Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
KILAS BALIK — 16 tahun lalu
Erlyn berusia 19 tahun — Om Hendi 35 tahun
Dunia Erlyn yang sempit dan penuh kekurangan runtuh dalam satu malam.
Ayahnya jatuh sakit mendadak, nyeri di kepala yang tak kunjung hilang, napas yang makin sesak, hingga tak sadarkan diri. Para tetangga akhirnya memanggil ambulans dan membawanya ke rumah sakit.
Di sana, di lorong yang berbau obat dan kesedihan, dokter berkata dengan lembut bahwa ayahnya butuh penanganan segera. Ayahnya terkena kanker otak dan butuh kemotherapi yang rutin dan kemungkinan juga akan di operasi. Biayanya sangat besar, jauh di luar kemampuan mereka.
Ibunya sudah lama tiada. Hanya ada Erlyn dan ayahnya. Dan sekarang, satu-satunya orang yang ia miliki terbaring lemah di balik pintu ruang perawatan, sementara tagihan terus menumpuk di meja administrasi.
Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk yang tak berakhir. Erlyn berjalan kaki dari rumah ke rumah, meminjam uang ke kerabat, ke teman ayahnya, ke siapa saja yang mungkin bisa membantu.
Namun jawabannya selalu sama,
maaf, belum ada uang, maaf sedang sulit. Semua orang seakan menjauh saat mendengar angka yang dibutuhkan.
Ia duduk termenung di bangku kayu lorong rumah sakit, menahan tangis agar tidak terdengar, merasa begitu kecil dan tak berdaya.
Uang yang dimiliki Erlyn tidak seberapa. Erlyn hanya bekerja sebagai buruh cuci dari pintu ke pintu.
Dokter sudah memberi batas waktu, jika biaya belum terkumpul dalam beberapa hari, mereka tidak bisa melanjutkan perawatan.
Erlyn teringat ucapan seseorang pengunjung rumah sakit yang pernah ikut duduk menunggu antrian: "Cobalah ke tante Siska, dia kenal dengan banyak pengusaha. Siapa tahu dia bisa memberi saran."
Dengan sisa harapan yang nyaris pudar, Erlyn menghubungi orang tersebut dan meminta pertolongan untuk bisa menemui Tante Siska. Dan di sanalah nama itu pertama kali disebut oleh Tante Siska — Om Hendi.
"Pria itu kaya raya, punya banyak properti di kota ini," kata Tante Siska.
"Dia dermawan. Kadang membantu orang yang benar-benar membutuhkan. Pergilah menemui dia. Ceritakan keadaan ayahmu. Siapa tahu hatinya tergerak."
Erlyn berdiri di depan gedung pencakar langit tempat Om Hendi bekerja, kakinya gemetar. Ia hanyalah gadis kampung yang lugu, belum pernah berhadapan dengan orang asing apalagi pria dewasa yang begitu terpandang.
Namun bayangan wajah ayahnya yang pucat memberinya keberanian. Ia harus mencoba. Apa pun hasilnya.
Saat pintu ruangan kerja terbuka, Erlyn melihatnya. Om Hendi duduk di balik meja besar yang rapi, mengenakan kemeja rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.
Usia Om Hendi 35 tahun saat itu. Ia pria yang terlihat matang, berwibawa, tampan, namun sorot matanya tajam seolah bisa membaca apa yang tersembunyi di balik pikiran siapa pun. Ia menatap Erlyn dari atas ke bawah, membuat gadis muda itu menunduk canggung.
"Masuk," suaranya rendah namun jelas. "Duduklah."
Erlyn duduk di tepi kursi, tangannya saling meremas di pangkuan. Ia bercerita dengan suara yang sesekali bergetar, tentang ayahnya, tentang biaya yang tidak terjangkau, tentang ketakutannya kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Saat selesai bercerita, ia baru berani mengangkat wajahnya perlahan. Om Hendi masih menatapnya, ekspresinya sulit dibaca.
Lalu ia berkata, "Aku bisa membayar seluruh biaya pengobatan ayahmu. Termasuk rawat inap dan obat-obatan jangka panjangnya."
Erlyn nyaris tidak percaya telinganya. Matanya berkaca-kaca. "Benar, Om? Terima kasih banyak... Saya akan bekerja sekuat tenaga untuk mengembalikannya. Saya janji."
Om Hendi tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja dan berhenti tepat di depan Erlyn. Tingginya membuat gadis itu merasa semakin kecil.
"Kau nggak perlu mengembalikannya dengan uang," ucapnya pelan.
"Aku nggak butuh uang dari gadis sepertimu. Tapi aku butuh seseorang yang menemaniku. Hidupku sepi. Kau pindah ke tempatku. Menemani aku. Melayaniku. Dan sebagai gantinya, ayahmu akan diurus selamanya. Bagaimana?"
Jantung Erlyn berdegup kencang. Ia belum sepenuhnya mengerti maksud di balik kata 'menemani' dan 'melayani'. Namun di kepalanya hanya ada satu pikiran: ayahnya akan selamat.
"Apa... apa saja yang harus kulakukan?" tanyanya ragu.
"Tersenyumlah padaku. Dengarkan aku. Jadilah bagian dari duniaku. Itu saja." Tangannya terulur, menyentuh pipi Erlyn dengan gerakan yang terasa mengintimidasi.
"Kau akan hidup nyaman. Nggak perlu khawatir lagi tentang apa pun. Semua kebutuhanmu akan terpenuhi."
Erlyn menelan ludah dan teringat ada ayahnya yang membutuhkan pertolongan segera. Ia mengangguk pelan. "Baik, Om. Aku setuju."
Saat itu ia belum tahu, bahwa ia baru saja menandatangani perjanjian yang akan mengubah seluruh hidupnya sebagai tahanan yang berpakaian indah.
Hari berikutnya, biaya rumah sakit lunas. Ayahnya kemudian segera ditangani. Dan seminggu kemudian, sebuah mobil mewah datang menjemputnya.
Erlyn membawa tas kecil berisi pakaian seadanya, berpamitan pada tetangga, berjanji akan sering pulang. Ia belum tahu, bahwa langkah kakinya saat masuk ke dalam mobil itu adalah langkah terakhir menuju kebebasannya untuk waktu yang sangat lama.
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.
paling dia gugat kamu lyn 🫠