NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. "Belum Waktunya"

Dengan tangan gemetar, Bellona melepas seragam kafenya dan kembali mengenakan kaus serta celana jins lamanya. Rok lipat pendek itu ia lipat asal-asalan lalu dimasukkan ke dalam tas locker. Ia melirik jaket kulit Devan sejenak, enggan menyentuhnya, namun akhirnya ia sambar juga untuk dilemparkan ke dalam tas ranselnya yang makin penuh.

Bellona melangkah keluar dari ruang ganti dengan raut wajah sekeras batu.

Di konter depan, suasana mendadak canggung luar biasa. Viola berdiri kaku di balik kasir dengan mata membelalak penuh seribu pertanyaan, sementara Manajer Andre menatap Bellona dengan raut serba salah.

"Bell..." panggil Viola ragu, suaranya pelan sekali. "Kamu... gak apa-apa?"

Bellona menghentikan langkahnya sejenak. Ia tidak sanggup menatap mata sahabatnya. Rasa malu yang memuncak membakar tenggorokannya.

"Pak Andre, gue... saya minta maaf," kata Bellona kaku tanpa melirik Viola. "Saya berhenti hari ini."

"Bellona, tunggu!" potong Viola kaget, hendak melangkah keluar dari balik konter.

Namun Bellona sudah memutar tubuhnya dan menerobos pintu kaca kafe tanpa berpaling lagi.

Di tepi jalan yang ramai oleh lalu lintas malam, Devan berdiri bersandar di motor tua cemprengnya. Pria itu menyilangkan tangan di dada, memperhatikan Bellona yang keluar dengan celana jins lamanya. Ada sedikit binar lega di mata pria itu, meski raut mukanya tetap tertekuk kusam.

Bellona melangkah melewatinya begitu saja tanpa menghentikan ritme jalannya, bermaksud menuju perhentian angkot di ujung jalan.

Devan menghembuskan napas panjang. Pria itu menuntun motor tuanya dari samping, berjalan pelan menyusuri trotoar mengikuti langkah kaki Bellona yang cepat dan tegang.

"Naik, Bell," kata Devan pelan, mencoba menyelaraskan kecepatannya. "Gue anter."

"Kagak usah," sahut Bellona dingin tanpa menoleh sedikit pun. "Gue punya kaki."

"Jalan ke rumah jauh, ini udah mau jam delapan malam," bujuk Devan lagi dengan nada suara yang diusahakan selunak mungkin. "Gue kagak bakal oceh-oceh lagi di jalan. Gue cuma mau lo sampe rumah aman."

Bellona menghentikan langkahnya mendadak di bawah lampu jalan yang kekuningan. Ia berbalik, menatap Devan dengan mata memerah yang dipenuhi kebencian mendalam.

"Gara-gara lo, gue kehilangan kerjaan gue!" amuk Bellona dengan suara tertahan, jarinya menunjuk tepat ke dada Devan. "Gara-gara lo, Viola tahu semuanya! Lo puas sekarang?! Lo puas bikin gue makin gak punya tempat di mana-mana?!"

Devan mematung di pinggir trotoar. Sorot matanya meredup, tak mampu membalas tatapan tajam gadis di hadapannya.

"Gue minta maaf soal temen lo..." bisik Devan serak, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tapi gue kagak bakal pernah menyesal udah narik lo keluar dari tempat itu."

"Terserah lo!" bentak Bellona melengking, lalu kembali berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Devan sendirian di bawah pendar lampu jalanan yang remang.

Dari kejauhan, di antara bayang-bayang yang memeluk sunyi, sesosok berjubah hitam berdiri tanpa suara. Wajahnya tersembunyi di balik tudung gelap, menyisakan kesan hampa yang sulit dijelaskan. Ia tak bergerak, tak pula menunjukkan keinginan untuk mendekat. Hanya sepasang mata yang tak terlihat itu seolah terus mengikuti setiap langkahnya.

Angin berembus pelan, mengusik ujung jubahnya.

“Belum waktunya...” gumamnya lirih.

Suaranya begitu tenang, nyaris tenggelam di antara desau angin malam. Tak ada nada ancaman di dalamnya, hanya ketenangan ganjil dari seseorang yang memahami sesuatu di luar jangkauan nalar manusia.

Ia terdiam sejenak, lalu kembali bergumam.

“Setiap jiwa memiliki jalannya sendiri. Dan setiap jalan... pada akhirnya akan menemukan ujungnya.”

Sosok itu menundukkan kepala, seakan tengah membaca sesuatu yang tak tertulis di dunia fana. Kemudian, ia kembali menatap sosok yang sejak tadi diamatinya.

“Berjalanlah selagi kau masih bisa. Nikmatilah waktu yang belum kau sadari begitu berharga.”

Tak ada yang mendengar ucapannya. Tak ada yang menyadari kehadirannya.

Dan ketika angin kembali berembus, sosok berjubah hitam itu perlahan menghilang, seolah sejak awal ia memang tak pernah berada di sana.

