NovelToon NovelToon
SISTEM WINGER

SISTEM WINGER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Pemain Terhebat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Setiap bek senior menganggapnya beban tim. Alex cuma winger kurus dari klub kasta tiga yang gajinya sering telat. Tapi malam itu, sebuah Sistem aktif di kepalanya — dan mengubah anak kampung jadi ancaman nyata bagi bek terbaik dunia.

#SportsSystem #SistemWinger #FromZeroToHero #RonaldoVibes #EvolusiFisik #FiksiOlahraga #NovelSepakBola #SkillTreeSepakBola #WingerLegendaris #ProgressionFantasy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Terakhir

Kabar itu menyebar cepat sejak pagi hari pertandingan final turnamen lokal Piala Sumatra Barat: seorang pemandu bakat dari klub raksasa Inggris, Manchester United—yang oleh media lokal langsung dijuluki "Setan Merah" datang jauh-jauh ke Padang, dikabarkan sedang melakukan tur scouting Asia Tenggara dan menyempatkan diri menyaksikan laga final yang mempertemukan Minang United melawan juara bertahan, PSP Padang Muda.

"Lo denger belom?" bisik Fajar di ruang ganti, matanya berbinar penuh semangat yang sulit disembunyikan. "Katanya orang dari Setan Merah bakal duduk di tribun VIP sore ini."

Alex mengikat tali sepatunya dengan tangan sedikit gemetar, bukan karena gugup menghadapi lawan, tapi karena beban informasi yang baru saja dia dengar. "Serius? Bukan gosip doang?"

"Manajer bilang langsung tadi pagi. Ada beberapa agen internasional yang emang keliling nyari bakat-bakat Asia buat proyek akademi klub-klub Eropa."

Pak Yusuf masuk ke ruang ganti dengan wajah tegang namun berusaha tampil tenang, berdiri di depan papan taktik yang sudah penuh coretan strategi. "Saya nggak akan bohong sama kalian. Hari ini bukan cuma soal trofi turnamen lokal. Ada mata-mata yang lebih besar sedang mengawasi."

Ruangan itu mendadak sunyi, ketegangan bisa dirasakan di setiap sudut. Namun Yoga, sebagai kapten, berdiri dan berbicara dengan suara mantap yang langsung mengembalikan fokus semua orang.

"Dengerin gue," katanya, menatap satu per satu rekan setimnya. "Kita main kayak biasa. Nggak usah mikirin siapa yang nonton. Kita di sini karena kita udah berjuang bareng dari awal musim buat sampai ke titik ini. Menang buat diri kita sendiri, buat tim, bukan buat siapa pun yang duduk di tribun VIP."

Kata-kata itu meredakan ketegangan sedikit demi sedikit. Alex mengangguk pelan, mencoba mengunci fokusnya sepenuhnya pada pertandingan yang akan dia jalani.

Stadion Haji Agus Salim malam itu penuh sesak, lebih dari dua puluh ribu penonton memadati setiap sudut tribun, gemuruh yel-yel bergema tanpa henti sejak satu jam sebelum kick-off. Di tribun VIP, seorang pria berjas rapi dengan rambut memutih di beberapa bagian duduk tenang, sesekali mencatat sesuatu di tablet yang dia bawa—sosok yang langsung jadi buah bibir di kalangan suporter dan media lokal yang berkerumun di sekitarnya.

Peluit kick-off dibunyikan, dan permainan berjalan cepat sejak menit pertama. PSP Padang Muda, sebagai juara bertahan, tampil dengan kepercayaan diri tinggi, mengandalkan pengalaman mereka di final-final sebelumnya.

Menit ke-23, PSP Padang Muda unggul lebih dulu lewat sundulan bek tengah mereka dari skema tendangan sudut, mengejutkan seisi stadion yang sebagian besar berharap Minang United yang lebih dulu mencetak gol.

Ketegangan meningkat. Alex bisa merasakan tatapan dari tribun VIP seolah menembus punggungnya setiap kali dia menerima bola, meski dia berusaha keras mengabaikannya dan fokus pada permainan.

Babak pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk PSP Padang Muda. Di ruang ganti, suasana lebih senyap dari biasanya, tapi Pak Yusuf tidak memarahi siapa pun, hanya memberi beberapa penyesuaian taktik kecil dengan nada tenang yang justru menenangkan seluruh tim.

