Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 14
BUKAN MCMANAMAN
Di ruang kerja yang berbau kayu tua dan asap cerutu, Sandra duduk berhadapan dengan Vincenzo. Suasana hening, namun ada ketegangan halus yang menyelimuti ruangan itu. Pria tua itu merokok perlahan, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tebal.
"Kau memanggilku?" tanya Sandra memecah keheningan, suaranya tenang namun menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.
Vincenzo mengangguk pelan. "Ada hal yang ingin kubicarakan soal gadis itu — istri Killian."
Sandra menegakkan punggungnya. "Ada apa lagi dengannya? Dia terlihat mencurigakan bukan."
"Kau mengawasinya terlalu ketat," ucapnya datar, matanya tak beralih. "Biarkan dia menyesuaikan diri. Dia bagian dari keluarga ini sekarang."
Sandra tersenyum tipis, namun senyum itu tak sampai ke matanya. "Bagian dari keluarga? Dia darah musuh, Vincenzo. Dan kau akan lihat sendiri — Killian akan memperlakukannya berbeda. Dan kapan pun dia akan mengecewakan mu." Nadanya bergetar, menahan rasa cemburu yang lama tersimpan. "Aku tak ingin Laura McManaman mengakar di sini. Semakin lama dia tinggal, semakin kuat pengaruhnya. Aku ingin dia pergi sebelum merusak apa yang sudah kita bangun. Aku bisa merasakan kalau dia berbeda."
Vincenzo menatapnya tajam. "Pernikahan ini menjaga perdamaian, Sandra.."
"Perdamaian? Kita lihat saja siapa yang akan melanggar nya.”
Vincenzo diam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Berhati-hatilah, Sandra. Jika kau melangkah terlalu jauh, bukan hanya dia yang akan terbakar. Kita semua juga akan sama."
Sandra tak menjawab, hanya menunduk menyembunyikan tatapan yang sudah bertekad bulat.
“Aku selalu menghargai mu sebagai kakak ku, Vincenzo. Tapi jika perdamaian ini tidak bisa berjalan mulus, maka izinkan aku yang akan mengakhirinya.” kata Sandra. “Karena aku juga bagian dari marcano.”
Vincenzo hanya diam menatapnya. “Ya.”
...***...
Sementara itu, di Irlandia, senja mulai mewarnai langit dengan warna jingga kemerahan. Killian berdiri di sudut ruangan yang sempit namun hangat — sebuah pub tua di pinggiran kota. Pemiliknya, pria paruh baya dengan wajah penuh garis pengalaman, meletakkan gelas di meja.
"Tak banyak yang berubah di kediaman itu, Tuan," ucapnya pelan. "Mereka tertutup rapat. Hanya anak kecil yang terlihat sesekali."
Killian mengangguk pelan, menatap cairan di gelasnya tanpa menyentuhnya. "Berapa lama kau menjaga tempat ini?"
“Saat aku seusia anda.”
Killian tak tersenyum dan meneguk habis minumannya.
Tak lama saah seorang anak buahnya masuk berbisik mengenai kabar dari Nico, alisnya mengerut — ada hal baru yang tak terduga. Tentu Killian langsung bangkit dan melenggang keluar. Saat ia hendak membuka pintu mobil, seseorang menabrak lengan kirinya dengan cukup keras.
Brugh!
"Maaf! Maafkan aku." suara itu terdengar cemas dan halus.
Killian menoleh. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda, rambutnya tertiup angin, wajahnya pucat namun matanya jernih dan indah. Saat pandangan mereka bertemu, wanita itu terdiam sejenak, seakan terhenyak melihat wajah pria itu. Namun ia segera menunduk, bergegas pergi tanpa menoleh kembali.
Belum sempat Killian memproses pertemuan singkat itu, beberapa mobil melaju kencang dan berhenti tepat di depan pub sementara yang lain melaju pergi. Pria-pria bertubuh tegap dengan wajah sangar turun, menyebar ke segala arah seakan mencari sesuatu yang hilang. Beberapa masuk ke pub, yang lain berlarian ke arah jalan-jalan kecil di belakang bangunan itu.
Killian menatap sejenak, lalu tangannya berhenti di gagang pintu mobil. Ia tak masuk. Anak buahnya menunggu di dalam, saling berpandangan heran saat melihat bosnya berbalik dan melangkah menjauh — menuju ke arah tempat wanita itu berbelok.
Di balik bangunan kedai, di sudut yang sepi, wanita itu meronta dengan kedua tangannya yang diikat di belakang punggung.
"Lepaskan aku!" suaranya bergetar namun tegas. "Aku tidak mau kembali ke sana! Kalian tulis huh!"
