Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: FORMASI CANGKANG KURA-KURA LEGENDARIS
Setelah semua urusan pendaftaran aliansi selesai, Bima Samudra mengajak seluruh orang keluar menuju halaman luas Perguruan Anggrek Putih di Desa Ngargoyoso, Karanganyar.
"Untuk apa kita keluar, Nak Bima?" tanya Pak Wijaya, ketua perguruan itu, dengan penuh rasa ingin tahu.
"Aku ingin memasang formasi pelindung di sekte ini, Paman. Agar saat kelak aku tidak berada di sini, kalian semua tetap terlindungi dengan baik," jawab Bima lembut namun tegas.
Berdiri di tengah halaman yang luas itu, Bima mulai menggerakkan tangannya. Cahaya keemasan perlahan memancar dari telapak tangannya, membentuk pola yang rumit namun indah di udara. Semua orang menatap dengan napas tertahan.
Pertama, ia membentangkan Formasi Cangkang Kura-Kura Legendaris — lapisan pertahanan yang kokoh tak tergoyahkan. Di atasnya, ia melapisi dengan Formasi Pembantai Surgawi, di mana bayangan naga dan burung phoenix yang agung tampak melingkari seluruh padepokan dengan gagah.
"Dengan dua formasi ini digabungkan, Perguruan Anggrek Putih akan sekuat gunung berlian. Bahkan sepuluh kultivator tingkat Alam Dewa sekalipun akan hancur sebelum mampu menyentuh gerbang sekte ini," ucap Bima dengan tenang.
Desah napas takjub terdengar di mana-mana.
"Artinya... bahkan para Dewa pun tak akan bisa menembus tempat ini?" bisik seseorang dengan gemetar.
"Tentu saja. Tempat ini sudah seperti rumahku sendiri. Ada orang-orang yang sangat berharga bagiku di sini, dan aku tak akan membiarkan siapa pun menyakiti mereka," jawab Bima tulus.
Mendengar itu, hati seluruh warga Perguruan Anggrek Putih terasa hangat. Kepedulian Bima membuat mereka merasa aman dan dicintai.
Lalu salah seorang pemimpin kerajaan bertanya dengan harap, "Lalu bagaimana dengan kami, Nak Bima?"
"Bukankah kita sudah satu aliansi?" Bima tersenyum lembut. "Jika bahaya datang, kalian semua boleh berlindung di sini. Tempat ini cukup luas untuk menampung banyak orang, sambil menunggu aku datang membela kalian."
Saat semua orang masih terpukau melihat kilauan formasi yang perlahan menyatu dengan udara di sekitar mereka, terdengar langkah kaki mendekat.
Lima wanita muda yang anggun berjalan maju, lalu berlutut di hadapan Bima dengan kepala tertunduk hormat.
"Tuan Muda... kami memohon, izinkan kami menemani hidupmu. Jadikan kami istri atau sekadar pelayanmu, apa pun itu, kami ingin selalu di sisimu," ucap salah seorang dari mereka dengan suara lembut namun mantap.
Bima menghela napas pelan, terlihat sedikit bingung. Amelia dan Intania yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum lembut, memahami keraguannya.
"Nak, di zaman ini, bagi seorang pria sekuat dan sebaik dirimu, memiliki lebih dari satu pendamping adalah hal yang lumrah. Kami semua akan merasa terhormat jika kau bersedia menerima putri-putri kami," ucap salah seorang tetua, sementara di dalam hati mereka sangat berharap Bima akan menjadi bagian dari keluarga mereka.
Bima menatap kelima wanita itu, lalu menoleh ke arah Amelia dan Intania.
"Bagaimana mungkin aku menerima lima orang lagi, sementara hatiku sudah penuh dengan keduanya?" tanyanya lembut.
Amelia dan Intania melangkah mendekat, lalu masing-masing menggenggam tangan kanan dan kirinya.
"Tenanglah, Bima. Keputusan ada di tanganmu. Apa pun yang kau pilih, kami akan mendukungmu," bisik Intania tulus.
"Aku hanyalah manusia biasa. Aku takut tak mampu membahagiakan kalian semua dengan seadil-adilnya," ucap Bima jujur.
Tanpa diduga, kelima wanita itu mengangkat wajah mereka dan berkata dengan satu suara, "Bisa berada di dekatmu saja sudah merupakan kebahagiaan terbesar bagi kami, Tuan Muda."
Intania tersenyum malu sambil berbisik pelan di telinga Bima, "Lagipula... hanya kami berdua saja rasanya belum cukup untuk menemanimu, Bima." Wajahnya memerah indah saat mengatakannya. Bima hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala, namun hatinya terasa hangat.
Kelima wanita itu sungguh-sungguh menawan:
- Melinda, dari keluarga terhormat di Semarang
- Tasya, putri Kerajaan Timur di Pantura
- Ayu Wandira, putri Kerajaan Mataram Baru
- Cherly dan Salsa, dua putri kembar yang cantik dari Sekte Sembilancabang di lereng Gunung Merapi
Mereka masih muda, berseri-seri, dan memiliki keanggunan yang berbeda-beda.
"Semua begitu cantik, bukan?" bisik Intania sambil tersenyum tulus, tanpa rasa cemburu sedikit pun.
Setelah terdiam sejenak dalam keheningan yang penuh harap, Bima akhirnya menarik napas panjang lalu berkata,
"Baiklah. Aku menerima kalian semua. Namun ingatlah, sebentar lagi aku harus pulang ke tempat asalku di Gunung Lawu. Apakah kalian tidak keberatan menjadi istri yang kadang harus menunggu jauh dariku? Belum terlambat untuk mundur. Kalian berhak mendapatkan kebahagiaan yang utuh setiap hari."
