Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bukannya marah, Kenzo justru tersenyum yang membuat Mateo menyipitkan matanya menatap pria itu. Lalu, Kenzo menatap Mateo dengan tatapan sendu.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Kenzo, suaranya terdengar sangat pelan. Wajah bengis yang dia tunjukan di hadapan Tara berubah menjadi tatapan yang sendu dan menyedihkan.
'Apa yang terjadi? Kenapa Tuan Kenzo nggak marah saat Mateo menamparnya?' Jelas pemandangan itu membuat Tara bingung.
"Ng..."
Baru saja Mateo akan menolak, tetapi Kenzo sudah lebih dulu memeluk bocah laki-laki berusia lima tahun itu.
'Sungguh, anakku. Nggak perlu tes DNA dia udah membuktikan sendiri kalau dia memang anakku,' batin Kenzo, bayangan yang tanpa diminta kilasan masa lalu terlintas di benaknya, hal yang sama dulu pernah terjadi di antara Kenzo dan Alex, kini terjadi lagi di antara Kenzo dan Mateo.
Mateo ingin menolak dan memberontak, namun Mateo merasakan pelukan itu begitu hangat, detak jantung nya telah membuktikan kalau keduanya memiliki ikatan yang sangat sulit disangkal.
Kenzo perlahan melepaskan pelukannya dari Mateo. Tatapannya tetap tertuju pada bocah itu. Anehnya, kemarahan yang sejak tadi memenuhi wajahnya mulai memudar, digantikan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Kalau begitu biar aku yang mengatakannya langsung padamu."
Mateo mengangkat dagunya, menatap pria itu tanpa gentar, dan Kenzo menarik napas pelan.
"Aku adalah Daddy kalian."
Bukannya terkejut atau senang, Mateo justru mengernyitkan dahi. Wajah kecilnya dipenuhi rasa curiga.
"Kenapa Anda begitu yakin?" tanyanya polos, tetapi penuh kehati-hatian.
"Hanya karena kami belum pernah bertemu Daddy kandung kami, bukan berarti sembarangan orang boleh mengaku sebagai Daddy kami."
Kata-kata Mateo barusan, membuat Kenzo terdiam sesaat. Lalu ia mengangguk ke arah Tara yang masih menggenggam lembar hasil tes DNA.
"Hasil tes DNA itu sudah membuktikannya." Suara Kenzo terdengar mantap.
"Kamu dan Alisya adalah anak-anakku." lanjutnya.
Mateo tidak langsung mempercayainya. Tatapannya perlahan bergeser kepada Tara.
"Mommy..." suara bocah itu terdengar lirih.
"Apa yang dia katakan itu bohong, kan?"
Mateo menunggu, dia berharap ibunya segera membantah seperti biasanya. Namun, Tara hanya menundukkan kepala. Keheningan itulah yang menjadi jawaban. Mata Mateo membulat, bibir mungilnya sedikit terbuka.
"Jadi..." Ia kembali menatap Kenzo.
"Anda benar-benar Daddy kami?"
Air mata Tara jatuh tanpa mampu ia bendung. Diamnya adalah pengakuan, dadanya terasa sesak. Selama ini, lelaki yang paling sering membuatnya kesal, yang pernah ia anggap dungu, menyebalkan, bahkan mengidap amnesia karena tak pernah muncul dalam kehidupan mereka selama lima tahun terakhir, ternyata adalah pria hebat pemilik perusahaan De Luca yang dia kenal beberapa hari lalu.
Mateo mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau memang Anda Daddy kami..." Suaranya mulai bergetar.
"Kenapa selama lima tahun Anda tidak pernah datang?" Pertanyaan sederhana itu menghantam Kenzo tepat di dada.
Kenzo menghela napas panjang, lalu menatap Tara.
"Tanya Mommy kalian."
Tara langsung mengangkat kepala.
"Tuan Kenzo, jangan..."
"Apa aku salah?" potong Kenzo dengan suara berat. "Aku bahkan tidak tahu kalau satu malam enam tahun yang lalu telah memberiku dua anak sekaligus."
Mateo dan Alisya saling berpandangan, sama-sama kebingungan. Kenzo kembali menatap kedua anaknya. Kali ini sorot matanya dipenuhi penyesalan.
"Andai Daddy tau kalian ada sejak awal..." suaranya melemah, "Daddy tidak akan pernah membiarkan kalian tumbuh tanpa seorang ayah."
Mateo terdiam, kemarahan yang memenuhi dadanya perlahan berubah menjadi kebingungan. Mateo menyadari bahwa pria yang selama ini ia benci mungkin bukanlah seseorang yang sengaja meninggalkan mereka, melainkan seseorang yang baru mengetahui bahwa dirinya memiliki dua anak kembar yang kini telah berusia lima tahun.
Ponsel Kenzo berdering di waktu yang tak tepat. Saat melihat nama Digo, tanpa menunggu lama Kenzo langsung mengangkat.
[Tuan, saham yang dilelang itu nggak bisa kembali lagi. Semua dana masuk ke akun De Luca tetapi harganya membuat kita merugi banyak,] jelas Digo begitu panggilan itu terhubung. Setelah mendengar penjelasan Digo, kini Kenzo kembali beralih menatap putranya itu, dia butuh penjelasan dengan apa yang baru saja Mateo lakukan terhadap perusahaannya.
"Kamu yang telah menjual saham De Luca group, dan membobol akun kami, kan?" pertanyaan Kenzo sekali lagi membuat Tara syok, dia tak menyangka anak seusia Mateo memiliki kemampuan untuk membobol akun pemilik perusahaan yang begitu berpengaruh di kota ini.
Selama ini, yang Tara tahu Mateo senang membeli saham-saham kecil dengan uang tabungan yang Tara berikan, berkat bantuan Maya, Mateo memiliki akun sekuritas dan diawasi oleh Maya, namun siapa sangka jika Mateo telah berkembang lebih banyak dari mereka yang tahu.
'Ya ampun ... kegeniusan siapa yang kamu warisi, Nak. Mati lah sudah, Tuan Kenzo pasti tidak akan melepaskan kami kali ini,' batin Tara.
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