***

Bellona terus melangkah cepat menembus keramaian malam, membiarkan angin dingin membelai pipinya yang masih basah oleh air mata. Di belakangnya, suara deru halus mesin motor tua Devan terdengar menjaga jarak—pria itu tidak memaksanya naik, tetapi tetap mengekor pelan dari kejauhan hingga Bellona akhirnya menaiki angkutan umum yang mengarah ke rumah.

Sesampainya di rumah tua itu, Bellona langsung melesat masuk ke kamar dan membanting pintunya keras-keras. Ia melempar tas ranselnya ke sudut ruangan. Jaket kulit tua milik Devan tersingkap dari dalam tas, tergeletak kusam di atas lantai semen.

Bellona memeluk kedua lututnya di atas kasur, menyembunyikan wajahnya di sana. Pikirannya kalut luar biasa. Besok ia harus kembali ke sekolah dan bertemu Viola. Bagaimana ia harus menghadapi tatapan serba salah, pertanyaan bertubi-tubi, atau rasa kasihan dari teman satu-satunya itu?

Sementara itu, di luar kamar, suara langkah kaki Devan terdengar mendekat. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang tertutup rapat.

Ketok... ketok...

Devan mengetuk kayu pintu itu dua kali, sangat pelan.

"Bell..." panggil Devan dari balik pintu. Suaranya serak, menyuarakan rasa lelah yang teramat sangat. "Roti sama teh hangat gue taro di meja luar. Jangan lupa dimakan."

Hening. Bellona memilih diam membisu, tidak memberikan respons apa pun.

Devan menghela napas panjang di balik pintu. Jidatnya bersandar pelan pada kayu pintunya yang lapuk.

"Gue tahu lo benci banget sama gue hari ini," lanjut Devan pelan, hampir menyerupai bisikan. "Tapi... kalau lo emang butuh duit, lo ngomong sama gue. Mau berapa pun, bakal gue usahain. Jangan nekat kerja di tempat kayak gitu lagi."

Di dalam kamar, Bellona mencengkeram kain celananya makin erat. Ucapan Devan justru makin menusuk dadanya. Rasa bersalah, amarah, dan gengsi beradu hebat di dalam hatinya, membuat tangisnya kembali pecah tanpa suara.

Devan akhirnya melangkah menjauh, membiarkan keheningan malam kembali menguasai rumah tua itu.

***

Pagi harinya, rumah terasa sunyi. Devan sudah terbangun sejak subuh, duduk di tepi sofa sambil memegangi gelas kopinya yang mulai dingin. Pria itu terus melirik ke arah pintu kamar Bellona yang masih tertutup rapat. Biasanya, jam segini anak gadisnya itu sudah siap dengan seragam lengkap dan suara langkah kaki yang menghentak ketus.

Namun sampai jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh, tidak ada tanda-tanda pintu itu bakal terbuka.

"Bell?" panggil Devan pelan dari ruang tamu.

Hening.

Devan berdiri, melangkah ragu mendekati pintu kamar Bellona. Rasa cemas mendadak menyusup cepat ke dadanya. Pria itu menggetok pintu kayu itu beberapa kali.

"Bellona? Lo udah bangun belum? Ini udah siang, ntar lo telat sekolah," kata Devan lagi, menaikkan suaranya sedikit.

Masih tidak ada sahutan. Hanya terdengar suara erangan pelan yang samar-samar dari dalam ruangan.

Tanpa pikir panjang lagi, Devan memutar gagang pintu dan mendorongnya pelan.

Di atas kasur tipis, Bellona meringkuk di balik selimut tebalnya. Tubuh gadis itu gemetar pelan, sementara wajahnya memerah padam dengan napas yang memburu dan berat.

Devan bergegas menghampiri kasur dan berlutut di sampingnya. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Bellona.

"Panas banget..." desis Devan kaget. Suhu tubuh Bellona tinggi sekali, membakar kulit tangannya.

"Bell... Bellona, lo denger gue kagak?" Devan menepuk-nepuk pipi Bellona pelan, raut wajahnya berubah panik parah.

Bellona hanya mengerjap kaku dengan mata sayu yang nyaris tertutup rapat. "D-Devan... kepala gue... pusing..." bisiknya serak dan parau, bibirnya yang biasa melempar kata-kata tajam kini pucat dan pecah-pecah.

Kelelahan emosional, menangis semalaman, ditambah stres berat akibat drama di tempat kerja rupanya membuat pertahanan tubuh Bellona roboh total pagi ini.

Devan menyapu rambut yang menempel di dahi basah Bellona dengan tangan gemetar. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika memukul dada pria itu hingga terasa sesak.

"Iya, iya, gue di sini," sahut Devan panik, suaranya bergetar. "Lo diem dulu, jangan banyak gerak. Gue ambil air kompresan sama obat sekarang."

Devan bangkit berdiri dan berlari menuju dapur, meninggalkan Bellona yang terbaring lemas menahan rasa pening yang menusuk-nusuk di kepalanya.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!