NovelToon NovelToon
Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.

Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

***

Pendar cahaya fajar merembas pelan di balik tirai tipis kamar utama. Lyn terbangun saat merasakan pegal dan perih yang menjalar di sekujur tubuhnya, terutama di area panggul dan lipatan pahanya. Sensasi fisik itu menjadi penegas nyata atas apa yang telah terjadi di atas ranjang king size ini semalam.

Di sampingnya, Wiliam sudah terbangun. Pria paruh baya itu duduk di tepi ranjang dengan kemeja putih yang belum dikancingkan sempurna, memperlihatkan ketegapan fisiknya. Aroma sandalwood yang pekat bercampur hangatnya udara pagi mengurung indra penciuman Lyn.

Lyn menarik selimut hingga menutupi dadanya, menatap punggung tegap Wiliam dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah, kepasrahan, dan pergolakan batin yang membendung.

"Sudah bangun, Little Lady?" suara berat Wiliam memecah keheningan kamar. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Lyn dengan pandangan tenang namun sarat akan rasa kepemilikan.

"Wiliam... jam berapa sekarang?" bisik Lyn serak, tenggorokannya terasa kering. "Saya harus bersiap ke kampus..."

Wiliam tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu merai cangkir berisi air hangat dan sehelai handuk lembut dari meja nakas yang telah ia siapkan sebelumnya. Dengan gerakan yang teramat lembut dan telaten—sangat kontras dengan dominasi dingin yang ditunjukkannya di luar—Wiliam membantu Lyn duduk bersandar, lalu menyodorkan cangkir itu ke bibir mungil sang gadis.

"Minumlah sedikit," perintah Wiliam lembut.

Lyn menyesap air hangat itu perlahan, membiarkan rasa hangat membasahi tenggorokannya yang kering. Setelahnya, Wiliam menyusupkan tangannya ke bawah selimut, menyapu lembut area lipatan paha dan panggul Lyn dengan handuk hangat untuk meredakan rasa perih dan kelelahan sisa penyatuan mereka semalam.

Sensasi usapan hangat dan perhatian penuh yang diberikan oleh pria sekelas Wiliam membuat dada Lyn berdesir hebat. Mata jernihnya seketika berkaca-kaca.

"W-Wiliam... biar saya sendiri..." cicit Lyn malu bercampur haru, mencoba menahan tangan besar Wiliam.

"Diamlah, Lyn. Biarkan aku merawatmu," potong Wiliam tenang namun tak tertolak. Ibu jarinya mengusap lembut pipi mulus Lyn yang memerah. "Tubuhmu masih lemas karena perbuatanku semalam. Aku bertanggung jawab atas dirimu."

Perlakuan penuh kehangatan dan rasa aman dari pria di usia ayahnya ini meruntuhkan dinding pertahanan jiwa Lyn. Di satu sisi, rasa bersalah yang amat pekat pada Clara menggerogoti nuraninya. Ini salah... ini ayah dari sahabat terbaikku... batinnya menjerit. Namun di sisi lain, dari pria matang inilah Lyn akhirnya merasakan bagaimana rasanya dilindungi, diperhatikan, dan diberi tempat bernaung—sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari rumah maupun orang tua kandungnya sendiri. Bersama Wiliam, untuk pertama kalinya Lyn merasa benar-benar memiliki "rumah" dan sosok pelindung sejati.

Setelah merawat Lyn, Wiliam meraih sebuah kotak bludru hitam kecil dari atas meja nakas, lalu membukanya. Di dalamnya melingkar sebuah gelang emas putih berhiaskan berlian edisi terbatas yang memancarkan kilau mewah.

Tanpa meminta persetujuan, Wiliam meraih pergelangan tangan kanan Lyn—tangan yang kemarin sempat memerah akibat cengkeraman Rian—lalu memasangkan gelang tersebut. Denting halus pengait gelang itu terdengar bagaikan bunyi gembok yang terkunci rapat.

"Ini milikmu," ujar Wiliam datar namun penuh penekanan mutlak. Tangannya yang besar dan hangat mengusap pergelangan tangan Lyn. "Jangan pernah melepaskannya. Gelang ini adalah pengingat bahwa di mana pun kamu berada, kamu adalah milikku."