Pria yang berdiri di depannya menyeringai kasar. "Nona, Anda harus segera kembali dan ini perintah."
Belum sempat ia menyentuh wanita itu, sosok muncul dari belakangnya. Tanpa suara, Killian menekan leher pria itu dengan satu gerakan cepat dan kuat. Tubuh pria itu terkulai jatuh tanpa suara.
Wanita itu membelalakkan mata, napasnya tertahan di kerongkongan.
Dua orang lainnya segera berbalik, tangan mereka meraih senjata. Namun Killian bergerak lebih cepat — tanpa gaduh, tanpa teriakan. Ia menendang salah satu hingga jatuh, lalu menginjak kepala pria itu ke tanah saat ia berusaha bangkit. Yang lain menyerang dengan pisau, namun Killian menangkis pergelangan tangannya, memutarnya, lalu mendesak pria itu hingga sisi kepalanya membentur tembok batu lalu menyeretnya ke dinding tersebut.
Darah merembes di dinding, membentuk garis panjang berwarna merah gelap.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanyanya, suara itu dingin dan datar, seakan tak ada emosi di baliknya.
Pria itu tersedak darah, napasnya tersengal. "Ka-kami... Kami hanya menjalankan perintah... Tuan McManaman..."
Krakk!
Killian menekan kepala itu semakin kuat ke tembok, hingga akhirnya tubuh itu terkulai tak sadarkan diri saat terdengar gesekan tulang. Ia berbalik perlahan. Wanita itu merosot ke tanah, gemetar hebat, menatapnya dengan mata yang penuh ketakutan.
"Jangan... jangan bunuh aku," mohonnya pelan, air mata mulai menetes. "Aku mohon, aku, aku tidak ikut campur... aku tidak tahu apa-apa... aku mohon.."
Killian berdiri tepat di hadapannya, menatap lekat-lekat wajah itu, sedikit berkerut alis. "Who are you?" tanyanya, datar dan tajam.
Wanita itu menggigil, suaranya nyaris tak terdengar. "Fi-fi-fiona... Aku... Fiona. Mereka... mereka anak buah ayahku. Aku tidak ikut campur apa pun, Tuan... kumohon, jangan sakiti aku."
Tangan Killian terkepal kuat di sisi tubuhnya.
Fiona. Putri Kieran McManaman yang dikatakan sudah dinikahkan dengannya di New York. Wanita yang seharusnya sudah menjadi istrinya. Lalu siapa gadis yang ada di sana? Siapa yang tidur di kamarnya?
"Tidak akan menyakitimu," ucapnya pelan, lalu berbalik pergi meninggalkan wanita itu yang masih tertegun di tanah.
Belum lama ia pergi, dua anak buahnya tiba di tempat itu. Sebelum Fiona sempat berteriak, ia kehilangan kesadaran dan dibawa pergi dengan tenang — diletakkan di ruang bagasi mobil hitam yang melaju meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobil, Killian duduk diam, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Wajahnya dingin, namun matanya memancarkan amarah yang sedang terkumpul — siap meledak kapan saja. -‘Kieran bajingan itu hanya punya dua anak. Lalu siapa wanita yang dikirimnya ke Marcano?’ batinnya bergemuruh. -‘Siapa dia?’
...***...
Sementara di jalanan New York, mobil yang dikendarai Muchus dan Zoey melaju perlahan. Wajah Zoey tampak menahan kekesalan yang tak tersalurkan.
"Kau tidak menghormati ayahku tadi," ucapnya tiba-tiba, memecah keheningan. "Di hadapan semua orang, kau membuatku malu. Yang benar saja, Tuan Muchus yang terhormat."
Muchus menyeringai kecil, matanya tetap tertuju pada jalanan. "Apa yang sebenarnya kau harapkan dari pernikahan bisnis ini, Zoey? Kita berdua sudah tahu sejak awal — tidak ada cinta di sini. Hanya kesepakatan."
Zoey terdiam. Ia tahu itu benar. Mereka tak saling mencintai, karena hati keduanya sudah tertambat pada orang lain yang tak bisa dimiliki.
"Dan kau terlihat terlalu kecewa," tambah Muchus pelan, tertawa kecil. "Terutama saat kau tahu bukan kau yang dinikahkan dengan Killian. Kau menginginkannya, bukan?"
Wajah Zoey memerah menahan amarah. "Bersyukurlah aku tidak akan mengadukan mu pada Killian tentang apa yang kau lakukan pada Laura," ucapnya tajam. "Kau pikir aku tak tahu apa-apa?"
Muchus menoleh padanya, tatapannya berubah dingin dan penuh ancaman. Namun Zoey tak mundur, justru menyeringai kecil — ia memegang kendali sekarang.