Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Ujian
Asrama Heights Alliance biasanya dipenuhi dengan suara tawa dan dentuman musik yang santai, namun malam ini, suasananya lebih mirip dengan markas strategi militer yang sedang dikepung. Pekan ujian akhir semester telah tiba, dan bagi murid-murid Kelas 1-A, ini adalah rintangan yang lebih menakutkan daripada serangan penjahat di USJ.
Di ruang tengah, meja-meja besar telah digeser menjadi satu. Tumpukan buku referensi setebal kamus, tumpukan kertas latihan, dan aroma kopi instan yang menyengat memenuhi udara.
"Aku akan mati... aku benar-benar akan mati!" ratap Ashido Mina, kepalanya terkulai di atas buku sejarah modern. "Kenapa pahlawan harus belajar tentang reformasi hukum pajak pahlawan tahun 1980?! Aku hanya ingin meluncur dengan asamku!"
"Mina-chan, jangan menyerah!" seru Yaoyorozu Momo yang sedang sibuk menjelaskan rumus kimia molekuler kepada sekelompok murid lain. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun semangatnya sebagai pengajar tetap berkobar.
Mitsuki duduk di sudut meja, memegang sebuah buku tentang biologi seluler dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan santai memutar-mutar sebuah pulpen. Ia baru saja kembali dari Distrik Esu, dan baginya, melihat teman-temannya "menderita" karena kertas adalah sebuah fenomena yang sangat menarik.
Kaminari Denki, yang wajahnya sudah mulai terlihat "korslet" meskipun belum menggunakan Quirk-nya, menatap Mitsuki dengan pandangan putus asa. "Mitsuki... kau juara satu. Otakmu pasti setara dengan komputer super. Tolong, ajari aku Fisika Kuantum Dasar ini. Kalau aku gagal, aku tidak bisa ikut kamp musim panas!"
Mitsuki menoleh, matanya yang kuning berkilat di bawah lampu ruang tengah. "Fisika hanyalah tentang bagaimana energi berpindah dari satu titik ke titik lain, Kaminari-kun. Kau kesulitan karena kau menganggap angka-angka itu sebagai benda mati."
Mitsuki berdiri dan berjalan mendekati Kaminari. Ia tidak mengambil buku. Sebaliknya, ia mengeluarkan dua buah kelereng dari sakunya.
"Dengarkan," ucap Mitsuki, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan fokus, menciptakan aura yang membuat seisi meja terdiam. "Bayangkan tubuhmu adalah sebuah wadah. Listrik yang kau keluarkan bukan berasal dari udara, tapi dari gesekan sel-sel dalam tubuhmu. Rumus ini..." ia menunjuk sebuah persamaan kompleks, "...hanyalah cara manusia untuk memprediksi berapa banyak 'jiwa' yang kau lepaskan dalam satu serangan."
"Jiwa?" Kaminari mengerjapkan mata.
"Ya. Dalam duniaku maksudku, dalam cara berpikirku semuanya adalah aliran. Jika kau ingin memahami hambatan (Ohm), jangan bayangkan itu sebagai angka. Bayangkan itu sebagai dinding air yang mencoba menahan larimu. Semakin kental airnya, semakin besar hambatannya."
Mitsuki mulai menjelaskan variabel-variabel fisika dengan metafora biologis yang sangat tajam. Ia tidak menggunakan istilah akademik yang kaku, melainkan menggunakan analogi predator dan mangsa. Bagi Kaminari, penjelasan Mitsuki terasa seperti sebuah "wahyu" yang aneh.
"Tunggu... jadi kalau voltasenya tinggi tapi hambatannya besar, itu seperti aku mencoba berteriak di bawah air?" tanya Kaminari.
"Tepat," jawab Mitsuki dengan senyum tipis. "Sekarang, kerjakan soal nomor lima dengan membayangkan kau sedang mencoba berteriak di dalam laut sedalam seratus meter."
Melihat Kaminari mulai menulis dengan kecepatan kilat, Ashido ikut mendekat. "Mitsuki! Bagaimana dengan Sejarah? Aku tidak bisa mengingat tanggal-tanggal membosankan ini!"
Mitsuki menutup buku biologinya. "Sejarah bukan tentang tanggal, Ashido-san. Sejarah adalah tentang darah yang tumpah dan ambisi yang tersisa. Kau ingin mengingat Reformasi 1980?"
Mitsuki memanjangkan sedikit lengannya, bergerak seperti ular yang meliuk di udara untuk menarik sebuah peta dunia di dinding.
"Bayangkan kau ada di sana. Tahun 1980, udara dipenuhi asap industri dan ketakutan akan Quirk yang baru muncul. Pahlawan saat itu tidak sepertimu; mereka diburu, dianggap sebagai anomali medis. Undang-undang ini diciptakan bukan untuk membantu mereka, tapi untuk 'mengandangkan' mereka. Ingatlah rasa takut itu, maka kau akan ingat nama undang-undangnya."
Cara Mitsuki bercerita sangat deskriptif, hampir seperti ia sedang merapalkan sebuah teknik Genjutsu tanpa sadar. Murid-murid lain seperti Kirishima, Sero, dan Sato ikut mendekat, mendengarkan cerita Mitsuki yang membuat sejarah terasa seperti film horor-politik yang mendebarkan.
"Wah... Mitsuki, kau membuat sejarah terdengar sangat... gelap," gumam Kirishima, bulu kuduknya berdiri.
"Dunia memang gelap sebelum ada cahaya yang cukup kuat untuk meneranginya, Kirishima-kun," jawab Mitsuki kalem.
