Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 4
Khadafy tertegun, pandangannya terkunci pada pantulan dirinya sendiri di layar laptop yang padam. Di atas kaca hitam itu, wajahnya tampak begitu lelah.
Ia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya, mengusap wajah kasar. Semua ingatan selama beberapa bulan terakhir berputar cepat di kepalanya. Pesta pernikahan megah yang akan digelar tiga hari lagi, konsep resepsi bernuansa glamour modern, dekorasi bunga impor yang menguras anggaran, hingga pemilihan gaun pengantin yang baru saja diperdebatkan, semuanya murni 100% keinginan Niken.
Khadafy tak pernah sekalipun memprotes. Ia sangat mencintai Niken. Sejak awal berhubungan, Khadafy sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pasangan yang mendukung penuh profesi Niken sebagai model profesional. Ia tak ingin menjadi pria posesif yang membatasi mimpi kekasihnya. Semua keinginan Niken sudah dia penuhi agar mau di ajak menikah. Sulit sekali bagi dia untuk bisa mengajak Niken dalam komitmen pernikahan ini. Dia terlalu mengejar karirnya selama ini.
Namun, cinta itu perlahan terasa seperti jalan satu arah.
Demi menghindari pertengkaran menjelang hari besar mereka, Khadafy memilih untuk terus mengalah. Setiap kali ada perbedaan pendapat, ia menelan suaranya sendiri. Bahkan untuk urusan rumah masa depan mereka, rumah yang Khadafy beli dengan jerih payahnya sendiri, ia menyerahkan seluruh konsep interiornya pada Niken.
Khadafy menyukai rumah bergaya minimalis hangat dengan sentuhan kayu yang tenang. Namun, Niken merombak total desainnya menjadi gaya modern luxury yang serba dingin, penuh cermin besar dan lampu kristal, hanya agar rumah itu kelihatan 'bagus' saat dipamerkan di media sosial.
"Mas mengalah lagi?"
Khadafy teringat bisikan hatinya sendiri. Ya, ia selalu mengalah. Bagi Khadafy, kedamaian hubungan di atas segalanya. Ia rela mengubur seleranya, prinsip kesopanannya, hingga rasa nyamannya demi melihat senyum bahagia di wajah Niken.
Tetapi hari ini, mendapati kenyataan bahwa di balik gemerlap ego Niken ada Zheana yang diperlakukan seperti juru ketik sekaligus pembantu di rumahnya sendiri, ditambah sikap Niken yang tanpa beban membatalkan silaturahmi keluarga besar membuat pertahanan kompromi Khadafy mulai retak.
Untuk pertama kalinya, Khadafy bertanya pada pantulan dirinya di layar laptop itu. Apakah mengalah sedalam ini benar-benar bentuk dari cinta, atau sekadar pembiaran atas kesewenang-wenangan?
Suasana ruang tamu rumah Irma malam itu mendadak menjelma menjadi sangat meriah. Lampu gantung kristal dinyalakan terang-benderang, dan aroma gulai serta rendang buatan Zheana memenuhi seluruh ruangan.
Irma berdiri tegak di depan pintu utama dengan kebaya sutra terbaiknya. Senyumnya terkembang selebar mungkin, wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan. Ketika dua mobil mewah berhenti tepat di pekarangan rumahnya, mata Irma berbinar terang.
"Aduh, Bagus! Cepat berdiri di sampingku!" bisik Irma menyikut rusuk suaminya dengan penuh penekanan.
"Itu rombongan keluarga Pak Haris sudah sampai! Mobilnya saja ada dua, mewah semua! Jangan bikin malu ya!"
Pak Bagus hanya mengangguk pelan, berusaha tersenyum meski wajahnya masih menyimpan rasa lelah.
Begitu pintu rumah terbuka, Irma langsung menyambut orang tua Khadafy dengan suara melengking nan ramah.
"Selamat malam! Ya ampun, Jeng Rina, Pak Haris! Akhirnya sampai juga... Mari, mari masuk! Kami sudah menantikan kedatangan keluarga besar Khadafy dari tadi sore!"
Ibu Khadafy, Rina, tersenyum hangat sambil menjabat tangan Irma. "Selamat malam, Jeng Irma, Pak Bagus. Maaf ya kami datang agak terlambat, jalurnya lumayan macet tadi."
"Ah, tidak apa-apa, Jeng! Justru kami yang sangat senang," sahut Irma penuh nada pamer, matanya melirik ke arah Tante Lilis dan Om Rudi yang sengaja duduk di sofa utama untuk menonton.
