💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Ruang server utama Mansion Adhitama mendadak sedingin lemari es raksasa. Keheningan pekat menyelimuti ruangan itu setelah layar monitor kembali menghitam, meninggalkan pesan mematikan yang mencengkeram tenggorokan Alana.
Mbok Darmi. Pengasuh tua yang sudah seperti ibu pengganti bagi Alana dan Raka sejak mereka kecil. Wanita renta yang selalu membuatkan sup ayam hangat setiap kali Alana menangis merindukan kebebasan masa remajanya.
Selama setahun terakhir, Alana terus dihantui rasa bersalah karena mengira wanita itu tewas bersama kakak dan iparnya malam itu.
Kini, fakta bahwa Mbok Darmi masih hidup dan berada dalam cengkeraman Sindikat Bayangan menghancurkan rasionalitas Alana.
Alana melepaskan diri dari rengkuhan lengan Elvano. Ia berbalik, matanya menatap liar ke arah layar kosong itu. Napasnya memburu.
"Aku harus pergi ke sana. Aku harus menyelamatkan si Mbok!"
"Kau sudah gila?!" sentak Bastian keras, menggebrak mejanya dan berdiri menatap Alana tak percaya.
"Itu jebakan bunuh diri paling transparan yang pernah kulihat, Al! Mereka tidak akan pernah melepaskan sandera itu. Begitu kau menyerahkan diri, mereka akan membunuhmu dan pengasuhmu di tempat!"
"Lalu aku harus apa, Kak Bas?!" suara Alana pecah, berteriak menantang sepupu Elvano itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan emosi.
"Membiarkan kepalanya dikirim dalam kotak ke sekolah Kael dan Kai?! Dia bukan sekedar pengasuh bagiku! Dia sudah aku anggap seperti ibu kandungku."
"Bunda..." Kai melangkah maju pelan, menggenggam erat tangan Alana yang gemetar. Wajah bocah kecil itu menengadah, memancarkan ketenangan yang anehnya sanggup sedikit meredam badai di dada Alana.
"Bunda tidak boleh pergi sendirian. Probabilitas kegagalan seratus persen. Kita butuh rencana yang lebih mematikan dari jebakan mereka."
"Kai benar," suara bariton Elvano akhirnya membelah ketegangan di antara mereka. Pria itu melangkah maju, memosisikan tubuh besarnya tepat di depan Alana, memaksa wanita itu untuk menatap lurus ke arah matanya yang segelap obsidian.
"Kau. Tidak. Pergi. Sendirian."
Alana menggeleng pelan, rahangnya terkatup rapat.
"Elvano, kau membaca pesan itu. Mereka meretas firewall mansionmu. Mereka tahu setiap pergerakan agenmu. Jika aku tidak datang sendirian, mereka akan membunuhnya sebelum aku bahkan bisa melihat wajahnya."
"Maka kita pastikan mereka tidak bisa melihat pergerakan kita," desis Elvano, aura predator yang sedingin es kini menguar dari tubuhnya. Pria itu beralih menatap Bastian.
"Bas, putus seluruh jaringan eksternal mansion ini. Mulai detik ini, klan Adhitama beroperasi murni menggunakan komunikasi analog dan radio frequency-hopping yang terenkripsi manual. Aku ingin seluruh radar mereka terhadap kita buta total."
Bastian langsung mengangguk tegas, jemarinya kembali terbang di atas keyboard.
"Protokol Pemadaman diaktifkan. Kita buta dari dunia maya luar, tapi mereka juga tidak akan bisa melacak satu pun alat elektronik yang keluar dari mansion ini."
Elvano kembali menatap Alana. Jemari kasarnya terulur, menangkup rahang wanita itu dengan genggaman posesif yang tak mengizinkan penolakan.
"Kau akan datang ke dermaga itu besok malam, seolah-olah kau datang sendirian. Tapi ingat baik-baik, Alana... aku akan berada tepat di dalam bayanganmu."
____________
Senja turun dengan cepat di hari berikutnya, membawa serta kabut laut yang tebal ke area dermaga barat yang terbengkalai. Bunyi ombak yang menghantam tiang-tiang beton berkarat terdengar suram.
Alana melangkah sendirian di antara deretan peti kemas yang menjulang layaknya labirin raksasa. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans, rambutnya diikat asal. Tidak ada senjata terlihat di tubuhnya, sesuai dengan instruksi si pengirim pesan anonim.
