Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YANG TERTIS DIATAS KERTAS
"Bukan Damar yang mengambil hasil itu? Lalu siapa, Tar?"
Sinta menempelkan telinganya ke celah jendela, napasnya tertahan. Di luar, Tari kembali menoleh ke kiri dan kanan, memastikan taman belakang benar-benar sunyi. Jangkrik bernyanyi di semak-semak, sementara dari rumah utama terdengar samar suara televisi.
"Ibumu... maksudku, ibu mertuamu," bisik Tari. "Bu Retno sendiri yang datang ke klinik kami dua tahun lalu. Pakai kerudung gelap dan kacamata hitam, seperti orang yang takut dikenali. Dia bilang mewakili anaknya, bawa fotokopi KTP Damar dan surat kuasa."
Dunia Sinta seperti berhenti berputar.
"Waktu itu aku yang jaga loket," lanjut Tari cepat. "Aku sempat curiga, karena biasanya hasil lab harus diambil orangnya langsung. Tapi dia bayar lebih, dan bilang anaknya sedang sibuk di luar kota. Atasanku akhirnya setuju."
"Isinya apa?" suara Sinta nyaris tak terdengar. "Tari, tolong. Isinya apa?"
Tari merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel lain dan menyalakan layarnya. Ada foto sebuah dokumen di sana, diambil buru-buru dari layar komputer.
"Aku nggak boleh menyimpan data pasien. Aku bisa dipecat, bahkan dipenjara. Tapi malam itu juga aku foto layar komputerku, karena perasaanku nggak enak." Ia menyodorkan layar itu lewat celah jendela. "Baca sendiri."
Sinta menerimanya dengan tangan gemetar. Cahaya layar menyinari wajahnya yang pucat di kegelapan paviliun. Matanya menyusuri baris demi baris, melewati nama, tanggal lahir, nomor registrasi, sampai berhenti di satu bagian yang dicetak tebal.
*Analisis semen: azoospermia. Jumlah sperma: 0 juta/ml. Kesimpulan: infertilitas primer pria. Disarankan konsultasi lanjutan ke dokter spesialis andrologi.*
Hening.
Sinta membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Kata-kata itu tidak berubah, tidak mau berubah, tetap duduk di sana dengan dingin seperti vonis.
"Dua tahun," bisiknya. Bibirnya mulai gemetar. "Dua tahun yang lalu mereka sudah tahu. Dan selama dua tahun itu..."
Ingatan menghantamnya bertubi-tubi. Bu Retno yang menyeretnya ke dukun beranak di kampung seberang, memaksanya minum ramuan pahit yang membuatnya muntah berhari-hari. Bu Retno yang menyuruhnya puasa senin-kamis, mandi kembang tengah malam, memakai jimat di pinggang. Bu Retno yang di depan semua orang menyebutnya perempuan *kosong*. Dan selama itu, selama dua tahun penuh, perempuan itu menggenggam kertas yang membuktikan bahwa anak kandungnya sendirilah akar masalahnya.
"Dia tahu," Sinta mengulang, kali ini suaranya pecah. "Dia tahu semuanya, Tar. Dia tahu, dan dia tetap membiarkanku dihina. Dia membiarkanku merasa rusak."
"Sin..."
"Aku periksa ke tiga dokter. Tiga! Aku minum obat hormon sampai berat badanku naik turun tak karuan. Aku menangis tiap bulan di kamar mandi karena merasa gagal jadi perempuan." Air mata akhirnya tumpah, deras, tanpa suara. "Dan Damar... Damar tahu juga, kan? Makanya dia nggak pernah mau periksa. Makanya dia menyimpan amplop itu."
Tari menggigit bibirnya, matanya ikut berkaca. "Aku nggak tahu soal Damar. Tapi kalau ibunya yang mengambil hasilnya, mungkin dia bahkan nggak tahu isinya. Atau mungkin dia tahu dan memilih diam. Aku nggak bisa menebak, Sin."
