Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Suara derit mesin jahit tua milik Ibu mendadak terhenti dengan bunyi prak yang cukup nyaring. Jarumnya patah, menghantam lempengan besi dan membuat Ibu tersentak kaget. Arlan yang baru saja melangkah masuk ke ruang tamu segera berlari menghampiri ibunya yang tampak gemetar sambil memegangi jarinya yang nyaris tergores.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Arlan dengan nada cemas yang sangat nyata.
"Hanya jarumnya yang patah, Lan. Mesin ini memang sudah terlalu tua, tapi Ibu harus menyelesaikan jahitan Bu RT besok pagi," jawab Ibu sambil mencoba melepaskan sisa jarum yang terjepit.
Arlan melihat wajah ibunya yang tampak sangat lelah di bawah lampu bohlam yang redup. Detik itu juga, ponsel di saku celananya bergetar. Dia merogoh benda itu dan melihat sebuah notifikasi yang membuat dunianya seolah berhenti berputar sejenak.
{Lima puluh juta rupiah. Megantara Group benar-benar mengirimkan bonus perlindungan pelapor itu sekarang. Ini bukan mimpi, kan?}
Tiba-tiba, sebuah cahaya emas yang sangat menyilaukan muncul tepat di depan mata Arlan, menutupi pandangannya terhadap mesin jahit tua itu.
[Sistem Diperbarui: Modul Konglomerat Aktif] [Status: Investor Pemula (Level 1)] [Fitur Baru: Analisis Pasar & Prediksi Aset] [Misi Utama: Ubah Modal 50 Juta menjadi 500 Juta dalam 90 Hari] [Hadiah: Membuka Lisensi Bisnis 'Arlan Corp']
Arlan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Dia menatap layar ponselnya sekali lagi, memastikan angka nol di belakang angka lima itu tidak berkurang.
"Kenapa diam saja, Lan? Kamu kelihatan pucat sekali," tegur Ibu sambil memperhatikan ekspresi anaknya.
"Ibu, mulai besok jangan menjahit lagi. Arlan sudah dapat uang bonus dari kantor. Arlan ingin Ibu istirahat saja," ucap Arlan sambil menggenggam tangan ibunya yang terasa kasar.
"Uang bonus apa sampai kamu berani minta Ibu berhenti kerja? Jangan macam-macam, Lan. Kita ini orang kecil," balas Ibu dengan nada penuh keraguan.
"Uang halal, Bu. Arlan membantu perusahaan menangkap pencuri besar. Mereka memberikan Arlan lima puluh juta sebagai ucapan terima kasih," jelas Arlan dengan suara yang mantap.
Ibu terdiam, matanya mulai berkaca-kaca menatap Arlan. "Lima puluh juta? Gusti Allah, itu uang yang sangat banyak, Nak. Kamu beneran tidak melakukan hal yang salah di kota, kan?"
"Arlan tidak akan pernah mengecewakan Ibu. Percayalah pada Arlan," jawab Arlan sambil memberikan senyum paling tulus yang dia miliki.
Keesokan harinya, Arlan melangkah masuk ke gedung Megantara Group dengan langkah yang jauh lebih ringan. Dia tidak lagi merasa seperti pencuri yang menyelinap ke wilayah orang kaya. Saat dia melewati gerbang akses, Siska sudah berdiri di balik meja resepsionis dengan penampilan yang jauh lebih ceria.
"Pagi, Arlan! Wah, ada yang wajahnya terlihat sangat cerah hari ini," sapa Siska sambil memberikan senyum profesionalnya yang terbaik.
"Pagi, Mbak Siska. Mungkin karena semalam saya bisa tidur lebih nyenyak," balas Arlan sambil meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja marmer.
"Ini apa, Lan?" tanya Siska sambil menaikkan satu alisnya.
"Hanya cokelat kecil. Tanda terima kasih karena Mbak sudah membantu saya memberikan map cokelat itu ke Pak Yudha. Kalau tidak ada Mbak, mungkin saya sudah dipecat sekarang," ucap Arlan dengan tulus.
