Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Dekrit Eksplorasi Hutan
Peta hologram raksasa berwarna zamrud berputar lambat di atas kepala ribuan murid. Proyeksi itu menampilkan seluruh kontur Hutan Buatan dengan sangat jelas.
Masing-masing wilayah memiliki warna penanda yang berbeda.
Para murid Jurusan Tempur langsung berdiri tegak dengan penuh semangat. Mereka memancarkan aura bersaing yang kencang, menggenggam erat gagang senjata masing-masing.
Pandangan mereka menyapu kerumunan sekeliling. Mereka mencari murid Pendukung yang sekiranya bisa dimanfaatkan sebagai pembawa barang atau pencari tanaman obat.
Berdiri di sudut kerumunan yang bising itu, Yang Chan menguap lebar. Ia sedikit menutup telinganya menggunakan telunjuk tangan kanan.
Matanya sama sekali tidak melirik area tengah hutan yang menyala merah tanda bahaya monster kelas atas.
Ia justru terus menatap area hijau pudar di bagian paling pinggir yang sangat sepi dari aktivitas murid lain.
"Jurusan Tempur adalah pedang pelindung, Jurusan Pendukung adalah mata pencari harta!" seru Instruktur Kepala dengan suara yang diperkuat aliran Qi.
"Nilai akhir kalian dinilai dari kelangkaan sumber daya yang dibawa pulang!" lanjut sang instruktur dari atas podium tinggi.
"Banyak orang berarti banyak tapak kaki," gumam Yang Chan pelan pada dirinya sendiri sambil menyilangkan kedua lengannya.
"Tapak kaki merusak kualitas tanah. Kita harus menghindari mereka."
Matahari mulai naik tinggi menerangi plaza. Proyeksi hologram yang bersinar terang itu perlahan meredup seiring selesainya penjelasan aturan ujian.
Kamera visual plaza kini dipenuhi wajah-wajah tegang murid Pendukung yang mulai didekati oleh para murid Tempur yang agresif.
Prak!
Kertas pendaftaran itu terlempar kasar ke lantai batu.
Seorang murid elit dari Klan Jian menepis kasar formulir pendaftaran dari tangan seorang murid Pendukung yang tampak gemetar ketakutan.
"Lemah seperti ini hanya akan menjadi beban kami di dalam hutan!" bentak murid elit itu dengan nada suara sangat sombong.
Di bagian tengah lapangan yang ramai, Luo Feng berdiri tegak dengan tenang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Puluhan murid berkerumun di sekelilingnya, memohon dengan sangat agar diizinkan masuk ke dalam kelompok tempur miliknya.
Luo Feng menggeleng pelan. Ia menolak mereka semua dengan gerakan tangan yang terasa sangat dingin namun tetap anggun.
Jauh dari keributan itu, Yang Chan bersandar santai di bawah sebatang pohon rindang yang berdaun lebat.
Ia memutar-mutar koin tembaga di antara jari-jarinya dengan gerakan yang sangat lincah dan berirama.
Langkah kaki yang kaku terdengar mendekat ke arahnya.
Zhao Biyu berjalan menghampirinya, lalu membetulkan letak kacamata tebalnya yang sempat melorot ke ujung hidung peseknya.
Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan selembar formulir kosong bersetempel resmi Jurusan Pendukung ke dada pemuda itu.
"Secara statistik, bergabung dengan kelompok Tempur elit meningkatkan persentase keselamatan sebesar 80%," ucap Zhao Biyu dengan nada sangat datar.
"Kau keberatan jika kita membuang kemungkinan itu dan pergi berdua saja seperti rencana kita kemarin, Saudara Yang?" tanya gadis itu kemudian.
Yang Chan tersenyum hangat melihat rekannya yang selalu berbicara berdasarkan angka itu.
Ia mengambil stempel giok miliknya dari dalam saku baju yang longgar.
Plak.
Tanpa membaca isinya terlebih dahulu, ia langsung menekan stempel itu di atas formulir pendaftaran milik Biyu.
"Akan lebih baik seperti itu, Biyu," sahut Yang Chan dengan nada suara yang sangat santai.
"Berdua sudah lebih dari cukup untuk kita, asal kita hati-hati."
Angin siang berembus lambat, membawa keheningan yang nyaman di bawah pohon tempat mereka berdua berdiri tenang.
Di tengah lapangan, murid-murid lain masih saja terus saling sikut demi berebut posisi kelompok yang dianggap kuat.
Krieeet!
Suara gesekan logam berat yang sangat nyaring memecah keheningan sore hari di batas wilayah akademi.
Pintu gerbang baja setinggi sepuluh meter itu perlahan terbuka lebar ke arah dalam hutan.
Seketika, embusan angin lembap yang membawa aroma lumut basah, tanah, dan sedikit bau darah kering menerpa wajah mereka.
Bahaya seolah sudah mengintai dengan sabar di balik rimbunnya pepohonan kuno yang berukuran sangat besar.
Wush!
Beberapa tim langsung melesat masuk ke dalam rimbunnya hutan bagai anak panah yang lepas dari busurnya.
Kilatan energi senjata dan jubah tempur mereka berkelebat cepat, menghilang di balik pepohonan yang gelap.
Rombongan Luo Feng memimpin paling depan, melesat bagai bintang jatuh yang membelah keheningan rimba malam.
Berbeda dengan yang lain, Yang Chan dan Zhao Biyu justru berjalan paling belakang dengan langkah sangat santai.
Biyu memegang sebuah kompas alkimia kuno yang jarumnya terus berputar lambat, mencari titik kelembaban udara sekitar.
Sedangkan Yang Chan membawa sebuah tongkat bambu sederhana yang biasa ia gunakan untuk menopang tubuhnya.
Ia mengetuk-ngetukkan ujung tongkat itu ke tanah berbatu, tampak seperti orang tua yang sedang menikmati jalan sore.
"Dua Pendukung tanpa pelindung?" ejek seorang murid Tempur yang melesat cepat melewati mereka sambil tertawa keras.
"Bersiaplah menjadi pupuk untuk siluman akar di dalam sana!" teriaknya lagi sebelum menghilang di antara semak.
Yang Chan sama sekali tidak memedulikan ejekan kasar yang baru saja didengarnya itu.
Ia justru berjongkok di dekat pintu gerbang, mengambil segenggam tanah basah dan mendekatkannya ke arah hidung.
Ia mengendus aroma tanah itu sebentar, lalu menyunggingkan senyum kecil di wajahnya yang tenang.
"Tanahnya sedikit asam, tapi sangat kaya akan sisa pembusukan tanaman," ucap Yang Chan sambil menepiskan sisa tanah.
"Biyu, kurasa kita tidak perlu melangkah masuk terlalu dalam untuk mendapatkan panen raya hari ini."
Zhao Biyu mengangguk setuju tanpa mengalihkan pandangannya dari jarum kompas yang mulai menunjukkan arah stabil.
Di atas kepala mereka, daun-daun pohon raksasa saling bertumpuk rapat, menghalangi sisa cahaya matahari sore.
Kegelapan hutan buatan itu perlahan menelan siluet tubuh mereka berdua yang melangkah tanpa ada rasa takut.