Sinta menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan isakan yang hampir lolos. Dadanya naik turun hebat. Ada rasa sakit, ada marah, tapi lebih dari itu, ada sesuatu yang aneh. Seperti beban yang tujuh tahun menekan pundaknya tiba-tiba terangkat, meski yang menggantikannya adalah api.
*Aku tidak mandul. Aku tidak pernah mandul.*
Kalimat itu bergema di kepalanya seperti lonceng.
"Foto ini kuberikan padamu," bisik Tari. "Tapi hati-hati. Kalau Bu Retno tahu kamu menyimpannya, dia pasti akan menghancurkanmu. Simpan di tempat yang benar-benar aman. Aku harus pergi sekarang, satpam komplek sebentar lagi keliling."
"Terima kasih, Tar. Kamu satu-satunya..."
"Sudah, jangan nangis lagi. Kamu butuh kepala dingin." Tari menggenggam jemari Sinta sebentar lewat celah jendela, hangat dan gemetar. "Aku akan cari tahu lagi. Besok malam aku datang."
Lalu ia menghilang di balik semak, seperti bayangan.
---
Pagi datang membawa matahari yang menyilaukan dan wajah-wajah yang menjijikkan.
Pintu paviliun terbuka tepat pukul tujuh. Rini masuk sambil membawa nampan berisi sepiring nasi dingin dan sebutir telur rebus, lalu menjatuhkannya begitu saja di atas meja kecil. Telurnya menggelinding dan hampir jatuh ke lantai.
"Makan. Sebelum Ibu berubah pikiran." Rini bersedekap, menatap Sinta dari ujung kepala sampai kaki. "Lihat mukamu, kusut banget. Habis nangis semalaman, ya? Wajar sih. Kasihan juga, mau dibuang."
Sinta mengangkat telur itu pelan dan mengupasnya tanpa mengangkat wajah. "Terima kasih, Rin."
"Cih. Sok sabar." Rini mendengus. "Eh, tahu nggak, kemarin Melia dikasih cincin berlian sama Ibu. Cincin turunan keluarga. Cincin yang dulu Ibu janjikan buat menantu yang kasih cucu." Ia tersenyum puas. "Kamu kan nggak dapat, ya. Wajar. Ya masa kepala kosong dikasih mahkota."
Biasanya kalimat seperti itu akan membuat dada Sinta tercabik. Tapi pagi ini, di balik wajah tertunduknya, bibir Sinta menyimpan sesuatu yang lain. Ia teringat angka nol di kertas itu, nol yang bisa menghancurkan seluruh kesombongan rumah ini.
"Memang tidak pantas," jawab Sinta lembut. "Cincin sebagus itu harus dipakai orang yang benar-benar... memberikan keturunan keluarga ini."
Rini mengerutkan dahi. Ada sesuatu di nada Sinta yang membuatnya risih, tapi ia tak bisa menunjuk apa. "Maksudmu apa?"
"Tidak ada. Aku cuma ikut senang untuk Melia."
"Aneh." Rini mendecak dan keluar, membanting pintu hingga debu berjatuhan dari kusen.
Sinta memandangi telur di tangannya, lalu meletakkannya kembali. Ia tak lapar. Ia menyentuh ponsel kecil yang diselipkan Tari, tersembunyi di dalam sarung bantal, dan bayangan foto itu seperti membara di kepalanya.
Menjelang siang, pintu terbuka lagi. Kali ini Bu Retno sendiri, dengan kebaya hijau tua dan sanggul yang tertata sempurna. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Sinta seperti menatap lalat di atas makanan.
"Hari ini Pak penghulu datang untuk membicarakan tanggal," katanya. "Kamu boleh keluar, tapi hanya untuk melayani tamu. Jangan bicara kalau tidak ditanya. Kamu mengerti?"
"Mengerti, Bu."
