NovelToon NovelToon
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Antagonis / Fantasi Wanita
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Riyana Biru

"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"

Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.

Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.

Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.

Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Logika Manajer di Antara Karung Cengkeh

Uap hangat sisa mandi tadi masih menempel di kulit Rosie saat dia melangkah pelan menuju kamar dengan bantuan Laras dan Gendis. Begitu pintu kain tersingkap, pemandangan di dalam ruangan itu membuatnya melebarkan mata.

Di atas balai-balai kayu, tumpukan kain sudah disiapkan. Semuanya berwarna merah. Ada merah darah, merah bata yang sedikit kusam, hingga merah terang yang menyilaukan mata jika terkena pantulan cahaya lampu minyak. Selain itu, yang membuatnya berbeda hanyalah beberapa motif atau polos.

"Kenapa warnanya ini lagi?" tanya Rosie sambil menunjuk tumpukan kain itu dengan wajah kesal.

Laras membungkuk dalam, tangannya masih sibuk merapikan lipatan kain jarik. "Ampun, Nona. Bukankah Nona sendiri yang meminta agar semua pakaian Nona harus sewarna dengan nama Nona? Nona bilang warna lain hanya cocok untuk pelayan atau orang rendahan."

Rosie mendengus sambil membiarkan kedua pelayan itu melilitkan kain kemben ke tubuhnya. Dia baru menyadari kalau pemilik asli tubuh ini benar-benar terobsesi dengan warna merah. Sepertinya seluruh isi lemari kayunya adalah gradasi warna merah yang acak-acakan.

Setelah urusan berpakaian selesai, Gendis berlutut di bawah kakinya sambil membawa nampan kecil. "Nona, pergelangan kaki Nona semakin membiru. Saya akan memanggil Tabib sekarang agar Nona diberikan ramuan penghancur darah beku," ucap Gendis dengan nada cemas yang berlebihan.

"Enggak usah. Apaan sih, dikit-dikit Tabib, dikit-dikit Tabib," potong Rosie dengan cepat. Dia merinding, mengingat aroma ramuan Tabib yang sempat membuatnya pingsan sebelumnya. "Cuma terkilir sedikit. Enggak usah lebay."

Laras dan Gendis saling berpandangan bingung mendengar istilah baru itu. "Lebay? Apa itu jenis penyakit baru, Nona?"

"Bukan. Maksudku, jangan berlebihan," jawab Rosie sambil menghela napas. Dia menatap kakinya yang memang membiru. "Kalian punya minyak urut? Minyak yang ada campuran jahe atau serai?"

"Kami punya minyak kelapa yang sudah dicampur dengan rempah hangat untuk para pekerja gudang, Nona," jawab Gendis ragu-ragu.

"Ambilkan itu."

Begitu minyak itu sampai di tangannya, Rosie mulai mengurut kakinya sendiri dengan gerakan yang terampil. Meskipun dia budak korporat Jakarta yang sehari-hari berkutat dengan berkas, dia paham sedikit tentang pengobatan tradisional berkat ibunya di dunia nyata.

Aroma pedas jahe dan minyak kelapa mulai memenuhi ruangan, memberikan sensasi hangat yang nyaman. Laras dan Gendis hanya bisa melongo melihat majikan mereka melakukan hal yang seharusnya menjadi tugas pelayan paling rendah.

Rosie menghabiskan waktu istirahatnya sampai matahari tepat berada di atas kepala. Namun, keheningan kamar yang hanya dihiasi suara embusan angin dan kicauan burung dari celah bambu, mulai membuatnya bosan setengah mati. Tidak ada ponsel untuk sekadar menggulir media sosial, tidak ada drama untuk ditonton.

Sayup-sayup, suara berisik terdengar dari arah lain di kediaman. Bunyi karung dijatuhkan ke lantai, gesekan benda berat yang diseret, serta suara dua laki-laki saling bersahutan memecah kesunyian kamar.

"Gendis! Laras! Itu bunyi apa? Aku jadi penasaran," kata Rosie tiba-tiba sambil bangkit dari dipan.

