Helena berjuang untuk mendapat hati Edgar, tetangganya. Mencuri perhatian saat pria itu menjadi dosen tamu di kampus, bertingkah lucu saat weekend, atau mencoba melakukan segala cara agar bisa berbicara dengan pria itu.
Apakah Edgar akan luluh?,
Tapi, kenyataan pahit harus diterima Helena. Saat mengetahui bahwa Edgar adalah mantan ibunya.
Bagaimanakah Helena menata Hati saat merelakan Edgar menikahi ibunya.
Helena memilih kuliah di luar negeri, sampai suatu saat kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet and dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Makan malam usai, diakhiri dengan makanan penutup berupa Appletart .
"Belanda" gumam Edgar
"Ini dessert kesukaan Papa uncle, miss Papa hufft" Ucap Helena
"I feel sorry for... " Kalimat Edgar seketika di potong oleh Sandra
"Ah ya, Papa kamu memang suka Appletart"
Sandra bertatap-tatapan dengan Edgar. Menyiratkan seolah jangan memberitahu Helena sekarang.
"The best one" ucap Edgar untuk mengembalikan kehangatan.
"So, Uncle akan menetap di kota ini? " tanya Helena
"Iya masih ada urusan bisnis disini" jawab Edgar sambil mengunyah dessert.
"jadi, kamu mahasiswa di fakultas ekonomi dan bisnis. Semester berapa? " tanya Edgar lagi
"Helena, semeter 5 akhir" jawab Helena
"Dari Talkshow Uncle kemarin, Helena denger Uncle punya perusahaan Real Estate, ? " tanya Helena
" Ya, baru mulai merintis, not big enough" jawab Edgar sekadarnya.
"Cool" Ucap Helena takjub
"Perusahaan uncle termasuk yang jadi incaran mahasiswa di prodi Helena buat magang lho. Kayak keren gitu" Ungkap Helena
"Benarkah" jawab Edgar yang tak terlalu terkejut, karena memang perusahaannya bekerja sama dengan fakultas dalam hal itu.
"Kamu berencana magang dimana? " tanya Edgar
"Belum tau uncle. Yang jelas bukan di perusahaan mama" jawabnya tertawa renyah
Sandra yang mendengar obrolan antara Edgar dan Helena, merasakan kehangatan sebuah keluarga. Ya dia melihat sosok seorang suami dan Papa yang baik, tatapan Edgar yang hangat membuat Helena merasa nyaman.
Padahal, tidak dengan Helena. Helena memandang pria itu lebih dari pria yang hangat. Dimatanya Edgar adalah representasi pesona pria dewasa.
"O iya, kamu tinggal di sini bareng keluarga kamu atau..? pertanyaan Sandra menggantung.
Sandra takut terhadap kenyataan yang harus diterimanya. Dari pada dia tahu dari orang lain, lebih baik ia menanyakannya sendiri. Apakah pria itu sudah memiliki istri dan anak. Seorang wanita yang menggantikannya. Setidaknya ia masih menyimpan sedikit harapan dari Edgar.
"Saya di sini sendiri saja" jawab Edgar.
Jawaban Edgar tak memuaskan Sandra, yang mau ia dengar adalah, apakah Edgar sudah menikah atau belum
"Begitu ya, kami senang bisa menjadi tetanggamu, Setelah sekian lama" ucap Sandra.
Di depan Helena keduanya seolah sedang memainkan peran bahwa mereka baik-baik saja
"mama sama uncle Edgar, udah saling kenal? " tanya Helena
Pertanyaan itu berhasil membuat keduanya beralih ke ekspresi terkejut.
"O iya, kami dulu satu kampus, that's why we.. know each other" jawab Sandra melirik kearah Edgar sambil memegangi leher belakang nya tanda kegugupan.
Ya, entah apa jadinya jika Helena tak di sini. Mungkin Edgar tak akan mau berbicara padanya. Atau sekadar menoleh. Sandra ingat betul saat berpapasan di kompleks dengan mobil Edgar kemarin, bahkan pria itu tak menoleh seolah tak mengenali mobilnya.
"Ya, Benar. Kami satu kampus" kata Edgar membenarkan ucapaan Sandra
Mereka dulu awalnya berteman, lalu tumbuh rasa cinta dan pacaran. Karena Sandra memutuskan untuk berpisah padahal tidak ada masalah apapun diantara mereka. Dan yang membuat Edgar terluka, mendengar kabar bahwa Sandra akan menikahi pria yang tak lain adalah ayahnya Helena sekaligus temannya. Dia benar-benar di tusuk dari belakang.
Ia sadar suami sandra, Gevan. Dia bukan dari keluarga sembarangan, keluarga kaya. Tapi naas Gevan dikabarkan meninggal bunuh diri. Entah apa penyebabnya. Setahu Edgar, Gevan adalah kakak ipar Sandra. Keputusan Sandra menurutnya tak masuk akan menikah dengan Gevan yang jelas-jelas bisa menikahi wanita lain. Edgar berpikir bahwa wanita yang berdiri di depannya ini sangat materialistis, Edgar waktu itu belum memiliki nama yang dipandang seperti sekarang. Sungguh Edgar menyimpan sakit hatinya sendiri, sampai-sampai membuatnya single karena tak percaya dengan perempuan.
Semenjak saat itu, Sandra dan Edgar tak lagi bicara walaupun sebagai tetangga. Sandra berusaha mengerti perilaku Edgar yang menjaga jarak padanya.
