Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Matahari siang menyinari etalase kaca besar butik paling eksklusif di pusat kota, tempat gaun-gaun bermerek berjejer rapi dengan keanggunan yang memikat. Nyonya Melani melangkah masuk dengan, diikuti Luna yang matanya tak lepas menatap deretan busana berkilauan. Pegawai butik segera menyambut mereka dengan penuh hormat, tahu betul siapa sosok yang datang berkunjung.
"Siapkan koleksi terbaru untuk kami," perintah Nyonya Melani singkat sambil duduk di sofa empuk yang disediakan. "Yang paling berkelas dan yang bisa membuat semua mata tertuju pada putriku."
Pegawai itu mengangguk dan segera menyiapkan. Satu per satu gaun dibawakan, dari yang berwarna merah menyala, biru tua berkilau, hingga gading yang melambangkan kemurnian. Luna mencoba satu demi satu di ruang ganti, menatap pantulannya di cermin besar dengan penuh perhatian.
"Yang ini terlalu biasa," gumamnya saat mengenakan gaun berwarna biru muda. "Orang lain pasti juga memakai hal serupa."
Ia segera berganti lagi. Kali ini gaun berwarna merah marun dengan sulaman manik halus di bagian bahu. Saat ia melangkah keluar, Nyonya Melani tersenyum puas. "Bagus. Ini menunjukkan kekuatan dan wibawa. Tapi... coba yang lain lagi, mungkin ada yang lebih memikat."
Luna hanya pasrah mengikuti kemauan ibunya,hingga akhirnya ia keluar mengenakan gaun panjang berwarna emas muda yang jatuh anggun hingga menyentuh lantai. Kainnya berkilau lembut setiap kali ia bergerak, tanpa berlebihan namun mampu memancarkan pesona yang menawan. Potongan di bagian pinggang menonjolkan bentuk tubuhnya, sementara bahunya terbuka menampakkan kulit yang halus.
Nyonya Melani berdiri perlahan, mendekat dan memutar tubuh putrinya sedikit. Matanya berbinar puas. "Inilah yang kita cari. Dengan gaun ini, kamu tidak hanya terlihat cantik, Sayang. Kamu akan terlihat seperti wanita yang pantas berdiri di samping orang paling berkuasa."
Luna tersenyum lebar, menatap pantulannya dengan hati yang penuh harapan. "Benarkah, Ma? Apa Tuan Victor akan melihatku?"
"Pasti," jawab Nyonya Melani tegas. "Dan jangan lupa, pakai perhiasan terbaik yang sudah kita siapkan. Malam itu, kamu harus menjadi bintang yang bersinar paling terang di antara para tamu undangan lain."
Luna mengangguk, rasa percaya dirinya semakin membumbung tinggi. Ia tak lagi memikirkan tentang Haris. Di benaknya kini hanya ada satu tujuan, menarik perhatian Victor Blackwood, dan akan menggunakan cara apapun untuk menarik perhatian pria itu.
Mereka membayar pesanan itu dengan cepat, lalu berjalan keluar dari butik menuju mobil mereka yang terparkir di halaman butik, sopir langsung membukakan pintu belakang untuk mereka berdua.
Sepanjang perjalanan pulang, wajah Luna tak lepas dari pantulan kaca jendela mobil.
"Kamu harus ingat satu hal," ujar Nyonya Melani tiba-tiba memecah keheningan, menatap tajam ke arah putrinya. "Malam nanti, jangan sekali-kali kamu tampak terburu-buru atau terlalu bersemangat. Laki-laki selevel Victor Blackwood tidak menyukai wanita yang mengejarnya. Biarkan dia yang mendekatimu. Buat dia penasaran."
Luna mengangguk pelan, mencoba menyusun nasihat itu dalam benaknya. "Aku paham, Ma. Aku akan bersikap tenang dan anggun."
Nyonya Melani tersenyum puas, menepuk punggung tangan putrinya lembut. "Bagus, Sayang. Ini baru putri Mama."
-
-
-
Di ruangan kerja yang tenang dan tertata rapi, Kania duduk diam di hadapan layar laptopnya. Matanya menatap tajam pada berita utama yang menampilkan gambar Tuan Wirawan yang dipimpin oleh petugas dengan tangan terborgol. Jari-jarinya perlahan menyentuh layar, seolah tak percaya bahwa langkah panjang yang ia ambil dulu kini membuahkan hasil nyata.
Ia ingat hari-hari dimana ia menyusun bukti demi bukti, menelusuri aliran dana yang tersembunyi, dan mencatat setiap kebohongan yang pernah dilakukan pria itu. Semua dokumen itu telah ia serahkan kepada pengacara yang ditunjuk Victor beberapa waktu lalu, tanpa menduga hal ini akan terjadi secepat ini.
"Semua ini benar-benar selesai..." bisiknya pelan, napasnya terasa lebih ringan dari biasanya. Rasa lega yang mendalam menyelimuti dadanya, bukan karena keinginan menjatuhkan musuh, melainkan karena akhirnya kejahatan tidak lagi berkuasa.
Pintu ruangan diketuk pelan, dan Rico masuk membawa secangkir kopi. Ia menatap layar sekilas, lalu menatap Kania dengan senyum tipis.
"Kerja bagus, Nona Kanaya. Tanpa ketelitian dan keberanian Anda, hal ini tidak akan pernah terungkap."
Kania menggeleng pelan, menatap asisten itu dengan pandangan yang tenang. "Ini bukan hasil kerjaku sendirian, Rico. Ada banyak orang yang membantuku, dan ada kebenaran yang tidak boleh dikubur selamanya."
Ia menutup halaman berita itu, lalu beralih menatap Rico kembali, "Oya, bagaimana kondisi Bian? Apa dia baik-baik saja?"
"Luka-lukanya tidak terlalu parah, cukup di rawat beberapa hari dan dia sudah bisa dibawa pulang, Nona." jawab Rico.
"Baguslah," ucap Kania pelan, napasnya terbuang lega. "Dia berani melindungiku sampai batas kemampuannya. Tolong sampaikan terima kasihku padanya, dan pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik sampai benar-benar pulih."
"Tentu, Nona. Saya akan menyampaikannya segera," jawab Rico sopan. Ia meletakkan cangkir kopi di sudut meja, lalu menambahkan dengan nada yang lebih serius, "Tuan Victor juga mengirim pesan singkat. Beliau mengucapkan selamat atas keberhasilan Anda, dan mengingatkan agar tidak terlalu memaksakan diri hari ini. Dua hari lagi adalah hari yang penting."
Jantung Kania berdenyut pelan. Ia tahu betul apa yang dimaksud. Pesta Blackwood Corp tinggal selangkah lagi, tempat di mana ia akan berdiri tegak di hadapan mereka yang dulu menghancurkan hidupnya.
"Terima kasih, Rico," ucapnya lembut. "Aku akan beristirahat tepat waktu."
Rico membungkuk sedikit lalu berjalan keluar, menutup pintu perlahan. Kania kembali menatap jendela yang menampakkan langit mulai senja. Beban di pundaknya terasa sedikit berkurang, namun ia sadar, ini hanyalah permulaan. Kejatuhan Tuan Wirawan adalah langkah pertama, namun pertarungan sesungguhnya untuk menuntut keadilan atas dirinya dan mendiang ibunya masih menanti di depan mata. Dan ia siap menghadapinya.
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