Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. Kuil Di Balik Kabut
Pada pagi hari ketiga, rombongan akhirnya mencapai lembah Qingyun.
Jalan yang mereka lalui semakin sempit, diapit oleh tebing-tebing tinggi yang diselimuti lumut. Pohon-pohon pinus tumbuh di lereng, sementara akar-akar tua mencuat dari tanah seperti jari-jari raksasa yang berusaha mencengkeram bebatuan.
Kabut menggantung di antara puncak gunung.
Dari kejauhan terdengar suara air terjun, bergemuruh tanpa henti, menyatu dengan desir angin dan kicauan burung-burung liar.
Di tengah lembah itu berdiri Kuil Qingyun.
Bangunannya tidak semegah istana kerajaan, tetapi memiliki keagungan yang berbeda. Tembok luarnya terbuat dari batu abu-abu, sebagian ditumbuhi lumut hijau. Atap-atapnya berlapis genting gelap, dengan ujung melengkung yang dihiasi lonceng kecil. Sebuah gerbang kayu tua berdiri di antara dua pohon pinus raksasa, sementara jalan setapak dari batu mengarah menuju halaman utama.
Di balik gerbang terdapat aula sembahyang, ruang meditasi, bangunan tempat tinggal para biksuni, dapur umum, dan sebuah taman kecil yang dipenuhi tanaman obat.
Asap tipis mengepul dari cerobong dapur.
Beberapa biksuni menyapu halaman dengan sapu bambu, sementara seorang biksuni tua membawa keranjang sayuran melewati koridor. Tidak ada suara musik upacara, tidak ada pengawal yang mengumumkan kedatangan seorang bangsawan, dan tidak ada pelayan yang berlutut menyambut kereta.
Kuil itu hidup dalam kesederhanaan.
Di tempat itulah Wang Laoyin akan menghabiskan masa pengasingannya.
Ketika kereta berhenti di depan gerbang, seorang biksuni tua berjalan keluar. Usianya mungkin telah melewati enam puluh tahun. Rambutnya dicukur pendek, wajahnya dipenuhi garis-garis halus, dan jubah kelabunya tampak sederhana. Namun, sorot matanya jernih dan tenang, seperti air sumur yang telah menyaksikan pergantian banyak musim.
Namanya Biksuni Jingyuan, pemimpin Kuil Qingyun.
Ia berdiri di depan gerbang, menangkupkan kedua tangan, lalu membungkuk kepada para pengawal.
“Selamat datang di Kuil Qingyun.” Ucapnya dengan nada rendah yang berwibawa
Kepala pengawal turun dari kudanya.
“Kami membawa seorang perempuan berdasarkan titah Raja Han Quan. Ia diperintahkan tinggal di kuil ini dan menjalani kehidupan sebagai biksuni.” Pengawal itu langsung menjelaskan tujuan kedatangan mereka
Biksuni Jingyuan memandang kereta itu bergantian dengan sang pengawal di depannya.
“Siapakah gerangan yang dititah kan Yang mulia Raja untuk menjalankan tugas suci ini?” Tanyanya kemudian, perintah dari kerajaan selama ini jika di bawa masuk dalam kuil terpencil ini hanya bentuk lain dari sebuah hukuman.
Kepala pengawal menjawab tanpa ragu.
“ Nyonya Wang Laoyin.”
Nama itu membuat biksuni tua tersebut terdiam sejenak.
Ia pernah mendengar nama Wang Laoyin dari berita yang dibawa para pedagang dan pengelana. Ia mengetahui bahwa perempuan itu dahulu memiliki kedudukan tinggi di istana, ratu kerajaan tetapi dicopot dari jabatannya setelah sebuah perkara yang belum sepenuhnya jelas.
Namun, ia tidak menunjukkan keterkejutan.
Kepala pengawal menyerahkan gulungan titah.
Biksuni Jingyuan membacanya dengan saksama, kemudian mengembalikannya.
“Baiklah, Kalau begitu,” katanya, “Kuil Qingyun akan menerimanya sebagai penghuni yang berada di bawah tanggung jawab kami.
“Apakah ada hal-hal lain yang berhubungan dengan calon biksuni ini atau semacam ketentuan khusus dari Yang mulia?” Biksuni tua ini sudah sangat berpengalaman tentang pengasingan-pengasingan berdalih menjadi biksuni ini.
“Nyonya Wang Laoyin tidak boleh meninggalkan kuil tanpa izin kerajaan. Ia juga tidak boleh mengirim surat atau menerima kunjungan tanpa persetujuan. Seluruh tindakannya harus mengikuti aturan kuil.” Jawab Pengawal itu.
Biksuni Jingyuan mengangguk.
“Kami memahami ketentuan itu.”
Ia kemudian menoleh kepada para biksuni yang berdiri di belakangnya.
“Bawalah tamu yang dikirim kepada kita ini masuk. Siapkan tempat tinggal dan pakaian sesuai aturan kuil.” Perintahnya.
Pintu kereta dibuka.
Wang Laoyin turun perlahan, wajah itu terlihat nyaris tanpa ekspresi.
