Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
CAPTER 16
RENCANA MEMANCING EMOSI KEMBALI BERLANJUT
Pagi sebelum turun untuk sarapan Naura sudah ditelepon oleh Andy, dia mengajak Naura untuk ketemuan, awalnya Naura menolak karena dia tidak ingin mendapatkan hukuman seperti tadi malam dari Hasan karena sudah memancing emosinya. Tapi Andy terus meyakinkan, akhirnya Naura mengiyakan.
“Pagi-pagi kok udah selingkuh.” Guman Hasan.
“Emang kenapa kan nggak melanggar perjanjian!.” Jawab Naura ketus.
“Gimana mau melanggar kalo isinya semua larangan buat suami.”
“Terserah aku dong...mau dibikin gimana isinya?!.”
“Iya Nona siapa yang berani menolak perintah si kucing betina!."
“Apa kamu bilang?!.”
“Kurang jelas?.”
“Ihh...awas kalo kamu panggil aku kayak gitu lagi!." Ancam Naura.
“Bener-bener...giliran aku nggak boleh tapi Mba nya seenak lidah.”
“Betek banget sih ngomong sama kamu!." Ujar Naura sambil melempar botol lotion yang sudah kosong.
Hasan tersenyum puas dengan kemarahan Naura, dia meningalkan Naura yang masih berdandan. Melihat Naura tidak turun bersama dengan suaminya, hati pak Malik kembali was-was.
“Istrimu mana Nak?." tanya pak Malik.
“Masih dandan Pa.” Jawab Naura.
“Nana kalo disuruh dandan emang lama...nggak usah ditungguin.” Ujar pak Malik.
“Hayo... Papa ketahuan ngomongin Nana.” ucap Naura dari tangga.
Pak Malik tersenyum dan memintanya segera bergabung dimeja makan. Hendak mengambil nasi tiba-tiba pak Malik teringat adik iparnya yang tak lain papa Jim menelfonnya tadi pagi.
“Na..tadi pagi papa Jim nelfon papa, katanya...,” Terpotong.
Naura yang takut dan tidak ingin papanya menyebut Andy segera memotong pembicaraannya.
“Iya papa Jim juga udah nelfon Nana.” Sambil mengambil lauk.
“Ohh...katanya...,” Kembali dipotong.
“Udah Pa sarapan dulu...kita lanjut habis sarapan kalo soal papa Jim, keburu telat nih Nana?!.”
"Telat?!.”
“Iya Nana janjian sama seseorang dibutik.” Jawab asal.
“Ohhh....”
Begitu selesai sarapan Hasan pamit untuk segera berangkat ke kampus dengan mengendarai sepeda motor, hari
ini Naura tidak minta diantar dan Hasan mengerti apa yang menjadi alasannya.
“Lho sayang nggak bareng sama suamimu?!.” tanya pak Malik.
“Nggk Pa.” Jawab Naura.
“Katanya tadi buru-buru!."
“Nggak buru-buru juga sih Pa.” Jawab Naura sambil tersenyum.
“Hmmm..ada gelagat mencurigakan ini." mencoba menebak.
“Tahu juga...Pa kalo ada pria itu jangan nyebutin Andy ya!." Pinta Naura
“Pria itu siapa?."
“Itu...yang tadi berangkat naik sepeda motor.” Menerangkan.
“Pria itu suamimu...jangan panggil kayak gitu, panggil dia mas!.”
“Ihh...Papa!.” Protes Naura
“Kenapa papa nggak boleh nyebutin Andy?!." dengan nada curiga.
“Itu...kemarin Andy dateng ke butik terus kita pelukan, pria itu marah terus sekalian aja Andy sama aku ngerjain dia.”
“Ngerjain gimana maksudnya?!.” tidak terima.
“Pura-pura punya hubungan alias pacaran gitu.”
“Ya Allah Nana...kasian suamimu kalo dia sampek marah gimana?!."
Naura tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Papanya yang masih mematung. Sebelum menghilang dari pandangan pak Malik dia menoleh kebelakang.
