraanku," gumam Guru Tian, suaranya terdengar berat.
Arga mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Senior, siapa sebenarnya mereka?"
"Sekte Bayangan Darah," jawab Guru Tian dingin.
Nama itu terdengar sangat asing di telinga Arga yang seumur hidupnya hanya tinggal di kota terpencil ini. Namun, nada bicara Guru Tian yang sarat akan kewaspadaan membuat Arga sadar bahwa organisasi yang disebut ini bukanlah musuh biasa.
"Mereka adalah sekte sesat yang tumbuh dan besar dari jalur pembantaian. Semakin banyak darah yang mereka tumpahkan, semakin kuat pula pondasi serta teknik kultivasi iblis mereka," jelas Guru Tian.
Arga menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan gejolak panik di dadanya. "Lalu... apakah tujuan utama mereka kemari adalah untuk memburu Nona Ling?"
Guru Tian mengangguk perlahan. "Benar. Dan yang lebih buruk, metode kerja sekte ini sangat kejam. Mereka akan membantai habis siapa pun yang terbukti pernah berinteraksi atau membantu pelarian gadis itu."
Jantung Arga seketika berdegup dua kali lebih cepat. "Termasuk... aku?"
"Tepat sekali. Bagi mereka, nyawamu tak lebih berharga dari seekor semut."
Pada saat yang sama, di gerbang utama Kota Awan Biru...
Lima sosok berpakaian jubah hitam pekat berjalan melangkah masuk dengan santai. Kehadiran mereka seolah membawa hawa kematian yang pekat, membuat para penjaga gerbang kota bersimbah keringat dingin dan tak seorang pun berani mengangkat kepala untuk menghalangi jalan mereka.
Di posisi paling depan, berjalan memimpin seorang pemuda berwajah tampan namun pucat dengan sepasang mata berwarna merah gelap yang mengerikan. Usianya tampak baru sekitar dua puluh lima tahun. Di pinggangnya, tergantung sebilah pedang hitam legam tanpa sarung yang terus memancarkan aura haus darah.
"Jejak Qi milik Nona Muda dari Sekte Bulan Salju mendadak lenyap di sekitar kota ini," gumam pemuda bermata merah itu sembari memejamkan matanya sejenak, mengendus udara.
Sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang kejam. "Tapi... sisa kehangatan auranya masih tertinggal di sini."
Ia membuka matanya kembali, memancarkan kilat haus darah yang dingin. "Menyebarlah. Cari ke setiap sudut kota. Siapa pun yang berani menyembunyikan atau membantunya..."
"...eksekusi di tempat."
"Baik, Tuan Muda!"
Lima sosok berjubah hitam di belakangnya
langsung melesat cepat, membelah diri dan menghilang ke berbagai penjuru kota bagaikan bayangan hantu.
Sementara itu, di dalam kios obat, Arga sedang membantu Paman Darma merapikan barang-barang untuk menutup kios lebih awal dari biasanya.
"Entah mengapa, sejak siang tadi dada orang tua ini terus berdegup kencang. Firasatku benar-benar buruk hari ini," gumam Paman Darma sembari mengunci jendela kayu.
Arga memaksakan seulas senyum menenangkan di wajahnya. "Mungkin Paman hanya terlalu lelah karena belakangan ini banyak pelanggan. Beristirahatlah lebih awal malam ini."
Padahal, di dalam hatinya, Arga tahu betul bahwa firasat buruk Paman Darma seratus persen benar.
"Tiga orang dengan aura darah yang pekat sedang bergerak cepat menuju ke arah kios ini," suara Guru Tian tiba-tiba bergema dari dalam liontin, memperingatkan.
Arga tersentak. "Bagaimana Senior bisa tahu?"
"Meskipun kekuatan jiwaku saat ini sangat lemah, mendeteksi keberadaan beberapa tikus kecil dari ranah Pemurnian Qi tingkat menengah adalah hal yang teramat mudah bagiku," jawab Guru Tian tenang.