"Dan satu lagi." Bu Retno melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Suaranya merendah, tajam. "Kemarin kamu mengungkit soal laci. Saya tidak tahu apa yang kamu cari, atau siapa yang meracunimu dengan cerita-cerita itu. Tapi saya peringatkan, Sinta. Jangan coba-coba bermain api di rumah ini."
Sinta mengangkat wajah perlahan. Untuk pertama kalinya, ia menatap mata mertuanya tanpa gentar. Mata perempuan tua itu cokelat gelap, dingin, dan, kalau diperhatikan lebih lama, ada garis ketakutan tipis yang disembunyikan rapat di baliknya.
"Saya tidak bermain apa-apa, Bu."
"Bagus." Bu Retno mendekat, hingga wajah mereka hanya terpisah sejengkal. "Karena kalau kamu bermain, kamu pasti kalah. Kamu itu tidak punya apa-apa. Tidak punya anak, tidak punya keluarga, tidak punya harta. Kalau kamu saya buang, siapa yang mau menampung perempuan mandul?"
Kata itu lagi. *Mandul.* Kata yang selama tujuh tahun menusuk Sinta berulang-ulang, dan kini terasa begitu hampa, seperti pisau tumpul yang kehilangan ujungnya.
"Benar, Bu," jawab Sinta pelan. "Kalau saya dibuang, mungkin tidak ada yang mau."
Bu Retno tersenyum puas dan menegakkan badan. "Nah, kamu mulai paham."
Tapi ia tidak melihat, dan tidak akan pernah menyangka, bahwa di balik tunduk kepala menantunya itu ada sepasang mata yang sedang menghitung mundur.
---
Malam turun lagi. Kali ini rumah utama lebih sunyi dari biasa. Pak penghulu sudah pulang, tanggal sudah ditentukan: dua minggu lagi. Dari balik jendela, Sinta melihat lampu-lampu padam satu per satu.
Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, ponsel kecil itu tergenggam erat. Sudah lima kali ia membuka foto itu, dan lima kali pula dadanya bergemuruh. Ia membuat rencana di kepalanya, lalu membatalkannya. Menyusun lagi, lalu meragukannya lagi. Melawan sekarang sama dengan bunuh diri. Ia tak punya uang, tak punya pekerjaan, tak punya tempat berlindung. Ia harus bersabar, mengumpulkan bukti, menunggu waktu yang tepat.
*Tapi sampai kapan?*
Tiba-tiba pintu paviliun berderit pelan. Sinta spontan menyembunyikan ponsel di balik bantal. Sosok tinggi berdiri di ambang pintu, siluetnya diterangi lampu teras yang remang. Bau alkohol tipis menyebar di ruangan.
"Sin..."
Damar. Matanya merah, kemejanya kusut, langkahnya sedikit goyah. Ia menutup pintu perlahan di belakangnya dan bersandar di sana, seperti orang yang kehabisan tenaga.
"Mau apa, Mas?" tanya Sinta dingin.
"Aku..." Damar menggeleng, lalu merosot duduk di lantai, tak jauh darinya. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Aku nggak kuat lagi, Sin. Aku nggak tahu harus bagaimana."
"Kamu sudah memutuskan, Mas. Dua minggu lagi kamu menikah."
"Bukan itu." Suaranya serak. "Ada yang harus kamu tahu. Soal amplop itu."
Jantung Sinta berdegup keras, tapi wajahnya tetap datar. Ia menatap suaminya yang tampak begitu rapuh, begitu hancur, dan untuk sesaat ia hampir merasa kasihan. Hampir.
"Aku mendengarkan," katanya.
Damar mengangkat wajah. Air matanya menetes, membasahi pipi yang tak bercukur. Ia membuka mulut, menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara nyaris tak terdengar:
"Sin, kalau aku bilang bahwa selama ini bukan kamu yang bermasalah... apa kamu masih akan membenciku?"
Sinta menatapnya tanpa berkedip, jemarinya mencengkeram bantal di belakang punggung.
"Tergantung, Mas," ucapnya pelan. "Kamu baru tahu itu... atau sudah tahu sejak dua tahun lalu?"