Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Pintu ganda ruang rapat utama lantai dasar terbuka dengan suara dentuman pelan. Suasana di dalam ruangan beratap tinggi itu terasa bagaikan medan perang yang mendingin.
Di ujung meja oval marmer putih, Tuan Kaetos Ashford berdiri tegap dengan kedua tangan terkepal kencang di belakang punggung.
Di sisinya, Nyonya Parrie Ashford duduk dengan mata sembab dan saputangan sutra yang basah di genggamannya, sementara Dominic dan Draxler berdiri membisu di sudut ruangan.
Langkah tegap Diedrick yang menggandeng erat jemari Rexana memecah keheningan mencekam itu.
"Kau punya keberanian luar biasa untuk melangkah ke ruangan ini, Diedrick," suara Kaetos menggelegar, dingin dan sarat akan ancaman yang sanggup meruntuhkan reputasi siapa pun di New York.
Mata sang kepala keluarga Ashford menatap tajam ke arah dua tangan yang saling bertaut itu, lalu beralih pada sosok Rexana.
"Dad, Mom, biarkan aku menjelaskan—"
"Menjelaskan apa?!" potong Kaetos dengan suara menggertak yang menggetarkan kaca-kaca ruangan.
"Menjelaskan bagaimana kau mencoreng nama besar Ashford?! Menjelaskan bagaimana foto ranjangmu bersama istri sah pria lain membanjiri seluruh siaran berita nasional jam sepuluh pagi ini?! Arthur Bond baru saja melayangkan surat gertakan melalui pengacaranya. Dia berniat menyeret nama keluarga kita ke jalur hukum atas tuduhan perusakan rumah tangga!"
Parrie mengusap air matanya, menatap Diedrick dengan tatapan terluka seorang ibu. "Diedrick... dari sekian banyak gadis terhormat di kota ini, kenapa harus istri orang lain? Kenapa kau harus menghancurkan hidupmu dan nama keluargamu sendiri?"
Diedrick menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan meja utama.
Cengkeramannya pada tangan Rexana tidak mengendur sedikit pun; justru semakin erat, bagaikan jangkar yang menahan wanita itu dari gelombang kebinasaan.
"Dia tidak pernah menjadi milik pria mana pun, Dad," sahut Diedrick, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi dominasi murni yang tak tergoyahkan.
"Pernikahan itu hanyalah sampah transaksi bisnis yang sudah hancur sejak semalam. Dan jika Arthur Bond ingin membawa hal ini ke jalur hukum... biarkan keparat itu membawa seluruh pasukannya. Aku akan meratakan nama Bond sampai tak tersisa di tanah New York!"
"Tutup mulutmu!" gertak Kaetos, melangkah maju hingga memangkas jarak. "Kau pikir kekuasaanmu bisa menghapus hukum moral?! Aku tidak membesarkan seorang pewaris untuk menjadi pencuri istri orang!"
Diedrick menarik napas panjang, lalu perlahan menundukkan kepalanya sedikit—sebuah tindakan penghormatan dan permohonan maaf yang sangat langka meluncur dari sosok pria arogan tersebut.
"Maafkan aku, Dad... Mom..." ujar Diedrick, suaranya merendah namun diwarnai kejujuran murni yang mengejutkan seluruh isi ruangan.
"Ini bukan salahku karena mencintai istri orang lain. Ini murni darah Ashford yang mengalir di tubuhku... darah yang jika sekali menancapkan hatinya pada satu wanita, maka dia tidak akan pernah bisa berpaling sampai mati!"
Parrie tersentak kaget mendengarnya, sementara Dominic dan Draxler saling bertukar pandang dengan kening berkerut.
Diedrick mendongak kembali, menyunggingkan senyum miring yang sedikit liar dan tanpa beban, mengumbar kata-kata yang meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa disaring:
"Lagi pula, Dad... rahimnya adalah milikku sejak empat tahun lalu. Tidak ada pria lain yang pernah menyentuhnya selain aku. Arthur bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk menidurinya! Dia murni milikku dari ujung rambut sampai telapak kakinya!"
PLAK!
Rexana melotot tak percaya, wajah porselennya memerah padam hingga ke telinga. Tangan kirinya spontan mencubit pinggang Diedrick dengan sangat keras sampai pria itu meringis pelan tanpa melepas genggamannya.
"Diedrick! Tutup mulut gila itu!" bisik Rexana histeris setengah mati, rasanya ingin tenggelam ke dalam lantai marmer karena kepolosannya diumbar secara liar di hadapan calon mertuanya.
Kaetos memijit pelipisnya yang berdenyut kencang, benar-benar dibuat kehabisan kata-kata oleh tingkah vulgar dan kegilaan putra kembarnya.
"Cukup omong kosongmu!" bentak Kaetos penuh ketegasan, lalu menadah tangan kanannya di udara.
"Serahkan dompet, kartu kredit utama, ponsel perusahaan, dan seluruh tanda pengenal hak aset Ashford yang kau pegang sekarang!"
Diedrick mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu, Dad?"
"Kau dicoret dari jabatan direksi utama dan seluruh akses aset Ashford dibekukan sampai skandal ini selesai!" tegas Kaetos.
"Kau akan keluar dari gedung ini tanpa satu sen pun uang atas nama Ashford!"
Dengan helaan napas pasrah, Diedrick merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulit berlambang emas keluarga Ashford dan kartu akses utama, lalu melemparnya ke atas meja di depan ayahnya.
