Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Matahari pagi merayap naik, menyinari sudut-sudut kota dengan sengatan panas yang mulai terasa menyengat.
Di beranda paviliunnya, Bima duduk santai di atas kursi plastik, menikmati hembusan angin pagi sambil menyeruput pelan kopi hitam hangat racikannya sendiri.
"Semuanya sudah berjalan tepat seperti garis rencana," gumam Bima pelan dalam hati, sudut bibirnya terangkat sebelah.
Layar laptop di hadapannya menyala terang, menampilkan laporan keuangan terkini dari jaringan perusahaan cangkang yang dikendalikannya.
Bip...
Suara notifikasi pesan mendadak memecah kesunyian, berdering nyaring dari ponsel yang tergeletak di atas meja.
Tanpa terburu-buru, Bima meraih ponsel itu dan membuka pesan dari Rian, sang broker kepercayaan yang menjadi tangan kanannya.
"Tuan Bima, klausul jebakan dalam kontrak pinjaman maut itu sudah berhasil kita aktifkan pagi ini," bunyi pesan singkat dari Rian.
Sebuah senyum tipis terukir di wajah Bima, menyembunyikan gelombang kepuasan yang luar biasa di balik tatapan matanya yang tajam.
"Bagus. Kirimkan surat teguran keras itu sekarang juga ke kantor Hendra tanpa jeda," balas Bima dengan ketukan jari yang cepat di layar.
Pinjaman senilai sepuluh miliar rupiah dengan jeratan bunga yang mencekik itu memang sengaja dirancang memiliki klausul tersembunyi yang mematikan.
Sesuai perjanjian, jika dalam waktu singkat perusahaan peminjam gagal menunjukkan agunan tambahan, maka seluruh aset pabrik utama akan langsung disita tanpa kompromi.
Dan tentu saja, kenyataannya brankas kas perusahaan Hendra kini sudah kosong melompong, jangankan uang tunai, sisa receh pun tak bersisa.
Berbanding terbalik dengan ketenangan Bima, suasana di dalam ruang kerja utama kantor pusat PT Cipta Sentosa justru terasa sangat mencekam dan penuh tekanan.
Hendra terduduk kaku di kursi kebesarannya. Wajahnya pucat pasi, sementara matanya memerah legam akibat diterpa insomnia dan kecemasan sepanjang malam.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu terdengar tiga kali berturut-turut, cepat dan menyiratkan kepanikan yang mendalam.
"Masuk!" seru Hendra dengan suara serak yang hampir hilang ditelan tenggorokan.
Seorang staf divisi keuangan mendorong pintu, melangkah masuk dengan napas memburu dan tangan gemetar menggenggam selembar amplop cokelat yang tebal.
"Ada apa lagi?! Jangan bilang kau membawa masalah baru?!" bentak Hendra meledakkan emosinya seketika, tak mampu lagi menahan diri.
"Pa... Pak Direktur, kita... kita mendapat surat somasi mendadak dari PT Mitra Dana Mandiri," jawab staf itu tergagap, suaranya bergetar hebat karena ketakutan.
Seketika nama lembaga pemberi pinjaman itu meluncur, detak jantung Hendra melonjak liar, memukul dadanya dengan keras.
"Somasi? Bukankah kita baru saja menandatangani kontrak itu semalam?!" teriak Hendra histeris, menolak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
"Pihak mereka mengaktifkan klausul percepatan pelunasan karena nilai saham kita anjlok drastis di bawah batas aman," jelas staf itu sambil menyerahkan amplop tersebut dengan gemetar.
Tanpa buang waktu, Hendra merebut amplop itu dari tangan bawahannya.
Tangannya gemetar hebat saat matanya memindai isi surat tersebut baris demi baris.
"Sialan... ini sama sekali tidak masuk akal!" maki Hendra dengan suara tertahan namun penuh amarah setelah menelan mentah-mentah isi surat ancaman itu.
Tulisannya terpampang nyata,ia wajib melunasi seluruh utang pokok beserta denda akumulasinya dalam kurun waktu satu jam saja, atau pabrik utama akan disita secara paksa hari ini juga.
"Dari mana aku bisa mencari uang tunai sepuluh miliar dalam waktu sesingkat itu?!" keluh Hendra putus asa, tangannya refleks menjambak rambutnya sendiri hingga berantakan.
Di ambang pintu, Rina yang baru saja melangkah masuk membawa setumpuk dokumen mendadak terpaku, terkejut melihat suaminya tampak begitu hancur di balik meja kerja.