Kedua pelayan itu tersentak. "Nona, kaki Nona masih sakit! Nyonya Besar memerintahkan Nona untuk tetap diam di kamar," cegah Laras dengan wajah pucat.

"Bosan tahu enggak. Cuma ke depan aja kok. Ayo!"

Dengan langkah yang sedikit pincang, Rosie berjalan menuju bangunan besar di sisi timur kediaman. Aroma cengkeh dan kayu manis yang sangat kuat mulai menyambut indra penciumannya. Dia sampai di depan pintu kayu jati yang kokoh, tempat di mana Jaka dan Wira tadi sibuk memindahkan karung.

Di dalam gudang, hawa panas bercampur aroma rempah langsung menyergap. Karung-karung besar bertumpuk tanpa pola, sebagian nyaris menutup jalur masuk. Di tengah kekacauan itu, seorang wanita tua berdiri tegak, seolah menjadi poros dari semua kesibukan.

Tangannya menggenggam beberapa batang lidi kering. Ujung-ujungnya hitam oleh arang.

Mbok Sum.

Rosie mengerutkan dahi. "Mbok ... itu apa?" tanyanya sambil menunjuk lidi-lidi di tangan wanita itu.

Mbok Sum menoleh. Matanya membesar sesaat sebelum segera menunduk hormat. "Astaga, Nona. Anginnya panas, debunya tebal. Nona seharusnya tidak ke sini."

"Aku tanya itu," potong Rosie. "Kenapa Mbok pegang lidi?"

Mbok Sum ragu sejenak. Dia lalu mendekat, menurunkan suaranya, seolah sedang membuka rahasia rumah. "Ini penanda hitung, Nona."

Dia mengangkat satu batang lidi. "Yang ini satu karung cengkeh." Lalu dua lidi lain yang diikat tipis dengan serat daun. "Yang ini kayu manis. Kalau sudah sepuluh, kami ikat. Kalau lebih, kami beri arang di ujungnya."

Rosie menatap lidi-lidi itu lebih saksama. "Jadi ... semua karung di gudang ini dihitung pakai ini?"

"Iya, Nona." Mbok Sum mengangguk pelan. "Sejak dulu begitu. Kalau Tuan Besar belum pulang dari kerajaan, kami hanya mencatat dengan lidi. Nanti setelah beliau datang, baru dipindahkan ke buku."

Rosie melirik buku bersampul kulit kusam yang tergeletak di meja rendah. "Buku itu?"

Mbok Sum mengambilnya dan menyerahkan dengan dua tangan. "Tulisan Tuan Besar. Kami tidak berani menambah atau mengurangi."

Rosie mengambil buku itu dan membukanya dengan rasa penasaran yang besar. Matanya membelalak. Dia mengira akan melihat aksara kuno yang rumit, tapi ternyata tulisan di dalamnya menggunakan huruf-huruf biasa seperti A, B, dan C.

Apa karena ini negeri dongeng, jadi bahasanya disesuaikan supaya aku enggak pusing? pikir Rosie dalam hati.

Dia merasa sangat terbantu. Namun, saat dia melihat isinya, ingin sekali melempar buku itu ke wajah seseorang. Pembukuannya sangat kacau.

Angka-angka tidak berurutan, banyak coretan yang tidak jelas, dan sistem pencatatannya benar-benar primitif. Hanya ada tulisan "Sepuluh karung dari pasar bawah" atau "Lima keranjang kayu manis dari tepi hutan" tanpa tanggal dan kategori yang jelas.

"Ini ..." dia menelan ludah, "... ini kacau."

Mbok Sum menegang. "Ampun, Nona."

"Bukan salah Mbok," sahut Rosie cepat. Dia mengibaskan tangan. "Tapi sistemnya."

Dia mengangkat satu lidi lagi. "Lidi ini cuma bilang jumlah. Tapi enggak bilang kapan datang, ditaruh di mana, dan yang mana duluan harus keluar."

Mbok Sum terdiam.