Ia berjalan dengan tenang, posturnya tegak memancarkan aura Ice Queen yang mematikan, meski jantungnya berdegup kencang di balik tulang rusuknya.
Di ujung labirin peti kemas, terdapat area terbuka dengan penerangan lampu sorot berkekuatan tinggi yang menyilaukan mata.
Di sana, di bawah guyuran cahaya putih yang menyengat, seorang pria jangkung bertopeng porselen putih setengah wajah berdiri santai.
Di sebelahnya, dua orang penjaga bertubuh besar menodongkan senjata ke arah seorang wanita tua yang duduk terikat di kursi kayu. Kepala wanita tua itu tertunduk lemas, wajahnya memar dan pucat pasi.
Mbok Darmi.
"Luar biasa," suara berat di balik topeng porselen itu menggema, bertepuk tangan pelan secara sarkastis.
"Sang legenda peretas... akhirnya tunduk karena seorang pembantu tua."
Alana menghentikan langkahnya tepat sepuluh meter di depan pria bertopeng itu. Matanya memindai sekeliling dengan cepat. Dua belas penembak runduk di atas derek pelabuhan, dan belasan penjaga bersenjata berat mengelilingi area itu. Benar-benar sebuah eksekusi terencana.
"Lepaskan dia," suara Alana terdengar sedingin es, matanya menatap tajam ke arah pria bertopeng itu.
"Kau menginginkan nyawaku sebagai bayaran atas lima ratus juta dolarmu. Ambil nyawaku. Tapi lepaskan wanita tua itu."
Pria bertopeng itu terkekeh pelan. Ia melangkah mendekati Mbok Darmi, lalu menjambak kasar rambut beruban wanita tua itu hingga kepalanya mendongak paksa. Mbok Darmi meringis pelan, matanya yang rabun menatap Alana dengan nanar.
"Non Al..." bisik Mbok Darmi lirih, air mata menetes dari sudut matanya. "Kenapa... Non datang... Mereka jahat, Non..."
Darah Alana mendidih melihat penyiksaan itu. Rahangnya mengeras.
"Kau terlalu naif, Nona," desis pria bertopeng itu, melepaskan cengkeramannya dari rambut Mbok Darmi. Ia mencabut sepucuk pistol dari pinggangnya, mengarahkannya tepat ke pelipis wanita tua itu.
"Aku tidak hanya menginginkan kepalamu. Aku menginginkan kehancuran total klan Adhitama. Dan Elvano si arogan itu... dia pasti akan membakar dunia jika sesuatu terjadi padamu, bukan?"
Alana menyipitkan mata, otaknya yang jenius bekerja secepat kilat menganalisis bahasa tubuh musuhnya.
"Kau menggunakan aku sebagai umpan untuk memancing Elvano keluar."
"Tentu saja," pria itu tertawa puas.
"Di mana dia sekarang? Apakah anjing-anjing pelacaknya sedang bersembunyi di balik peti kemas? Oh, percuma saja, Nona. Aku telah memasang peledak sensor pressure di bawah setiap titik buta pelabuhan ini. Satu langkah salah dari pasukan Elvano, dan tempat ini akan meledak menjadi neraka."
Alana diam tak menjawab. Wajahnya yang pucat pasi tiba-tiba berubah, bibirnya perlahan menarik sebuah senyum miring yang meremehkan.
"Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang psikopat," cibir Alana santai, tangannya merogoh saku jaketnya perlahan. Para penjaga langsung menodongkan senjata mereka, namun pria bertopeng itu mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka menahan tembakan.
"Apa yang kau sembunyikan di saku itu, Pelacur Kecil?" geram pria bertopeng itu.
Alana mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk bundar, tidak lebih besar dari koin logam, dan melemparkannya ke tanah di antara mereka.
Itu adalah drone pengintai nano buatan Kael yang dirakit khusus untuk memancarkan sinyal analog.
"Aku tidak menyembunyikan senjata," jawab Alana pelan, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Aku hanya sedang memberikan titik koordinat pada seseorang yang paling membencimu di dunia ini."
Sebelum pria bertopeng itu sempat memproses ucapan Alana, suara desingan peluru tajam yang nyaris tak terdengar merobek udara.
CRAT!
Tangan pria bertopeng yang memegang pistol itu hancur berantakan akibat hantaman peluru kaliber .50. Pistolnya terlempar ke udara seiring dengan jeritan kesakitan yang melengking dari balik topeng porselennya.