"Ayo duduk, Jeng. Biar saya perkenalkan dengan keluarga besar saya dari kampung yang sengaja datang jauh-jauh buat nyambut keluarga Khadafy."
Khadafy melangkah masuk di barisan paling belakang. Ia mengenakan kemeja batik bernuansa gelap yang sangat rapi, namun matanya sibuk menyapu sekeliling ruangan. Tidak ada Niken di sana. Yang ada hanyalah deretan kerabat Irma yang sibuk memandangi pakaian dan barang-barang bermerek yang dikenakan keluarga Khadafy.
"Ngomong-ngomong, calon pengantin perempuannya mana ya, Jeng Irma? Niken di mana?" tanya Rina ramah, matanya mencari-cari sosok calon menantunya.
Irma langsung tertawa kecil, melambaikan tangannya dengan gerakan dramatis.
"Aduh, Jeng Rina... Niken itu kan model profesional, seharian ini ada pemotretan penting buat cover majalah ternama! Tadi sempat mau dibatalkan, tapi kliennya memohon-mohon. Maklumlah ya, karirnya lagi di puncak-puncak nya sebelum nikah."
"Oh... begitu," jawab Rina pelan. Ada sedikit kerutan kekecewaan di dahi Rina, namun ia berusaha tetap tersenyum sopan.
"Tapi tenang saja, Jeng! Niken sudah titip salam hangat kok buat Calon Ibu Mertuanya yang cantik ini," tambah Irma tanpa canggung, berbohong demi menutupi ketiadaan anaknya.
"Nah, sekarang mari kita ke meja makan! Semua hidangan spesial malam ini kami siapkan khusus untuk menyambut keluarga Khadafy!"
Irma memimpin rombongan menuju meja makan yang dipenuhi berbagai macam lauk pauk lezat. Dengan dada membusung bangga, Irma mulai berkicau di depan Rina dan saudara-saudaranya.
"Ini semua masakan khas keluarga kami, Jeng Rina! Rendang sapi, sup buntut, sama ayam bumbu rujak," pamer Irma sambil menunjuk hidangan yang mengepul harum.
"Kami sengaja tidak mau pakai katering murahan. Niken dan saya mau semuanya terasa istimewa dan hangat untuk menyambut keluarga Khadafy."
Khadafy yang sejak tadi diam, kini menghentikan langkahnya tepat di tepi meja makan. Ia menatap deretan makanan lezat itu dengan rahang yang mengeras. Ia tahu betul siapa yang memasak semua itu dari jam empat subuh hingga matanya sembap dan hampir pingsan di parkiran.
"Wah, kelihatannya enak sekali, Jeng Irma," puji Rina tulus.
"Tentu dong, Jeng! Resep rahasia keluarga," sahut Irma sumringah, lalu menoleh ke arah pintu dapur dan berteriak dengan nada yang mendadak berubah ketus.
"Zhea! Zhea, cepat keluar! Bawa teko teh hangat dan gelas-gelas kristal ke sini! Tamu-tamu sudah pada mau makan nih!"
Zheana keluar dari arah dapur sambil membawa baki kayu berisi teko teh yang masih berasap dan jajaran gelas kristal. Pakaian kerjanya sudah berganti dengan gamis rumahan yang sederhana namun sangat bersih dan santun juga hijab yang senada membingkai wajahnya yang terlihat lelah. Ia menundukkan pandangan, berjalan perlahan tanpa sedikit pun menimbulkan suara berisik.
"Permisi, Ibu... Bapak... silakan teh hangatnya," bisik Zheana lembut.
Tangan jarinya yang halus, meski sedikit kemerahan bekas air sabun dan juga memasak semua makanan yang ada di meja. Dia menuang teh ke dalam cangkir satu per satu dengan amat sigap dan sopan.
Mama Rina tertegun. Pandangannya langsung terkunci pada sosok gadis muda di hadapannya. Berbeda dengan kerabat Irma lainnya yang riuh dan sibuk mengamati barang mewah yang di bawa sebagai hantaran dari keluarganya, gadis ini memancarkan ketenangan yang sangat sejuk. Tatapannya teduh, tutur katanya teratur, dan caranya membawa diri begitu menjaga kehormatan.
Bahkan dia menudukkan pandangannya di hadapan semua orang yang ada di sana. Pakaian yang dia kenakan juga sangat sopan.
"Masya Allah... ini siapa, Jeng Irma?" tanya Mama Rina dengan mata berbinar, mengabaikan ocehan Irma yang tadi sibuk memamerkan masakan. Irma mengibaskan tangannya meremehkan.