NovelToon NovelToon
Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:252.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.

Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.

"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.

Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Mobil mewah itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di halaman sebuah rumah megah bergaya Eropa yang menjulang dua lantai. Dinding berwarna krem, jendela-jendela tinggi, serta taman yang tertata rapi membuat rumah itu tampak begitu elegan.

Dari balik jendela mobil, Mateo mengintip ke luar. Bocah berusia lima tahun itu hanya memandang dalam diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Berbeda dengan kakaknya, Alisya, yang langsung membulatkan mata karena kagum melihat rumah sebesar itu.

"Ini rumah Daddy," ujar Kenzo lembut sambil menoleh ke arah kedua anaknya.

Tak lama kemudian, Digo turun dari kursi pengemudi dan segera membukakan pintu mobil. Tara menjadi orang pertama yang turun. Setelah itu, Mateo dan Alisya menyusul, berdiri berdampingan sambil menatap rumah megah yang kini berada tepat di hadapan mereka.

Langkah kecil Mateo dan Alisya berhenti tepat di depan teras. Keduanya mendongak bersamaan, menatap bangunan megah yang berdiri anggun di hadapan mereka. Pintu kayu berukuran besar dengan ukiran klasik, balkon berornamen besi tempa, serta deretan pilar putih membuat rumah itu lebih menyerupai istana daripada sebuah tempat tinggal.

Alisya meraih ujung baju Tara pelan. "Mommy, lumah Daddy besal syekali."

Tara hanya tersenyum tipis. Jujur, ia sendiri masih sulit percaya bahwa mulai hari itu mereka akan tinggal di sana.

Sementara itu, Mateo tetap diam. Tatapannya menyapu setiap sudut halaman, seolah sedang mengamati dan mengingat semuanya. Wajah mungilnya tidak menunjukkan rasa kagum, melainkan kewaspadaan. Kenzo berjalan mendekati kedua anaknya. Dia berdiri di depan mereka, dan menatap keduanya.

"Mulai hari ini, anggap rumah ini juga rumah kalian," ucapnya lembut.

Alisya, mengalihkan pandangan ke arah Kenzo. "Kalau lumah ini nanti lusyak, Daddy akan ngusil kami?"

Pertanyaan polos itu membuat senyum Kenzo memudar seketika. Dadanya terasa sesak mendengar kekhawatiran seorang anak kecil yang seharusnya tidak perlu memikirkan hal seperti itu.

"Tidak," jawab Kenzo mantap. "Rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian. Daddy tidak akan mengusir Mommy, Kak Mateo, ataupun Alisya. Kalau rusak kita bisa bangun yang lain yang lebih megah," ujar Kenzo.

Alisya, menatap mata Kenzo beberapa saat, seolah memastikan bahwa pria itu tidak sedang berbohong. Setelah beberapa detik, bocah itu mengangguk pelan.

Digo yang berdiri di samping hanya tersenyum tipis. Selama bertahun-tahun menjadi tangan kanan Kenzo, baru kali ini ia melihat atasannya begitu sabar menghadapi seseorang, apalagi dua anak kecil.

"Silakan masuk, Tuan," ucap Digo sembari membuka pintu utama.

Kenzo menggandeng tangan Alisya, sementara Mateo berjalan di sisi Tara. Perlahan mereka melangkah memasuki rumah megah itu, tanpa menyadari bahwa kehidupan mereka akan berubah sepenuhnya sejak hari itu.

Begitu memasuki rumah, Tara dan kedua anaknya langsung disambut oleh beberapa pelayan yang telah berbaris rapi di sisi ruang tamu.

"Selamat datang, Tuan Kenzo," sapa mereka serempak, lalu mengalihkan pandangan kepada Tara dan kedua bocah itu. "Selamat datang, Nyonya. Selamat datang, Tuan Muda dan Nona Kecil."

Alisya tersenyum malu-malu, sementara Mateo hanya mengangguk kecil. Kenzo menghentikan langkahnya di ruang tamu yang luas. Sebuah sofa berwarna gading menghadap perapian marmer, sementara lampu kristal menggantung megah di langit-langit ruangan.