Mata Lyn menatap perhiasan mahal di tangannya dengan gumpalan emosi yang kian berat. "Wiliam... ini terlalu mencolok. Bagaimana kalau Clara atau orang lain melihatnya?"

Wiliam menangkup rahang Lyn, memajukan wajahnya hingga napas hangatnya yang beraroma whisky dan kopi menyapu kulit pipi Lyn. "Biarkan mereka melihatnya. Kamu cukup katakan itu hadiah dari keluargamu. Pagi ini aku ada rapat direksi jam delapan, jadi aku pergi lebih dulu. Ingat aturan kita, Lyn."

Pria itu mendaratkan kecupan singkat namun dalam di bibir Lyn, lalu bangkit merapikan pakaiannya dan melangkah keluar dari unit apartemen tanpa ragu

**

Suasana koridor Fakultas Hukum siang itu tampak ramai. Lyn berjalan dengan langkah pelan dan sedikit tertahan, menahan rasa tidak nyaman di area intim dan persendiannya yang masih terasanya pegal. Ia mengenakan gaun kasual bermotif bunga lembut yang menutupi lehernya dengan rapi.

"Lyn! Tunggu!"

Suara nyaring Clara terdengar dari arah belakang. Sahabatnya itu berlari kecil menghampiri Lyn, lalu menghentikan langkah tepat di sampingnya.

"Kamu kenapa berjalan agak aneh begitu, Ev?" tanya Clara dahi berkerut cemas seraya mengamati cara berjalan Lyn dari samping. "Kaki kamu terkilir? Atau kamu sakit lagi?"

Lyn tersentak kaget, wajahnya mendadak panas padam. Ia dengan cepat mengatur tumpuan berdirinya agar tampak senormal mungkin. "A-ah... tidak ada apa-apa, Clara. Semalam aku hanya terpeleset sedikit di kamar mandi apartemen, jadi paha dan pinggulku agak pegal."

"Duh, kamu ini ada-ada saja! Makanya kalau di apartemen jangan ceroboh," omel Clara geleng-geleng kepala.

Namun saat Clara hendak merangkul lengan kanan Lyn, matanya yang tajam mendadak menangkap kilauan tajam yang melingkar di pergelangan tangan sahabatnya. Kilau berlian di gelang emas putih itu memantulkan sinar matahari siang dengan sangat mencolok.

Clara seketika menghentikan langkahnya, meraih tangan Lyn dan mengangkatnya ke udara untuk mengamati perhiasan itu dari dekat.

"Tunggu dulu... Lyn, ini apa?" mata Clara membelalak kaget. "Ini kan gelang limited edition dari brand perhiasan mewah Eropa! Aku pernah melihat katalosnya bulan lalu, harganya ratusan juta! Kamu beli ini di mana?!"

Jantung Lyn rasanya melompat keluar dari dada. Darahnya mengalir dingin ke seluruh tubuh. Panik luar biasa melingkupi pikirannya saat melihat mata Clara yang menatapnya penuh rasa ingin tahu dan kecurigaan yang kian menajam.

"E-eh... ini..." Lyn menarik tangannya pelan, berusaha menyembunyikan gelang itu di balik lipatan lengan bajunya. "Ini... hadiah dari Ibuku, Clara. Ibu mengirimkannya kemarin sebagai bentuk... permohonan maaf karena telepon semalam."

Clara menyipitkan matanya, mengamati raut wajah Lyn yang tampak gugup dan pucat. "Tante Siska mengirimkan gelang semewah ini? Bukannya hubungan kalian sedang dingin? Lagipula, setahuku gelang koleksi ini harus melalui VVIP reservation khusus..."

"Aku... aku tidak tahu soal itu, Clara," potong Lyn cepat, suaranya gemetar tertahan. Ia meremas tali tasnya erat-erat. "Ibu hanya bilang itu dikirim via kurir khusus ke apartemenku."

