Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Mencoba Bertahan
Sentuhan jemari yang lembut, hangat, dan tanpa sehelai benang pun itu langsung merayap naik menelusuri dada bidang Galih. Sensasi asing yang begitu kontras dengan dinginnya malam seketika merusak keheningan tidur lelap sang pemuda.
Galih mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menggelayut. Ia mendesah pelan, hendak membalikkan badan. Namun, gerakan tangannya mendadak membeku saat telapak tangannya merasakan tekstur kulit manusia yang begitu halus dan telanjang bulat di sampingnya.
Bulu kuduk Galih meremang seketika. Matanya terbuka lebar, membelalak sempurna di tengah keremangan cahaya lampu tidur.
Dengan gerakan canggung, Galih menolehkan kepalanya ke samping. Pemandangan yang tersaji di depan matanya seketika membuat darahnya berdesir hebat dan napasnya tertahan di tenggorokan.
Indri berbaring sangat dekat dengannya tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Lekuk tubuh wanita hamil itu terekspos jelas, dengan kulit putih mulus yang berkilau tipis oleh keringat dingin akibat gejolak gairah. Wajah Indri tampak kemerahan, napasnya memburu tidak teratur, dan matanya menatap Galih dengan sorot penuh kebutuhan yang mendalam.
"A-astaga! Indri! Kamu... kamu kenapa?!" seru Galih panik luar biasa. Ia langsung melompat mundur, menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh wanita itu dengan tangan yang gemetar hebat. Wajah Galih kontan merona merah padam hingga ke telinga. "Kamu gila ya?! Kenapa nggak pakai baju?!"
Indri justru mendesis lembut. Alih-alih merasa malu, ia bangkit bertumpu pada sikunya, membiarkan selimut itu melorot jatuh ke pinggangnya. "Galih... jangan bersuara keras-keras, nanti tetangga dengar," bisiknya parau, nada suaranya terdengar begitu menggoda dan merengek.
"Kamu... kamu kerasukan ya, Mbak—eh, Indri?!" tanya Galih terbata-bata, memegang dadanya yang berdegup kencang bak hendak meledak. Ia merapatkan punggungnya ke dinding bilik kayu, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin. "Cepat pakai bajumu! Ada apa sebenarnya sama kamu?!"
Indri menggelengkan kepalanya pelan, bibirnya mengerucut manja. "Aku tidak kerasukan, Galih. Aku sadar sepenuhnya... Aku cuma butuh kamu."
"Tapi kita kan sudah sepakat! Pernikahan kita ini cuma kontrak! Pelindung siri buat aibmu!" protes Galih dengan suara bergetar, mati-matian mengalihkan pandangannya ke arah dinding demi menjaga kesucian matanya. "Kenapa kamu nekat berbuat begini?!"
Indri merangkak perlahan mendekati Galih, mengabaikan penolakan pemuda itu. "Galih, dengar... Ini bukan kemauanku sepenuhnya. Ini bawaan hormon kehamilan. Aku mengalami masa-masa di mana gairahku naik luar biasa tinggi dan tidak bisa ditahan. Selama ini aku tersiksa menahan semuanya sendiri. Dan sekarang, di sebelahku ada suamiku sendiri... suamiku yang sah secara agama."
"Tapi tetap saja—"
"Kenapa tidak boleh?" potong Indri makin mendesak, suaranya terdengar putus asa sekaligus memohon. "Mungkin ini bagian dari ngidamku, Galih... Aku pengen disentuh, aku pengen dibelai olehmu. Tolong aku, suamiku..."
Indri meraih tangan Galih, lalu secara paksa meletakkannya di atas kulit dada telanjangnya. Sengatan panas dan kelembutan tubuh itu langsung meresap ke telapak tangan Galih, mengirimkan sengatan listrik ribuan volt yang membuat sekujur tubuh pemuda dua puluh tahun itu merinding seketika.
Galih merasakan keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Tenggorokannya terasa kering. Sebagai seorang pemuda normal yang sedang diuji oleh godaan luar biasa di tengah malam buta, pertahanan mental Galih benar-benar berada di ambang kehancuran. Godaan itu begitu nyata, terbentang di depan matanya tanpa sekat.
Namun, di tengah gelombang gejolak nafsu yang mulai menyerang akal sehatnya, prinsip hidup yang ditanamkan sang ibu kembali berkelebat di kepalanya. Galih mengepalkan tangannya erat-erat, menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih demi mengumpulkan sisa-sisa kesadaran.
'Tidak! Aku tidak boleh menyerah!' teriak Galih dalam hati.
Dengan sisa tenaga dan tekad yang kuat, Galih mendadak menyentak tangannya dari genggaman Indri. Ia melompat bangkit dari ranjang lantai secara kasar, menyambar kemeja gantung di dekat pintu, dan berdiri tegak menjauhi kasur dengan napas terengah-engah.
"Cukup, Indri! Berhenti bicara begitu!" bentak Galih tertahan, wajahnya merah padam menahan gejolak gairah sekaligus amarah. "Meskipun kita sudah menikah siri secara agama, pernikahan kita tetaplah sebuah kontrak! Aku tidak pernah berniat memanfaatkan kelemahanmu atau merendahkan martabatmu!"
Indri tertegun di atas kasur, menatap Galih dengan mata berkaca-kaca penuh kekecewaan. "Jadi... kamu menolakku, Galih? Aku jelek di mata kamu?"
"Bukannya jelek!" sahut Galih dengan suara bergetar hebat, keringat mengalir di lehernya. "Aku punya prinsip hidup yang tidak akan pernah aku langgar! Aku adalah seorang lelaki yang menjaga kehormatan diri. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri... keperjakaanku, harga diriku, hanya akan aku serahkan kepada wanita yang benar-benar aku cintai, dan yang kucintai dengan sepenuh hatiku, bukan karena kontrak atau paksaan situasi!"
Pengakuan tulus dan tegas dari pemuda dua puluh tahun itu menghantam kesadaran Indri bagaikan hantaman telak. Ia terdiam kaku di atas kasur, air matanya menetes pelan menyadari betapa luhurnya prinsip yang dipegang oleh suami kontraknya itu, pria muda yang justru jauh lebih terhormat dibanding para lelaki di masa lalunya yang hanya ingin memanfaatkan tubuhnya.
Indri menunduk dalam-dalam, menarik selimut untuk menutupi kembali tubuh telanjangnya, lalu terisak pelan dalam kehinaan dan kekalahan.
Galih sendiri berdiri mematung di sudut kamar, meremas rambutnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Ia harus berjuang setengah mati melawan godaan biologis yang nyaris meruntuhkan imannya.
Namun, sebelum ketegangan di dalam kamar itu mereda, sebuah insiden susulan mendadak membuyarkan segalanya.
Tok... Tok... Tok... Tok!
Suara ketukan pintu kayu kamar yang digetok secara keras dan bertalu-talu mendadak memecah kesunyian malam yang pekat.
Sontak saja, Galih dan Indri terperanjat kaget setengah mati. Jantung Galih seolah copot dari tempatnya. Di tengah malam buta pukul dua pagi, siapa orang yang nekat mengetuk pintu kamar mereka dengan begitu beringas? Apakah Pak Yono? Atau Ifan si usil yang kembali merencanakan fitnah baru?