"Tara, istirahatlah dulu. Minta saja apa pun yang kalian butuhkan kepada para pelayan," ucap Kenzo.

Tara mengangguk pelan. "Terima kasih," ucap Tara sopan, Kenzo hanya mengangguk lalu Kenzo mengusap kepala Alisya, lalu menepuk bahu Mateo sebelum berbalik meninggalkan ruang tamu. Digo segera mengikuti langkah atasannya hingga keduanya berada di teras depan rumah.

Suasana berubah menjadi lebih serius.

"Digo," panggil Kenzo.

"Ya, Tuan."

"Pastikan tidak ada satu pun pihak yang bisa berkutik saat mereka menuntut Farhan. Aku ingin seluruh bukti, saksi, dan dokumen dipersiapkan sebaik mungkin."

Digo mengangguk mantap. "Saya mengerti, Tuan."

Dia terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, "Kalau begitu, siapa yang akan menjadi kuasa hukum kita?"

Kenzo menyunggingkan senyum tipis.

"Tetap Mommy Mateo dan Alisya,"

"Maksud Tuan, Nyonya Tara?"

Kenzo mengangguk.

"Ya, biarkan Tara yang menangani perkara ini."

Digo tampak sedikit terkejut. "Padahal kita bisa menyewa firma hukum terbaik."

"Aku tahu." Tatapan Kenzo mengarah ke halaman rumah. "Justru karena itu aku ingin melihat sendiri bagaimana Tara berdiri di ruang sidang. Aku ingin melihat kemampuan ibu dari anak-anakku saat membela kliennya."

Digo tersenyum tipis. Kini ia mengerti maksud atasannya. Bagi Kenzo, perkara itu bukan sekadar membawa Farhan ke meja hijau, tetapi juga memberi Tara kesempatan untuk membuktikan kemampuannya sebagai seorang pengacara. Tanpa mereka ketahui, sebelumnya banyak pengacara lain di Hong kong yang kagum pada Tara.

"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semua berkas dan mengatur agar Nyonya Tara menjadi kuasa hukum dalam perkara ini."

Kenzo mengangguk pelan.

"Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana."

"Siap, Tuan."

Sementara itu, di dalam rumah, seorang pelayan wanita berjalan di depan Tara sambil membawa koper-koper mereka. Mateo dan Alisya mengikuti di belakang, sesekali menoleh ke setiap sudut rumah yang begitu luas.

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua hingga berhenti di depan sebuah pintu berukuran besar.

"Maaf, Nyonya. Ini adalah kamar utama," ujar pelayan itu sembari membuka pintu.

Tara melangkah masuk. Ruangan itu begitu luas dengan dominasi warna krem dan cokelat tua. Sebuah ranjang king size berdiri di tengah ruangan, lengkap dengan balkon pribadi dan kamar mandi yang hampir sebesar kamar tidur biasa.

Tara langsung berbalik. "Kalau begitu, kamar anak-anak di mana?"

Pelayan itu menunjuk pintu di sebelah kamar utama.

"Kamar Tuan Muda Mateo dan Nona Alisya berada di sebelah, Nyonya. Mereka akan tidur bersama di sana."

Tara mengernyit, "Lalu, aku?"

"Maaf, Nyonya. Anda menempati kamar utama."

"Aku bisa tidur bersama anak-anak."

Pelayan itu tersenyum canggung.

"Maaf, Nyonya. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Kenzo."

Tara menghela napas pelan.

"Kalau begitu, aku pindah aja ke kamar sebelah."

Pelayan itu segera menggeleng.

"Maaf, Nyonya. Tuan berpesan bahwa Anda hanya diperbolehkan menempati kamar utama. Selain ruangan yang telah disiapkan untuk Anda, kami tidak diizinkan memberikan akses untuk kamar lainnya."

Kening Tara semakin berkerut, "serius?"

"Maaf, Nyonya."

"Tapi aku ingin tidur bersama anak-anakku."

