Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Tamu sudah benar-benar pergi, hanya tersisa para pelayan yang mulai membereskan aula. Di kursi rodanya, nyonya Gracia di tuntun oleh pelayan pribadinya, bergerak menghampiri pengantin baru yang bahkan di luar prediksi nya karena pengantin wanita bukanlah perempuan yang selama ini ia inginkan sebagai menantu keluarga Fernandez.
Sebagai kepala keluarga setelah suaminya dan putranya tiada, meski berat namun Gracia tetap harus meluruskan semua ini.
Wanita berusia senja itu menghela napasnya pelan, mata tuanya bergerak menatap Sagara dan gadis di sampingnya yang bahkan ia sendiri belum tahu asal- usulnya, hanya sekedar nama.
“Sagara dan ….” Ingatannya yang sudah tua bahkan sulit mengingat nama yang hanya sekali disebutkan saat akad.
Melihat kebingungan sang nyonya rumah, Aleah lantas segera menimpali. “Aleah.” Jawab gadis itu pelan.
Nyonya Gracia tertegun sesaat, kemudian kepalanya mengangguk pelan isyarat mengerti. “Aku tidak tahu harus berkata apa dalam situasi yang pelik ini, tapi satu hal yang pasti, kalian koni sudah resmi menikah….” Lalu matanya kembali menilik Aleah, kali ini lebih intens dan di dalam pandangan Aleah perempuan berusia senja itu seperti sedang menilai sesuatu di dalam dirinya.
“Mau tak mau, kami harus menganggap mu sebagai menantu keluarga ini.”
Kata yang di keluarkan dengan nada yang seakan menyayangkan dan penuh sesal, membuat Aleah mendadak merasa kecil.
Kata itu, bukan hanya ucapan tapi juga peringatan betapa ia harus tahu diri karena bagaimanapun dunianya dan dunia para konglomerat ini berbeda. Ia bagaikan butiran debu yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam sebuah istana megah.
Aleah lantas mengangguk mengerti, tenggorokannya terasa tercekat dan lidahnya, dia tidak tahu harus mengeluarkan kata-kata apa, mendadak gugup melanda, jadi dia hanya memilih diam.
Melihat bagaimana gadis itu yang tertunduk dalam, nyonya Gracia bukannya tak mengerti dia sedang merasa insecure sekarang. Memang kata- kata yang dikeluarkan nya tadi cukup pedas, tapi mau bagaimana lagi? Jujur ia merasa kecewa dengan pilihan Sagara yang jauh dari standarnya, dari standar keluarga Fernandez, berdasarkan kasta saja mereka berbeda, entah apa yang dipikirkan cucunya tersebut sampai asal memilih perempuan untuk menjadi pendamping hidupnya.
Gracia kembali menghela nafas. Ia kemudian melirik Sagara yang berdiri di samping Aleah dengan wajah tanpa ekspresi.
“Entah apa yang sebenarnya kau pikirkan,Sagara. Nenek tidak akan mempermasalahkan keputusanmu menikah, tapi setidaknya kau bisa memilih seseorang yang latar belakangnya jelas.”
“Nenek.” Sela Sagara singkat.
Gracia menoleh.
“Apa?”
“Pernikahan sudah selesai. Tidak ada gunanya membahas sesuatu yang tidak bisa di ubah.”
Nada suara Sagara terdengar datar, tetapi cukup untuk membuat Gracia mengerutkan kening. “Kau pikir sesederhana itu? Pernikahan mu bukan hanya urusan pribadi mu. Kau pewaris keluarga Fernandez, apapun yang kau lakukan akan menjadi perhatian orang-orang.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau tahu, seharusnya kau tidak membuat keputusan gegabah seperti ini.”
Sagara mengembuskan napas nya pendek. “Nenek bisa membicarakan semua itu dengan ku nanti. Sekarang, biarkan Aleah beristirahat.”
Di sisi lain, Aleah justru melebarkan matanya, dalam hati ia menggerutu seraya menoleh dengan wajah tegang ke pada Sagara. “Sialan si mister angrybird ini, dia malah nyeret- nyeret aku dalam masalahnya. nyonya Gracia pasti akan semakin marah.”
Dan benar saja, Gracia jadi terdiam sesaat, menatap keruh kepada keduanya, lalu menggeleng pelan karena tidak menyangka cucunya akan menjadikan kondisi gadis itu sebagai alasan untuk mengakhiri percakapan.
