Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Penyergapan di Lembah Kematian
Perjalanan memasuki Hutan Misti dari arah selatan terbukti menjadi siksaan fisik yang brutal bagi Kelompok Gion.
Berbeda dengan jalan-jalan setapak di pinggiran hutan yang biasa dilalui para pencari kayu, semakin dalam mereka melangkah, semakin lebat vegetasi yang merintangi. Udara berubah menjadi sangat lembap dan berbau busuk. Tanaman rambat berduri sebesar pergelangan tangan memaksa Gion dan Balina bergantian menebas jalur di depan.
"Jaga formasi! Jangan terpisah lebih dari dua langkah!" teriak Gion, menebas sulur tebal dengan pedangnya. Keringat membasahi dahi sang pemimpin kelompok.
Formasi mereka solid. Balina sang Dwarf Warrior berada di garis depan sebagai perisai hidup. Gion di sayap kanan, Rulli si pemanah menutupi sayap kiri, sementara Fibia (penyihir) dan Hansen (penyembuh) dilindungi di bagian tengah.
Selama empat hari perjalanan, hutan itu telah menguji mereka tanpa henti. Mereka diserang oleh sekawanan kelelawar vampir beracun, hampir terperosok ke dalam rawa penghisap yang tersembunyi di bawah dedaunan mati, dan dipaksa bertarung melawan Venom-Spider raksasa di hari ketiga.
Kini, di penghujung hari keempat, seragam dan zirah mereka telah dipenuhi lumpur, goresan, dan noda darah monster liar. Hansen kehabisan sepertiga kapasitas mana-nya hanya untuk menyembuhkan luka-luka gores beracun selama perjalanan, sementara Rulli sudah menghemat anak panahnya karena ia tahu pertarungan sesungguhnya belum dimulai.
Namun, semangat Kelompok Gion belum padam. Di balik rasa lelah yang menggerogoti, ada tekad untuk membuktikan diri.
"Kita hampir sampai," ucap Fibia terengah-engah, melihat ke arah kompas magis di telapak tangannya yang bersinar kemerahan. "Medan mana di depan kita sangat tidak stabil. Sarang koloni serigala itu ada di balik bukit berbatu ini."
Balina menyeka peluh dari wajahnya yang kotor. Dwarf wanita itu mencengkeram erat gagang kapaknya, matanya menyipit menatap formasi bebatuan raksasa yang menyerupai mangkuk lembah alami di depan mereka. "Bagus. Kapakku sudah terlalu lama menebas semak belukar. Aku butuh daging sungguhan."
Dengan langkah mengendap-endap, kelompok yang kelelahan itu merayap naik ke atas formasi bebatuan. Saat mereka mengintip ke bawah, napas mereka serempak tertahan.
Di dasar lembah yang ditumbuhi rerumputan mati, puluhan Serigala Mistik berbulu hitam pekat sedang beristirahat. Ukuran serigala biasa di sana sebesar kuda poni dewasa. Dan di tengah-tengah koloni tersebut, tertidur di atas sebuah batu datar, terbaring sang Alpha.
Monster itu berukuran dua kali lipat lebih besar dari kelompoknya. Bulunya memancarkan aura mana biru redup, dan taring-taringnya mencuat tajam menyerupai belati melengkung.
"Tiga puluh... tidak, empat puluh ekor," bisik Rulli, tangannya sedikit gemetar saat mencengkeram busurnya. "Dan satu Alpha. Gion... apa kau yakin kita bisa mengatasi ini?"
"Kita sudah sejauh ini, Rulli. Tidak ada jalan mundur," jawab Gion pelan, matanya memancarkan tekad seorang komandan. "Hansen, bersiap berikan buff ketahanan fisik untuk Balina. Rulli, bidik mata serigala yang berada di pinggiran untuk memancing mereka mendekat. Balina... tahan garis depan."
"Serahkan padaku," seringai Balina, mengayunkan kapaknya dengan ringan.
Namun, yang tidak disadari oleh kelima petualang itu adalah... mereka bukanlah satu-satunya kelompok pemangsa di lembah tersebut.
Lebih dari tiga puluh menit yang lalu, jauh sebelum Kelompok Gion mencapai bukit berbatu, bayangan-bayangan yang lebih gelap dari malam telah menguasai tepian atas lembah.
Di balik rimbunnya cabang-cabang pohon purba yang menjorok ke arah sarang serigala, Zyrus berjongkok tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Sihir ilusi pembias cahaya menutupi seluruh sosoknya dan belasan Hobgoblin elit yang bersembunyi di dahan-dahan sekitarnya.
Mata ungu Zyrus menatap dingin ke arah bukit berbatu di seberang lembah. Dengan penglihatan sihir malamnya, ia bisa melihat kelima petualang manusia itu sedang mengendap-endap.
Zyrus mengangkat sebelah tangannya, memberikan isyarat tangan militer kepada pasukannya untuk menahan posisi.
"Mangsa telah masuk ke dalam kandang," bisik Zyrus dalam bahasa goblin yang hanya dipahami oleh pasukannya.
Salah satu komandan Hobgoblin di sebelahnya menggeram pelan dan menunjuk ke arah petualang itu. Kita habisi sekarang?
Zyrus menggeleng pelan. Sebuah senyum sinis yang sangat identik dengan kecerdasan analitis ayahnya terbentuk di wajah remaja Pangeran Ungu tersebut. Matanya terkunci pada sosok kerdil berotot padat yang membawa kapak raksasa di antara kelompok petualang itu.
Target Proyek Penempa. Sang Dwarf. Kualitas mana yang memancar dari wanita Dwarf itu memastikan bahwa ia berada di tingkat Rank A.
"Tidak. Biarkan mereka bertarung," desis Zyrus, suaranya sangat dingin dan penuh perhitungan. "Manusia-manusia itu bodoh dan kelelahan. Mereka berlima tidak akan sanggup membantai puluhan Serigala Mistik tanpa menghancurkan batas energi mereka sendiri. Biarkan mereka saling menguras darah dan sihir di bawah sana."
Zyrus menatap Alpha serigala di tengah lembah, lalu kembali menatap kelompok manusia.
"Kita hanya akan turun saat salah satu dari mereka hampir mati. Tangkap Dwarf itu, dan serigala raksasa itu... Ayahanda pasti akan senang melihat kavaleri baru untuk kekaisarannya."
Di seberang lembah, tanpa menyadari mata maut yang sedang mengawasi mereka dari atas kanopi, Gion akhirnya mengangkat pedangnya, memberikan isyarat serangan.
WHUSSS!
Anak panah Rulli melesat membelah udara, menancap tepat di mata salah satu serigala penjaga. Jeritan lolongan kesakitan seketika memecah keheningan lembah, membangunkan sang Alpha dan puluhan monster kelaparan lainnya.
Pertarungan berdarah yang ditunggu-tunggu oleh Pangeran Goblin akhirnya dimulai.