“Ingat lho Pa!." Ucapnya sambil memberi isyarat dengan menutup mulutnya dengan jari telunjuk.
----
Dilain tempat
Tiga kunyuk siang ini sudah punya rencana untuk menonton film dibioskop, Ilham sudah memesan 3 tiket dan begitu kelas selesai mereka langsung tancap gas menuju salah satu mall yang ada dikota itu untuk menonton film yang sudah mereka tunggu tanggal putarnya dibioskop.
Sebelum masuk kegedung bioskop, tidak lupa mereka membeli minuman dan cemilan untuk dimakan didalam. Andik sedang mengantri untuk membelinya sementara Ilham dan Ilyas berdiri didekat kaca pembatas sambil sibuk menjelajahi toko-toko disekitarnya dengan kedua mata mereka. Namun tiba-tiba pandangan Ilham terhenti, tak sengaja dia melihat sosok yang mirip dengan Naura sedang mengobrol dengan seorang pria, keduanya terlihat akrab. Bahkan menit berikutnya mereka berjalan dan menuju ke sebuah toko yang menjual tas, sambil menggandeng lengan pria itu Naura melihat-lihat koleksi tas yang dipajang.
Setelah yakin kalau wanita itu adalah istri mas Hasan mereka, tangan Ilham langsung menyalakan telepon genggamnya, dia mengambil beberapa foto dan juga merekam mereka berdua.
“Apa yang kamu rekam kok serius banget?." tanya Ilyas penasaran.
“Lihat itu siapa!.” Jawab Ilham sambil menunjuk kedalam toko tas.
Ilyas terkaget ketika mendapati seorang wanita muda yang tidak lain adalah istri dari mas Hasan mereka sedang berdua ditoko dengan pria lain. Mereka berdua berpikir mereka memiliki hubungan yang tidak wajar, ditambah lagi mereka tidak melihat sosok pria itu dipernikahan mereka dua minggu yang lalu. Tanpa berpikir panjang Ilham mengirim foto dan rekaman itu ke Hasan, Andik yang sudah mendapatkan makanan langsung menghampiri mereka berdua.
“Weeiii ayo buruan!.” Seru Andik.
“Tunggu ada hal penting ini!." Ilham menjawab.
“Hal penting apa?."
Ilham tidak menjawab dia malah memperlihatkan layar handphonenya ke Andik.
“Itu kan?!.” terkaget.
“Iya...istrinya mas Hasan.”
“Terus itu dikirim ke siapa?.” tanya Andik
“Ya ke mas Hasan lah!.” Jawan Ilyas santai.
“Hehhhh...kalian kok langsung main kirim nggak mikirin perasaan mas Hasan dulu?!.”
“Ya Allah iya!.” Ilham tersadar.
“Ini sama halnya kita ngerusak hubungan rumah tangga orang tahu!."
“Iya terus gimana ini?!.” tanya Ilham panik.
“Uda terkirim?.”
“Udah....”
“Dibuka belum?!."
“Kayaknya belum.”
“Buruan hapus sebelum dibuka!.”
Ilham langsung mengecek kiriman itu berharap Hasan masih dikelas dan belum membukanya. Dia berniat untuk menghapus kiriman itu tapi ternyata centang dua sudah berwarna biru.
“Gimana ini mas Hasan uda lihat?!.” Ilham panik.
Tiba-tiba chat masuk dihandphonenya, dengan cepat Ilham membukanya sementara kedua temannya juga ikut mengamati.
“Dapat dari mana?.” chat Hasan.
“Mau dibalas gimana ini?!." Ilham panik.
“Nggak usah dibalas!." Sambung Ilyas.
Namun chat berikutnya masuk lagi dan Ilham segera membacanya.
“Mas tanya dapet dari mana foto sama rekaman itu?.”
“Maaf Mas.” akhirnya membalas chat Hasan.
“Bukan maaf yang mas tanyain.” Balasan chat dari Hasan.