Tatapannya beralih kepads Aleah. “Kau pasti lelah. Biarkan pelayan mengantar mu ke kamar pengantin.”
“Baik, nek.” Aleah mengangguk sopan.
“Dan satu lagi.” Gracia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kuharap kau memahami bahwa menjadi bagian dari keluarga Fernandez bukan perkara mudah. Ada banyak aturan yang harus kau pelajari. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang dapat mempermalukan keluarga ini.”
Tertegun sesaat, akhirnya Aleah kembali mengangguk. “Aku mengerti.”
Hanya itu yang bisa ia katakan.
Bukan karena ia sepenuhnya setuju, melainkan karena ia tidak ingin memperpanjang persoalan pada hari yang bahkan belum sempat ia pahami.
Gracia kemudian memberi isyarat kepada pelayan pribadinya untuk mendorong kursi rodanya menjauh.
Sagara memperhatikan neneknya hingga wanita itu cukup jauh, kemudian memanggil dua pelayan yang kebetulan lewat lantas menoleh kepada Aleah.
“Ikuti para pelayan itu, mereka akan mengantar mu.”
Aleah mengangkat wajahnya, mendengar perintah itu ia segera mengangguk. Kebetulan sekali dirinya memang sudah sangat ingin pergi dari sini, lantas tanpa berlama-lama ia segera mengikuti dua pelayan itu tanpa protes apapun kepada sang pria.
…
Aleah mengikuti dua orang pelayan yang diutus Sagara melewati koridor panjang yang menghubungkan aula utama dengan sayap pribadi keluarga Fernandez.
Sepanjang perjalanan, ia berusaha memperhatikan jalan yang mereka lewati. Bukan tanpa alasan. Dengan rumah sebesar ini, tersesat hanya akan menambah masalah yang sudah menumpuk di kepalanya.
Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin terasa pula betapa asingnya lingkungan tersebut.
Lantai marmer mengilap di bawah kakinya, lukisan -lukisan mahal menghiasi dinding. Bahkan vas bunga di sudut lorong tampaknya memiliki harga yang cukup untuk membeli rumah sederhana di kampungnya.
Aleah tanpa sadar menelan ludah.
“Baiklah, Aleah. Jangan sampai kau tidak sengaja memecahkan vas, lalu harus bekerja seumur hidup untuk menggantinya.”
Pikiran itu membuatnya menghela napas pelan.
“Apakah kamar pengantinnya masih jauh?” tanyanya.
“Tidak, Nyonya. Sebentar lagi kita sampai.”
Aleah mengangguk, lantas matanya kembali berpendar mengamati ke sekelilingnya, Namun, ketika mereka melewati sebuah persimpangan, ia tanpa sengaja mendengar salah satu pelayan berbisik kepada rekannya.
“Dia benar-benar akan tinggal di sini?”
“Sepertinya begitu. Kasihan Nona Xavia. Padahal semuanya sudah dipersiapkan untuknya.”
Aleah tetap berjalan. Entah apa maksud mereka berdua namun yang pasti dirinya tidak akan diam saja jika mereka sudah mulai menghina.
“Entah apa yang membuat Tuan Sagara menerima perempuan seperti itu.”
“Sudahlah. Jangan keras-keras.”
“Aku hanya heran. Banyak perempuan dari keluarga terpandang yang ingin menikah dengan Tuan Sagara, tetapi akhirnya justru seorang gadis yang tidak dikenal siapa pun.”
Aleah memperlambat langkahnya. Kedua pelayan itu belum menyadari bahwa ia sudah berada tepat di belakang mereka sekarang.
“Kalau begini, kita harus memanggilnya Nyonya mulai sekarang?” lanjut pelayan yang lebih muda.
“Memang mau memanggilnya apa? Pengemis?”
Keduanya kemudian terkikik.
Tap! Aleah berhenti.
Baiklah.
Ia sudah mencoba bersabar sejak tadi. Ia juga sudah berusaha memahami bahwa dirinya memang bukan menantu yang diharapkan keluarga ini.
Namun, ada perbedaan besar antara tidak menyukai seseorang dan sengaja merendahkannya.
Aleah berdeham pelan. “Sudah selesai?”
Wajah keduanya langsung berubah total.”M- maaf nyonya, kami tidak bermaksud —“
“Menghinaku?” Aleah membantu melanjutkan ucapan mereka.
Keduanya sontak terdiam.
