⚠️Ngapak Alert⚠️
Novel ini terdapat beberapa part percakapan bahasa derah, terlebih di part-part awal🙏jadi mohon bersabar bacanya ya😊kalau pusing, bagian itu silakan di skip aja👉
💐selamat membaca💐
Ayu Anindita, seorang gadis desa, yatim piatu, yang dibesarkan oleh sang Nenek. Mencoba mandiri demi bertahan hidup hingga rela kehilangan masa kecil dan remajanya. Hingga suatu hari, Ayu memutuskan merantau ke kota demi sang Nenek. Namun sayang, Ayu justru kehilangan saat-saat terakhirnya bersama neneknya.
"Kamu harus bahagia, Yu!" pesan Nenek.
"Selamat jalan, Mbah! Tenang di sana ya. Ayu di sini akan baik-baik saja," batin Yudi.
"Aku janji akan selalu melindungimu. Walaupun, kita sama-sama tahu, tidak ada cinta di antar kita," ucap Elang.
Akankah Ayu bahagia? Siapakah yang akan mewujudkan permintaan Nenek?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan 2
Ketika Ayu baru turun dari JPO, Ayu mendengar teriakan minta tolong.
“TOLOOOOOONNGGGGGG!!!! COPEEEET....TOLOOOOOOONNNGGGGG!!!!” teriak orang itu.
Dan ketika itu, ada seorang anak kecil yang berlari kencang ke arah Ayu dan menabrak bahunya. Ayu pun terhuyung ke belakang namun untungnya dia tidak terjatuh.
Seketika Ayu sadar bahwa anak kecil tadilah copet yang diteriakkan suara minta tolong tadi.
Refleks, Ayu langsung mengejar anak kecil itu.
Kejar-kejaran di trotoar jalan pun terjadi antara anak kecil pencopet tadi, Ayu, dan seorang laki-laki memakai setelan hitam.
Ayu sekuat tenaga mengejar anak kecil pencopet itu hingga Ayu berhasil menarik kerah belakang baju anak kecil itu, namun sayang anak kecil itu berhasil lepas.
Dan sekuat tenaga Ayu mengejar anak itu kembali, namun kali ini, Ayu tidak menariknya namun mendorongnya hingga anak itu terjatuh ke tanah.
Kesempatan itu Ayu ambil untuk mengambil kembali tas milik orang yang berteriak minta tolong itu, Sedangkan anak kecil itu langsung kabur.
Ketika Ayu hendak mengembalikan tas itu, ada tangan yang memiting lehernya dari belakang.
“Kena ya kamu! Dasar pencuri!” kata orang itu.
“Sa ... Saya bukan pencuri!” jawab Ayu yang menahan sakit ketika tangannya dikunci kebelakang.
“Ayo ikut!” bentak orang itu.
Dengan terpaksa, Ayu pun diseret orang itu bak maling yang tertangkap.
“*A*pes banget sih ... Mau nolong malah di sangka nyolong!” batin Ayu.
Hingga sampailah mereka di taman setelah JPO tadi. Disana ada seorang wanita tua sedang duduk di bangku taman tampak menunggu seseorang.
“Ini, Bu! Malingnya!” kata orang tadi saat tiba dihadapan wanita tua itu.
“Saya bukan maling! Lepasin! Sakit!” pinta Ayu
“Lho ... Kamu 'kan?” tanya wanita tua itu seperti sedang mengingat-ingat seseorang ketika melihat Ayu.
Sontak, Ayu pun memandang wanita tua itu dan tersenyum,
“Nenek! Anda Nenek paper bag itu kan? Aw!” tanya Ayu sambil menahan rasa sakit karena tangannya masih di kunci.
“Wan! Lepasin, Wan! Dia bukan orang jahat kok!” kata Nenek itu kepada sopirnya.
“Tapi Nyonya, tadi saya lihat dia yang pegang tas anda” kata Ridwan.
“Bukan saya malingnya! Saya malah tadi ikut ngejar maling itu. Dan pas saya udah dapet tasnya, dia kabur. Eh ... Malah saya yang dituduh maling!” jawab Ayu bersungut-sungut.
“Sudah, Wan! Lepasin dia! Kasihan!” perintah Nenek.
“Baik, Nyonya!” dengan terpaksa, Ridwan melepaskan kunciannya pada Ayu. “Ini tas anda!” lanjutnya seraya menyerahkan tas kepada si empunya.
“Terimakasih, Wan! Kamu juga, saya ucapkan terimakasih ya!” kata Nenek itu.
“Sama-sama, Nek” jawab Ayu sambil mengelus-elus lengannya yang masih terasa sakit.
“Duduk dulu yuk!” ajak Nenek itu. “Kok kamu di sini?” tanya Nenek itu.
“Tadinya sih pengin jalan-jalan di mall itu, Nek. Mumpung saya disuruh pulang awal sama majikan saya,” kata Ayu masih mengelus-elus tangannya.
“Tapi kayanya nggak jadi deh!” lanjut Ayu.
“Lho! Kenapa?” tanya Nenek itu.
“Udah capek, Nek! Jadinya mau pulang aja buat istirahat,” jawab Ayu tersenyum memandang Nenek itu.
“Ehm ... Gimana kalau sebagai tanda terimakasih Nenek, Nenek traktir kamu minum? Mau yah!” ajak Nenek itu.