"Ada apa sebenarnya, Ayah? Kenapa pagi-pagi buta sudah berteriak penuh amarah begini?" tanya Rina dengan nada cemas yang mulai merayap.
"Kita sudah hancur, Rina! Seluruh perusahaan kita akan disita hari ini juga!" jawab Hendra putus asa, melemparkan surat somasi itu ke atas meja di hadapan istrinya.
Rina menyambar kertas tersebut dan membaca isinya. Seketika itu juga, warna darah di wajahnya menguap, membuatnya tampak pucat pasi layaknya mayat hidup.
"Disita?! Kalau begitu, bagaimana dengan fasilitas mewah dan rumah kita, Ayah?!" teriak Rina histeris, kepanikan langsung melumpuhkan nalar sehatnya.
"Mana aku tahu! Semua aset pribadi kita terikat dan dijaminkan atas nama perusahaan!" bentak Hendra, frustrasi setengah mati hingga urat-urat di lehernya menonjol.
Belum sempat Rina membalas, pintu ruang kerja itu tiba-tiba didobrak dari luar tanpa mengetuk atau memberi aba-aba sedikit pun.
Brak!
Tiga orang pria berbadan kekar dengan setelan jas hitam legam melangkah masuk tanpa diundang, menebar aura intimidasi yang pekat.
"Selamat pagi, Tuan Hendra. Kami dari tim eksekusi aset PT Mitra Dana Mandiri," sapa sang pemimpin penagih dengan nada datar yang dingin dan mematikan.
Hendra dan Rina terperanjat mundur, terkejut luar biasa mendapati segerombolan pria asing berbadan tegap telah berdiri tepat di hadapan meja mereka.
"Kalian mau apa?! Ini ruangan pribadi, kalian tidak punya hak menerobos masuk sembarangan!" protes Hendra, mati-matian mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya.
"Kami datang untuk melaksanakan tugas menyegel pabrik utama serta seluruh aset perusahaan karena batas waktu toleransi pelunasan Anda telah resmi habis," tegas pria itu sambil membentangkan surat kuasa resmi berlambang hukum.
"Tunggu! Kumohon berikan kami waktu beberapa hari lagi untuk melunasinya!" rintih Hendra, kesombongan yang biasa ia pamerkan runtuh seketika, menyisakan permohonan yang menyedihkan.
"Maaf, prosedur dan aturannya sudah tertulis sangat jelas dalam kontrak yang Anda tanda tangani sendiri semalam," jawab pemimpin penagih itu tanpa secercah pun belas kasihan.
Rina langsung jatuh bersimpuh, menangis histeris di sisi suaminya sambil mencengkeram kuat lengan jas Hendra seolah mencari pegangan terakhir.
"Ayah, lakukan sesuatu! Jangan biarkan mereka merampas semuanya dari kita!" tangis Rina meratap pilu.
Di saat bersamaan, Kevin yang baru saja datang ke kantor khusus untuk meminta uang sakunya,muncul di ambang pintu dan ikut melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa sih ribut-ribut begini? Siapa om-om menyeramkan ini?" tanya Kevin acuh tak acuh, sama sekali tidak menyadari betapa gentingnya situasi di sekelilingnya.
"Diam kamu, Kevin! Kita sudah jatuh miskin!" bentak Hendra dengan suara menggelegar, meluapkan seluruh puncak frustrasinya ke arah anak tirinya itu.
Mendengar bentakan itu, Kevin seketika terdiam kaget, matanya membelalak melihat para penagih berjas hitam mulai mengeluarkan gembok raksasa dan gulungan pita penyegelan dari tas mereka.
"Silakan kemasi barang-barang pribadi kalian dalam waktu sepuluh menit.
Gedung ini sekarang resmi kami ambil alih," perintah sang pemimpin dengan nada mutlak tanpa bantahan.
Hendra akhirnya terduduk lemas di atas lantai ruang kerjanya, membiarkan air mata kekalahan mengalir deras tanpa malu di pipinya yang keriput.
Seluruh kekayaan, kedudukan tinggi, serta kesombongan yang telah ia bangun selama belasan tahun lamanya runtuh berkeping-keping hanya dalam hitungan jam.
Sementara itu, jauh dari sana, Bima menikmati sisa kopi panasnya dengan tenang sambil memelototi laporan real-time penyitaan aset yang masuk ke layar laptopnya.
"Ini baru permulaan dari neraka yang sebenarnya untuk kalian," batin Bima, menebar senyum dingin sembari menatap lurus ke luar jendela paviliun.
Babak awal permainan balas dendam ini telah usai, namun penderitaan mereka yang sebenarnya baru saja akan dimulai.