Aleah mengangguk, seolah baru saja memperoleh jawaban yang ia butuhkan. “Tidak apa-apa, aku mengerti.”
Kedua pelayan itu tampak sedikit lega, mengira Aleah memang segan kepada mereka, mengingat wanita itu juga sama rendah derajatnya, bahkan dibawah mereka.
Namun mereka justru salah besar.
Aleah belum selesai.
“Memang sulit menerima kenyataan ketika seseorang yang kalian anggap tidak pantas, justru mendapatkan sesuatu yang kalian anggap berharga,” ucapnya dengan masih memasang senyum.
“Tapi kalian tidak perlu khawatir, aku tidak datang kesini untuk merebut pekerjaan siapapun.” Kalimat sarkasnya begitu menohok. Pelayan yang lebih muda seketika menunduk, sementara yang lebih tua berusaha mempertahankan wajah angkuh nya.
“Kami hanya mengatakan kenyataan, Nyonya. Bukankah Tuan Sagara seharusnya menikah dengan perempuan yang sepadan dengannya?” Si pelayan tua tak segan berkomentar.
Aleah justru mengangguk mantap. “Benar. Tuan Sagara memang pantas mendapatkan yang terbaik.”
Kedua pelayan itu saling pandang. Mereka tidak menyangka Aleah akan menyetujui ucapan tersebut.
Namun, Aleah kemudian melanjutkan dengan santai. “Sayangnya, keputusan itu bukan dibuat oleh kalian.”
Kali ini senyum di wajahnya semakin lebar. “Jadi, daripada sibuk menentukan siapa yang pantas menjadi istri Tuan Sagara, bukankah lebih baik kalian memastikan pekerjaan kalian sendiri selesai dengan baik?”
Pelayan yang lebih tua langsung terdiam.
Aleah kembali melangkah, tetapi baru beberapa langkah, ia mendengar gumaman kecil dari belakang.
“Dasar gadis kampung.”
Kali ini, Aleah benar-benar berhenti.
Ia lantas menoleh perlahan. “Maaf, tadi kau mengatakan sesuatu?”
Pelayan itu langsung menegang.
“Tidak, Nyonya.” Buru-buru ia menggeleng cepat.
“Benarkah?”
Aleah berjalan mendekat. Tidak terburu-buru, tidak pula dengan wajah marah. Justru ketenangannya membuat kedua pelayan itu semakin gugup.
“Kalau aku tidak salah dengar, kau baru saja menyebutku gadis kampung.”
Pelayan tersebut menunduk. “Maaf, Nyonya.”
Aleah mengangguk.
“Aku memang berasal dari kampung. Jadi, bagian itu tidak salah.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kedua pelayan tersebut mengangkat wajah.
“Tapi ada yang ingin kutanyakan. Kalau seseorang berasal dari kampung, apakah itu berarti dia otomatis tidak punya sopan santun? Tidak punya harga diri? Atau tidak pantas diperlakukan dengan baik?”
Keduanya tidak menjawab.
Aleah kini tersenyum tipis. “Karena kalau begitu, aku justru penasaran. Kalian bekerja di rumah orang kaya, setiap hari melihat barang mahal, mengenakan seragam yang rapi, dan melayani keluarga terpandang. Tetapi mengapa kalian masih menganggap merendahkan orang lain sebagai sesuatu yang pantas dilakukan?”
Wajah pelayan yang lebih tua memerah.
“Nyonya tidak perlu mengajari kami cara bekerja.” Desisnya, Rupanya dia tidak ada niat untuk patuh ataupun merasa dirinya salah.
“Aku tidak sedang mengajarimu cara bekerja.” Aleah mengangkat alis. “Aku sedang mengingatkanmu cara bersikap.”
Ia menatap mereka bergantian. “Kalau kalian merasa aku tidak pantas menjadi istri tuan Sagara, silakan. Itu hak kalian untuk berpikir demikian. Aku juga tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukaiku.”
Aleah kemudian membenarkan letak gaunnya. “Tapi jangan salah mengira bahwa karena aku tidak bisa memaksa kalian menyukaiku, aku juga tidak bisa meminta kalian menghormatiku.”
Hening, untuk beberapa detik, kedua pelayan itu hanya bisa berdiri mematung.
Aleah akhirnya berbalik. “Ayo. Aku sudah cukup lama berdiri di sini. Kakiku pegal, dan aku ingin beristirahat.”
Dan kali ini, tidak ada lagi yang berani berbisik.