“Nggak usah, Nek. Ngerepotin aja!” jawab Ayu berusaha menolak.
“Ayo lah! yah?” pinta Nenek itu dengan wajah memelas.
“Ehm ... Ya udah, Nek!” jawab Ayu. “Tapi biar saya aja yang ke sana ya, Nek,” pinta Ayu sambil menunjuk sebuah mini market.
“Hahahaha ... ,” Nenek itu tertawa mendengar perkataan Ayu yang sangat lugu.
“Kok malah ketawa, Nek?” tanya Ayu.
“Hehehe ... Maaf ya ... Habis kamu lucu banget sih. Ikut Nenek yuk. Ntar Nenek traktir minum, tapi bukan disitu,” kata Nenek sambil menunjuk mini market itu.
“Hah?! Lah terus dimana?” tanya Ayu bingung.
“Udah! Yuk ikut” ajak Nenek sambil menggandeng tangan Ayu dan menuntunnya menuju mobil mewah miliknya.
“Kita mau kemana, Nek?” tanya Ayu yang mulai panik.
“Tenang ... Nenek nggak mau nyulik kamu kok. Nenek Cuma mau traktir kamu aja,” jawab Nenek itu tersenyum
Dalam perjalanan menuju tempat traktiran, Ayu dan Nenek saling bertukar cerita walaupun Ayu yang lebih banyak bercerita. Sedangkan Nenek itu hanya tersenyum menanggapi ocehan Ayu.
Entah kenapa, Ayu merasa cepat akrab dengan Nenek itu. Apa mungkin Ayu merasa seperti bersama dengan neneknya yang sudah tiada?
Sesampainya di tempat traktiran, Ayu dan Nenek itu memilih private room seperti yang biasa dia lakukan ketika mengunjungi sebuah restoran.
Ayu seketika melongo ketika diajak masuk Nenek itu ke sebuah restoran bintang 5 yang mewahnya tidak ada didalam bayangan Ayu.
“Ayo sini, ikut Nenek” ajak Nenek itu lembut.
“Nek, ngapain kita kesini?” tanya Ayu yang gugup melihat pengunjung yang kebanyakan adalah orang asing.
“Silahkan, nyonya! Ruangan seperti biasa,” kata seorang *W*aitress.
“Trimakasih!” jawab Nenek itu. “Ayo masuk!” ajak Nenek kepada Ayu.
“Silahkan buku menunya!” kata Waitress tadi menyodorkan sebuah buku menu ke masing-masing tamunya itu.
“*A*staghfirullahaladzim! Panganan opo iki? Maca ne wae aku ra iso! (makanan apa ini? Bacanya saja nggak bisa!)” batin Ayu.
Nenek yang melihat ekspresi kebingungan Ayu, hanya tersenyum geli melihat tinggahnya yang menurutnya lucu.
“Gimana, Nak? Udah dapet mau yang mana?” tanya Nenek itu menahan tawanya.
“Ehm ... Nek, ini bahasa mana sih? Waktu SMA, saya cuma belajar Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Bahasa Arab, sama Bahasa Inggris. Tapi nggak ada yang bahasa kaya gini, Nek,” tutur Ayu yang kebingungan dengan bahasa di menu yang menggunakan bahasa Italia.
“Lihat gambarnya aja, kamu mau yang mana?” kata Nenek itu masih menggoda Ayu.
“Yang ini kaya mie goreng tapi kok harganya mahal banget yah? Biasanya juga kalau saya makan di tempat biasa saya beli cuma sepuluh ribu, mahal-mahalnya lima belas ribu,” kata Ayu masih dengan wajah bingungnya
“Hahahahha ... ,” tawa Nenek akhirnya terlepas karena melihat kelakuan Ayu yang sangat langka menurutnya.
“Kok ketawa sih, Nek?” tanya Ayu bingung.
“Maaf ya! Biar Nenek pilihkan yang kayanya cocok sama lidah kamu aja ya,” kata Nenek itu menawarkan.
Akhirnya nenek itu pun memesankan beberapa makanan untuknya dan untuk Ayu.
“Baik saya bacakan lagi pesannya! Untuk appetizer-nya bruschetta with tomato and basil, untuk main course-nya Chicken Parmigiana dan beef spaghetti, dessert-nya panna cotta, dan untuk minumnya Caramel Macchiato dan vanila latte, ada lagi?” kata Waitress yang sedari tadi memperhatikan perbincangan Ayu dan Si Nenek.
“Cukup, itu saja!” jawab Nenek itu.
Waitress itu kembali mengambil buku menu yang diberikan kepada Ayu dan Nenek tadi, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Oh iya! Nenek belum tahu nama kamu lho,” kata Nenek itu.
“Hehehe ... Iya yah! Kalau gitu, perkenalkan, nama saya Ayu, Nek! Ayu ART di sebuah unit apartemen tempat dulu kita ketemu pertama kali,” jawab Ayu tersenyum.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
**hai readers....jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya
trimakasih🙏**
lanjutin donk ceritanya,😘😘😘
adakah season 2 buat Adiba potrinya Elang dan Ayu.Dan klnjtan hub Yudi dn Bianca😀
Kutunggu deh thor💪
semoga kamu makin kreatif ya Thor.. ditungguin cerita lainya yg pasti sarat dgn pembelajaran hidup..😘😘🌹🌹❤️❤️
1 lg..jangan lupa ngopiiii....☕😁💪
lanjy Thor..💪😍