Diedrick menatap dompetnya yang kini berada di tangan Kaetos, lalu menoleh pada Rexana dengan raut wajah melelas penuh komedi yang dibuat-buat.
"Apa itu artinya aku akan miskin sekarang, Dad?" tanya Diedrick dengan nada polos yang menyebalkan.
Pria itu lalu menunjuk Rexana di sampingnya. "Lalu bagaimana caranya aku memberi makan dan menampung calon menantumu ini kalau aku tidak punya uang sepeser pun? Apa kau tega melihat calon menantu cantikmu ini tidur di jalanan bersamaku?"
"Kau—!"
Kaetos nyaris melayangkan pukulan jika Parrie tidak menahannya.
BLAM!
Sebelum perdebatan konyol itu berlanjut lebih jauh, pintu ganda ruang rapat mendadak didorong terbuka secara tidak sopan dari luar!
"Dia tidak akan pernah tidur di jalanan bersamamu, pria Casanova!"
Sebuah suara lantang, berat, dan dipenuhi aura Eropa menggelegar di ambang pintu.
Sosok pria paruh baya berambut perak dengan tongkat kayu berukir emas melangkah masuk dengan gaya sangat berwibawa, didampingi oleh Shopia serta beberapa pengawal pribadi berjas hitam.
Jasper Whitmore telah tiba.
Seluruh isi ruangan mendadak membeku.
Kaetos dan Parrie Ashford membelalakkan mata kaget melihat kehadiran kepala dinasti Whitmore yang sangat dihormati di daratan Eropa tersebut melangkah masuk tanpa pemberitahuan.
"Tuan Whitmore...?" gumam Kaetos terkejut, melangkah satu pijakan menyambut tamu agungnya.
Jasper menghentikan langkahnya di tengah ruangan, mengabaikan uluran tangan formalitas dan langsung memperkenalkan dirinya dengan anggun namun tajam.
"Selamat pagi, Tuan Kaetos Ashford, Nyonya Parrie," ujar Jasper dingin.
"Saya datang bukan untuk urusan aliansi saham yang dibatalkan oleh putra Casanova-mu ini tiga bulan lalu. Saya datang untuk mengambil kembali Mahkota keluarga saya yang hilang."
Pandangan mata Jasper yang tajam dan emosional perlahan bergeser dari Kaetos, berputar lurus menatap sosok wanita berambut pendek yang berdiri di samping Diedrick.
Deg.
Air mata yang ditahan oleh pria paruh baya berkulit tegar itu akhirnya berkaca-kaca di pelupuk matanya.
Garis rahang, bentuk mata, dan aura murni yang dipancarkan oleh Rexana begitu persis dengan istrinya, Beau, serta putri kembarnya, Shopia.
"Rexana..." bisik Jasper dengan suara bergetar yang sarat akan duka dan kerinduan belasan tahun.
Rexana membeku seketika di tempatnya berdiri.
Jantungnya serasa berhenti berdetak seribu detik.
Wanita itu menatap pria paruh baya berwajah tampan matang di hadapannya, lalu melirik Shopia yang tersenyum hangat padanya dengan anggukan pelan.
"Kau..." suara Rexana tercekat di kerongkongan, air mata murni lolos membasahi pipinya yang pucat.
"Kau... ayahku?"
"Ya, Sayang... aku ayahmu," sahut Jasper dengan nada penuh kepedihan yang dalam, melangkah satu pijakan mendekat tanpa menghiraukan keterkejutan keluarga Ashford di sekeliling mereka.
"Aku Jasper Whitmore. Ayah kandungmu yang telah mencarimu selama belasan tahun."
Rexana menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, dadanya terengah-engah menahan hantaman emosi yang luar biasa dahsyat.
Kejanggalan di dalam jiwanya kini terjawab sepenuhnya.
Tidak perlu ada tes DNA atau pembuktian rumit; keberadaan Shopia yang berwajah identik dengannya serta binar kasih murni di mata Jasper sudah cukup menjadi bukti yang tak terbantahkan.
Kenyataan pahit kembali menggaruk dadanya: Betapa tega dan kejinya keluarga Nycekerh selama dua puluh enam tahun ini!
Mereka memanfaatkannya—hanya untuk dijadikan budak, tameng bisnis, dan barang lelang pembayaran hutang!
Jasper kemudian memalingkan pandangannya pada Diedrick dengan sorot mata penuh permusuhan murni.
"Dan untukmu, Diedrick Ashford," tegas Jasper dengan nada suara yang tak menerima bantahan. "Putriku, Rexana Ballerina Whitmore, akan ikut bersamaku pulang ke Eropa hari ini juga! Aku tidak akan pernah membiarkan putriku tinggal bersama pria tak setia yang hobi bergonta-ganti wanita di New York!"
Deg!
Diedrick membelalakkan matanya lebar-lebar, panik murni membakar dadanya saat menyadari sang calon ayah mertua benar-benar serius ingin memisahkan mereka.
"Tunggu, Tuan Whitmore!" pekik Diedrick spontan, menggenggam erat tangan Rexana bagai tak ingin dilepas selamanya.
"Anda tidak bisa membawanya begitu saja! Dia milikku!"
"Milikmu?!" cemooh Jasper sinis.
"Kau baru saja dicoret dari keluargamu, tidak punya uang sepeser pun, dan namamu hancur oleh skandal! Kau tidak punya hak atas putri dari dinasti Whitmore!"
Atmosfer di dalam ruangan itu mendadak meledak dalam perdebatan baru yang jauh lebih sengit.
love sekebon
happy graduation eh happy birthday mksdnya