Di saat yang bersamaan, rentetan tembakan dari senapan runduk berperedam suara menumbangkan dua belas penembak jitu Sindikat Bayangan di atas derek pelabuhan layaknya lalat mati.
Semuanya tumbang dalam hitungan tiga detik yang mematikan.
Kekacauan pecah.
Dari kegelapan di atas salah satu peti kemas tertinggi yang tidak terdeteksi oleh radar musuh, Elvano Adhitama berdiri layaknya malaikat maut. Pria itu menurunkan senapan runduk laras panjangnya yang masih mengepulkan asap.
Matanya yang tajam bak elang menyala penuh amarah murni. Ia tidak mematuhi peringatan bom tekanan; ia justru melewatinya dengan masuk dari udara, melompat dari helikopter siluman jauh sebelum mencapai area pelabuhan, menggunakan parasut taktis malam hari.
"Tim Alpha, sapu bersih!" raungan suara bariton Elvano menggema melalui pengeras suara analog dari helikopter klan Adhitama yang tiba-tiba muncul dari balik kabut tebal laut, menghujani para penjaga Sindikat Bayangan dengan rentetan peluru senapan mesin berat.
Alana tidak membuang waktu. Memanfaatkan kekacauan, ia melesat maju layaknya macan kumbang, menerjang dua penjaga di dekat Mbok Darmi dengan tendangan lokomotif yang telak mematahkan leher mereka.
"Tahan, Mbok!" seru Alana, mengeluarkan belati polimer dari balik sepatunya dan memotong tali yang mengikat wanita tua itu dengan cepat.
Pria bertopeng porselen itu, yang kini berlutut sambil memegangi tangannya yang hancur, menatap Alana dengan penuh kebencian. Dengan sisa tenaga dan tangan kirinya, ia merogoh pemicu bom dari saku jasnya.
"Kita akan mati bersama, Nona kecil!" teriaknya histeris, bersiap menekan tombol merah itu.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh tombol, sebuah bayangan besar mendarat keras dari atas tumpukan peti kemas setinggi enam meter, tepat di depan pria itu.
Elvano Adhitama.
Tanpa senjata, tanpa belas kasihan. Elvano menerjang pria bertopeng itu, menendang rahangnya hingga topeng porselen itu hancur berkeping-keping, menampilkan wajah hancur yang tak lagi dikenali. Sang don tidak berhenti sampai di situ. Ia mencengkeram kerah jas pria itu, mengangkatnya dengan satu tangan yang dipenuhi urat menonjol, dan menghajarnya tanpa ampun hingga pria itu tak sadarkan diri, pemicu bomnya terlempar jauh dari jangkauan.
Suara tembakan di sekeliling mereka perlahan mereda. Pasukan Sindikat Bayangan yang tersisa telah menyerah atau tewas di tangan elit Adhitama.
Napas Elvano memburu berat. Buku-buku jarinya memerah oleh darah musuhnya. Ia menoleh perlahan ke arah Alana, yang kini sedang mendekap erat Mbok Darmi yang menangis tersedu-sedu.
Melihat wanita yang ia cintai—ya, Elvano tak lagi menampik kenyataan itu—berada dalam keadaan selamat, seluruh amarahnya perlahan menguap. Ia melangkah lebar, menghampiri Alana dan Mbok Darmi.
Tanpa ragu sedikit pun akan gengsi atau keangkuhannya sebagai penguasa bawah tanah, Elvano berlutut di atas aspal kotor dermaga itu. Ia menatap wajah wanita tua itu dengan kelembutan yang luar biasa.
"Maafkan saya, Mbok Darmi," bisik Elvano tulus. "Saya gagal melindungi keluarga Raka setahun lalu. Tapi saya bersumpah, mulai malam ini, tak akan ada seorang pun yang bisa menyentuh Nona Alana dan si kembar. Klan Adhitama akan menjamin keamananmu."
Mendengar janji mutlak dari sang penguasa, Alana menatap Elvano dengan mata berkaca-kaca. Dinding es yang memagari hatinya benar-benar hancur malam ini. Tak ada lagi tarik ulur, tak ada lagi keraguan. Pria arogan di hadapannya ini telah membuktikan bahwa ia rela menantang kematian demi apa yang ia lindungi.
Bersambung...