Siska tertawa kecil, pipinya terlihat sedikit merona. "Kamu ini bisa saja. Ya sudah, cepat naik. Pak Yudha sepertinya sudah menunggumu untuk rapat penting jam sembilan nanti."
Arlan mengangguk dan segera menuju lift. Di lantai sepuluh, Maya sudah berdiri di dekat meja kerjanya sambil memegang tablet dengan ekspresi yang sangat serius.
"Arlan! Kamu sudah lihat grafik saham sektor logistik pagi ini?" tanya Maya tanpa menyapa terlebih dahulu.
"Belum, Mbak Maya. Memangnya ada apa?"
"Hancur, Lan. Saham Megantara Group turun hampir delapan persen pagi ini gara-gara berita kerusuhan kurir kemarin. Investor ketakutan," jelas Maya sambil menunjukkan grafik merah yang tajam.
{Ini adalah peluang. Sistem bilang saham ini akan melonjak lima belas persen dalam dua hari ke depan setelah audit resmi keluar. Aku tidak boleh membuang waktu.}
"Mbak Maya sendiri, apa Mbak akan menjual saham yang Mbak punya?" tanya Arlan untuk memancing pendapat seniornya itu.
"Gila kalau aku jual sekarang. Tapi untuk beli lagi juga aku ragu. Sentimennya masih sangat negatif," sahut Maya sambil menggelengkan kepalanya.
"Saya justru merasa ini waktu yang tepat untuk membeli. Jika kita tahu perusahaan ini bersih, kenapa harus takut dengan kepanikan orang lain?" ucap Arlan dengan nada yang sangat yakin.
Maya menatap Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu benar-benar punya nyali besar ya, Lan. Padahal kamu baru saja mencicipi dunia ini."
Rapat jam sembilan dimulai di ruangan Pak Yudha. Namun, kali ini ada orang asing yang duduk di sana. Seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya tapi memiliki tatapan mata yang sangat tajam dan berwibawa.
"Arlan, perkenalkan ini Pak Pratama. Beliau adalah salah satu komisaris utama kita yang membawahi bidang operasional," ucap Pak Yudha sambil mempersilakan Arlan duduk.
"Selamat pagi, Pak Pratama. Nama saya Arlan," ucap Arlan sambil membungkuk sopan.
"Jadi ini anak muda yang berani membuat Wirawan meradang? Menarik sekali. Kejujuranmu itu sudah menyelamatkan reputasi perusahaan ini dari kehancuran yang lebih besar, Arlan," kata Pak Pratama dengan suara yang bariton dan tenang.
"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai analis data, Pak," jawab Arlan dengan tenang.
"Analismu sangat tajam. Saya sudah membaca laporan lengkapnya. Karena itu, saya ingin memberimu sebuah proyek khusus. Megantara ingin merambah ke pasar mikro logistik pedesaan. Ada satu startup bernama Mitra Desa di daerah asalmu yang sedang kolaps. Saya ingin kamu memimpin tim untuk melakukan uji kelayakan di sana," jelas Pak Pratama.
[Misi Sampingan: Akuisisi Strategis Aktif] [Deskripsi: Startup 'Mitra Desa' memiliki paten teknologi jalur darat yang sangat berharga namun belum terdaftar secara publik.] [Hadiah: Kepemilikan Saham 5% di Mitra Desa setelah akuisisi.]
Arlan merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ini bukan lagi soal gaji, tapi soal kepemilikan saham dan kekuasaan bisnis.
"Saya menerima tantangan itu, Pak. Saya akan berangkat ke lapangan minggu depan," sahut Arlan tanpa ragu.
"Bagus. Dan ini, anggap saja sebagai modal kecil untukmu selama di lapangan. Dewan komisaris sepakat memberimu bonus tambahan di luar kebijakan perusahaan," Pak Pratama menyodorkan sebuah amplop cokelat yang sangat tebal di atas meja.
Arlan membawa amplop itu ke toilet untuk memeriksanya. Di dalamnya terdapat uang tunai sebesar seratus juta rupiah. Dia terduduk di atas kursi toilet sambil menatap tumpukan uang itu.