Clara memandangi Lyn selama beberapa detik dalam keheningan yang mencekam. Keraguan tipis dan rasa janggal yang sudah mengendap sejak mereka di Italia perlahan makin menguat di benak Clara. Wajah Lyn yang sembab, cara berjalannya yang aneh, hingga perhiasan kelas atas yang mendadak melingkar di tangannya terasa tidak pas.

"Aneh sekali..." gumam Clara pelan, menatap lurus ke dalam mata Lyn yang menghindari kontak mata dengannya. "Kamu akhir-akhir ini banyak menyimpan rahasia dariku ya, Ev?"

"T-tidak, Clara! Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu..." sahut Lyn serak, menelan ludah kasar seraya menahan gumpalan rasa bersalah yang teramat berat menyiksa dadanya.

Melihat sahabatnya tampak makin tertekan, Clara akhirnya menghela napas panjang dan menepuk bahu Lyn pelan. "Ya sudah kalau begitu. Ayo kita masuk kelas perdata dulu sebelum dosennya datang."

Lyn mengangguk pasrah, melangkah mengekor di belakang Clara. Di bawah kilau emas putih di pergelangan tangannya, Lyn menyadari bahwa sangkar emas Wiliam kini benar-benar telah menguncinya—dan hanya tinggal menunggu waktu sampai rahasia terlarang ini meledak di depan mata sahabat terbaiknya.

Bersambung....

1
merry
tapi tetap aj wil Clara kudu tau klo kmu bukn Bpk ya,, Clara jg hrs tau cerita mslh tentang mama ya,, biar Clara gk salahin eve kn Clara tau siska mntn mu dan ingin rujuk dan eve sbgai penghalang Clara tdk akn trma tuh,, yg eve dcap pelakor lbh bgs si Clara kudu tau dia ank siapa bgmn cerita mmy dulu biar bs nerima eve
merry
agak bingung knp mntn lin bisa tau klo lin ada di vila y clra🤔🤔🤔trss bukn y mntn berangkat lbh dulu ke itali tp mlhnn ktmu lin di dlmn ✈️✈️✈️✈️
ollyooliver
orang gila..anak sendiri kek orng lain, anak orang lain dijadiin pemuas..malah gk peduli lagi sama perasaan lyn...lebih baik orng tau lyn itu tempat pembuangan p*ju ..hadeuwww
ollyooliver
termasuk claraa..wkwkwk. anak sendiri digituiin. gmn dengan anaknya lyn. dapur doang pake aturan. gitu amat ya punya ayah yg gila kekuasaan.
ollyooliver
lah tuh dokter..gunanya ape? masak?🙃
ollyooliver
lah..makanya rawat sendiri. janga lewat orng lain. katanya bos, ya kali gk punya kuasa buat menentuin mana yg prioritas dan bukan. clara sakit masih menyangkut nyawa. bisnis ditinggal sebentar gk akan buat bangkrut. aneh aja..seoramg boss . otak kosong. pasti maminya clara ninggalin karna william gila kerja.
ollyooliver
kasihan banget ya clara..anak sendiri dijadiin saingan. bapaknya emng gak punya rasa cinta bahkan pada Lyn sekalipun. yg ada hanya obsesi. pantas ditinggalkan
guest1053527528
lanjut thor
aristi
memang tangan William sepanjang apa kok tangannya sampe ke area sensitif lyn apa mejanya yg kecil TPI g mungkin kan orang William orang kaya masa mejanya cuma selebar pergelangan tangan William, udh gtu William sambil ngopi emg bdannya g mbungkuk biar sampe ke paha Lyn yg duduk diseberang William 🤔
ollyooliver
kalau lagi berdua, pake mas aja thor. trus kalau ada clara pake om, bukan Tuan. biar enak dibaca.
ollyooliver
asikk
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ikutan dag dig dug wey, takut bgt klo sampe ketahuan
ollyooliver
buanglah sampah pd tempatnya.



itu kata william🙂
ollyooliver
lanjut
sunshine wings
bagus storynya
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
guest1053527528
mantap thor
Siskasuryaningsih
wittt. wiittt, om tolelet hadir bos ku, 😄😄
Nindyaputri Pangestika
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!