Sebaliknya Helena memiliki teman baru, saat weekend hari sabtu, mereka berdua Edgar dan Helena akan jogging bersama. Sandra tidak ikut karena ingin Helena merasakan memiliki sosok Papa. Sedang Hari minggu adalah waktu untuk bersama mamanya.
Sabtu pagi
"Dil, yukk" ajak Helena ke Sandra
Jogging rutin ini adalah rencana Dila untuk mendekatkan mereka berdua. Dila adalah seorang manusia yang malas berolahraga. Tapi demi sahabat karibnya ia rutin olahraga hari sabtu. Helena tak mengakuinya pada Dila, tapi sahabat mana yang tak tau apa yang ada di hati kecil sahabat nya itu. Bilangnya tidak mau, tapi sekalinya mau... rutin gini. Aduh Helena, bucin kok ngajak-ngajak
"Iya bentar" Dila memasang sepatu di depan rumahnya.
Sembari menunggu Dila, Helena menghampiri kucing yang duduk santai di teras rumah sambil memakan snack kucing yang di letakkan diwadah khusus oleh Helena.
"Snow" Helena menghampiri kucing jenis lokal berwarna putih, kucing pendatang yang bersih. Sudah 3 bulan menjadi penghuni rumah Helena
"Kamu hamil Snow? " kupikir kamu laki-laki.
Helena jarang bermain dengan kucing, ini pertama kali baginya mempunyai kucing.
Dila menghampiri Helena yang asyik memegangi kucing
"Helena-helena, itu mana ada t***t nya, ya hamil dong, kesian kamu Snow gak ditemenin suami" ucal Dila yang dilirik aneh oleh Helena
"apa an sih Dil, ya namanya juga kucing, anak aja bisa ngehamilin ibunya" ucap Helena
"tidak berperi kekucingan" Jawab Dila miris sambil menggeleng kepala.
Edgar yang sudah siap dengan pakaian joggingnya mendengar percakapan keduanya. Juga menggeleng saat Dila mengatakan kalimat terakhirnya
Nah, biasanya mereka hanya bertiga kalau jogging. Kali ini Edgar mengajak Dion, karena sempat Edgar membuat story tentang dia jogging pekan lalu. Di story video nya ada wajah kedua dara itu, dan Edgar pun mengatakan bahwa sabtu ini mereka akan jogging lagi dan Dion secara antusias menawarkan diri. Yah apalagi kalau bukan karena....
"tit tit" suara klakson mobil berbunyii,
"ini gak salah liat" ucap Dila langsung menoleh ke arah mobil sport berwarna kuning pisang itu.
Dion mengenakan pakaian sport, dengan tubuh yang atletis gadis mana gak melirik
"Hi, Helena.. Dila" Sapa Dion
"Hi kak" jawab Dila tersenyum malu
"Hi" jawab Helena agak kikuk, karena Dion salah satu pria yang akhir-akhir gencar mendekatinya.
Helena tak ingin memberi harapan palsu, lagi pula Dila itu Crush sama Dion.
"Saya join kalian ya, boleh kan Uncle" tanya Dion
"ya sure, O iya Dik, Helena. saya ajak Diion biar makin seru" jelasnya.
Mereka berjalan sehat kadang-kadang jogging. Rute perjalanan yang mereka ambil cukup memanjakan mata, lingkungan yang asri dan udara yang sejuk. Dila dan Helena saat sudah mencapai 5 km sudah mulai ngos- ngosan. Mereka memutuskan untuk berhenti istirahat sebentar, kebetulan ada view bagus buat Foto.
"Huft... sigh" Nafas Dila mulai berat
"Uncle.. Dion.. istirahat bentar yuk. Kita udah ngos-ngosan' pinta Helena
"okay, " Jawaban Edgar dari depan mereka berdua yang berjarak kurang lebihh 5 meter
"Foto yuk, buat kenang-kenangan" Ajak Dion
Mereka lalu berfoto berempat, kebetulan ada pengguna jalan yang juga jogging. Mereka meminta bantuannya untuk di foto kamar
Dila dan Helena posisi di tengah, karena dila tak ingin melwatkan kesempatan, Dia memilih untuk berada dekat Dion sedang Helena dekatt dengan Edgar.
"1,2,3 Cheers " ucap si tukang foto. Ada beberapa foto yang diambil termasuk foto Edgar bersama Elena yang diambil karena paksaan Dila.
Lalu Dila meminta berfoto bersama Dion denggan alasan kapan lagi bisa foto sama orang populer kampus. Dion lalu mengajak Helena dan Dila untuk foto bertiga sebagai kenang-kenangan. Dan yang tak disadari Dila adalah Dion memegang pinggang Helena, sementara Tangan satunya tidak menyenntuh pinggang Dila.
Lalu, setelah asyik berswafoto. Mereka melanjutkan Jogging sampai 2 KM lagi ke depan. Lalu mereka berputar ke rute lain namun menuju kembali ke komplek perumahann mereka.
Dion mencuri-curi pandang terhadap Helena. Sesekali, tapi Edgar bisa merasakan bahwa Dion memiliki sesuatu yang lebih terhadap Helena. Dia bukanlah pemain baru, tapi pemain ulung yang cukup lama pensiun.
🤭
Bintang lima untuk mu. Semangat