“Maaf Mas.” Chat Ilham
“Dapet dari mana foto sama rekaman itu?." chat Hasan
“Barusan nggak sengaja ngelihat.” Chat Ilham.
“Ada dimana kalian?." chat Hasan
“Ada di mall x.” Membalas chat
“Ok” chat Hasan.
Kemarah Hasan kembali berkobar setelah mendapat chat dari Ilham dan memastikannnya. Rasanya ingin
sekali menelan Naura dan merontokkan semua gigi pria itu bahkan mematahkan kedua kakinya. Hasan mencoba menghubungi Naura beberpa kali namun tidak ada jawaban, dan itu semakin membuatnya marah. Dia yang sebenarnya ada kelas setelah jam istirahat siang justru melewatinya. Pikirannya hanya tertuju pada butik untuk menemui Naura.
Dia segera tancap gas begitu menyalakan mesin, jalanan yang lumayan ramai tidak menjadi hambatan ketika
kemarahan menguasainya. Tak seberapa lama sepeda motor itu tiba dibutik. Dan dengan langkah cepat dia masuk kedalam.
“Maaf mas mba Naura lagi keluar...belum dateng” seru Lisa menghampirinya.
“Saya tahu” ucap Hasan tanpa menoleh.
Langkahnya begitu mantap menaiki tangga dan langsung masuk keruangan kerja Naura. Ruangan
itu kosong jadi kebenaran soal foto dan rekaman itu sangat terbukti. Dengan kesal dia menjatuhkan badannya dikursi tamu dan menunggu Naura.
Dari detik berganti ke menit tapi Naura belu juga kembali, Hasan terus menunggu bahkan dia sampai tertidur dikursi tamu itu. Sejam kemudian Naura kembali dengan Andy, mereka berdua memasuki butik dan langsung dihadang oleh Lisa.
“Kenapa Lis kok ketakutan gitu?” tanya Naura.
“Itu mba ada suami mba Naura diatas!”
“Apa?!’ Naura kaget.
“Iya mba sudah dari tadi datengnya...lumayan lama” Lisa menerangkan.
Andy tertawa mendengar penjelasan Lisa, dengan semangat dia naik keatas namun tidak demikian dengan Naura, ada perasaan takut menghinggapi hatinya.
Dengan langkah was – was dia mengikuti Andy dari belakang, dan benar Hasan ada disana dan dia tertidur dikursi. Namun segera Hasan terbangun begitu mendengar langkah kaki mendekatinya. Matanya dibuat kaget ketika Naura datang bersama dengan Andy dan bahkan Andy tidak terlihat gugup sama sekali, dia malah memberikan senyum
sok polos pada Hasan.
Hasan yang merasa diejek dan ditantang oleh Andy langsung melangkah kedepan. Dengan tatapan marah dan waspada dia menatap Andy yang justru terlihat santai.
“Apa ucapanku kemaren perlu pembuktian?!” ucap Hasan dingin.
Andy tidak menjawab dia justru tersenyum dan itu membuat Hasan tidak terkendali lagi. Pukulan keras segera mendarat dipipinya dan membuat bibirnya berdarah. Naura yang kaget dan tidak percaya Hasan benar-benar akan melakukannya menutup mulut dengan kedua tangannya. Segera dia berlari ke arah Hasan dan mencoba menghentikan tangan Hasan yang hendak memukul Andy lagi.
“Cukup...hentikan, jangan pukul dia aku mohon” ucapnya
Namun Hasan tidak mengindahkannya, dia hendak memukul kembali Andy sebelum Naura memeluknya dengan kuat.
“Aku mohon jangan lakukan itu” pintanya dengan memelas.
Pandangan Hasan segera beralih ke Naura yang membenamkan kepalanya di dada Hasan. Dia mengangkat dagu Naura dan berkata padanya,
“Jika itu menyangkut dirimu aku tidak akan pernah bermain-main...tolong jangan membuat hatiku marah”
ucapnya serius tak kala menatap mata Naura.
Naura yang bingung harus berkata dan berbuat apa kembali membenamkan kepalanya didada Hasan.