Di sisi lain ruangan, Tenya Iida duduk dengan tegak, namun matanya tidak fokus pada buku di depannya. Insiden Hosu masih menghantuinya. Meskipun ia telah pulih secara fisik, mentalnya masih bergetar setiap kali ia mendengar kata "keadilan".
Mitsuki menyadari hal itu. Ia berjalan mendekati Iida dan meletakkan sebuah apel di atas mejanya.
"Iida-kun, kau menekan pikiranmu terlalu keras," ucap Mitsuki tanpa basa-basi. "Otak yang tegang tidak bisa menyerap informasi, sama seperti otot yang kaku tidak bisa bergerak cepat."
"Mitsuki-kun... aku hanya ingin memastikan aku tidak tertinggal," jawab Iida dengan nada yang dipaksakan.
"Kau tidak akan tertinggal. Tapi kau sedang mencoba berlari dengan rem tangan yang ditarik," Mitsuki duduk di sampingnya. "Aku belajar sesuatu saat magang di Fat Gum. Kadang, untuk menangkap sesuatu yang besar, kau harus membiarkan dirimu menjadi 'lembut' terlebih dahulu. Pahlawan yang terlalu kaku akan patah saat dihantam badai."
Mitsuki memberikan sebuah gulungan kertas kecil kepada Iida. "Ini adalah teknik pernapasan sederhana. Ayahku menggunakannya untuk menenangkan subjek... maksudku, untuk menenangkan diri sebelum pertempuran besar. Cobalah."
Iida menerima kertas itu, membacanya, dan perlahan-lahan mulai mengatur napasnya sesuai instruksi Mitsuki. Perlahan, ketegangan di bahunya menghilang. Ia menatap Mitsuki dengan rasa terima kasih yang mendalam.
Malam yang Semakin Larut: Kehadiran "Ayah"
Jam menunjukkan pukul satu pagi. Sebagian besar murid sudah tertidur di atas buku mereka atau kembali ke kamar masing-masing dengan kepala yang berasap. Hanya Mitsuki yang masih terjaga, duduk di balkon asrama sambil menatap bulan sabit yang menggantung di langit.
Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah folder tersembunyi yang berisi data tentang Hassaikai dan Kai Chisaki. Data-data itu adalah hasil "curian" yang ia lakukan selama di agensi Fat Gum.
“Struktur molekul yang bisa membongkar dan membangun kembali... Quirk Overhaul benar-benar sebuah anomali,” batin Mitsuki.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Bukan pesan dari grup kelas, melainkan sebuah enkripsi video singkat. Saat ia membukanya, muncul gambar laboratorium yang sangat akrab laboratorium Orochimaru di Otogakure.
Suara desisan yang halus keluar dari speaker ponsel. "Mitsuki... kau telah menemukan sesuatu yang menarik di Distrik Esu. Kai Chisaki mencoba melakukan apa yang aku lakukan: memanipulasi esensi kehidupan. Tapi metodenya terlalu kasar, terlalu penuh kebencian. Amati dia lebih dekat. Jika dia benar-benar berhasil menciptakan obat penghilang Quirk, pastikan kau mendapatkan sampelnya. Itu akan menjadi data yang sangat berharga untuk 'stabilisasi' tubuhmu nanti."
Mitsuki menatap layar ponselnya dengan dingin. Ia tidak membalas pesan itu. Ia menatap telapak tangannya sendiri, di mana petir biru tipis menari-nari di antara garis tangannya.
"Aku bukan lagi sekadar alat pencari datamu, Ayah," bisik Mitsuki pada angin malam.
Ia menyadari bahwa dunia pahlawan ini mulai mengubahnya. Ia tidak ingin lagi hanya "mengamati". Ia ingin "melindungi". Dan jika Kai Chisaki adalah ancaman bagi teman-temannya yang baru saja ia ajari belajar malam ini, maka Mitsuki akan memastikan bahwa ular itu tidak akan pernah bisa menggigit matahari mereka.
Hari ujian tertulis tiba dan berlalu. Saat hasilnya diumumkan di papan pengumuman sekolah beberapa hari kemudian, seluruh Kelas 1-A ternganga.
"AKU LULUS! AKU BENAR-BENAR LULUS!" teriak Kaminari sambil melompat-lompat kegirangan. "Peringkatku naik dari posisi bawah ke posisi tengah! Mitsuki, kau penyelamatku!"
Ashido juga menangis haru. "Sejarah modern... nilaiku hampir sempurna! Aku bahkan menjelaskan tentang 'Rasa Takut Tahun 80-an' di lembar jawaban tambahan!"
Yaoyorozu Momo mendekati Mitsuki dengan ekspresi kagum. "Mitsuki-kun, metode pengajaranmu... sangat tidak ortodoks, tapi sangat efektif. Kau memiliki cara unik untuk membuat orang memahami konsep melalui emosi dan insting."
"Insting adalah guru terbaik, Yaoyorozu-san," jawab Mitsuki tenang. "Pikiran bisa menipu, tapi tubuh jarang berbohong."
Namun, di tengah kegembiraan itu, Aizawa-sensei masuk ke kelas dengan aura yang sangat berat.
"Selamat bagi yang lulus ujian tertulis," ucap Aizawa, matanya menyapu seisi kelas. "Tapi jangan senang dulu. Ujian praktis akan dimulai besok pagi. Dan seperti yang sudah kukatakan, kalian akan melawan kami para guru. Persiapkan diri kalian, karena kami tidak akan menggunakan metafora atau cerita sejarah untuk mengalahkan kalian."
Pandangan Aizawa berhenti tepat di mata Mitsuki. Ada sebuah tantangan yang tak terucap di sana. Aizawa tahu bahwa Mitsuki adalah variabel yang paling sulit diprediksi, dan ia telah menyiapkan strategi khusus untuk "menguji" sang ular secara maksimal.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen