Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Pertemuan Keira dan Mika
Jam dinding di kamar Keira menunjukkan pukul 16.45.
Kemeja kotak-kotaknya sudah berganti dengan kaus biru polos yang sedikit kebesaran, oleh-oleh Sasa tahun lalu, dipadukan dengan celana hitam. Rambutnya juga sudah diikat rapi.
Keira berdiri di depan cermin, menepuk kedua pipinya pelan.
"Oke, Kei. Fokus. Target pertama: bocah tiga tahun setengah. Harusnya lebih gampang daripada menghadapi penagih utang yang suka gedor pintu pakai kayu."
Dua ketukan terdengar dari pintu.
Bik Yani sudah berdiri di sana dengan senyum ramah.
"Mbak Keira, sudah siap? Ayo, saya antar ke kamar Non Mika. Jam segini biasanya lagi main. Tapi kadang rewel kalau ketemu orang baru."
Keira mengangguk dan mengikuti wanita itu.
Mereka menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Rumah besar itu terasa begitu sepi, sampai suara langkah kaki pun hampir nggak terdengar.
Di lantai dua, Bik Yani berhenti di depan sebuah pintu dengan stiker bintang bertuliskan nama MIKA.
"Nanti kalau Non Mika melempar barang, jangan terlalu diambil hati, ya, Mbak. Dia masih bingung menghadapi orang baru."
Keira mengangguk sebelum Bik Yani membuka pintu.
Kamar Mika ternyata lebih mirip taman bermain. Ada kolam bola, perosotan kecil, lemari mainan warna-warni, dan tempat tidur berbentuk mobil.
Di dalam kolam bola, seorang anak perempuan sedang duduk membelakangi pintu. Rambutnya dikuncir dua, sedikit miring, membuat penampilannya terlihat menggemaskan.
"Non Mika, lihat. Bik Yani bawa siapa?" sapa Bik Yani lembut.
Anak itu menoleh.
Begitu melihat Keira, wajahnya langsung berubah. Bibirnya melengkung ke bawah sebelum akhirnya berteriak.
"Nggak mau! Suruh keluar!"
Dua bola plastik langsung melayang ke arah Keira.
BUK!
Satu bola kuning tepat mengenai jidatnya.
"Astaga, Non Mika! Nggak boleh begitu!" tegur Bik Yani.
Keira mengusap jidatnya. Ia malah memperhatikan bola kuning yang menggelinding ke dekat kakinya.
"Waduh," gumamnya. Ia mengambil bola itu, lalu berbisik kepada Bik Yani, "Bik, lemparannya lumayan kuat. Calon atlet ini."
Bik Yani yang tadinya panik hampir tertawa.
"Mbak Keira, malah bercanda."
Keira kemudian berjongkok di depan kolam bola. Mika langsung mundur sampai punggungnya menempel ke dinding, sementara tangannya sudah menggenggam bola biru.
"Awas! Mika lempar lagi!" ancamnya dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Jangan yang biru, dong," ujar Keira santai. "Yang biru rasanya kayak permen karet basi. Kalau mau lempar, yang hijau aja. Rasa kaya melon."
Mika terdiam. Tangannya yang sudah terangkat ikut membeku.
"Bola kok ada rasanya?" tanyanya bingung.
"Ada, lah. Tadi yang kuning kena jidat Mbak Keira rasanya kayak pisang agak sepet."
Keira mengambil bola kuning tadi, lalu berpura-pura mengendusnya.
"Tuh, kan. Pisang Ambon."
Mika menurunkan tangannya sedikit.
"Mbak bohong, ya?"
"Ngapain bohong? Nih, kalau nggak percaya coba sendiri."
Keira menyodorkan bola itu, tetapi Mika langsung menggeleng.
"Nggak mau! Mika nggak mau pengasuh baru! Papi nakal, Mas Ian juga nakal! Semuanya nakal!"
Bola biru kembali dilempar sembarangan. Mika lalu membalikkan badan dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Bik Yani hendak menghampiri, tetapi Keira memberi isyarat agar wanita itu menunggu.
Pandangan Keira beralih ke meja kecil dekat jendela. Ada beberapa kertas origami dan botol lem bekas kegiatan bermain.
Ia mengambil selembar kertas hijau muda. Jemarinya mulai melipat kertas itu dengan cekatan.
Nggak sampai satu menit, kertas itu berubah menjadi katak kecil.
Keira kembali mendekati Mika dan meletakkan katak kertas di tepi kolam.
"Krik... krik..."
Ia menekan bagian belakang katak hingga melompat kecil.
Tik!
Katak itu mendarat tepat di paha Mika.
Isakan bocah itu langsung berhenti. Ia membuka sedikit celah di antara jari-jarinya untuk mengintip.
"Krik... krik... duh, paha siapa nih? Luas banget kayak lapangan bola," ujar Keira dengan suara berat, menggerakkan katak kertas itu.
Mika perlahan menurunkan tangannya. Pipinya masih basah, tetapi sekarang matanya justru tertuju pada katak kecil tersebut.
"Itu apa?" tanyanya sengau.
"Ini Kodok Hijau dari sawah. Dia lagi nyari temannya yang hilang gara-gara nyemplung ke kolam bola."
Mika menyeka hidungnya dengan lengan piyama.
"Kodok kok dari sawah? Kodok kan tinggalnya di kolam!"
Haha... Anak orang kaya.
"Ya, dia lagi mudik, Mika. Naik bus ekonomi yang AC-nya bocor."
Keira menekan bagian belakang katak itu lagi hingga melompat ke pangkuan Mika.
Anak kecil itu spontan tertawa.
Bik Yani yang sejak tadi memperhatikan langsung mengembuskan napas lega.
Mika mengambil katak kertas tersebut dan membolak-baliknya dengan penasaran.
"Mbak bisa bikin burung nggak? Yang sayapnya bisa gerak-gerak?"
"Bisa banget." Keira tersenyum. "Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Mika harus keluar dari sini, cuci tangan, terus duduk di kursi makan. Bik Yani bilang sekarang waktunya makan buah."
Mika kembali cemberut. Namun, tangannya tetap memeluk katak kertas pemberian Keira.
"Tapi burungnya warna kuning, ya. Burung yang suka makan pisang!"
"Siap, Mika!"
Keira memberikan hormat ala prajurit dengan gerakan berlebihan, membuat Mika terkikik.
Akhirnya, Mika mau diangkat keluar dari kolam bola oleh Bik Yani. Wanita itu mengajaknya mencuci tangan di kamar mandi, sementara Keira membereskan bola-bola yang berhamburan.
Namun, saat sedang mengambil bola di dekat pintu, langkah Keira terhenti.
Ada seseorang berdiri di lorong.
Keira perlahan mendongak.
Seorang pria tinggi mengenakan kaus hitam sedang bersandar di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap.
Ian Xavier Mahardika.
Entah sejak kapan pria itu berada di sana.
Tatapannya yang tajam langsung tertuju pada Keira. Nggak ada keramahan sedikit pun di wajahnya.
Keira berdiri sambil memegang bolanya. Ia menatap balik Ian, berusaha nggak menunjukkan kegugupannya.
Ian terkekeh pendek, lalu menegakkan badan dan melangkah mendekati pintu.
"Hebat juga akting kamu."
Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara air dari kamar mandi, tetapi cukup jelas terdengar oleh Keira.
Keira mengernyit.
"Maksud Mas Ian apa?"
semangat Kak 💪💪