Andy yang menyaksiksikan adegan romantis itu segera pergi namun sebelum melangkah dia berkata,
“Naura jangan khawatir aku tidak apa apa...sampai ketemu besok” ucapnya dan menghilang dari hadapan
keduanya yang masih berpelukan.
Air mata masih membasahi pipi Naura dan juga membasahi kemeja yang dikenakan Hasan. Sambil memeluknya Hasan menuntun Naura ke kursi tamu dan merebahkannya dikursi lalu dia pun duduk disamping Naura.
“Aku ambilin air minum dulu ya!” ucapnya dan bangkit dari kursi.
Beberapa detik setelahnya dia kembali dengan segelas air dan membantu Naura meneguknya.
“Maafin mas ya” sambil menarik Naura, merebahkan kepala Naura dipundaknya dan melingkarkan tangannya
dipinggang Naura.
Posisi itu terus bertahan dalam beberapa menit sebelum Hasan mengecup kepala Naura dan berlalu dari tempat itu untuk kembali ke kampus.
“Mas balik ya ke kampus”
---
Di kediaman pak Malik
Pak Malik terus mondar mandir diruang kerjanya, dia menjadi semakin cemas dan kasian dengan Hasan, dia sama
sekali tidak setuju dengan apa yang dilakukan anaknya dan juga keponakannya itu. Bik Siti yang melihat kecemasan diwajah tuannya itu dengan langkah pelan mencoba mendekatinya.
“Tuan ada apa...kok kelihatan nggak nyaman” tanya bik Siti.
“Iya bik Nana bikin pusing aja” keluh pak Malik.
“Bikin pusing gimana tuan?”
“Masak mau ngerjain suaminya sendiri”
“Maksudnya tuan?”
“Dia sama Andy pura-pura pacaran dan saya disuruh diam”
Bik Siti tertawa kecil mendengar penjelasan tuannya itu, pak Malik yang merasa bik Siti tidak berempati padanya dengan kesal meminta bik Siti kembali kebelakang.
“Tuan jangan cemas...itu artinya Non sedang mengetes den Hasan” ujar bik Siti sebelum kembali kebelakang.
“Maksudnya bik?!” pak Malik tidak mengerti.
“Intinya Non pengen tahu apakah den Hasan ada perasaan sama dia apa nggak”
Pak Malik terkaget mendengar penjelasan bik Siti, dia bahkan tidak berpikir kalau bik Siti jauh lebih peka
dari pada dirinya. Senyum lebar menghiasi wajah pak Malik tapi senyumnya menghilang seketika tak kala teringat dengan menantunya. Hatinya terus berkecamuk antara membiarkan atau memberitahu Hasan. Setelah berpikir cukup keras dia pun memberitahu Hasan melalui sambungan telepon.
“Iya Pa assalamualaikum” begitu panggilan tersambung.
“Waalaikumussalam...masih dikampus Nak?!”
“Habis dari luar tapi ini uda dikampus lagi...ada apa Pa?”
“Nggak ada apa-apa...papa cuma mau ngasih tau dalam minggu ini papa Jim mau berkunjung.”
“Ohhh...apa yang harus saya bantu Pa?”
“Nggak ada...cuma Andy anaknya papa Jim dateng duluan, papa rencananya mau ngajak dia makan malam dirumah besok”
“Andy?!” terkaget dan teringat dengan pria bernama Andy yang dia pukul tadi.
“Iya Andy sepupunya Nana...dia udah disini tapi langsung tinggal di apartemennya Nana, mereka emang lengket kayak lem”
“Mau ngerajian aku rupanya...Ok aku ikutin permainannya” batin Hasan sambil tersenyum licik namun tetap merasa bersalah karena sudah memukulnya.
“Apa Papa mau saya ngelakuin sesuatu?!”
“Tidak Nak...papa cuma ngasih tau aja”
“Ohhh...”
Begitu panggilan diakhiri Hasan berjalan menuju gedung kampus sambil berpikir balasan apa yang harus dia lakukan ke istrinya.