Angin gunung segera menyentuh wajahnya. Udara di lembah terasa jauh lebih dingin daripada udara ibu kota, tetapi bersih dan segar. Ia mengangkat pandangan, melihat puncak-puncak gunung yang tertutup kabut, lalu memandang gerbang tua Kuil Qingyun.
Tidak ada singgasana, mahkota atau lukisan naga emas hanya ada sesuatu dalam kesunyian tempat itu yang membuat dadanya terasa sedikit lebih lapang. Rsa tenang yang aneh.
Ia melangkah menuju Biksuni Jingyuan, memberikan salam dengan menangkupkan dua telapak tangannya di depan dada.
Biksuni tua itu menatapnya dengan tenang.
“Apakah engkau mengetahui mengapa engkau dibawa ke tempat ini?” Tanya sang biksuni
“Karena Raja memerintahkan hamba menjalani kehidupan sebagai biksuni.” Jawab Wang Laoyin untuk pertama kalinya bersuara di depan biksuni senior itu.
“Apakah engkau menerima keputusan itu atau hanya keterpaksaan saja?” pertanyaan itu membuat Wang Laoyin terdiam.
Ia dapat saja mengatakan bahwa dirinya tidak menerima hukuman tersebut. Ia dapat menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah, bahwa surat cinta yang digunakan untuk menuduhnya adalah palsu, dan bahwa penyelidikan atas kematian Shen Rui belum selesai.
Namun, ia menyadari bahwa biksuni tua di hadapannya bukanlah orang yang menjatuhkan hukuman itu.
Biksuni Jingyuan hanya menerima seseorang yang dikirim oleh kekuasaan.
“Aku menerima bahwa aku berada di sini,” jawab Wang Laoyin akhirnya. “Namun, aku tidak mengakui kesalahan yang tidak pernah kulakukan.”
Biksuni Jingyuan menatapnya lama.
Kemudian ia mengangguk perlahan.
“Penerimaan dan pengakuan bukanlah hal yang sama.”
Wang Laoyin mengangkat wajah.
“Guru tidak menganggap hamba bersalah?” Tanya Wang Laoyin dengan suara bergetar.
“Aku tidak mengenalmu cukup baik untuk menilai kesalahanmu. Dan aku tidak akan menjadikan desas-desus sebagai dasar untuk menentukan siapa dirimu.” Jawaban bijak tu seperti siraman air yang dingin di hatinya yang belakangan ini seperti bara.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan istana, Wang Laoyin merasakan sesuatu yang menyerupai kehangatan menyentuh hatinya.
Bukan karena ia telah dibebaskan.
Bukan karena seseorang berjanji akan membantunya kembali.
Melainkan karena, setelah berhari-hari diperlakukan sebagai terdakwa, akhirnya ada seseorang yang bersedia mengakui bahwa dirinya belum mengetahui seluruh kebenaran.
Biksuni Jingyuan memberi isyarat agar Wang Laoyin mengikuti mereka. Sementara setelah menurunkan berang Wang Laoyin, pengawal kereta itu segera menuju tepat lain di agian kuil itu bersama seorang biksuni, mungkin mereka perlu beristirahat sebentar sebelum kembali.
“Di kuil ini, engkau tidak akan dipanggil dengan gelar kerajaan. Engkau akan belajar hidup sesuai aturan kami. Engkau akan bangun sebelum fajar, membantu pekerjaan sehari-hari, bermeditasi, membaca kitab, dan menjalankan tugas yang diberikan selayaknya biksuni yang lain menempa spiritual mereka dalam penerimaan sebagai manusia.” Biksuni Jingyuan berucap panjang.
Wang Laoyin mengangguk, dia tak bersuara tetapi terlihat pasrah.
“Apakah engkau pernah menjalani kehidupan seperti ini?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, engkau akan belajar.”
Biksuni Jingyuan berjalan menuju gerbang.
“Di sini, tidak ada seorang pun yang lebih tinggi hanya karena pernah mengenakan mahkota. Orang yang menyapu halaman dan orang yang memimpin doa sama-sama harus belajar mengendalikan dirinya sendiri.”
Wang Laoyin mengikuti langkahnya.
Ketika melewati gerbang Kuil Qingyun, ia menoleh sekali lagi ke arah jalan yang baru dilaluinya. Kereta kerajaan telah berbalik. Para pengawal menaiki kuda masing-masing, lalu bergerak menuruni jalan gunung tanpa menoleh kembali.
Dalam beberapa saat, rombongan itu menghilang di balik kabut.
Wang Laoyin berdiri diam.
Ia telah dibawa jauh dari ibu kota tanpa kesempatan mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, kepada para pelayan yang setia, atau bahkan kepada tempat yang selama bertahun-tahun menjadi rumahnya.
Tidak ada seorang pun yang menemaninya sampai akhir perjalanan.
Tidak ada seorang pun yang menjanjikan bahwa ia akan kembali.
Hanya kabut, gunung, dan sebuah kuil tua yang menunggu di hadapannya.
Wang Laoyin menarik napas panjang, lalu ia berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam halaman, tempat yang akan jadi rumahnya entah sampai kapan langit mengijinkan
(Bersambung yaaaa redersku. Lap yuuuu)