NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Ian Xavier Mahardika

"Bagus. Ayo naik," kata Bu Lastri sambil membuka pintu taksi online yang sudah menunggu.

Perjalanan menuju kawasan perumahan elit di Jakarta memakan waktu hampir dua jam karena macet. Keira menghabiskan waktu dengan menempelkan jidat ke kaca mobil, memperhatikan gedung-gedung tinggi yang selama ini cuma ia lihat di televisi.

Gedung berlapis kaca kebiruan itu tampak megah, jauh berbeda dari pemandangan kampung halamannya.

Mobil akhirnya memasuki sebuah kawasan perumahan yang begitu tenang. Sepanjang jalan hanya terlihat tembok tinggi, tanaman merambat, dan pepohonan yang tertata rapi.

"Kita sampai," ujar Bu Lastri ketika mobil berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi.

Gerbang terbuka otomatis. Mobil melaju melewati jalan berkerikil putih dan halaman rumput yang luas sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah rumah modern tiga lantai berwarna abu-abu.

Keira sampai menahan napas.

Rumah ini bukan cuma besar. Bentuknya malah lebih mirip museum yang nggak boleh disentuh sembarangan.

"Turun, Keira. Jangan melamun," tegur Bu Lastri sambil menepuk bahunya.

Keira buru-buru turun dan mengambil koper. Rodanya kembali berulah, mengeluarkan bunyi berdecit saat diseret melewati kerikil.

Seorang wanita paruh baya berseragam pelayan abu-abu muncul dari pintu samping. Wajahnya ramah, meski terlihat sedikit lelah.

"Bu Lastri, ya? Mari masuk. Pak Nathaniel sudah menunggu di ruang kerja."

Wanita itu kemudian menoleh kepada Keira.

"Ini Mbak Keira?"

"Iya, Bik. Ini Keira," jawab Bu Lastri. "Kei, ini Bik Yani. Kepala ART di sini. Kalau urusan rumah, kamu harus nurut sama beliau."

"Mari, Mbak Keira. Kopernya taruh dekat tangga dulu saja," ujar Bik Yani ramah.

Keira mengikuti arahan wanita itu. Sebelum masuk lebih jauh, ia sempat melirik pantulan dirinya di cermin besar lorong. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan karena perjalanan panjang.

Ia buru-buru merapikan rambut dengan jemari.

Mereka melewati lorong dengan lukisan abstrak terpajang di sepanjang dinding. Keira sebenarnya penasaran dengan maksud lukisan-lukisan itu, tetapi ia memilih diam.

Jangan kepoan.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk."

Suara berat dari dalam membuat Keira refleks menegakkan badan.

Bik Yani membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk.

Ruang kerja itu luas dengan aroma kayu dan kopi espresso yang cukup pekat. Di balik meja besar, duduk seorang pria berkemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku.

Nathaniel Mahardika.

Rambutnya tertata rapi, dengan sedikit uban di bagian pelipis. Wajahnya tegas, terutama ketika sepasang mata cokelat tua itu menatap mereka.

"Selamat sore, Pak Nathaniel," sapa Bu Lastri. Nadanya mendadak jauh lebih sopan dibandingkan saat mereka masih di terminal. "Ini Keira Azzalea, calon pengasuh yang kemarin saya ceritakan."

Nathaniel menyandarkan punggungnya. Tatapannya beralih kepada Keira, seolah sedang menilai calon pegawai yang baru pertama kali ditemuinya.

"Dua puluh tahun?"

"Iya, Pak. Dua puluh tahun," jawab Keira.

"Kamu punya pengalaman mengasuh anak?"

"Secara formal belum, Pak. Tapi di kampung saya sering bantu mengasuh anak tetangga. Saya juga cepat belajar."

Nathaniel mengangguk tipis.

"Mika bukan anak tetangga kampungmu. Dia sulit beradaptasi dengan orang baru. Pengasuh sebelumnya hanya bertahan dua minggu karena Mika selalu menangis setiap kali dia mendekat."

Keira sedikit gugup, tetapi berusaha mempertahankan senyumnya.

"Saya tahu, Pak. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin."

Belum sempat Nathaniel menjawab, pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.

"Papi, kunci mobil aku mana—"

Kalimat itu langsung terhenti.

Seorang pemuda mengenakan kaus hitam dan celana jins longgar berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi wajahnya sangat mirip dengan Nathaniel. Bedanya, tatapan pemuda itu jauh lebih tajam dan dingin.