{Uang bonus whistleblower lima puluh juta, ditambah uang tunai seratus juta ini. Total seratus lima puluh juta dalam satu malam. Sistem, lakukan pembelian saham Megantara Group sekarang juga menggunakan seratus juta dari modal ini.}
[Instruksi Diterima. Pembelian 500 Lot Saham Megantara di Harga Rp 2.000 Berhasil.]
"Arlan! Kamu masih di dalam toilet?" suara Maya terdengar memanggil dari luar.
Arlan segera merapikan amplopnya dan keluar. "Iya, Mbak. Maaf, perut saya agak kurang enak tadi."
"Jangan lama-lama. Sore ini Megantara akan merilis hasil audit ke media. Kamu harus bersiap melihat apa yang akan terjadi pada harga saham yang kamu beli tadi," ucap Maya sambil tersenyum misterius.
Benar saja, sore harinya pasar bereaksi dengan sangat liar. Pengumuman bahwa Megantara Group telah memulihkan seluruh dana kurir dan memecat oknum petinggi membuat kepercayaan pasar kembali pulih dalam sekejap. Harga saham yang tadinya merah padam langsung melonjak hijau pekat.
{Satu hari, dan uangku sudah bertambah sepuluh juta rupiah. Ini jauh lebih cepat daripada bekerja lembur setiap malam.}
Sambil berjalan pulang, Arlan mampir ke sebuah kedai kopi yang sangat mewah di lobi gedung. Dia memesan kopi paling mahal dan membuka laptopnya. Dia mulai mencari informasi lebih dalam mengenai startup Mitra Desa.
"Halo, benar dengan pemilik startup Mitra Desa? Saya Arlan dari Megantara Group. Saya ingin membicarakan sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkan perusahaan Anda sebelum pihak korporasi datang secara resmi," ucap Arlan melalui ponselnya.
Dia sedang merencanakan sebuah langkah yang sangat berani. Dia akan menginvestasikan sisa uang pribadinya ke startup itu secara diam-diam sebelum akuisisi dilakukan, agar posisinya semakin kuat di masa depan.
Saat Arlan sampai di rumah, dia mendapati Ibu sedang duduk termenung di depan mesin jahitnya yang masih rusak. Arlan meletakkan amplop sisa uang tunai itu di depan ibunya.
"Ini apa lagi, Lan? Ibu takut melihat uang sebanyak ini," ucap Ibu dengan suara yang bergetar.
"Arlan akan membeli rumah baru buat kita, Bu. Arlan juga akan membelikan Ibu toko kain yang besar agar Ibu tidak perlu menjahit untuk orang lain lagi," kata Arlan sambil memeluk pundak ibunya.
"Ibu cuma ingin kamu selamat, Lan. Di kota itu orangnya jahat-jahat," isak Ibu sambil memeluk lengan anaknya.
{Arlan tahu, Bu. Dan Arlan akan menjadi lebih kuat agar tidak ada satu pun orang jahat yang bisa menyentuh kita lagi.}
Malam itu, Arlan melihat notifikasi dari sistemnya berubah menjadi merah terang.
[Peringatan: Pak Wirawan telah bebas dengan jaminan.] [Informasi: Dia sedang melacak siapa yang melakukan pembelian saham dalam jumlah besar saat harga jatuh pagi ini.]
Arlan menyipitkan matanya menatap kegelapan di luar jendela. Dia tahu musuhnya belum menyerah, tapi sekarang dia sudah memiliki senjata yang jauh lebih mematikan daripada sekadar kejujuran. Dia memiliki modal, informasi, dan sistem yang akan membawanya ke puncak tertinggi.
"Mari kita lihat, siapa yang akan benar-benar terbakar dalam badai ini, Pak Wirawan," bisik Arlan dengan nada dingin yang belum pernah dia miliki sebelumnya.
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Arlan Dirgantara sudah tidak lagi berada di barisan paling belakang. Dia kini adalah sang pengatur serangan yang siap menguasai papan catur bisnis ini.
[Status Kekayaan: 175 Juta Rupiah] [Kemajuan Misi: 35%]
Arlan menutup laptopnya dan merebahkan diri di kasur busanya yang tipis untuk terakhir kalinya. Besok, hidupnya akan berubah selamanya.