Wajah mereka semua bersinar. "Kami tidak menyesal, Tuan Muda. Di mana pun kau berada, hati kami tetap di sisimu."
Bima menatap mereka dengan tatapan yang tulus namun serius.
"Jika kalian memilih jalan ini, ada satu syarat mutlak. Kesetiaan. Jika salah satu dari kalian berkhianat, konsekuensinya bukan hanya jatuhnya nyawa satu orang, tapi seluruh keluarga dan garis keturunan kalian akan musnah dari muka bumi. Aku mampu menghancurkan benua ini jika hatiku terluka oleh pengkhianatan."
Seketika aura Nirvana yang menggetarkan langit dan bumi terlepas dari tubuh Bima. Udara menjadi sedingin es, petir menyambar di langit biru, tanah di bawah kaki mereka bergetar halus. Semua orang merasakan betapa dahsyatnya kekuatan yang tersembunyi di dalam pemuda itu.
Namun melihat wajah-wajah yang ketakutan, Bima segera menarik kembali auranya. Langit kembali cerah, angin sejuk kembali berhembus lembut. Semua orang menghela napas lega, namun rasa hormat dan kagum mereka kini bercampur dengan rasa takut yang sehat.
Meski begitu, ketujuh wanita itu — Amelia, Intania, Melinda, Tasya, Ayu, Sherly, dan Salsa — berdiri tegak dengan tekad yang tak tergoyahkan.
"Kami menerima syaratmu, Bima Samudra. Hidup dan mati kami milikmu," ucap mereka berbarengan.
"Baiklah. Persiapkan pernikahan ini dalam tiga hari ke depan. Selama beberapa hari itu, aku akan pergi sebentar ke suatu tempat."
Wusssssshhh...
Bima lenyap dari hadapan mereka dalam sekejap.
Setelah ia pergi, sorak sorai bahagia pecah di halaman padepokan. Semua orang merasa bangga dan aman — bukan hanya karena Bima akan menjadi kerabat dekat mereka, tapi karena mereka tahu perlindungan terkuat kini ada di tengah-tengah mereka. Pesta terbesar dalam sejarah Ngargoyoso pun mulai dipersiapkan dengan penuh semangat, direncanakan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.
Kelima wanita baru itu ternyata mudah sekali akrab dengan Amelia dan Intania. Mereka duduk bersama, bercerita dan tertawa, saling berbagi harapan dan mimpi. Tak ada rasa cemburu, hanya kebahagiaan yang meluap-luap.
Sementara itu, Bima berdiri di puncak tertinggi Gunung Lawu yang berkabut tipis. Di hadapannya terbentang langit yang luas dan sunyi. Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai menggerakkan kedua tangannya dengan ritme yang khidmat. Ia sedang menyusun pola energi untuk membuka Portal Lintas Ruang dan Waktu. Angin berputar pelan di sekelilingnya, membentuk pusaran cahaya keemasan yang lembut namun stabil.
Berhasil, gumamnya dalam hati dengan senyum bahagia. Kini ia bisa pulang kapan saja, dan kembali ke sini kapan saja ia mau.
Bima pun melangkah turun dari puncak gunung, berkeliling ke pasar-pasar dan kota-kota di sekitar lereng Lawu dan Karanganyar, mencari barang-barang khas yang indah untuk dijadikan oleh-oleh bagi gurunya dan ketujuh kakak seperguruannya di padepokan asalnya. Semua orang yang melihatnya menyapa dengan hormat, banyak yang menawarkan barang terbaik mereka dengan senang hati. Nama Bima Samudra kini dikenal dan dicintai di seantero Tanah Jawa.
Setelah cukup banyak barang yang dikumpulkan, Bima kembali ke Perguruan Anggrek Putih. Suasana di sana begitu ramai dan hangat. Ia berjalan menuju kediaman tempat Amelia dan Intania berada, dan mendapati ketujuh wanita itu sedang duduk melingkar sambil bercerita dengan riang.
Melihat dirinya berdiri di sana dengan tangan kosong namun senyum yang lebar, Bima merasa sedikit canggung.
"Kalian tidak sibuk menyiapkan pesta?" tanyanya sambil tersenyum malu. "Tadi aku berburu seekor rusa besar. Mau kubakar untuk kita makan bersama?"
"Wah, ide yang luar biasa!" seru Intania dengan mata berbinar. "Kau memang jago masak, Bima!"
Mereka pun berjalan bersama menuju kebun belakang yang teduh.
"Di mana buruanmu, Bima?" tanya Amelia penasaran.
"Sekejap..."
Wusssssshhh...
Seekor rusa raksasa yang sudah dibersihkan seketika muncul di tengah halaman belakang, membuat semua wanita itu bersorak takjub.
"Wah... sungguh besar sekali!" seru Meilili kagum.
"Kita tak akan bisa menghabiskannya sendirian," kata Bima sambil menyiapkan kayu bakar dan bumbu rempah rahasianya. "Sisanya bisa kita bagikan kepada semua orang yang sedang bekerja menyiapkan pesta di depan."
Tak lama kemudian, aroma daging panggang yang dibumbui rempah hutan dan madu mulai tercium harum, memenuhi udara di sekeliling padepokan. Perut ketujuh wanita itu seketika berbunyi beriringan, membuat mereka tertawa malu. Aroma lezat itu pun tercium hingga ke halaman depan, membuat siapa pun yang menciumnya bertanya-tanya dengan kagum — siapa yang memasak dengan aroma yang begitu menggugah selera?
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?