Ian Xavier Mahardika.

Ia memperhatikan dua orang asing di ruangan itu sebelum akhirnya pandangannya berhenti pada Keira.

Dari kepala sampai kaki.

Tatapan Ian sama sekali nggak ramah. Matanya bahkan sempat berhenti pada kemeja Keira yang sudah kusut.

"Siapa lagi ini, Pi?" tanyanya sinis. "Pengasuh baru buat Mika? Lagi?"

"Ian, jaga sikapmu," tegur Nathaniel. "Ini Keira. Mulai hari ini dia yang akan menjaga adikmu."

Ian terkekeh. Ia berjalan mendekati meja ayahnya, melewati Keira begitu dekat hingga aroma parfum maskulinnya tercium jelas.

"Berapa hari yang ini bakal bertahan, Pi? Seminggu? Atau cuma sampai dia sadar kalau anak kecil di rumah ini nggak bisa dimanfaatin buat nguras dompet Papi?"

Keira langsung mengerutkan kening.

Pria ini baru ketemu gua lima detik dan udah nuduh yang nggak-nggak?

"Ian Xavier," panggil Nathaniel. Suaranya kini terdengar lebih rendah. "Ambil kuncimu di meja konsol, lalu keluar."

Ian belum bergerak. Ia justru menyilangkan tangan di dada dan menatap Keira lekat-lekat.

"Semoga betah ya, Mbak."

Nada suaranya jelas mengejek.

Setelah itu, Ian membalikkan badan dan keluar sambil membanting pintu cukup keras.

Ruang kerja kembali sunyi.

Bu Lastri terlihat salah tingkah, sementara Keira hanya bisa mengepalkan tangan di dalam saku celananya.

Nathaniel menghela napas, lalu memijat pelipis sebentar.

"Abaikan anak saya. Tugasmu di sini hanya mengurus Mika. Bik Yani akan menunjukkan kamarmu sekaligus mengajakmu bertemu dengannya."

"Baik, Pak. Terima kasih."

Keira mengikuti Bu Lastri dan Bik Yani keluar dari ruang kerja.

Begitu mereka berada di lorong, Bu Lastri mendekat dan berbisik.

"Kan sudah saya bilang, di sini kamu harus tebal muka. Anak sulungnya memang agak susah diatur sejak ibunya nggak ada."

Keira hanya mengangguk.

Bik Yani kemudian mengantarnya melewati taman dalam ruangan yang dilengkapi kolam ikan koi. Kamar pengasuh berada di lantai dasar, tidak jauh dari dapur dan kamar ART lainnya.

Kamarnya sederhana, tetapi bersih dan nyaman. Ada tempat tidur single dengan seprai putih, lemari dua pintu, serta jendela kecil yang menghadap taman samping.

"Mbak Keira istirahat dulu. Ganti baju yang bersih juga. Nanti jam lima sore saya antar ke kamar Non Mika," ujar Bik Yani.

Kemudian, wanita itu tersenyum kecil.

"Oh iya, jangan dimasukin hati ucapan Mas Ian tadi. Dia memang begitu. Sebenarnya nggak jahat, cuma suka suudzon sama orang baru."

Keira tersenyum tipis.

"Nggak apa-apa, Bik. Saya sudah biasa menghadapi orang kayak dia."

Bik Yani terkekeh sebelum akhirnya keluar kamar.

Setelah pintu tertutup, Keira duduk di tepi ranjang. Kasurnya empuk sekali, jauh berbeda dari dipan kayu di rumahnya yang setiap malam berderit.

Ia menarik kopernya, lalu mengambil dompet, dan mengeluarkan uang lima puluh ribu pemberian ibunya.

Lama ia memandangi uang itu.

Namun, pikirannya justru kembali pada ucapan Ian tadi.

Berapa hari yang ini bakal bertahan, Pi? Seminggu? Atau cuma sampai dia sadar kalau anak kecil di rumah ini nggak bisa dimanfaatin buat nguras dompet Papi?

Keira mengusap matanya, lalu menyimpan kembali uang itu ke dalam dompet.

Ia mengepalkan tangannya menahan kesal.

"Lihat aja nanti, Ian Xavier."

Keira mendengus kesal.

"Gua ke sini cuma mau cari uang buat lunasin utang orang tua gua. Gua nggak bakal nyerah cuma gara-gara mulut cowok kaya yang nggak tahu rasanya makan nasi pakai garam."

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!