Arga menggigit bibir bawahnya erat-erat.
"Dengan kekuatanku yang sekarang, aku sama sekali tidak memiliki peluang untuk menang."
"Tentu saja tidak. Melawan mereka secara langsung sekarang sama saja dengan menyodorkan lehermu untuk ditebas."
"Lalu, apa yang harus kulakukan?"
Guru Tian menyunggingkan senyum tipis di dalam kesadaran Arga. "Karena itulah, hari ini kau akan mempelajari pelajaran paling mendasar dan terpenting dalam dunia kultivasi."
"Apa itu?" tanya Arga antusias, mengira akan diajarkan teknik rahasia.
"Seni melarikan diri."
Arga seketika melongo dibuatnya. "Bukankah seorang pendekar sejati harus memiliki keberanian untuk bertarung?"
Plak!
Sebuah ketukan yang cukup keras mendarat di dahi Arga, membuat pemuda itu mengaduh pelan.
"Pendekar bodoh yang hanya bermodal nekat akan mati muda, Bocah!" omel Guru Tian ketus. "Hanya orang yang tetap hidup yang memiliki kesempatan untuk membalas dendam dan tertawa di akhir!"
Arga mengusap dahinya yang terasa hangat. "Baik, aku mengerti..."
Namun, baru saja Arga hendak menarik tangan Paman Darma untuk keluar menyelinap melalui pintu belakang—
Brak!
Pintu depan kios obat itu mendadak hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu yang beterbangan.
Tiga pria berjubah hitam melangkah masuk dengan angkuh melalui kepulan debu. Salah satu dari mereka memegang gulungan kertas kulit berisikan lukisan potret wajah cantik Ling Yue.
"Kami sedang mencari wanita jalang di lukisan ini," desis pemimpin kelompok itu dengan nada suara yang kering dan parau. Tatapan matanya yang dingin menyapu seisi ruangan yang berantakan. "Siapa di antara kalian yang pernah melihatnya?"
Tubuh Paman Darma gemetar hebat hingga lututnya nyaris lemas membentur lantai. "K-kami... kami hanyalah penjual obat biasa... kami tidak pernah melihat wanita seperti ini..." jawabnya dengan suara parau ketakutan.
Pria berjubah hitam itu mengangkat telapak tangan kanannya perlahan. "Jawaban yang tidak memuaskan. Jika begitu..."
"...berarti keberadaan kalian berdua di dunia ini sudah tidak berguna lagi."
Wush!
Kabut Qi berwarna merah darah yang pekat dan berbau amis mendadak bergejolak dan berkumpul di telapak tangan pria tersebut, siap untuk melancarkan serangan mematikan.
Melihat bahaya maut yang sudah di depan mata, tanpa berpikir panjang, tubuh Arga kembali bergerak secara impulsif. Ia melompat ke depan, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup yang berdiri kokoh di antara Paman Darma dan ketiga pembunuh berdarah dingin tersebut.
Di dalam liontin, Guru Tian hanya bisa menghela napas panjang melihat tindakan nekat murid barunya. "Dasar bocah keras kepala yang bodoh..." gumamnya pasrah, namun ada sedikit rasa kagum yang terselip di sana.
Pemimpin berjubah hitam itu menghentikan gerakannya sejenak. Ia memandang Arga dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat meremehkan dan penuh kejijikan.
"Hanya seorang sampah di Tingkat Pemurnian Qi Lapisan Pertama?" Pria itu tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding. "Dan sampah sepertimu berniat untuk berpura-pura menjadi pahlawan di depanku?"
Arga menelan ludah dengan susah payah. Meskipun sepasang kakinya gemetar hebat dan seluruh tubuhnya dilingkupi oleh rasa takut yang luar biasa terhadap kematian...
Ia tetap menancapkan kedua kakinya dengan kokoh di atas tanah, tidak mundur barang satu sentimeter pun.