"Ini berantakan banget," gumam Rosie pelan. Dia kemudian beralih menatap Jaka dan Wira yang berdiri kaku di pojok gudang. "Kalian menumpuk karung ini berdasarkan apa?"

Jaka menggaruk kepalanya yang tertutup udeng. "Ya ... di mana saja ada tempat yang kosong, Nona."

Rosie menghela napas panjang. "Nah. Itu masalahnya.”

Rosie berjalan ke tengah gudang, mengabaikan debu yang menempel di kemben merahnya. Dia menunjuk tumpukan karung cengkeh yang menghalangi jalan masuk. "Ini enggak efisien. Kalau kalian menumpuk semuanya di depan, gimana kalian mau mengambil karung yang ada di belakang? Kalian harus memindahkan yang depan dulu hanya untuk mengambil satu karung di pojok? Itu buang-buang tenaga!"

Jaka dan Wira hanya melongo, tidak mengerti apa maksud kata 'efisien'.

"Dengar ya," Rosie mulai memasang mode manajer operasionalnya. "Kalian harus membagi gudang ini jadi beberapa area. Cengkeh di sisi kiri, kayu manis di sisi kanan, kapulaga di tengah. Dan buat jalan setapak di antara tumpukan itu supaya kita bisa lewat. Gunakan sistem barang yang masuk duluan harus keluar duluan. Jangan karung yang baru datang malah diletakkan di paling depan!"

Mbok Sum mendekat dengan kening berkerut. "Nona, apa yang Nona bicarakan itu terdengar sangat aneh, tapi ... ada benarnya."

"Ya, jelas masuk akal! Ini dasar manajemen logistik!" seru Rosie gemas. "Jaka, Wira, mulai sekarang jangan asal lempar karung. Kalian harus hitung ulang dan tata ulang sesuai arahanku. Aku akan membantu merapikan catatan ini supaya saat Ayah pulang, dia enggak perlu pusing melihat coretan lidi kalian."

Jaka dan Wira segera bergerak dengan wajah panik sekaligus kagum. Mereka belum pernah melihat Nona Merah begitu peduli pada debu gudang, apalagi sampai mengerti cara mengatur barang-barang berat.

"Nona benar-benar beda sejak bangun kemarin," bisik Wira kepada Jaka sambil mengangkat karung cengkeh.

"Mungkin benar kata orang, roh yang masuk ke tubuh Nona adalah roh dari gunung," jawab Jaka dengan suara pelan.

Rosie duduk di atas sebuah peti kayu kosong, mulai mencorat-coret buku pembukuan itu dengan arang kecil yang dia temukan. Dia merasa lebih hidup saat bekerja dengan angka dan sistem, jauh lebih baik daripada harus duduk diam meratapi nasib di dalam kamar yang bau apek.

"Oke, mari kita buat revolusi di Kediaman Jati Jajar," bisiknya penuh semangat.

1
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
kapan sih topeng palsunya putih ketahuan sama rosie?
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 nanti
total 1 replies
sang senja
sebagai wanita modern jangan mau di tindas dong Rosi
sang senja
bagus Thor
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 boleh
total 3 replies
lin sya
thor koq updatenya lama trus cuma 1 bab sdikit kali, saya tdk puas bacanya /Smile/
lin sya: iya kk author 👍😄
total 2 replies
MayAyunda
keren 👍
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: makasih 😍
total 1 replies
Marine
semangat author
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 😍 makasih udh mampir
total 1 replies
Indira Mr
masuk ke tubuh bawang merah😭😭
Indira Mr
sama 😭😭😭
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 sangat relate
total 1 replies
venezuella
jangan kontrak, ayo ikut aku pf lain yang lebih oke daripada ini, bawa cerita ini disana
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: iya udah
total 13 replies
Senjaa
d dunia iniii man phm sih ros 😭
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: /Chuckle/
total 1 replies
Senjaa
kurang bnyk up nya ni
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: /Hey/
total 1 replies
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕
baca dungs gess
Hani Hanita
Rosie walo keras tp ad luucux jg ya
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
bru x ini nemu crita yg bagus bgt, lanjut thorrr
Senjaa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!