Pelayan itu kembali menundukkan kepala.

"Tuan juga berpesan, orang dewasa tidak boleh tidur satu kamar dengan anak-anak. Beliau ingin Tuan Muda Mateo dan Nona Alisya belajar mandiri."

Tara memejamkan mata beberapa detik. Ia benar-benar ingin memprotes aturan yang menurutnya dibuat sesuka hati itu. Namun, melihat pelayan tersebut hanya menjalankan tugas, ia mengurungkan niatnya.

'Ulah Tuan Kenzo lagi,' gerutunya dalam hati.

Dengan helaan napas panjang, Tara akhirnya berkata, "Baiklah, aku akan masuk."

Pelayan itu tersenyum lega.

"Kalau begitu, permisi, Nyonya. Jika ada yang dibutuhkan, silakan tekan bel di samping tempat tidur."

Setelah membungkukkan badan dengan hormat, pelayan itu pun berpamitan dan meninggalkan lantai dua. Sesampainya di lantai bawah, ia mendapati Kenzo masih berdiri di ruang tengah.

"Tuan..."

Kenzo mengangkat pandangannya.

"Bagaimana?"

"Sudah, Tuan. Nyonya bersedia menempati kamar utama."

Senyum tipis terukir di bibir Kenzo.

"Bagus."

"Kalau begitu, saya permisi."

Kenzo mengangguk singkat. Pelayan itu segera berlalu meninggalkan ruangan. Begitu sosoknya menghilang, senyum tipis di wajah Kenzo berubah menjadi seringai puas.

"Kalau keras kepala, aku juga bisa lebih keras kepala, Tara," gumamnya pelan sebelum melangkah menuju ruang kerjanya.

1
Lisa Halik
lagi thor double up
dewi rofiqoh
Makin ramai mansion vasillo
Susma Wati
nah keluarga ara di libat kan dalam kisah kenzo 👍👍👍
mimief
kan mau nyebrang jalan zi,jadi dipegangi Mulu 🤣🤣..
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
mimief
wkwkwkwkwkwk
aku suka keributan ini
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
umur brp lg tuh si kenzo y. si ara aja udah umur 30 lahirin si acha.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: pantesan si alex udah ga bs jalan. udah sepuh gitu
total 4 replies
Ema Susanti
jangan ada drama acha suka sama kenzo pamannya. acha kan anak sambung ara
Aisyah Alfatih: Acha itu anak kandung Ara, yang anak sambung itu Alya dan dia udah nikah sama seseorang 🤭 ada novelnya kok...
total 3 replies
mimief
ternyata..bahagia itu sederhana dan murah ya
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍
Mutia
Ara, adiknya Kenzo kn gak pernah disingging sama sekali, spy Tara jg mengenalnya.
Rokhyati Mamih
Acha ngga bareng mama Ara nih ?
Aisyah Alfatih: nggak ya, Acha itu tinggal sama Alex dan Tasya, dan seluruh biaya sekolahnya di biayai sama mereka.
total 1 replies
Storyginal Finger
💪🤭
Lisa Halik
aranya ke mana thor....sudah bagi gift,semangat updatenya
mimief: jagain elang..di rumah sakit😔
total 1 replies
Lisa Halik
double up thor..gift menyusul😍
Rahmat
tadix berfikir yg gak"ternyata baik"sj syukur lah😅
dewi rofiqoh
Ukir kenangan indah bersama keluarga tuan alex, selagi masih ada waktu dan kesempatan
Rokhyati Mamih
sabar Kenzo biarkan dady mu bahagia
Ita rahmawati
jgn khawatir Ken orang yg kmu khawatirin geh B aja 🤣
Mutia
Tara knp msh panggil Tuan, bkn Daddy jg
Aisyah Alfatih: menghargai kakak, kan belum dekat, baru jumpa sehari 😭
total 1 replies
mimief
Kenzo dan segala parno nya🙄🤣🤣
Ita rahmawati
biasa aja Ken jgn kaget gitu 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!