Babak kedua berjalan dengan tempo yang jauh lebih intens. Menit ke-58, Fajar berhasil menyamakan kedudukan lewat sundulan memanfaatkan umpan silang Alex dari sisi kanan—kombinasi yang sudah mereka sempurnakan sejak Derby Sumatra beberapa minggu lalu.

Skor 1-1, dan stadion meledak dalam euforia yang menggetarkan.

Namun laga tak berhenti di situ. Kedua tim saling menyerang dengan intensitas tinggi hingga peluit panjang berbunyi dengan skor tetap imbang, memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu.

Di menit ke-114, dengan tubuh yang sudah dikuras habis, Alex menerima bola di sisi kanan, sekitar dua puluh lima meter dari gawang lawan. Dua bek PSP Padang Muda langsung mendekat untuk menutup ruang, sementara rekan-rekan setimnya masih berusaha mengambil posisi di kotak penalti.

Tak ada ruang untuk mengumpan. Tak ada waktu untuk berpikir panjang.

Alex mengambil keputusan dalam sepersekian detik—melepaskan tembakan jarak jauh, namun dengan sentuhan khusus di bagian bawah bola, teknik yang selama beberapa minggu terakhir diam-diam dia pelajari dari video-video pemain bintang dunia, dipadukan dengan koreksi presisi yang diberikan sistem lewat program latihan tekniknya.

Bola melesat tanpa putaran normal, bergerak liar dan tak terduga di udara—teknik yang dikenal dunia sepak bola sebagai *knuckleball*, sesuatu yang nyaris mustahil dikuasai pemain seusianya tanpa jam terbang bertahun-tahun.

Kiper PSP Padang Muda melompat, namun pergerakan bola yang tak terprediksi membuatnya salah membaca arah. Bola menghantam jaring gawang bagian atas, bergetar keras, sebelum akhirnya jatuh ke rumput di dalam gawang.

GOOOL!

Stadion Haji Agus Salim meledak dalam kegembiraan luar biasa, gemuruh sorak-sorai penonton menggema hingga terasa menggetarkan tanah tempat Alex berdiri. Rekan-rekan setimnya berlarian menerjangnya, tumpang tindih dalam pelukan penuh euforia di tengah lapangan, sementara suporter di tribun melompat-lompat tak terkendali merayakan gol yang mungkin akan dikenang bertahun-tahun ke depan.

Di tribun VIP, pria berjas dengan rambut memutih itu berhenti mencatat sejenak, menatap lapangan dengan ekspresi yang sulit ditebak—tapi jelas, sesuatu di pandangannya berubah sejak gol itu tercipta.

Peluit panjang akhirnya berbunyi tak lama setelah kick-off ulang. Minang United menjadi juara turnamen lokal musim ini, dengan gol penentu yang datang dari kaki seorang pemuda kerempeng yang beberapa bulan lalu nyaris dianggap beban tim.

Alex berdiri di tengah lapangan, dikelilingi rekan-rekan setimnya yang mengangkatnya tinggi-tinggi merayakan trofi, air mata bahagia bercampur keringat mengalir di wajahnya yang menengadah menatap langit malam yang dipenuhi kembang api dari tribun suporter.

Dan di kejauhan, tanpa dia sadari sepenuhnya, sebuah babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai—sebuah babak yang akan membawanya jauh melampaui lapangan-lapangan sederhana di Ranah Minang, menuju panggung sepak bola yang selama ini hanya bisa dia bayangkan lewat layar televisi tua di rumah petak ibunya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Otw
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
the misterius author 🐐: jangan lupa bintang 5 nya bg biar semangat up nya bg 🙏
total 3 replies
Protocetus
Novel yang menarik from Zero to Hero
Protocetus
Semangat2
the misterius author 🐐: makasih bg bintang 5 nya
total 1 replies
Protocetus
Wuih jadi keinget Manhwa namanya Build Up. Si MC berusaha menghancurkan tembok penghalang dirinya.
Protocetus
Divisi berapa ini min?
the misterius author 🐐: devisi 3 kak
total 1 replies
the misterius author 🐐
bantu support nya kak bg kalau mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!